
"Nona Anisa, ada yang datang menjenguk." suara penjaga lapas terdengar dari balik jeruji.
Anisa berdiri meninggalkan ruang penjara yang hampir satu bulan di tempatinya. Saat ini punya teman dalam satu sel yang bernasib sama.
Awalnya dia di tempatkan dalam sel bersama Ratna dan Endang. Sayangnya, Ratna berasa ratu sehingga bisa seenaknya memperlakukan Anisa.
"Ada yang ingin bertemu dengan anda." jawab penjaga lapas tersebut.
"Terimakasih, Bu." jawab Anisa lembut.
Anisa berdiri melihat siapa yang datang. Ada rasa bahagia saat melihat kedatangan sosok. Dia pikir sosok itu tidak akan pernah datang setelah dirinya dinyatakan bersalah dalam kasus pemblokiran rekening nasabah.
Anisa berjalan malu-malu mendekati sosok itu. Sosok itu berbalik, mendapati Anisa sudah berdiri di hadapannya. Tatapan sosok itu biasa saja. Tidak ada rasa senang atau pun sedih. Tak ada sambutan penuh rindu. Bahkan dia menolak pelukan dari Anisa.
"Mas Hazar apa kabar?" tanya Anisa pada calon suaminya.
"Alhamdulillah baik, Nisa." jawab Hazar dengan datar.
"Mas, aku senang kalau kamu mau kesini. Aku pikir kamu tidak akan datang lagi kesini."
Anisa memegang tangan Hazar. Anisa menumpahkan rasa rindunya pada lelaki yang sudah dicintainya sejak kuliah. Dia senang kalau Hazar tak mempermasalahkan soal kasusnya. Meskipun dia berharap ada setitik keadilan untuknya.
"Nisa,"
"Iya, mas."
"Terimakasih, ya. Kamu sudah menjadi kekasihku hampir sepuluh tahun. Kamu adalah wanita baik yang pernah aku temui."
"Sama-sama. Aku juga bahagia sama kamu, doakan semoga masalah ini selesai ya, mas. Dan kita bisa mewujudkan impian, yaitu menikah." jawab Anisa berbinar.
"Semoga nanti akan ada lelaki yang bisa membahagiakan kamu, ya, Nisa."
Kepala Nisa berdiri. Mencoba memaknai apa yang dimaksud Hazar.
"Maaf, mas Hazar. Maksud ucapannya apa? semoga ada lelaki yang membahagiakan aku? mas, aku bahagia sama kamu. Aku akan setia sama kamu."
"Nisa, ...Aku ..."
"Aku tidak bisa meneruskan hubungan kita."
"Mas, apa kamu malu dengan statusku sekarang? makanya kamu mutusin aku."
"Maaf, Nisa. Aku tidak bisa melawan kehendak kedua orangtuaku. Sejak kamu di tangkap, mereka murka dan memutuskan pertunangan kita."
Wajah Anisa langsung kecut. Tangannya saling menggenggam karena hatinya kalut. Suatu ucapan yang membuatnya terkejut setengah mati. Lelaki itu secara tidak langsung ingin putus hubungan. Anisa menunduk lemas, mau marah juga percuma. Yang ada nanti malah bikin Hazar semakin ilfeel.
"Mas, maafkan aku. Maafin aku kalau sudah bikin malu. Aku yakin kalau ini jebakan, mas."
"Kalau memang jebakan kenapa kamu resign mendadak. kenapa kamu meninggalkan kasus di tempat kerja. kamu bilang di jebak tapi kamu menikmati uangnya. Itu sama saja kamu dengan kriminal. Dan aku paling tidak suka berurusan dengan orang kriminal. Mau dia sudah tobat sekalipun. Kriminal tetap kriminal."
Anisa terdiam mendengar ucapan calon suaminya. Calon suami? dia sekarang bukan calon lagi dimata Anisa. Selesai iya selesai. Anisa tidak mau berharap pada lelaki yang tidak memikirkannya. Lelaki yang tidak mau susah dan hanya memikirkan diri sendiri.
"Sayang..." Hazar memanggil seorang wanita.
Anisa menatap dari kaki hingga kepalanya. Sosok wanita yang dia kenal selama bertahun-tahun.
"Jadi kamu?"
"Apa kabar Anisa?" wanita itu hanya tersenyum santai.
"Tega kamu, ya? aku ini sahabatmu."
"Oh ya, kamu mau marah silahkan! toh juga tidak akan mengurangi hukuman kamu." tawa wanita itu.
