Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Kejujuran Laras


__ADS_3

Laras dan Rangga akhirnya sampai ke cafe Great. Seperti yang mereka ketahui kalau video pertengkaran Mila dan waitres wanita sudah menyebar. Sambil menggendong Bagas. Rangga mencari keberadaan Mila.


"Sepertinya kak Mila sudah pergi, Mas." kata Laras masih mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.


"Sebentar, sayang." Rangga memindahkan Bagas ke gendongan Laras.


"Mau kemana, Mas?"


"Aku mau tanya pada orang-orang sekitar apa yang terjadi sebenarnya." Rangga mendekati ruang khusus karyawan cafe.


"Oh, aku duduk di sana sama Bagas, ya Mas." Laras menunjuk sebuah meja kosong. Rangga mengiyakan lalu berjalan mendekati beberapa karyawan cafe yang sedang berkumpul.


"Eh, ternyata cewek tadi viral, Lo."


"Iya, huh. malu dia viral karena kelakuannya. Kan si Ami bilang kalau cewek itu maksa masukin obat perangsang di minuman mereka berdua." sahut yang lain.


"Kayaknya dia berkelas orangnya. Tapi yang perilakunya yang tidak berkelas." Masih dalam posisi rumpi.


"Kalau style-nya sih orang kaya. Tapi nggak tahu juga. Orang kaya kan elegan nggak banyak tingkah. La ini kelihatan tingkahnya berlebihan."


Laras yang sedari tadi fokus sama gawainya pun terusik dengan obrolan itu. Dia memutar tubuhnya kearah si pembicara. Beberapa kali dia mencoba mencerna apa yang menjadi topik pembicaraan mereka.


Soal Mila kah? tapi dia tidak mudah percaya dengan semua itu. Selama ini dia mengenal Mila sebagai sosok yang baik perilakunya. Apalagi dengan jabatan dokter yang di embannya.


"Sayang," Rangga mendatangi kursi mereka.


"Bagaimana, Mas?" Rangga duduk melemas di kursi sebelah Laras.


"Kita pulang!" ajak Rangga.


"Loh, kok pulang. Bukannya kita mau makan?"


"Kita makan di rumah saja. Mama bilang bibi sudah masak banyak." Laras tidak melanjutkan pertanyaannya. Mungkin memang benar kata Rangga kalau di rumah sudah masak banyak.


Sejak masuk ke mobil Rangga hanya berdiam diri. Tak ada sepatah kata pun yang keluar. Laras ingin tahu apa yang membuat suaminya diam. Tapi dia mencari momen yang tepat. Takut mengganggu konsentrasi menyetir suaminya.


"Mas,"

__ADS_1


"Iya, sayang." Kata sayang yang di ucapkan Rangga terdengar datar. Tidak lembut juga tidak meninggi.


"Ada apa?" tanya Laras.


"Tidak ada apa-apa, sayang." Tangan Rangga masih mengelus kepala istrinya.


"Tapi kamu sedari tadi diam saja. Apa ada yang menggangu pikiranmu?"


"Tidak ada, sayang. Aku hanya ingin fokus menyetir. Apakah kamu sudah mencari keberadaan Mila? aku takut dia sedikit down. Apalagi Mila itu sangat menjaga image-nya." jelas Rangga.


"Kamu begitu paham soal Mila. Sama seperti paham soal Ina, apa ada sesuatu yang tidak kuketahui tentang kalian?" Laras bukan sekedar menduga. Dari cara kekhawatiran Rangga pada Mila membuatnya teringat ucapan Sasti.


"Hey, kamu ngomong apa, sih sayang? aku sudah anggap Mila seperti adik sendiri. Sama seperti Ina. Lagian kamu kan tahu dari dulu cuma satu orang yang aku cintai. Yaitu Larasati."


"Emang usia kalian jarak berapa tahun?"


"Satu lebih muda dariku." kata Rangga sambil fokus dengan setirannya.


"Oooo...," hanya itu yang keluar dari mulutnya.


Mobil melaju menembus jalanan yang mulai sepi. Laras baru saja menelepon Sasti kalau tidak akan balik ke kantor. Laras merasa ada yang harus suaminya jelaskan. Ucapan Rangga barusan masih menerbitkan keraguan dihatinya. Tangannya mengelus putranya yang asyik bermain gadget. Sesekali dia melabuhkan kecupan ke pucuk kepala malaikat kecilnya.


"Mas,"


Rangga menyandarkan punggungnya di kursi mobil. Helaan nafas kasar terdengar dari rongga mulutnya.


Lagi-lagi Laras merasakan ada yang disimpan suaminya.


