
"Tidak usah di cegah, Asti. Kalau dia mau pulang biarkan saja. Dia sudah tidak dibutuhkan lagi." terdengar ada yang menyahut mereka dari belakang.
Laras menghentikan langkahnya saat sosok itu datang. Ada rasa bergejolak di dalam hatinya. Lelah dia bertahan di rumah ini karena sikap mama mertuanya. Tapi dia tak ingin menjadi istri yang durhaka terhadap suaminya. Hatinya mulai bimbang.
"Kenapa diam?" sosok itu mendekat dengan sikap angkuhnya. Tatapan mata lawannya seakan meremehkan Laras.
BRAAAAAK!
Kopernya terlempar ke luar. Dia memang mau pergi, namun tidak begini caranya. Dia akan pergi baik-baik, bukan seperti terusir. Tampak sosok itu tersenyum menang.
"Kak Laras kalau mau pergi silahkan. Dengan senang hati menyambut suka cita kepergian anda. Jangan anda pikir kami akan menahan seperti yang Oma lakukan. Enggak! ini rumah kami bukan rumah anda. Jadi saya minta anda pergi dari sini dan jangan pernah muncul di rumah ini lagi!"
Sosok itu adalah Lani, adik tiri suaminya. Lani bersama Raya melihat bi Asti mencegah kepergian Laras. Tentu saja mereka langsung menyanggupi keinginan Laras dengan senang hati. Mereka langsung mengambil koper Laras dan melemparkan ke luar rumah.
"Kalau kamu mau pergi dari rumah ini, silahkan! tapi kamu sudah bukan istri dari Rangga lagi. Sekali kamu melangkahkan kaki dari rumah ini, itu tanda kamu menerima status baru, yaitu janda."
"Aku tidak akan jadi janda kecuali mas Rangga menalakku. Selama mas Rangga masih koma, aku masih sah sebagai istrinya. Aku juga bukan kabur melainkan ke rumah ibuku untuk menenangkan diri."
"Kalau kamu masih mau bertahan disini kasih saya cucu. Itu saja. permintaan saya tidak berat kan? katanya kamu sudah normal janinnya berarti kamu bisa hamil, kan? maka dari itu saya cuma minta kamu hamil secepatnya. Mama malu melihat teman-teman bercerita tentang cucunya. Sementara kamu tidak bisa memberikan apa yang saya mau. Jadi kamu bisa kan hamil secepatnya?"
klik
Di sebuah rumah sakit ternama di Jepang, beberapa dokter sedang menangani seorang pasien. Tampak di ruang operasi alat-alat medis beraksi, pasien tersebut mengalami penghambatan otak akibat kecelakaan. Pasien kiriman dari Indonesia tersebut berhasil menyelesaikan operasinya. Beberapa dokter pun akhirnya menyatakan si pasien lancar operasinya.
How is my boss doing? (Bagaimana keadaan atasan saya?)
Dokter tersenyum mendengar ucapan seorang lelaki yang berdiri di hadapannya. Tangannya menepuk pundak sosok muda tersebut.
__ADS_1
"The operation went smoothly, but it looks like he's going to have a long sleep.(operasinya lancar, tapi sepertinya dia akan mengalami tidur yang cukup lama)" Ucap dokter meninggalkan pemuda tersebut.
Pemuda itu adalah Hoda yang merupakan staf khusus perusahaan Thunder milik Rangga. Hoda memang di utus oleh Raya untuk menjaga Rangga selama di Jepang. Sudah dua hari Rangga berada di Jepang untuk pengobatan.
Hoda merasa handphonenya bergetar. Dengan cepat tangannya merogoh ke kantong dan menerima panggilan tersebut.
"Iya, Bu."
"Bagaimana anakku disana?"
"Operasinya lancar, Bu. Tapi kata dokter tuan Rangga akan tertidur dalam jangka lama."
"Katanya operasinya lancar, tapi kenapa anak saya belum bisa bangun?"
"Saya tidak tahu, nyonya. Itu penjelasan dari dokter."
"Nanti saya hubungi lagi. Ingat jangan kasih sama Alam kalau Rangga sedang dirawat. Nanti dia ngadu ke Ina!"
"Orang Indonesia yang bekerja di perusahaan Rangga."
"Oh, tuan Ronal, dia pulang ke Indonesia katanya istrinya mau melahirkan." Jelas Hoda.
"Syukurlah kalau dia sedang di Indonesia." Terdengar nada lega dari seberang.
Sudah satu minggu Rangga berbaring belum ada tanda-tanda dia akan bangun. Raya yang sudah tiga hari berada di Jepang selalu setia menemani putranya. Tidak hanya Raya, Donal pun ikut menemani istrinya.
Saat ini Rangga di rawat rumah. Dimana lagi kalau bukan di apartemen. Menurut dokter Rangga akan mengalami kelumpuhan dan buta saat sadar nanti. Raya yang mendengar vonis dokter langsung melemahkan tubuhnya. Dia tidak menyangka putranya separah itu. Raya membaca seorang perawat laki-laki untuk mengurusi Rangga. Tadinya ada perawat perempuan yang dikirim, namun Raya menolak melihat penampilan suster yang sexy.
__ADS_1
Sementara di Indonesia.
Laras sudah bangun subuh untuk mempersiapkan jualannya. Sudah satu minggu Laras pulang ke rumah ibunya setelah tragedi pengusiran di rumah mertuanya. Tangannya tak berhenti bekerja meracik bumbu gado-gado, sambil menunggu tanak nasi uduknya selesai.
"Aku bantu, ya?" sapa seorang lelaki yang masih pakai sarung dan baju koko.
"Adul? kamu masuk-masuk saja nggak assalamualaikum. Nanti jadi omongan warga." Omel Laras.
"Maaf, tadi sudah aku ketuk kamunya nggak nyahut. Lagian kenapa pintunya nggak di kunci. Nanti kalau ada maling bagaimana?"
"Maaf, tadi sengaja tidak aku kunci biar Eva nggak kesulitan masuk. Yasudah, kamu pulang, gih. Nanti jadi omongan warga, aku ini masih istri orang."
"Ras,"
Andai kamu mau menerima surat cerai dari mertuamu. Aku akan siap menggantikan posisi Rangga. Aku akan buat kamu bahagia.
Laras merasa pandangannya kabur. Seperti ada kupu-kupu yang berputar diatas kepalanya. Tangan yang tadi memegang penanak nasi, kiri berpindah ke perutnya. Entah kenapa tubuhnya terasa lemas. Dirasanya mungkin akan terserang demam. Adul melihat wajah Laras pucat langsung memapah temannya itu. Namun Laras menolak, dia merasa masih kuat berdiri.
"Ras, kamu kenapa?"
Laras melarikan diri ke kamar mandi. Kepalanya sudah menghadap lobang toilet. Rasanya perutnya serasa meletus. Tak berapa lama dia mengeluarkan isi perutnya.
Hueeeeeek hueeeeeek ...
"Aku nggak apa-apa, mungkin maag ku kumat."
Tak lama Eva datang melihat wajah Laras sangat pucat.
__ADS_1
"Ras, kalau kamu sakit tidak usah jualan dulu."
"Iya, Va. tadi aku bilang begitu. Dia ngotot mau jualan." adu Adul.