
"Mas," Laras duduk di samping kursi sopir suaminya.
Hari ini adalah sidang perdana kasus mama Raya. Laras harus terpaksa menitipkan Bagas pada Ajeng, sang pengasuh. Entah kenapa dia yang deg-degan. pasalnya nanti Laras pun akan jadi saksi terkait masalah rumah orangtuanya yang di tahan raya, terkait rekeningnya yang juga di boikot Raya.
Sebelum berangkat, Laras sudah diskusi dengan Rangga, Donal dan Lani. Laras minta izin jika ada keterangan yang membuat keluarga mertuanya kaget. Dia juga awalnya enggan jadi saksi. Karena satu sisi korbannya adalah dirinya, satu sisi lainnya itu adalah ibu dari suaminya.
Rangga tidak keberatan selama yang di jelaskan nanti memang benar adanya. Begitu juga Donal, dia mendukung menantunya untuk menjadi saksi dari kasus yang akan di hadapinya. Hanya saja Lani yang keberatan. Menurutnya, apa yang nanti di jelaskan Laras bakal memberatkan hukuman Raya. Padahal semua keluarga berharap Raya dapat keringanan hukuman. Tapi pemikirannya harus ditahan karena suaranya bakal kalah. Tampak semua mendukung Laras.
"Dulu pas Rangga masuk ke keluarga kami. Semua yang ada di keluarga sayang sekali sama dia. Oma, papa dan mama Raya, mereka memperlakukan Rangga seperti anak tertua di keluarga ini. Padahal ada aku yang juga butuh dukungan.
Karena usulan Rangga juga, papa menikahkan aku dengan Toni. Padahal aku nggak cinta sama Toni, derajat kami jauh. Ayahnya Toni adalah sopir keluarga kami. Tapi papa sayang sama Toni sampai, sampai di sekolahkan hingga menjadi dokter.
Dan sekarang, papa juga melakukan hal yang sama pada Laras. Mungkin benar kata mama Raya, kalau papa sayang sama Laras karena anak dari mantan kekasih papa.
Sepertinya memang tidak ada yang peduli padaku disini."
Lani berjalan menjauhi keluarganya di ruang tunggu persidangan. Hatinya merasa kecut melihat keluarganya lebih sayang pada orang lain ketimbang dirinya. Ada rasa sesak menyeruak di dadanya. Pandangannya beralih pada kursi panjang di kantor pengadilan. Udara siang yang harusnya terasa panas kini terlihat sedikit sejuk. Langit tampak sedikit mulai menghitam.
"Lani," sebuah suara manis terdengar memanggil dirinya.
Merasa namanya disebut dia langsung membalikkan badannya.
"Kamu kemana saja, papa cari kamu tuh." Lani hanya bisa menyunggingkan senyum kearah sosok itu.
"Kenapa papa cari aku? bukankah papa lebih peduli sama kamu ketimbang aku anak kandungnya."
"Kamu ngomong apa sih, Lani. Papa tuh sayang sama kamu. Kalau dia tidak sayang, dia tidak akan membelikan kamu rumah padahal kamu punya rumah warisan dari Oma. Rumah yang papa belikan itu investasi buat masa depan ketiga anakmu.
Kalau papa tidak sayang sama kamu, dia tidak akan mengajak kamu ikut semua proyek keluarga. Dia juga tidak menaikkan jabatan mas Rangga karena papa tidak mau kamu tersisih. Dia menyiapkan beasiswa untuk ketiga anakmu hingga tamat kuliah. Itu tandanya papa sayang sama kamu, Lani."
Laras tahu semua itu berdasarkan cerita dari Donal dan Rangga. Dia tahu kalau Lani tidak pernah menyukai kehadiran Rangga sejak masuk ke keluarga Pattimura. Hal itu dirasa wajar bagi Laras, ketika seorang anak yang terbiasa mendapatkan perhatian penuh, lalu orang-orang pun mengalihkan perhatian pada orang baru. Tentu timbul rasa iri atau cemburu. Namun di mata Laras, sebenarnya Lani tidak kekurangan kasih sayang.
"Aku bukan butuh kasih sayang materi, Ras. Tapi kasih sayang utuh dari keluarga."
