Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Belum percaya


__ADS_3

"Mamaku seperti itu? Ras, aku tahu mama dulu sempat bersikap tidak enak sama kamu. Tapi sampai menyembunyikan aku hingga memblokir semua akses rasanya ..."


"Satu lagi, Mas. Dia memenjarakan aku atas kecelakaan yang kamu alami. Aku tidak tahu mama kamu maunya apa. Tapi yang pasti itu yang membuat aku memilih hengkang dari rumahmu. Setelah aku menginap semalam dari penjara. Keluargamu menyembunyikan kamu yang sedang koma. Aku hanya bisa apa, Mas? nggak bisa apa-apa. Beruntung aku berada di lingkungan orang-orang yang sayang sama aku."


Laras sudah menebak reaksi Rangga. Wanita memilih meninggalkan Rangga dari kamar. Mengambil tas kecil dan berjalan menuju kamar Bagas. Rangga kaget melihat reaksi Laras seperti itu.


"Sa...sayang! kamu mau kemana?" Rangga berlari mengejar istrinya.


"Tempatku bukan disini, Mas. Bukan di rumah yang tidak mempercayai aku. Aku sudah berusaha jujur semuanya sama kamu. Tapi sepertinya mama kesayanganmu yang lebih utama. Ya, sudah, Mas, aku mau pulang ke kontrakan." Laras keluar dari kamar.


"Kamu jangan egois, Ras. Pikirkan Bagas! tidakkah kamu melihat betapa bahagianya Bagas ketika kita berkumpul. Tidakkah kamu saat ini mencoba mengenyampingkan tentang mama, demi Bagas. Soal mama bisa kita rundingkan dengan kepala dingin."


Ceklek!


Laras tertegun saat melihat Raya berdiri di depan pintu. Raya masih terdiam dengan memasang wajah sedih. Wanita paruh baya itu memasuki kamar Rangga. Laras yang tadinya ingin pergi malah mematung di depan pintu kamar. Rasa penasarannya dengan apa yang dilakukan mertua menuntunnya kembali masuk ke kamar.


Apa yang akan wanita itu lakukan? apakah dia akan marah padaku? atau dia akan memperkuat aktingnya di depan Rangga. Sumpah sampai sekarang hati kecilku mengatakan kalau mama Raya belum berubah.


"Mama!" Rangga memegang tubuh Raya yang bersimpuh di kakinya.


"Mama ngapain seperti ini!" Rangga mengangkat tubuh Raya dan berdiri sejajar.


"Mama minta maaf kalau memang di masa lalu pernah menyakiti perasaan istrimu. Mama dulu hanya berharap di sisa umur mama, bisa melihat cucu. Mama hanya berharap kamu memberikan keturunan, itu saja tidak lebih." Raya memandang kearah Laras. Wanita itu berjalan mendekati menantunya.


"Maafkan mama, nak. Aku tahu kamu masih marah karena masa lalu. Mama sudah bisa menerima kamu. Mama hanya ingin melihat anak mama bahagia.


Kamu tidak lupa, Ras. Kamu yang memilih hengkang dari rumah ini. Kamu tidak lupa, Ras. Mama sudah berusaha menahanmu, tapi kamu bilang hanya ingin menenangkan diri.

__ADS_1


Saat itu kami mencarimu, nak. Kamu hilang tanpa kabar. Bahkan rumah ibumu sudah tidak kamu tempati lagi.


Saat itu kami tidak diam, Ras. Kami mencarimu." kata Raya.


Laras mengalihkan pandangan ke arah Rangga. Dalam hatinya berharap kalau suaminya tidak percaya pada Raya. Bagaimana mungkin Raya memutarbalikkan fakta. Padahal jelas-jelas, saat dia hamil beberapa kali menemui Raya, tapi wanita itu tak pernah ada di tempat.


Laras memegang ujung tasnya. Ada rasa sesak terselip dihatinya. Pelan-pelan dia mendaratkan tubuhnya di pinggir ranjang. Sekali lagi dia merasa tersudut dengan sikap mamanya dan suaminya.


"Ras, mama sudah mengakui kesalahannya." Rangga kembali angkat bicara.


