
Sebuah hamparan air yang tenang terbentang luas didepan mata. Angin sepoi-sepoi menyibak baju yang dikenakannya. Sepasang mata menatap takjud pada pemandangan didepannya. Kakinya dihempaskan diatas rumput hijau. Pupil matanya yang berwarna coklat menatap lurus, tak peduli baju putihnya kotor karena dibiarkan mengenai tanah. Tubuhnya yang jangkung dibiarkan basah saat memasukkan setengah kakinya dalam genangan air tersebut.
"Tempat ini seperti surga."
Kalimat itu keluar sebagai rasa syukurnya atas karunia yang tersaji didepan mata. Sebagai rasa syukur dirinya bisa berada ditempat yang menurutnya betapa hebatnya kuasa Tuhan. Hirupan udara sejuk membuatnya tak ingin beranjak dari sana. Sejenak dia memutarkan tubuhnya melihat keadaan sekitar.
"Rangga"
Sapaan bariton mengusik pendengarannya. Mata coklat itu mengarah pada sosok lelaki yang berdiri tak jauh dari dirinya.
"Papa!" serunya.
Pemilik tubuhnya itu tersenyum menatapnya. Tak perlu pikir panjang ayah dan anak tersebut saling melepas rindu. Rangga senang bertemu dengan papa kandungnya.
"Sebentar?"
Rangga melepaskan diri dari dekapan ayahnya. Wajah papanya masih sama seperti terakhir bertemu. Tak ada menua, apa mungkin karena sudah di surga.
"Jika aku bertemu dengan papa, berarti aku?"
Aryo menggeleng mendengar pemikiran putranya. Dia menjelaskan kalau anak tunggalnya belum meninggal dunia. Hanya saja saat ini Rangga berada posisi hidup dan mati.
"Bukan, nak. Kamu belum meninggal. Saat ini kamu sedang berada antara hidup dan mati. Pertemuan kita ini hanya untuk mengingatkan kalau kamu harus bertahan di dunia. Ada yang menunggumu, ada yang menderita karena kesakitanmu."
"Maksud papa apa? siapa yang menderita karena aku? apakah itu Laras? apakah terjadi sesuatu dengan Laras? Ya Allah, maafkan aku,Ras.
Pa, aku ingin sembuh! aku mau menjaga Laras dari jangkauan mama. Papa tahu tidak? mama yang menjodohkan aku dan Laras, tapi dia juga yang menyiksa istriku. Apa papa tahu sebabnya?"
Aryo tersenyum mendengar ucapan putranya. Dia teringat bagaimana Raya juga diperlakukan seperti itu saat belum hamil Rangga. Dengan sabar Aryo meyakinkan Raya supaya kuat dan bersabar. Aryo juga tidak pernah memaksa Raya supaya cepat hamil. Pengertian itu akhirnya dipahami Raya Meskipun masih dapat rongrongan dari mamanya.
"Karena mamamu juga dulu seperti itu, Ga. Eyang kamu dulu menuntut Raya cepat hamil saat dua bulan setelah kami menikah. Kamu tahu dilemanya mamamu saat itu, apalagi karirnya sebagai model lagi naik daun. Dia malah dituntut berhenti jadi model dan di rumah jadi ibu rumah tangga.
Eyangmu dulu sangat ketat sama mamamu. Papa saja kalah suara dengan eyangmu. Tapi papa tidak pernah meninggalkan mamamu sedikitpun. Bagi papa apa yang terjadi dalam rumah tangga kami adalah ujian. Dimana tak selamanya perusak rumah tangga harus ada pelakor. Tapi yang kami alami adalah keterlibatan dari orangtua.
Setelah kamu lahir, papa kira semua akan selesai, ternyata tidak. Semakin banyak tuntutan yang diberikan eyang pada mamamu. Hingga kami memutuskan untuk pindah rumah. Membina rumah tangga yang sakinah dan mawadah."
Rangga terdiam mendengar cerita papanya. Dia menyimpulkan apa yang dialami mama semacam tuntutan balasan di masa lalu. Air matanya menetes, bukan bermaksud cengeng. Hanya saja dia jadi teringat istrinya, setitik rindu pun membelenggu hatinya.
"Rangga, tugasmu masih panjang. Papa berharap apa yang terjadi dimasa lalu tidak terjadi dengan kamu dan keluarga kecilmu. Kalaupun iya, kamu harus menjadi penguat untuk istrimu."