"Lalu apa menurut kamu yang dilakukan papamu, itu bukan kasih sayang. Dia tahu kamu lah yang salah atas perceraian dengan Toni. Dia tahu anaknya selingkuh di belakang menantunya. Tapi apa papa menyalahkanmu. Mungkin iya, tapi demi cucunya dia rela bersujud di kaki Toni untuk tidak menceraikan kamu. Tapi sepertinya bukan Toni yang kepala batu, melainkan kamu. Itu tandanya papa sayang sama kamu, Lani." Rangga pun muncul di tengah pembicaraan Laras dan Lani.
"Oma, sering nangis ngeliat kamu yang suka dugem, pulang mabukan. Untung saja janinmu tidak kenapa-kenapa. Di saat seorang ibu yang harusnya di rumah, tapi kamu malah berbanding terbalik. Dan sekarang kamu menyalahkan keluarga. Kamu yang tidak peka bukan kami."
"Sudah, mas. Ini pengadilan bukan rumah." Laras menenangkan suaminya.
Laras mengajak Lani masuk ke dalam ruangan. Tak peduli dengan suaminya yang kesal pada adik tirinya.
__ADS_1
"Yuk, kita kedalam. Ini sudah mau hujan, seorang ibu itu nggak boleh sakit demi anaknya. Seorang ibu harus kuat dalam keadaan apapun demi anak-anaknya." Bujuk Laras pada Lani.
Sementara itu Raya meminta pada pihak lapas agar bisa bertemu keluarganya sebelum sidang. Pada awalnya pihak lapas keberatan. Alasannya mereka takut Raya meminta bantuan pada keluarga untuk meringankan hukumannya. Bersamaan itu pengacara keluarga Pattimura, Andi Mallarangeng datang dan membantu meyakinkan pihak lapas kalau Raya hanya rindu pada keluarganya.
Raya tiba di pengadilan dengan pengawalan dari pihak lapas. Bukan hanya Raya yang di kawal, Anisa dan dua beranak, Ratna dan Endang pun juga di hadirkan. Hanya saja mereka tidak punya pengacara. Ketiganya pun pasrah jika di beri hukuman sesuai perbuatan mereka.
"Mama," sapa Laras dan Lani.
Keduanya bergantian memeluk sang mama yang memakai kaos orange. Raya menerima uluran salam secara bergantian dari anak sambungnya dan menantunya.
"Ras, jika kamu di minta jadi saksi atas sidang ini. Mama harap kamu harus tetap jujur. Mama tidak mau kamu memberi keterangan hanya karena tidak enak sama Rangga. Mama tidak minta di bela di luar masalah yang sebenarnya."
"Tapi, ma..."
"Ras, mama rasa hukuman mama sangat gelap. Mama sudah menggelapkan uang tabungan kamu yang disiapkan Rangga. Mama juga sudah memalsukan keterangan kamu sudah meninggal dunia hanya untuk mengambil uang asuransi kamu. Mama juga sudah mengambil surat rumah kamu, membuat kamu terusir dari rumah orangtua kandungmu. Maafkan mama, Nak."
"Sebenarnya, soal tabungan itu aku tidak terlalu mempermasalahkan. Karena itu uang mas Rangga, itu juga uang untuk masa depan kami. Hanya saja yang aku habis pikir, kenapa rumah orangtuaku, ma. Kenapa?"
Raya menunduk, akibat kecemburuannya pada mendiang ibu Mala, ibu kandung Laras. Dia rela melakukan hal itu. Karena saat Mala masih hidup, suaminya masih menemui wanita itu. Walaupun dengan alasan membantu pengobatan Mala tetap saja tidak etis karena di belakang Raya.
"Maafkan mama, Nak. Mama hanya merasa papa Donal masih mencintai ibu kamu. Mama merasa sejak dia tahu kamu anaknya Mala, dia lebih perhatian sama kamu, karena apa? karena papa Donal belum bisa melupakan Mala.
Jadi jika kamu diminta menjadi saksi. Katakanlah sejujurnya, tidak perlu mengasihani mama. Tidak perlu ada rasa tidak enak." ucap Raya.
Sementara Laras dan keluarga lainnya pun duduk sebagai saksi dan korban. Karena dia pun mendapat permintaan untuk memberi keterangan. Sebelum nantinya mereka akan di putuskan berapa lama hukuman akan di tempuh.
