
Vila kecil bergaya Eropa yang terlihat kukuh dan berwibawa. Suasana Vila yang menyambut seorang lelaki berbadan tinggi dan tegap itu dengan aroma wangi bunga mawar. Sosok itu tentu saja sambil menggendong seorang wanita yang sudah tertidur pulas. Tatapannya tak pernah lepas dari wanita berhijab tersebut. Serasa menelan salivanya saat melihat betapa cantiknya wanita tersebut. Memori demi memori terus berputar. Segenggam rasa rindu yang baru beberapa hari saja terpisah.
Vila kecil yang terletak di daerah bogor, tempat yang pernah menampung dirinya saat buta dan lumpuh. Tempat yang sempat terbakar akibat ulah tiga tawanannya. Seperti beberapa saat yang lalu papanya sudah memaafkan dirinya terkait masalah kenapa tiga wanita itu ditahan. Papa Donal juga minta dirinya merenovasi kembali rumah itu. Tak sampai kurun dua minggu rumah itu sudah bisa di tempati kembali meskipun belum 100 persen.
Deg-degan! Sudah pasti, dia berharap reaksi Laras jika tahu dirinya sudah bebas.
Rangga meletakkan istrinya diatas ranjang. Menatap lekat wanita yang sudah di halalkannya delapan tahun yang lalu. Untuk menghilangkan rasa nervousnya Rangga menata kembali hiasan kamar. Menjadi seromantis mungkin. Satu tatanan bisa sepuluh kali diganti Rangga. Keringat mengucur deras di pelipis wajahnya. Senyumnya mengembang saat apa yang dia kerjakan mendapatkan hasil yang lebih baik lagi.
Rangga meninggalkan Laras yang masih terlelap. Tangannya merogoh ke kantong. Menelepon seseorang yang dikenalnya.
"Bagaimana?" tanyanya.
"Sudah tidur, Ga. Dari tadi dia nanyain ayah dan bundanya. Malah bila bilang sama dia kalau ayah dan bunda lagi mau kasih adek buat Bagas. Dia senang banget."
"Haduh, ngapain ngomong kayak gitu sama anak kecil."
"Ya, kan rata-rata anak kecil suka kalau dapat teman"
"By the way, terimakasih ya sudah bantu bebaskan saya."
"Siapa yang bebasin kamu? kamu harusnya berterimakasih sama Adit dan Alam. Mereka kerjasama buat bebasin kamu. Malah alam yang menjamin dirinya."
"Jadi alam yang bebasin aku?" Rangga kaget saat tahu siapa penolongnya.
"Iya," jawab Reza singkat.
Beberapa saat kemudian Laras turun, bersama dengan itu. Rangga masih bersembunyi di kamar yang sudah dia siapkan. Nyaris saja Laras mengetahui keberadaan dirinya.
Rangga duduk di kamar sembunyinya. Kamar lain yang dia hias khusus honeymoon bersama istrinya.
Buket bunga. Hadiah spesial yang bisa Dad berikan saat hari ulang tahun istri yang sedang hamil adalah sebuah buket bunga cantik. ...
Voucher belanja. ...
Tiket liburan. ...
Voucher spa treatment. ...
Diffuser. ...
Handphone. ...
Dinner. ...
Album foto kenangan.
Rangga membaca beberapa tips dari ponselnya. Sesekali dia menghempaskan nafasnya dalam-dalam. Agar tidak terlihat nervousnya. Kenapa dia yang harus nervous? padahal yang harus yang nervous adalah penerima kejutan. Entahlah, nyatanya dialah yang lebih tegang.
"Tenang, Ga bukankah Laras penggemar Hyun bin. Wajahku kan nggak kalah ganteng dari Hyun bin. Sudah pasti dia bahagia sekali kalau aku sudah bebas"
Rangga tahu kalau Laras sudah memasuki kamar yang disiapkannya. Sambil memantau, sesekali senyum-senyum sendiri. Tampak Laras seperti mencari Bagas, putra mereka.
Dengan cepat Rangga mengikat tubuh mungil itu. Khas aroma parfum favoritnya.
"Sayang,..." Rangga membuka suaranya.
"Mas,.." Laras langsung berbalik mendengar suara bariton yang sudah tidak asing baginya.
"Ini kamu kan, mas?" tangan Laras menangkup wajah Rangga.
