Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Maaf, aku pergi


__ADS_3

Pada dasarnya, menjadi orang tua adalah tanggung jawab yang besar. Pasangan harus sadar, yakin dan tahu kemampuan mereka, apakah mereka sudah layak untuk menjadi orang tua, baik dari segi mental, fisik, finansial, dan sebagainya. Memiliki atau tidak memiliki anak adalah pilihan, terlebih bagi perempuan, karena perempuan lah yang memiliki hak atas tubuhnya.


Kalau perempuan dituduh tidak mengandung setelah dua tahun menikah, maka mereka mempertanyakan ada apa dengan salah satu dari pasangan tersebut. Namun mereka jarang menyalahkan pihak laki-laki. Selalu saja perempuan yang jadi sasaran, apa mereka mau tahu yang sebenarnya terjadi? rasanya tidak tidak. Mereka hanya bisa memandang segala sesuatu dari sudut pandangan negatif bukan positif.


Sebelum pulang ke Indonesia, Laras sudah dinyatakan sembuh oleh dokter di sana. Mereka memastikan dirinya akan bisa melakukan pembuahan secepatnya. Setidaknya itu sudah bikin Laras dan Rangga lega saat itu. Hal itu sudah pasti membuat keduanya senang. Sayangnya Rangga memilih merahasiakan hal itu pada mamanya. Dia takut kalau Raya akan merongrong Laras agar cepat hamil. Mereka sepakat untuk mempersiapkan secara alami saja.


Saat ini usia Laras sudah 21 tahun. Dua tahun enam bulan mereka menjalani pernikahan. Meskipun masalah mereka cuma satu, belum diberi keturunan. Namun itu tak menghalangi keduanya menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia.


Laras berjalan akan duduk di dekat kolam renang. Kakinya terhenti saat mendengar obrolan teman-teman mama mertuanya. Laras hapal sama mereka yang sinis kepada dirinya. Namun dia memilih mengabaikan para wanita yang menggunjingnya.


"Jeng, kami turut berduka atas meninggalnya mertuanya. Semoga almarhumah di terima di sisinya. Keluarga yang ditinggal di berikan kesabaran." Sahut salah satu tamu.


"Terimakasih kalian masih sempatkan mampir kesini." Jawab Raya sambil menitikkan air mata.


"Terus kondisi Rangga bagaimana?" Tanya salah seorang tamu.


Raya menangis di depan tamunya. Tampak gurat wajah sendu mengingat keadaan putranya. Netranya berputar saat melihat pantulan wajah Laras di kaca. Lalu kembali fokus dengan drama air matanya.


"Jeng, saya sedih sekali saat tahu Rangga mengalami kecelakaan besar. Dia bersama mama mertua saya mau mengunjungi Laras yang sedang dirumah orangtuanya. Dan kecelakaan itu terjadi ....hiks ... hiks ..." adu raya pada teman-temannya.


"Yang sabar ya, jeng. Saya tahu perasaan jeng Raya. Tapi jeng, kayaknya rumah ini harus di rukiyah. Soalnya bisa bawa sial, jeng lupa dia belum kasih anda cucu. Sekarang dia bikin Rangga dan Oma Gladys celaka."


Laras hanya bisa menangis mendengar ucapan teman-teman Raya. Tangannya menggenggam erat ujung gaunnya. Memegang dadanya yang terasa sesak.


Perih.


itulah yang Laras rasakan saat ini. Laras tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaannya. Sikap mama mertuanya seakan menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang dialami suaminya dan Oma mertua.

__ADS_1


"Laras belum hamil, jeng?"tanya salah seorang anggota arisan geng nya Raya.


"Itulah, jeng. Dulu saya wanti-wanti waktu baru menikah untuk segera program hamil. Tapi Laras menolak dengan alasan belum siap punya anak. Sekarang sudah dua tahun, mereka makin susah punya anak. Apalagi Rangga terlalu nurut sama istrinya. Masa aku masuk ke kamar Rangga saja di bilang tidak sopan."


"Wah, nggak sopan menantumu, jeng. Kalau saya jadi jeng Raya sudah lama di tendang dari rumah. Mana numpang, dia yang sok berkuasa. Sudahlah, jangan diterima sebagai menantumu lagi. Mumpung Rangga belum sadar si Laras di usir saja."


"Masalahnya suami saya terlalu sayang sama Laras. Laras itu anak mantan kekasih suami saya. Apalagi mendiang ibunya Laras dulu pernah menjadi pengasuh Omanya suami saya." cerita Raya.