"Apa kamu memikirkannya kak Mila sampai sikapmu begini? sebegitu cemasnya kamu sama kak Mila."


"Ras, bukan itu."


"Lalu apa, mas? sejak di cafe tadi kamu terlihat berbeda. Ya aku tahu kamu pasti mau bilang kalau kak Mila itu sudah seperti saudara. Tapi aku menangkap beda, Mas! kamu memperlihatkan kecemasan sama seperti kamu mencemaskan Ina. Aku tahu ketika kamu mencemaskan Ina terlihat lebih posesif. Tapi ini?"


Rangga memperbaiki cara duduknya. Sungguh kalau dia cerita soal Mila tadi, apakah Laras akan bersikap lebih baik? Rangga tidak yakin hal itu. Apalagi istrinya sangat percaya pada Mila. Rangga bingung harus memulai pembicaraan dari mana.


"Ras,"

__ADS_1


Lama wanita itu tak merespon panggilan suaminya. Pikirannya berkecamuk antara obrolan orang di cafe, sikap Rangga yang aneh sejak di cafe serta ucapan Sasti yang terus menari di otaknya.


"Mila ribut sama waitres karena dia mau memasukkan obat perangsang di minuman aku. Daei keterangan yang aku dapat kalau waitres tersebut menolak permintaan Mila." Rangga mulai cerita yang sebenarnya.


"Dan tadi saat di dalam. Mila sedang di sidang oleh para karyawan cafe berserta atasannya. Atasan Mila ternyata adalah Dini, teman angkatan kami juga." Rangga masih bercerita.


"Ras, aku bicara seperti ini supaya kamu tahu kalau tidak mengajak kalian mungkin akan beda ceritanya. Kamu tahu, Ras. Mama pernah berusaha menjodohkan aku dengan Mila. Tapi aku tidak pernah menanggapi, karena apa? karena aku cintanya sama kamu.


Dan sekarang aku minta kamu cerita yang sebenarnya. Apa yang terjadi selama ini? apa benar ada andil dari keluargaku?"


Laras menahan rasa sesak yang dirasakannya. Lima tahun yang lalu, dia memilih hengkang dari kediaman mertuanya. Sejak awal pernikahannya tidak ada rasa kenyamanan yang diberikan keluarga suaminya. Meskipun dia tahu, suaminya tetap memberikan dukungan penuh pada Laras. Awalnya dia tidak bermaksud hengkang, hanya ingin menenangkan diri di rumah ibunya. Tapi ternyata pilihannya malah dianggap pergi dari rumah.


"Mas, kita pulang dulu ke rumah nanti aku ceritakan. Tapi aku ingin pulang ke kontrakan bukan ke rumah mama Raya. Jujur aku masih belum nyaman dengan mama Raya. Bukankah kamu berjanji akan tetap bersamaku dimana pun aku berada."


"Kita pamit sama mama dan papa dulu, Ras. Tidak mungkin main pindah saja."


"Terserah, mas saja." Laras memalingkan wajah kearah jalanan.


Pada akhirnya Rangga mengantarkan Laras pulang ke rumah keluarga Pattimura. Disana mereka sudah di sambut ramah oleh Raya.


"Mantu mama dan cucu Oma sudah pulang. Kalian bersihkan diri dulu, biar seger. Kita makan sama-sama, cucu oma ganti baju dulu sama mbaknya,ya."


"Iya, ma." jawab Laras meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamar.


Baru saja dia hendak bernafas, sebuah tangan melingkar di belakangnya. Laras langsung memutar tubuhnya, tampak Rangga merekatkan kedua lengannya di pinggang Laras.


"Mas, kamu ngagetin aja!"


"Aku masih menagih janji kamu."


Laras mengerutkan dahinya. Seingatnya dia tidak berjanji apapun. "Janji apa?"


"Menceritakan soal kamu dan Bagas. Menceritakan soal kepergian kamu selama bertahun-tahun."


"Apa mas siap? apa kamu siap jika kamu mengetahui semua yang aku alami banyak campur tangan mama Raya. Aku diusir dari rumah oleh mama Raya dan Lani. Aku sempat merasakan dunia jeruji karena mamamu.


Aku harus menjalani kehidupan single parent. Sementara kamu tidak tahu kabarnya. Mereka menyembunyikan kamu, memblokir rekeningku, dan menutup akses agar aku memberi tahu kamu tentang kehamilanku."

__ADS_1


Jadi dia mau mengadu sama Rangga! tidak akan aku biarkan. Enak saja mau menghancurkan hubungan aku dan anakku.


Batin Raya yang menguping di balik pintu kamar Rangga.


__ADS_2