Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Sebuah pertemuan


__ADS_3

Derap langkah terdengar dalam koridor rumah sakit. Dua orang berjalan menuju sebuah ruangan rawat inap. Namun langkah mereka terhenti saat salah satu dari mereka menerima telepon dan menjauh dari temannya.


"Iya, ma," ucap Rangga menerima telepon di dekat dinding rumah sakit.


"Kamu dimana, Ga?" tanya Raya.


"Aku ada urusan sebentar, ma. Ada apa?"


"Tadi papamu bilang dia ada urusan ke Lombok, tapi ternyata papamu terkena serangan jantung waktu ke bandara. Kamu mau kan gantikan papa Donal buat ke Lombok. Soalnya ini proyek penting."


"Kenapa mendadak sekali! terus bagaimana keadaan papa?"


"Sudah lumayan, Ga. Makanya mama minta kamu gantikan papa untuk pertemuan bisnis ke sana."


"Baiklah." Rangga mengakhiri teleponnya. Lalu bersiap pamit sama Sasti.


Rangga rencananya menyusul ke ruangan ibunya Bagas sesuai arahan yang di jelaskan Sasti tadi. Namun langkahnya terhenti melihat seorang wanita duduk di kursi tunggu rumah sakit.


"Jihan"


Dengan cepat Jihan menoleh kearah sosok dibelakangnya. Matanya membulat melihat siapa yang didepan.


"Ra.. Rangga!"


Rangga hanya tersenyum kecil. Jihan kaget dengan lelaki didepannya. Lelaki yang pernah meninggalkannya di hari pernikahannya. Setelah tujuh tahun menghilang sekarang dia muncul.


"Kamu apa kabar?" Tanya Rangga sambil duduk disamping Jihan.


"Alhamdulillah baik. Kamu apa kabar?"


"Aku juga Alhamdulillah masih utuh tanpa kurang apapun. Gantengnya belum luntur." Seperti biasa Rangga selalu memancing tawa Jihan.


"Kamu sedang apa disini, Han?"


"Karyawanku, masuk rumah sakit ini. Kasihan dia, mana jadi orangtua tunggal. Tidak punya sanak saudara pula." Jihan membayangkan bagaimana perjuangan karyawannya.


"Han"


"Iya."


"Maaf soal dulu."


"Aku sudah maafin kamu, Ga. Toh dari awal aku sudah wanti kamu supaya bergerak lebih cepat. Sayang, kamu terlambat."


"Aku dan Ina ternyata saudara sepersusuan. Kami tidak bisa melanjutkan hubungan karena ada ikatan itu. Aku tahu Ina sudah bahagia bersama Alam. Kami pun masih menjalin komunikasi yang sebagai kakak adik."

__ADS_1


"Kamu sudah menikah, Ga?" tanya Jihan.


"Alhamdulillah, sudah, Han."


"Kamu sendiri bagaimana?" Rangga tanya balik ke Jihan.


"Alhamdulillah sudah juga. Aku mau pamit dulu, Ga."


Keduanya saling terdiam sesaat. Masing-masing larut dalam pemikirannya sendiri. Rangga dan Jihan pernah di jodohkan oleh kedua orangtua mereka. Rangga yang sedang menjalin hubungan dengan Ina, adik tiri pihak papanya. Papanya menikah setelah beberapa tahun menduda, sejak itu Rangga dekat dengan Ina dan jatuh cinta. Laras adalah saksi perjalanan cintanya pada Ina. Rangga pun tidak pernah menyangka endingnya dia menikah dengan Laras.


Baik Jihan maupun Rangga sudah berusaha menolak perjodohan itu. Sayangnya, keinginan mereka kalah kuat dengan ego kedua orangtuanya. Itulah yang membuat Rangga memilih tidak datang ke pernikahannya dengan Jihan. Karena dia tidak mencintai wanita yang sudah jadi teman baiknya.


"Aku juga pamit, han. Sore ini mau ke Lombok. Ada urusan bisnis." ucap Rangga meninggalkan Jihan.


Rangga dan Jihan pun sama-sama meninggalkan tempat mereka bertemu. Rencana untuk pamit sama Sasti pun dilanjutkan.


"Anda kenal Bu Jihan?" suara Sasti mengejutkan saat Rangga membalikkan badan.


"Iya, kenal. Kami pernah dekat. Kenapa? kamu kenal?" Jawab Rangga.


"Kan atasan saya, yang punya perusahaan tempat kami bekerja. Termasuk atasan bundanya Bagas. Dunia ini sempit, ya." tawa kecil Sasti yang memamerkan ginsulnya.


"Oh, ya maaf ya. Saya sepertinya tidak bisa menengok bundanya Bagas. Soalnya saya ada urusan mendadak."


"Nggak apa-apa, siapa tadi nama kamu?" Sasti mendadak lupa siapa nama lelaki tampan di depannya.


"Tunggu! kenapa aku tidak asing dengan nama itu, ya? Astaga Sasti, bukannya kata Laras nama suaminya sama dengan nama belakang Bagas. Itu berarti..." Sasti berbalik Rangga masih berjalan tak jauh dari dirinya.


Sasti berjalan untuk kembali ke ruang rawat Laras. Baru satu langkah mereka saling berpisah. Terdengar suara memanggil.


"Sasti! Laras sudah sadar. Dia nanyain Bagas. Katanya Bagas di rumah dokter Mila. Bagas ..." Si pemilik suara terhenti ketika melihat seorang lelaki berada di belakang Sasti.