__ADS_1
Aryo berjalan meninggalkan Rangga yang masih berdiri terpaku. Perlahan-lahan sosok itu menghilang. Ditutupi cahaya putih menyilaukan. Rangga terus memanggil nama papanya.
"Maaaaas! tolong, aku sakit sekali! Mas Rangga!"
"Laras!"
Rangga terus memanggil nama istrinya.
"Maaaas, sakit!"
"Laras! kamu dimana! apa yang terjadi sama kamu."
Tak berapa lama dia merasa ada yang menyedot tubuhnya. Rangga menghilang bersama cahaya putih yang sangat bersinar.
Sementara di sebuah ruangan besar yang bernuansa putih. Tampak seorang lelaki yang sedang berbaring dengan peralatan medis di tubuhnya. Salah seorang perawat sedang memeriksa kondisi Rangga. Sudah sembilan bulan lelaki itu tidur ditemani peralatan medis. Sudah sembilan bulan, lelaki itu tidur dengan indah.
Sebuah tangan bergerak dengan lambat. Mata itu terlihat terbuka sedikit demi sedikit. Rangga mencoba meyakinkan penglihatannya. Di raba sedikit tempat itu.
Kenapa disini gelap sekali. apakah aku berada di alam kubur. Tak ada cahaya sedikitpun.
Ya Allah, apakah aku sudah mati. Tidak! aku tidak boleh mati. Laras pasti membutuhkanku.
Mereka bilang aku sudah sadar. Itu artinya aku masih hidup.
Ya Allah terimakasih engkau masih memberikan aku kesempatan untuk hidup.
Tapi kenapa gelap sekali..
Terdengar suara berseru melihat mata Rangga terbuka. Tentu saja kedua orangtuanya sangat bahagia setelah berbulan-bulan putranya tak sadarkan diri. Seakan doa mereka selama ini dikabulkan Allah. Raya langsung sujud syukur saat melihat hal tersebut.
Author: Si raya sujud syukur tapi dia lupa kezoliman yang dia lakukan pada menantunya.
"Alhamdulillah, pa. Rangga sudah sadar." ucap Raya penuh bahagia.
"Nak, ini mama dan papa ada disini."
"mama kenapa gelap sekali!" pekik Rangga.
"Suster!" serunya panik.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian suster wanita dan perawat lelaki pun memasuki kamar. Rangga masih mengamuk saat mengetahui penglihatannya gelap.
"Cepat hubungi dokter!" pekik Raya.
"Baik, Bu."
Mereka membubarkan diri dari hadapan atasannya. Raya masih mencoba menenangkan Rangga yang masih syok.
Rangga mencoba bangkit namun tubuhnya tak dapat digerakkan. Perasaannya semakin tidak karuan saat beberapa titik tubuhnya terasa beku. Tangannya berpegang kuat pada bahu milik Raya. Seakan dihantam bertubi-tubi. Rangga hanya bisa menangis di balik bahu mamanya.
"Kamu tenang, nak. Ini efek karena kelamaan tidur. Sebentar lagi akan baik kok." Raya masih mencoba menenangkan putranya.
Meskipun sudah sedikit tenang namun tetap saja Rangga masih syok. Memang dokter belum bilang apapun. Tapi dia bisa menebak akan ada hari-hari suram yang akan di jalaninya.
ma... ma ... mana La...ras" suara Rangga terdengar terputus-putus.
Raya melirik kearah seorang suster. Tak berapa lama suster tersebut duduk di samping Rangga.
"Apakah ini kamu, Ras?" sahut Rangga.
"Iya, mas Rangga. Ini aku Laras istrimu." Rangga tahu itu bukan suara Laras. Lelaki itu mendorong suster dengan kasar.
"Bukan.. dia bukan Laras. Pergi! aku mau Laras!"
Beberapa waktu kemudian
"Bagaimana keadaan anak saya, dok?" tanya Raya saat dokter memeriksa Rangga.
Dokter menatap pasien yang sudah di beri obat penenang. Sepanjang dia memeriksa, Rangga terus mengamuk memanggil nama Laras.
"Sepertinya dia harus bertemu dengan perempuan yang bernama Laras. Kalau tidak dia bisa depresi."
"Maaf, dok. saya rasa tidak mungkin dia bisa bertemu dengan Laras." jelas Raya.
"Kenapa, Bu?"
Raya menghela nafas berat. Dia mengalihkan pandangan ke arah Rangga yang sudah tertidur. Ada rasa sedih melihat kondisi anaknya.
"Sebab Laras yang pergi meninggalkan Rangga. Meskipun dia tahu kalau Rangga sedang kritis."
__ADS_1