Tidak ada yang diakuinya, Mas. Semua yang dia bilang berbanding terbalik. Mas, andai kamu mau mendengarkan kejujuranku tadi. Mungkin perasaanku tidak sesakit ini. Aku tidak menyangka mama malah playing victim. Batin Laras. Dia hanya bicara dalam hati, karena dia tahu seberapa besar kejujurannya. Tetap saja Rangga lebih percaya pada Raya.


"Mama, Laras tidak menyangka mama akan bicara berbanding terbalik. Mama tahu kalau Laras hanya pergi menenangkan diri. Tapi mama, Lani dan Oma Fina malah mengusir aku. Mama tahu, kalau Adul menjemputku bukan untuk kabur. Dia hanya mengantarkan aku pulang. Mama malah bilang ke orang-orang kalau aku lari sama Adul." Laras tidak melihat perubahan reaksi dari Raya. Netranya berputar ke arah suaminya. Kini Laras yakin kalau memang Rangga tidak akan bisa memenuhi janjinya.


"Ras," Rangga masih menahan istrinya pergi. Laras menepis tangan Rangga dengan kasar. Dia bukan bermaksud melawan suaminya. Tapi sikap suaminya yang membuatnya seperti itu.


"Bunda kenapa kita pergi dari rumah Oma?"tanya Bagas.


"Karena rumah kita bukan disana, Gas. Rumah kita di Jatibaru." jawab Laras.


"Padahal aku baru saja punya ayah. Bagas mau seperti anak lain, Bun. Pergi dan pulang sekolah diantara ayahnya." Laras memeluk putranya dengan erat. Ada rasa bersalah karena sudah membuat Bagas terjebak dalam situasi seperti ini. Tapi seandainya Rangga mau mendengarkan dirinya, dia tidak akan seperti ini.


"Kalau ayah sayang sama Bagas dia pasti akan menyusul kita." kata Laras menenangkan putranya.


Tak terasa taksi memberhentikan mereka di tujuan. Laras membayar taksi sambil menuntun Bagas turun. Mereka berjalan memasuki area gang kontrakan.


Ternyata rumah mereka sudah di tempati orang lain. Laras merasa tidak pernah memutuskan meninggalkan kontrakan.

__ADS_1


"Ini rumah saya, Bu." protes Laras pada pemilik baru kontrakannya.


"Saya nggak tahu. Bukan urusan saya juga. Kalau pemilik kontrakan sudah membuka lowongan tempat tinggal itu tandanya pemilik lama sudah keluar." jawab pemilik kontrakan baru.


"Bunda, itu siapa? kenapa rumah kita isinya orang lain." sahut Bagas.


"Bunda tidak tahu, nak. Kita ke tempat ibu Dahlia dulu, ya." Laras berjalan menuju rumah Dahlia, pemilik kontrakan.


Sebuah rumah minimalis bercat putih membuka pintu karena ada yang mengetok. Dahlia kaget melihat ada Laras di depan rumahnya. Wanita usia 45 tahun itu menyilahkan Laras masuk ke rumahnya.


"Ada apa,Ras? sore-sore begini kamu mencari saya. Apa ada temanmu yang mau ngontrak disini." tanya Dahlia.


"Saya mau tanya, kenapa kontrakan saya sudah ada yang menempati? saya bahkan belum hengkang dari sini?"


"Loh, bukannya kamu sudah pindah bareng suamimu. Masa kamu tidak tahu kalau semalam suamimu sudah pamit dan memindahkan semua barang milikmu. Katanya kalian sudah punya rumah sendiri.


Dia bahkan mengirim anak buahnya untuk mengangkut barang-barang kamu, Ras." kata Dahlia.


"Suamiku?" Laras kaget.


Kenapa mas Rangga tidak bicara dulu sama aku? apa ini taktik dia supaya aku pulang ke rumah mama Raya.


Sejatinya dalam rumah tangga harusnya semua dibicarakan dahulu. Astaga! kenapa mas Rangga bertindak sendiri. Mas Rangga licik!" batin Laras.


Laras pamit dari rumah Dahlia. Sambil menggandeng Bagas, kakinya melangkah meninggalkan area kontrakan. Ada rasa pilu terhadap permasalahan yang dihadapinya. Kakinya terhenti di depan gerbang gang Jatibaru.


"Aku sudah menduga kamu pasti disini." ucap pemilik suara bariton tersebut.

__ADS_1


__ADS_2