
Sebuah motor berhenti di depan kontrakan kecil. Tidak lupa helm antiknya yang menjadi andalan. Seorang lelaki memberhentikan motornya lalu memasuki salah satu rumah kecil. Sebelum si empunya keluar dari rumahnya dia mempersiapkan diri untuk berkaca dahulu. Mencoba memantaskan diri bertemu sosok cantik itu.
Assalamualaikum
Dia mengucapkan salam sebelum masuk ke rumah orang. Lagi-lagi dia mengulang panggilan salamnya tapi tetap tak menyahut.
"Larasnya belum pulang dari kerja." sapa seorang wanita yang melintas.
"Oh ya, ini sudah jam lima sore Lo." matanya melirik jam di handphone.
"Mungkin lembur kali. Kan orang kantoran gitu,dik."
"Oh iya, bisa jadi." jawabnya tersenyum simpul.
"Mas ini siapanya, Laras. Aku sering lihat kamu sering kesini. Kalau kamu serius sama Laras cepat nikahin dia. Kasihan Laras kerja pontang-panting demi anaknya. Kasihan Bagas sering di tinggal sendiri di rumah." jelas ibu itu.
"Laras tidak mau sama saya, Bu. sepertinya dia masih setia sama suaminya. Ya mungkin karena saya cuma satpam. Tidak sama dengan dia yang sarjana dan kerja kantoran."
"Itulah istimewanya wanita, meskipun suaminya sudah meninggal dia akan tetap setia. Beda dengan laki-laki, baru satu bulan status duda dia sudah cari istri baru." sahut wanita tetangga Laras.
Adul hanya menyengir mendengar ucapan ibu itu. Memang beda wanita dengan lelaki. Kebanyakan dia akan setia pada suaminya meskipun sudah meninggal. Kadang juga masih mendoakan suaminya sadar walaupun sudah di KDRT.
Adul merogoh handphonenya, merasa ada getaran di kantong celananya. Wajahnya tersenyum melihat siapa yang meneleponnya.
"Iya, Ras."
"Kamu dimana? bisa minta tolong nggak."
"Aku lagi di depan rumahmu, Ras. Kok kamu belum pulang? banyak kerjaan ya, Ras. sudahlah tidak usah kerja. Lebih baik kamu jualan pecel di rumah dan bisa menjaga Bagas. Dari awal aku sudah keberatan kamu kuliah dan kerja."
__ADS_1
"Bagas sudah pulang belum? tadi dia diajak jalan sama Bu dokter. Oh ya kunci rumah aku letakkan diatas pintu. Coba saja cek." Tangan Adul meraba sesuai instruksi Laras.
"Tolong tunggu di rumah takutnya kalau Bagas pulang nggak ada orang." lagi-lagi titahnya.
Adul menuruti keinginan Laras. Dia masuk menunggu kepulangan Bagas. Sejak awal saat Laras memutuskan untuk bekerja dia adalah orang yang paling keberatan. Bukan dia tidak suka wanita itu bekerja, tapi setelah melihat kondisinya, Bagas sering ditinggal. Kadang kalau Laras belum pulang Bagas di titipkan sama Eva. Adul merasa kasihan sama Bagas bukan pada Laras. Dari semua yang dialami Laras yang menjadi korban adalah Bagas.
Meskipun kadang Bagas diperlakukan baik oleh ibu-ibu gang rumah orangtua Laras. Tapi tetap saja, Bagas terlihat kesepian. Adul sering mengantarkan Bagas kemana anak itu mau. Kalau sedang diajak jalan-jalan Bagas sangat senang. Adul pun lega kalau anak itu kembali ceria.
Kembali ke masa sekarang. Adul merebahkan tubuhnya di depan televisi. Tak ada ruang tamu. Pintu depan langsung menghadap ruang televisi. Lantai hanya beralaskan karpet yang bisa di jadikan kasur. Adul menarik bantal yang berbentuk keropi. Keropi dan Pororo adalah karakter kesukaan Bagas. Di rumah hanya ada dua kamar. Bagas masih tidur bersama Laras. Kamar satunya hanya gudang barang. Kebanyakan adalah barang Bagas saat masih bayi. Masih bagus dan terawat. Adul hanya tersenyum memandang sebuah photo yang terpanjang di diatas meja televisi.
Sementara di dalam mobil, tampak Rangga dan Camila duduk. Saat ini yang membawa mobil adalah Rangga. Sedangkan Camila memangku Bagas yang sudah tertidur. Seharian mengajak anak itu bermain, tampak sekali dia bahagia ketika diajak ke sebuah mall yang ada arena bermain.
