Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Bagas Barata Yudha


__ADS_3

Laras memegang perutnya yang masih terasa sakit. Dengan tertatih kakinya seakan di seret berjalan keluar kamarnya. Nafas yang terputus-putus seakan sudah diujung nyawa. Diliriknya Eva yang masih berjualan di depan rumahnya. Kakinya berjalan ke depan hendak meminta pertolongan sahabatnya.


Sayangnya belum sampai ke depan Laras sudah tidak kuat lagi. Dia memanggil orang-orang dirumah tersebut, memegangi perutnya yang membesar. Sesekali tarik nafas lalu dibuangnya.


"Bude!Ratna!Najwa!" Laras terus memekik meminta bala bantuan.


"Ya Allah, Laras!" Pekik Eva yang tiba-tiba masuk kedalam rumah.


"Va, sakit!" keluhnya.


Eva yang menggendong Cici pakai amben langsung meletakkannya anaknya yang berusia satu tahun setengah. Tangannya memapah temannya untuk di letakkan di kamar.


"Aku telepon bidan Ema, ya?" Laras hanya mengangguk lemah.


Eva mengambil handphonenya dari kantong celana. Sambil mengawasi Cici yang aktif merayap sana-sini. Eva menunggu panggilannya diangkat oleh bidan Ema. Tapi ternyata tidak diangkat. Sesekali membuang nafas kasar. Mengusap wajahnya berkali-kali.


"Va, sakit."


Masih terdengar suara Laras yang merintih. Eva mengusap perut Laras agar si bayi tenang. Tapi ternyata Laras makin merintih. Eva pun berinisiatif memanggil para tetangga untuk menolong Laras. Dalam sekejap rumah Laras penuh dengan lautan manusia yang kepo pada keadaan Laras.


"Siapapun yang disini, tolong jemput bidan Ema." titah Eva.


Eva terus mengurut perut Laras yang kesakitan. Matanya menelusuri sudut ruangan rumah, Eva merasa sedari tadi tak melihat bude Endang dan kedua anaknya. Entah kenapa Eva tidak terlalu suka dengan familinya Laras.


"Ada yang melihat Bude Endang nggak?" tanya Eva.


Para warga saling berpandangan. Seakan bingung dengan sanak famili Laras yang satu itu. Beberapa dari mereka memilih menggeleng.


"Ras," suara bariton masuk ke dalam rumah langsung menuju tempat pembaringan Laras.


Tampak guratan kecemasan lelaki itu. Dengan cepat dia menggendong Laras untuk dibawa keluar kamar.


"Adul, Laras mau dibawa kemana." Pekik Eva.


"Ke puskesmas! soalnya kak Ema sedang ada panggilan melahirkan di tempat lain.Kita tidak ada waktu lagi." sahut Adul.


Mereka berbondong-bondong mengiring Laras yang dibawa Adul dengan berjalan kaki. Tangan mengalung ke leher Adul. Meskipun jantung lelaki itu berdebar kencang, dia juga sadar diri kalau Laras masih istri orang.


Di puskesmas

__ADS_1


"Sofia!" Bu Farida memanggil wanita muda yang berjalan di halaman puskesmas.


Wanita muda itu menoleh karena namanya dipanggil. Perempuan tersebut meletakkannya beberapa alat medis yang dibawanya. Tubuh mungil itu beranjak mendekati Adul yang menggendong tubuh Laras dengan perut membesar.


"Laras mau melahirkan?" tanya Sofia di sambut anggukan Adul.


"Bawa ke ruangan itu nanti saya panggilkan Dokter." Sofia menuntun Laras menuju ruang persalinan. Beberapa teman se-profesi Sofia pun ikut membantu mempersiapkan proses persalinan Laras.


Ruang bersalin di puskesmas hanya ada satu ranjang itu pun di sekat dengan gorden. Beberapa keluarga pasien diminta untuk menunggu di luar.


"saya yang akan menemani Laras," sahut Adul yang memaksa masuk ke dalam ruang bersalin.


"Kamu jangan gila, Dul. Laras bukan istri kamu!" protes Eva.


"Tapi Laras perlu ada yang mendampingi."


"Tapi bukan kamu orangnya. Biarkan para suster dan dokter yang berkerja. Mereka yang akan mendampingi Laras. Kamu disini saja!" Eva menarik Adul menjauh dari ruang bersalin.


Adul mengacak rambutnya dengan kasar. Dia begitu sangat cemas pada keadaan Laras. Matanya beralih ke arah Eva yang membalas tatapannya dengan tajam.