"Ya Allah, jeng. yang sabar, ya. Emang kalau sudah bibitnya dari sananya begitu susah, jeng."


Laras menegakkan kepalanya. Mendengar ucapan Raya yang seakan menyudutkan ibunya. Hati Laras terbakar amarah, tidak terima sang ibu di olok-olok seperti itu. Kakinya hendak berdiri namun terhenti saat handphonenya bergetar.


"Halo, assalamualaikum." terdengar sapaan dari seberang sana.


Laras membersihkan wajahnya yang sembab. Mengambil nafas sedikit lalu menjawab telepon dari Adul.


"Ras, kamu nangis?" ada nada kekhawatiran terdengar dari seberang sana.


"Ada apa, Adul?"Laras mengalihkan pembicaraan.


"Aku sudah cari di 10 rumah sakit terbesar. Tidak ada tanda-tanda Rangga ada di rawat dalam rumah sakit tersebut. Mertua kamu gila, ya. Bisa-bisanya dia ngumpetin anaknya."


"Yasudah, kamu tidak usah mencari tahu keberadaan mas Rangga. Aku yang akan cari tahu keberadaannya."


"Ras, sekiranya kamu nggak kuat disana. Pulanglah ke rumah ibumu. Tenangkan diri, karena saat melayat kemarin aku melihat kamu kurang dianggap sama mereka. Sambil mencari keberadaan Rangga kamu pulang kesini. Ada aku, ada Eva dan warga yang lain akan menjagamu."


Laras terharu atas dukungan sahabat dan tetangganya. Eva dan Adul selalu ada disaat dia membutuhkan dukungan. Meskipun dia juga punya Ina yang selalu ada untuknya. Tapi dia tidak melupakan teman kecilnya yang rata-rata tidak mengenyam bangku sekolah. Seperti Adul yang hanya batas sekolah dasar dan yatim piatu. Eva yang hanya batas SMP. Mereka semua adalah orang-orang terdekat Laras.

__ADS_1


"Terimakasih,Dul. Kamu memang sahabatku. Seandainya tidak ada kamu dan Eva, mungkin aku tidak akan sekuat ini. Mungkin aku sudah merasa hidupku tak punya semangat hidup setelah hilangnya mas rangga." Laras hanya bisa menangis terisak.


Kamu dimana, mas? aku rindu sekali sama kamu. semoga kamu disana bisa cepat sembuh. Aku butuh kamu, mas. Rasanya aku seperti terkepung oleh mereka.


Maafkan aku jika tidak bisa bertahan disini. Aku pergi.


Laras meninggalkan dapur menuju kamarnya. Beberapa barang dia masukkan ke koper. Laras berniat pulang ke rumah orangtuanya. Menenangkan diri sambil mencari kabar keberadaan suaminya.Bi Asti melihat Laras membawa koper kecil.


"Bi, aku pamit. Aku mau pulang ke rumah ibuku." Laras menyalami bi Asti yang sudah dianggap seperti ibu sendiri.


"Ras, kamu jangan pergi. Kalau kamu pergi mereka merasa menang nantinya. Ingat, Ras kamu dan den Rangga adalah pewaris dari Oma Gladys. Mereka akan menguasai warisan itu, dan jatuh ke tangan yang salah."


"Bi Asti, aku tidak peduli soal warisan itu. Biarkan saja mereka memakainya. Aku sudah tidak kuat dengan keluarga ini. Aku akan tetap cari mas Rangga walaupun tidak tinggal disini lagi."


"Percuma kamu cari, Ras. Nggak akan ketemu." Ucap bi Asti.


"Kenapa, Bi?"


"Karena aku yakin mas Rangga di sembunyikan bukan di Indonesia."


"Maksud bi Asti?" Laras masih belum paham.


"Jepang, iya mas Rangga sepertinya pindah ke rumah sakit di Jepang."


"Ya Allah, Bi. Terimakasih informasinya." Laras memeluk bi Asti penuh bahagia.


"Kamu tidak jadi pulang ke rumah ibumu kan?" Bi Asti berharap Laras menunda kepulangannya.

__ADS_1


"Tidak usah di cegah, Asti. Kalau dia mau pulang biarkan saja. Dia sudah tidak dibutuhkan lagi." terdengar ada yang menyahut mereka dari belakang.


__ADS_2