I live a lifetime every moment
When I'm holding you close
__ADS_1
Lay your head down on my shoulder
Honey, I won't ever let go
Because you pulled me like a magnet
Now, I'm right where I belong
I'm gonna love you the same for the rest of my days
And on, and on, and on
'Cause as long as we keep dancing
We'll stay young at heart
And every time I hold you in my arms
You give me deja vu
Like l've been waiting my whole life to find that view
'Cause when I'm lookin' at your eyes
I go from California to Timbuktu
Back to dancing in the living room
If I got you, baby, everyday's a honeymoon
Oh-oh, it's a honeymoon
Baby, everyday's a honeymoon
I wanna spend some time in Paris
We'll take a picture for our parents
But we're never gonna leave
Nobody knows you like I know you
Nobody loves you like I do
And if I'm never a star, but I've got my guitar
I'll be singing songs to you
'Cause as long as we keep dancing
We'll stay young at heart
And every time I hold you in my arms
You give me deja vu
Like l've been waiting my whole life to find that view
'Cause when I'm lookin' at your eyes
I go from California to Timbuktu
Back to dancing in the living room
If I got you, baby, everyday's a honeymoon
Oh-oh, it's a honeymoon
__ADS_1
Baby, everyday's a honeymoon
Maybe we'll end up in New York city
Maybe we'll end up out in L.A
Maybe we'll decide to stay right here forever after
I will love you all the same
You give me deja vu
Like l've been waiting my whole life to find that view
'Cause when I'm lookin' at your eyes
I go from California to Timbuktu
Back to dancing in the living room
If I got you, baby, everyday's a honeymoon
Oh-oh-oh
Oh, it's a honeymoon
Oh-oh-oh
Baby everyday's a honeymoon with you
Oh-oh-oh
Oh, it's a honeymoon
If I got you, baby, everyday's a honeymoon
Lagu honeymoon milik Johny stimpson menggema di kamar mereka. Rangga menghayati perputaran lagi. Rangga sebenarnya tidak terlalu hapal liriknya. Namun dia yakin lagu tersebut sebagai ungkapan hatinya pada sang isteri yaitu Larasati.
Laras merasakan sesuatu yang berat tengah menimpa perutnya. Tubuhnya memutar ke belakang, memastikan siapa yang berada di belakangnya. Sesaat dia langsung di suguhkan ketampanan suaminya, memorinya berputar dimana saat dulu lelaki itu mengajaknya menikah. Padahal awalnya Rangga-lah yang menolak pernikahan itu.
Dengan lembut dari menyentuh kulit tipis suaminya, tangannya berasa gersang ketika jemari menelusuri jambang tipis suaminya.
"Sayang,..."
Laras langsung tersentak saat Rangga menarik dagunya. Seketika Laras sudah diatas rentangan kedua tangan Rangga. Lelaki itu terus berjalan kearah ranjang yang sudah di siapkan.
"Mas,"
"Aaaaawwwww... kok cubit sih," Rangga meringis saat tangan mungil itu mencubit perutnya.
"Kamu jahat, mas. Tega ninggalin aku selama hampir dua minggu. Tega nggak kabari aku setelah kamu buat perasaanku bersalah. Tega ..." Laras merasakan dekapan yang hangat. saat seseorang memeluk kita, terkadang semua kecemasan, kesedihan, dan kegelisahan menjadi hilang. Ada perasaan hangat menyusup masuk ke dalam hati.
"Maafkan aku, Ras. Bukan maksud untuk buat kamu cemas. Bukan maksud buat kamu merasa bersalah. Tapi semua yang aku lakukan karena rasa cintaku padamu.
Saya sudah berjanji seumur hidup akan mencintai seorang Larasati bin Fauzan. Dan tolong pegang janjiku ini."
"Janji kamu tidak akan meninggalkan aku lagi."
"Iya, aku janji. Aku akan selalu ada buat kamu. Walaupun aku bukan seorang CEO. Aku hanya anak tiri dari seorang pengusaha besar. Aku tidak punya lagi perusahaan dari almarhum papaku. Karena sudah di jual mama."
"kamu punya hutang sama aku, mas."
"Hutang apa? hutang rindu ya. Aku juga merindukan kamu, sayang."
"Hutang cerita bagaimana bisa kamu bebas. Hutang karena sudah membuat aku merana."
"Bukankan tadi sebagai pembayar hutang meranamu. Ataaaau.... mau yang lebih?" Rangga sudah kembali mengangkat tubuh Laras.
__ADS_1
"Maaaaassss... turunin! aku bisa jalan sendiri." pekik Laras.