"Sudahlah Anisa, kamu mau cari pengacara pun tidak mungkin. Kita ini bukan orang kaya, jadi mana mungkin ada yang membela." cibir Ratna.
"Aku tidak mencari pengacara. Aku hanya berharap keluargaku bisa hadir di sini. Tapi keadaan yang membuat mereka tidak akan datang kesini. Jogja itu jauh, butuh biaya. Selama ini keluarga mas Hazar sudah banyak membantu kami. Tapi sekarang aku dan mas Hazar sudah selesai." Ratap Anisa.
"Ya iyalah, Nisa. Keluarga kamu mungkin malu punya anak kayak kamu. Anak yang mereka banggakan akan menjadi napi. Calon suamimu pun pasti akan mencari pasangan yang lebih pasti. Kalau dia menunggu kamu keburu karatan."
"Ratna!" Endang menegur tutur kata putri sulungnya.
"Kamu tidak usah ikut campur dengan urusan Anisa. Jangankan keluarga Anisa, Najwa adik kamu saja tidak pernah datang menengok kita."
Ratna tidak mempedulikan ucapan ibunya. Dia juga tidak terlalu peduli kalau Najwa tidak datang menjenguk. Dia dan Najwa hanya satu ibu tapi beda ayah. Ratna juga tidak terlalu dekat dengan adik bungsunya itu.
"Dari masalah ini kita harusnya berkaca diri. Kamu lihat Laras, dia memberikan kita tumpangan tempat tinggal. Dia juga tidak pernah protes saat kamu dan Najwa tidak pernah membantu jualan di depan rumahnya. Dia juga tidak marah ketika kalian selalu bangun siang atau tengah hari. Justru ibu yang merasa bersalah pada Laras. Kita sudah menipu nya dengan mengaku sanak familinya."
"Saudari Anisa, pengacara anda sudah datang bersama keluarga anda."
__ADS_1
"Pengacara?" ketiganya saling bertukar pandang.
"Siapa?" tanya Anisa.
"Nisa," suara lembut itu muncul menyapa Anisa.
Anisa melihat siapa yang menyapa langsung berhambur kearah sosok itu. "Ibu ..!" pekik Anisa pada wanita paruh baya itu.
Wanita yang bernama Suriah itu memeluk erat putri sulungnya. Tangis kerinduan antara ibu dan anak pun terjadi. Sejak Anisa satu bulan ditahan, Bu Suriah terpaksa menahan kerinduannya untuk berjumpa dengan putriny. Anisa terlihat menyesali kejahatan yang pernah mereka lakukan kepada orang lain. Meskipun dia tahu yang dilakukannya juga jebakan dari orang di kantornya. Melihat penyesalan yang ditunjukkan buah hatinya, Bu Suriah pun tak henti-hentinya menangis sambil memeluk erat anaknya.
"Ibu kesini sama siapa, Adik-adik Bagaimana keadaannya. Terus ayah siapa yang menjaga?"
"Ibu kesini sama pengacara kamu, nak? ayah kamu masih seperti itulah, tidak ada perubahan." jelas Bu Suriah.
"Maaf, Bu. Nisa tidak pernah meminta pengacara. Mana ada uang kita bayar pengacara."
"Dia lelaki baik. Bahkan dia bilang ikhlas kalau tidak di bayar."
"Siapa,Bu?"
", Namanya Raditya Andika Pratama. Dia anak muda yang Sholeh. Rajin sholat, itu yang ibu lihat saat dia datang kerumah kita dari Jakarta." jelas Bu Suriah.
"Raditya, siapa ya?" Anisa masih berpikir keras siapa sosok Raditya tersebut.
"Saya..!" Anisa dan semua yang ada di ruangan menoleh ke pemilik suara.
"Kamu,..." Pekik Ratna dan Anisa.
*
*
*
Hayo tebak siapa sosok Raditya Andika Pratama.
*
*
*
__ADS_1
Terimakasih sudah sempat mampir ke novel ku yang masih banyak kekurangannya. Saking banyak yang kurang, nggak ada yang komen. Mungkin saking asyik baca lupa komen dan like. Jujur di notifikasi banyak laporan like tapi pas di view sedikit sekali yang mampir. Tapi semua itu tetap di syukuri.
Sudah ada yang mampir saja Alhamdulillah, meskipun hanya like saja.