"Kamu tahu, Mila. Aku ingat saat mengajak Shasa jalan-jalan bareng Ina. Umurnya baru satu tahun, terlihat dia senang sekali melihat arena permainan bayi." kenang Rangga.
"Anaknya Ina?" tebak Mila.
Aku dan Ina saat mencoba menjalin hubungan tanpa memikirkan dampak huru-hara dari keluarga kami. Puncaknya saat aku dipaksa menikah dengan Jihan, anak partner bisnis papa Donal. Aku kabur dari pernikahan dengan pergi ke Jepang.
Saat aku kembali, Ina sudah membuka hati pada pria lain. Yang nyatanya adalah mantan menantu kakaknya Ina, papanya Shasa." kenang Rangga.
Mila mendengarkan dengan seksama cerita dari Rangga. Dia sudah menebak alur cerita kisah anak orang kaya, di jodohkan, menolak perjodohan, bahkan kabur dari pernikahan. Hal itu sudah lumrah dia dengar. Namun Mila tidak menyangka kalau Rangga dan Ina benar-benar nekat menjalin hubungan diatas status saudara meskipun tiri.
Mobil kembali melaju menyapu jalanan. Hari sudah gelap, mereka akhirnya sampai di depan gang rumah kontrakan Laras. Rangga hendak membawa Bagas sampai di depan kontrakan. Tapi Mila melarang dan meminta Rangga menjaga mobilnya.
Bersamaan dengan itu Laras turun dari ojek. Setelah membayar ongkos ojek, Laras masuk ke dalam gang. Rangga tidak terlalu memperhatikan kedatangan Laras. Hanya saja dia melihat Camila memindahkan Bagas ke seorang wanita berhijab. Tak terlalu nampak karena gangnya sangat gelap. Bersamaan itu, Camila kembali ke mobil. Rangga dan Camila meninggalkan area tempat tinggal Bagas.
Laras menggendong Bagas menuju rumah kontrakannya. Tak sampai lima menit dia sudah berdiri di depan pintu melihat Adul tergolek di depan televisi.
Merasa ada yang masuk rumah, Adul merubah posisinya menjadi lebih sopan. Dia membiarkan Laras membawa Bagas ke kamar. Setelah melepas atribut sekolah Bagas serta mengganti pakaian Bagas ke baju tidur.
__ADS_1
"Ayah ... Bagas mau lihat ayah .." Igauan Bagas sontak membuat Laras menghentikan langkahnya.
Bulir air matanya menetes membasahi pipinya. Seakan tidak tega melihat keinginan anaknya. Sejak masuk sekolah, Bagas selalu menanyakan tentang ayahnya. Laras enggan berspekulasi kalau Rangga masih hidup. Nyatanya setelah lima tahun lelaki itu tetap tak ada kabar.
"Maafin bunda, Bagas. Bunda belum bisa menunjukkan apakah ayahmu masih hidup atau tidak. Biarlah saat ini bunda yang merangkap menjadi ibu sekaligus menjadi ayah buat kamu. Ibu bekerja menafkahi Bagas, supaya kamu tidak minder lagi. Bunda cuma mau membahagiakan kamu, nak." tangan Laras mengusap rambut Bagas
yang plontos tipis.
Mas kamu dimana? tidak kamu tahu anakmu selalu menanyakanmu? Jika kamu masih hidup kenapa tidak mencari kami.
Aku rindu sama kamu, mas. Aku ingin menyerah tapi entah kenapa hati kecilku berkata kamu masih hidup.
Setelah membersihkan diri, Laras membuatkan teh untuk Adul. Lelaki itu mengucapkan terimakasih pada Laras.
"Aku yang berterimakasih sama kamu, Dul. Sudah banyak yang kamu lakukan untuk aku dan Bagas. Aku minta maaf kalau Bagas sering merepotkan kamu. Sampai-sampai kamu belum juga menikah hingga saat ini. Apa perlu aku bantu cari calon yang pas buat kamu?"
"Tidak perlu, Ras. aku sudah lama mencintainya, tapi sayangnya dia tidak pernah peka dengan perasaanku." Jawab Adul.
"Makanya usaha dong, perjuangkan wanita itu. Apa karena kamu ditinggal nikah sama kak Sofia."
"Aku sedang memperjuangkannya, Ras."
"Terus dia bilang apa?" tanya Laras.
Adul menghirup aroma teh melati buatan Laras. "Justru aku mau nanya ke dia?"
"Maksudnya?"
"Laras, kamu mau aku perjuangkan?"
__ADS_1