Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Teror untuk Mila


__ADS_3

Kita pasti tahu dan sadar bahwa suatu kehidupan itu pasti ada akhirnya yaitu kematian. Kematian merupakan sesuatu peristiwa keluarnya ruh dari jasad manusia. Dalam Islam, kematian menjadi awal perpindahan dari alam dunia ke alam barzah, roh manusia yang wafat akan tinggal di alam barzah hingga kebangkitan manusia dari kuburnya saat kiamat kelak. Kematian menjadi permulaan menuju alam akhirat yang kekal, setelah kematian pun masih melewati masa pertanggung jawaban atas semua apa yang kita lakukan dan perbuat di dunia.


Saat di alam kubur ada siksa kubur dan nikmat kubur, barang siapa yang saat di dunia banyak amal shaleh pasti akan beruntung dan mendapat nikmat kubur, dan sebaliknya. Penyesalan pun tidak ada gunaya lagi bagi ruh yang saat masih ada dalam jasad saat di dunia banyak melakukan dosa. Di dunia ini makhluk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian, suatu kejadian yang rahasia bagi kita kapan dan dimana itu akan terjadi. Hanya Allah SWT yang Maha Tahu dan Maha Kuasa yang mengetahui kematian makhlukNya. Hanya saja dalam dunia nyata, banyak yang mengabaikan tentang kematian itu. Kita sering lalai bahwa kematian itu pasti akan datang, kita terlalu sibuk dengan hiruk-pikuk dunia, gemerlap dunia, keindahan dunia, kenikmatan dunia, sampai kita lalai. Sehari-hari kita hanya meluangkan sedikit waktu untuk beribadah kepada Allah SWT.


Kesibukan dunia menjadikan ibadah kita nomor kesekian dan bukan yang utama, sebenarnya kita sebagai umat Islam sudah jelas diciptakan di dunia ini hanya untuk beribadah kepada Allah SWT.


Seorang ustad menceritakan proses kematian dalam agama Islam. Bagaimana hidup seseorang dalam amal ibadah selama hidup. Kediaman Mila terlihat sangat ramai dengan orang-orang yang melayat. Aminah walaupun sudah di pecat dengan tidak terhormat oleh Mila, tetap datang membantu. Dia tahu Mila tidak bisa melakukan semua sendiri. Meskipun tidak bertegur sapa, Mila pun masih membiarkan Aminah berada di rumahnya.


"Mila, kamu yang sabar, ya." sapa seorang tamu melayat.


Mila tetap diam membisu. Entah apa yang ada dalam pikirannya sehingga dia selalu diam saat tamu menyalaminya. Para pelayat pun maklum, mereka mengganggap Mila masih terguncang dengan kejadian mamanya.


Setelah pemakaman mama Resi Safarida. Keluarga berkumpul di kediaman Mila. Bahkan papa kandung Mila dan istrinya pun datang ke pemakaman. Di mata Mila, sang papa hanya orang asing yang sekedar melayat. Bukan bagian dari keluarga. Mila merasa dia hanya punya mama seorang.


"Mila, papa turut berdukacita atas meninggalnya mama kamu. Papa juga tidak menyangka kalau mama kamu harus pergi dengan cara tragis begitu." ucap Prasmana pada anak kandungnya.


"Terimakasih, Om. Sudah mau datang ke sini. Aku pikir om tidak mau lihat mama ku yang terakhir kalinya." jawab Mila tanpa memandang ke arah pemilik suara.


Pras hanya terdiam. Rasanya sakit ketika putri kandungnya memanggil dirinya dengan sebutan om, bukan memanggil sebutan papa. Seperti yang dulu pernah di lakukan Mila saat masih kecil.


"Mas, kita pulang. Kan urusan kamu sudah selesai dengan anakmu. Kamu lupa kita harus siap-siap untuk lamaran Wanda. Ini lebih penting daripada...."


"Om sebaiknya pergi dari sini. Terimakasih sudah mau melayat. Maaf Tante kalau anda tidak betah di tempat saya silahkan hengkang. Lagipula, harusnya sebagai istri kedua anda tahu diri. Oh ya maaf, kalau anda tahu diri tidak akan mau menikah dengan lelaki yang jelas sudah punya anak dan istri. Paham!"