__ADS_1
"Wanda! kamu yang memintaku menggantikan permintaan bu Raya. Kamu dan manajer bank bekerjasama untuk menjebak aku. Iya kan!" amuk Anisa.
"Enak saja, kamu jangan cari kambing hitam. Sudah jelas-jelas kamu yang melakukan semua ini. jadi jangan nuduh sembarangan." kilah Wanda.
*
*
*
*
Di pucuk pohon cemara
Burung kutilang berbunyi
Dengan tak jemu-jemu
Mengangguk-angguk sambil berseru
Tri-li-li, li-li-li-li-li-li
Sambil berlompat-lompatan
Paruhnya s'lalu terbuka
Digeleng-gelengkan kepalanya
Menentang langit biru
Tandanya suka ia berseru
Tri-li-li, li-li-li-li-li-li
Di pucuk pohon cemara
Burung kutilang berbunyi
Dengan tak jemu-jemu
Mengangguk-angguk sambil bernyanyi
Tri-li-li, li-li-li-li-li-li
Sambil berlompat-lompatan
Paruhnya s'lalu terbuka
Digeleng-gelengkan kepalanya
Menentang langit biru
Tandanya suka ia berseru
Tri-li-li, li-li-li-li-li-li
Laras dan Bagas bernyanyi sambil memandang jalanan luas. Rangga tersenyum ketika istri dan anaknya terlihat riang sambil bernyanyi.
Mobil Alphard milik Rangga terus melaju membelah jalanan. Rangga masih duduk balik kemudi sesekali menatap anak dan istrinya yang masih asyik bernyanyi.
"Kita mau kemana sih, mas?" tanya Laras.
"Bulan madu." jawab Rangga singkat.
__ADS_1
"Bagas ikut?"
"Kita sudah di tunggu mereka." jawab Rangga.
"Siapa?"
"Keluarga besar."
Laras tidak banyak bertanya lagi. Dia mengalihkan diri dengan bermain bersama Bagas. Bernyanyi, tertawa, dan semua yang dapat menghilangkan kejenuhan.
"Bunda?"
"Iya, nak."
"Mamanya Yusuf kok gendut perutnya?"
"Mamanya Yusuf bawa adek di perut." jelas Rangga.
"Bawa adek kok di perut sih, ayah? bawa adek kan tinggal gendong." timpal Bagas.
"Adeknya masih jadi perut, nak. Belum jadi manusia. Nanti pas keluar baru jadi manusia."
"Tapi Pak kirno gendut juga. Apa dia bawa adek bayi juga?"
Laras dan Rangga tertawa mendengar celotehan putra tunggal mereka. Sesekali mereka bertukar pandang.
"kenapa Bagas nanya kayak gitu?" tanya Laras.
"Ayah, Bunda.... tolong kabulin permintaan Bagas yah?"
"Yusuf punya kakak dan sebentar lagi bakal punya adek."
"Lalu?" tanya Laras.
"Bagas mau punya adek, ayah."
Wajah Rangga dan Laras langsung bersemu merah. Rangga menggamit lengan Laras. Seakan memberi kode pada Laras. Namun sayangnya dia hanya dapat pelototan dari istrinya.
"Serius Bagas mau punya adek?" Bagas mengangguk.
"Bagas bakal sayang sama adek, yah."
"Ini baru anak ayah." Rangga mengacak rambut Bagas.
"Bunda dengar, kan apa kata Bagas?"
"Bunda nggak budeg, yah."
"Bagas kalau mau punya adek syaratnya harus bisa tidur sendiri."
"Bagas kan tidur sendiri ayah? Bagas kan punya kamar."
"Tapi kan Bagas tengah malam suka masuk kamar ayah. Hayo!"
"Mas, sudah ah! jangan ngomong gitu sama anak kecil."
"Jadi bunda, nanti malam kita mulai bikin adonan ya. Ayah pengen melihat bunda ngidam. Terus manja sama ayah. Maafkan ayah tidak ada saat bunda lagi hamil."
Mobil pun akhirnya berhenti di sebuah cottage. Laras dan Bagas sudah tertidur selama perjalanan. Tampak seorang lelaki membantu Rangga menggendong Bagas.
"Terimakasih, Za." sapa Rangga pada Reza, sahabat karibnya.
"Sama-sama, Ga. Yasudah, kamu angkat istrimu. Kalau aku yang angkat bisa berabe."
__ADS_1
"Ciyeeee... pengantin baru." Rangga menyikut lengan Reza.