Eva berjalan mendekati Rangga. Ada sulutan emosi yang menjalar dari dalam tubuhnya. Bayangan bagaimana Laras menjalani hari-harinya. Diusir, di penjara, rumah di sita, hamil tanpa suami, baby blues, semua yang dialami Laras berputar diingatan Eva. Dan sekarang Rangga muncul setelah semua yang terjadi.


"Jadi kamu masih hidup? hehehe .... dunia ini lucu, ya. Menghilang tanpa memberi kabar, meninggalkan seorang perempuan dengan status yang tidak jelas. Membiarkan dia menderita sendirian, dan kamu berlagak muncul seolah tidak tahu apa-apa. Pinter!"


PLAAAAAK!


"ini buat semua yang dilakukan keluarga kamu pada Laras. Semua yang kalian lakukan pada Laras tidak manusiawi. Lalu kenapa kamu muncul lagi. Mau cari Laras?" Eva sudah tersulut emosi ketika melihat kemunculan Rangga.


"Va, dimana Laras? bentar, kamu tadi bilang Laras sudah sadar, kan. Sekarang dia dimana, aku ingin bertemu."


"Aku tidak akan pernah mengizinkan kamu bertemu dengan Laras. Sudah cukup dia menderita karena kalian. Terus kalau kamu mau bertemu Laras, apa yang dilakukan selanjutnya! membawanya pulang lalu kalian injak-injak lagi. Nggak akan! nggak akan aku rela Laras kembali ke rumah itu."


Rangga bersujud di kaki Laras. Segala cara dia lakukan demi bertemu dengan istrinya.

__ADS_1


"Aku mohon jika ada kesalahan keluargaku selama ini, maafkan mereka. Maafkan saya yang kurang lama datang mencari Laras."


"Kak, kasihlah kesempatan dia bertemu istrinya. Laras sudah lama mencari suaminya. Aku rasa ini kesempatan memperbaiki hubungan mereka." Bujuk Sasti. Dia tidak tega melihat Rangga bersujud di kaki Eva.


Eva masih tidak bergeming saat tidak di bujuk Sasti. Rasa sakitnya saat melihat semua yang dialami Laras menjadi alasan kemarahannya.


Wanita usia 27 tahun itu berjalan meninggalkan Rangga yang masih bersujud di koridor rumah sakit. Sasti bingung dengan sikap Eva, dia ingin mengajak Rangga menemui Laras. Tapi dia takut kalau nanti malah memperkeruh keadaan.


"Sebaiknya anda pulang mas Rangga. Jika situasi sudah mulai tenang, anda boleh datang ke kantor. Sekarang kamu tahu kan tempat kerja saya dan Laras."


Laras yang sudah siuman langsung di sambut Eva dengan tangis.


"Aku pikir kamu nggak akan bangun lagi, Ras."


"Itu doa ya?" ledek Laras.


"Bukan, tapi jampi-jampi ..." Eva lagi-lagi memeluk Laras penuh rindu. Terdengar isak tangis dari suara ibu beranak dua tersebut.


"Emaknya Cici dan Sadam kok mewek? malu tuh ama Sadam," goda Laras ketika netranya beralih ke anak lelaki berusia tiga tahun.


"Ras, aku khawatir kalau terjadi sesuatu sama kamu. Kalau itu terjadi bagaimana nasib Bagas."


"Va, aku kan sudah sadar. Lagian kamu ih, doanya jelek banget. Doain yang bagus kek, apa kek, ini malah doain yang aneh!"


"Kamu tadi pas bangun sendirian ya?"


"Nggak, Va. Tadi aku ada pembicaraan penting dengan dokter Mila."


"Soal apa?" Eva kepo.


"Ada deh."


"Ras, kamu harus hati-hati sama dokter Mila." sahut Sasti.


"Kenapa?"


"Entahlah aku merasa feeling nggak enak sama dia. Sepertinya dia tahu tentang suamimu, tapi dia enggan jujur sama kamu."


"Oh, soal itu."


Mungkin benar kata kak Mila. Jika memang mas Rangga benar-benar mencintaiku, dia pasti sudah mencariku. Tapi kenyataannya tidak, meskipun sudah lima tahun dan mas Rangga ternyata sudah sehat. Dia tetap tidak mencariku. Sudah saatnya aku meraih bahagia sendiri tanpa mas Rangga.


Sebuah langkah terdengar memasuki ruangan dimana Laras dirawat. Sosok tinggi berdiri di tengah kebahagiaan orang-orang disana. Semua mata menuju ke lelaki itu. Termasuk Laras yang memilih memalingkan wajahnya. Detak jantung berdetak kencang, ada nyeri pilu dirasakannya. Tapi rasa rindu itu sudah kalah, kalah dengan rasa kecewa yang mendalam.


"Ras, aku sudah tahu soal suamimu. Soal keadaannya. Bagaimana dia sekarang. Dia pasien temanku. Tapi dia sudah sadar sejak lima tahun yang lalu.

__ADS_1


Suamimu namanya Rangga, kan. Satu bulan setelah kamu melahirkan dia sudah sadar dari komanya. Aku perhatikan dia tidak ada berusaha mencari kamu ataupun Bagas.


Aku ngomong seperti ini bukan karena iri sama kamu. Tapi kamu sudah seperti adikku sendiri. Aku nggak mau kamu kecewa kalau tahu yang sebenarnya. Apalagi aku dengar dia menerima calon yang di tawarkan keluarganya." ucap Mila sebelum kedatangan Eva dan Sasti.


__ADS_2