"Kak Mila," seorang lelaki yang datang dari arah berlawanan.

__ADS_1


"Fadli, mama Yana, papa Rahim." Mila menyalami keluarga mantan mertuanya.


"Mama dan papa turut berdukacita, nak. Kamu yang sabar, nak. Ini sudah garis Allah." Mama Yana menyabarkan mantan menantunya.


"Terimakasih, mama dan papa. Mila minta maaf kalau mungkin selama hidupnya mama ku ada salah baik sengaja atau tidak sengaja."


"Enggak, nak. Mama kamu itu orang baik. Dia sosok yang humble dan tidak sombong. Dan itu menurun sama kamu, nak. Maafkan kami yang dulu sempat menyalahkan kamu atau kematian anak kami, Farden. Mama sadar apa yang dialami Farden dan Chelsea sudah menjadi garis tangan Allah."


Mantan menantu dan mantan mertua pun saling berpelukan. Melupakan yang pernah terjadi selama ini. Mila sadar selama ini dia tidak berani bersilaturahmi ke rumah mertuanya. Karena saat kematian suaminya, semua menyalahkan Mila. Apalagi saat itu sebelum meninggal, Farden sempat meminta Fadli menjadi suami pengganti. Keinginan terakhir Farden tentu saja di tentang seluruh keluarga karena saat itu Fadli masih kuliah. Apalagi ada Nanda yang sudah menjadi calon istri Fadli.


Setelah semua meninggalkan kediaman Mila. Wanita usia 40 tahun tersebut duduk sendiri di kamar sang mama. Merenungkan banyak hal, termasuk soal yang pernah dia lakukan pada Laras dan Rangga. Namun entah kenapa lagi-lagi dia masih mengenyampingkan egonya. Baginya, selama ini dialah yang banyak berkorban untuk Laras dan Rangga.


Mila berdiri menuju kamar mandi. Kakinya terhenti melihat seorang lelaki tua yang menatapnya. Wajahnya sangat seram. Sebagian matanya keluar dan mengeluarkan darah.


"Aaaaaaaaaa...."


"Bi Aminah... Bi Aminah .." Mila terus menjerit.


Mila baru ingat kalau Aminah sudah dia pecat. Bahkan setelah acara selesai, Aminah pamit pulang meskipun dia abaikan wanita yang sudah bertahun-tahun mengikuti mamanya.


"Ya Allah, aku baru tahu kalau rumah ini angker." batinnya dalam.


Mila merasa terancam dengan sosok itu. Di raihnya kunci mobil lalu berlari memasuki mobilnya. Tentu saja menghindar dari sosok mengerikan itu. Sebentar dia mengambil nafas. Seumur-umur dia tinggal disana belum pernah di ganggu oleh sosok itu. Tapi kalau iya ada yang menunggu kenapa baru sekarang muncul.


Mila melajukan mobilnya dengan pelan. Di tambah rasa takut yang terus mengejarnya. Sesaat dia memberhentikan laju mobilnya.

__ADS_1


Mila turun dari mobilnya. Duduk di salah satu pondok. Tak jauh darinya ada salah satu tali polisi line yang menandakan ada kejadian disana.


Mila mendekati salah satu warga yang berjalan di sana.


"Maaf, Bu, pak. Mau nanya. Itu kenapa ada polisi line disana?"


Salah satu warga menjelaskan satu bulan yang lalu ada tabrakan seorang bapak-bapak jualan bersama seorang anak kecil. Bapak itu meninggal di tempat dan anaknya cacat.


Lama Mila memandang di sekitarnya. Dia merasa tidak asing dengan tempat ini.


"Ini kan..." batinnya.


Dia baru sadar kalau dimana dia berdiri adalah lokasi dia menabrak seorang lelaki paruh baya. Mila memenggang kepalanya seakan merasa devaju.


"Enggak! aku nggak mau masuk penjara!" Mila kembali berlari memasuki mobil.


*


*


*


*


Assalamualaikum semua yang baca disini. Terimakasih sudah sempatkan mampir. Maaf ya kalau bab ini belum menarik, tapi tetap aku usahakan up supaya tidak mengecewakan kalian.

__ADS_1


Nunggu aku cari ide baca dulu kisah Rangga sebelum menikah dengan Laras.



__ADS_2