Eva tahu dari dulu Adul suka sama Laras. Hanya saja Laras menganggap lelaki itu sebagai teman baik. Lagipula Laras memang di larang pacaran saat masih sekolah. Maka dari itu Rangga adalah lelaki pertama yang langsung menghalalkan Laras.


Sofia dan beberapa petugas medis lainnya meletakkan Laras di ranjang bersalin. Tangan Laras menggenggam erat kearah Sofia yang tak lain anak ibu Farida, tetangganya. Gadis cantik itu tersenyum kepada Laras. Seakan menguatkan wanita di depannya yang terlihat tegang.


"Ras,"


"Kamu tenang ya, Ras."


"Tolong selamatkan putraku,"pinta Laras.


"Kami akan berusaha, Ras. Kamu harus mau berkerjasama supaya anakmu lahir dengan selamat." ucapnya menenangkan.


Dokter menangani Laras yang ternyata sudah pembukaan akhir. Laras masih menggenggam erat tangan Sofia. Dokter meminta Sofia mendampinginya hingga akhir melahirkan.


"Nggak apa-apa, Sof. hitung-hitung latihan buat pendidikan bidanmu nanti." sahut dokter cahaya.


Sofia hanya tersenyum kecil. Saat ini dirinya berprofesi sebagai perawat honor. Sofia sudah menyelesaikan studinya selama tiga tahun di sekolah perawat. Dia berencana akan melanjutkan sekolah ke jenjang kebidanan. Sofia menggenggam erat tangan Laras. Seakan menguatkan wanita itu supaya siap mengeluarkan bayinya.


"Aaaaa ... " Pekik Laras.

__ADS_1


"Terus, Ras!"


"Aaaaa ....uuuuuuh....huuuh...huuuuh!" Laras terus mengejan. Tangganya terus meremas baju kerja Sofia.


"Ayo, Ras semangat! Ingat suamimu, Ras! dia juga sedang berjuang sembuh kamu juga harus berjuang untuk anak kalian!"


"Mas Rangga, sakit! sakit, mas!" pekik Laras.


Oeeeeeek .... ooeeeek.


"Selamat Bu Laras, anaknya laki-laki." ucap dokter Cahaya.


"Alhamdulillah," ucap Laras dan Sofia serempak.


"Bayinya kami bersihkan dulu." pamit perawat yang lain.


Beberapa saat kemudian bayi tampan itu sudah bersih dengan memakai bedong. Laras menerima bayi tersebut dari tangan perawat. Menggendong anaknya yang masih merah. Perawat lainnya menuntun Laras memberikan asi pertama untuk bayinya.


"Namanya siapa, Bu? dia tampan sekali, Bu Laras."


"Terimakasih suster. Dia memang tampan seperti papa-nya."


"Terus namanya siapa?"


"Namanya Bagas Barata Yudha. Bagas artinya kebanggaan Rangga dan Laras. Karena dia lahir setelah penantian panjang kami. Dia lahir dari harapan kedua orangtuanya."


Sofia pamit meninggalkan Laras mengingat ada pekerjaan lain yang menanti. Lagipula Laras sudah ditemani sama beberapa kerabat lainnya. Sofia memandang Adul yang hanya menatap Laras dari pintu kamar bersalin.


Kamu masih mencintainya, Dul. Lalu apa arti kita selama ini. Kamu mendekatiku tapi pikiranmu masih sama Laras. Sakit rasanya, Dul. Tapi mungkin Laras juga tidak akan tahu perasaanmu karena dia mencintai suaminya.


Sofia membalikkan badan menuju ke ruang lainnya. Pikirannya berkecamuk saat melihat betapa cemasnya Adul saat membawa Laras ke ruang bersalin. Lebih sakit lagi, saat Adul ingin mendampingi Laras melahirkan padahal bukan suaminya.


Tangan Sofia merogoh gawainya yang terasa bergetar. Sesaat dia menerima telepon tersebut.


"Iya, mbak Arni," jawabnya di telepon.


"Fia, pasien di vila puncak sudah sadar dari komanya. tadi ada dokter Ramlan yang memeriksa pasien tersebut. Dia minta kita panggikan dokter Camila untuk ikut kesana."


"Bukannya dokter Camila menangani mata. Emang ada masalah apa dengan pasiennya."

__ADS_1


"Pasiennya lumpuh dan buta. Dokter Ramlan cuma nangani penyakit umum."


"Yaudah, biar aku hubungi dokter Camila. Soalnya dia belum nampak daritadi."


__ADS_2