
Bagas duduk di bangku taman sekolahnya. Sambil mengayunkan bangku ayunan tersebut matanya memandang ke sekelilingnya. Meskipun dia tahu bundanya sudah pasti terlambat menjemput. Tapi tidak masalah baginya.
"Bagas, kamu belum di jemput?"
Bagas menoleh kearah wanita berhijab yang menghampirinya. Dia hanya menggeleng, seakan berat menggerakkan bibirnya. Wanita itu duduk di sebelahnya. "Ibu temani, ya sampai Bagas ada yang jemput." ucap wanita itu.
Lagi-lagi dia hanya mengangguk pelan. Tangannya membuka gawai lalu mengklik tombol laman game untuk menghilangkan jenuh. Untuk ukuran anak TK seharusnya tidak membawa handphone, namun bundanya sudah meminta izin pada guru sekolahnya untuk membawa handphonenya Bagas. Setiap sampai di sekolah Bagas langsung memberikan handphonenya pada gurunya, lalu dikembalikan saat pulang sekolah.
"Bu guru..." Bagas memandang kearah luar pagar.
"Iya, nak."
"Bu guru punya ayah nggak?" tanya Bagas.
"Punya, tapi di surga."
"Enak dong bisa pergi ke surga. Kata bunda ayah Bagas juga di surga."
"Surga itu indah, nak. Apapun yang kita mau ada disana. Tapi ada syaratnya, kita harus rajin sholat dan pintar mengaji. Jadi orang baik, pokoknya kita tidak boleh jadi orang jahat. Kalau Bagas punya bunda harus sayang sama dia. Hormat dan menurut kata bundanya. Kalau ayah Bagas di surga harus sering di doakan biar makin betah di surga."
Bagas mendengar penuturan Bu guru hanya tersenyum kecil. Dia membayangkan ketika di surga bisa memakan apa yang dia suka. Tangannya berpegangan pada tiang kursi ayunan. Bu guru pun mengikuti apa yang di lakukan anak didiknya.
"Bagas terus doakan ayah, Bu guru. Bunda sering ajarin Bagas sholat."
"Anak pinter"
Tak berapa lama ada sebuah mobil berhenti di depan taman kanak-kanak. Bagas hanya menatap datar kembali mengalihkan kearah gawainya. Sesekali mengacak rambut ketika game-nya memberi pengumuman "Game over". Bu guru yang tadi disampingnya kini sudah berdiri bersama seorang wanita berjas putih. Mereka cukup akrab terlihat dari cara mengobrolnya.
"Bagas, kamu sudah di jemput sama budenya." ucap Bu guru.
Bagas hanya mengangguk. Dia riang ketika mobil bagus yang menjemputnya. Biasanya dia di jemput sama bundanya hanya naik angkot atau motor dari om Adul-nya. Sementara wanita yang datang kadang-kadang mengajaknya keluar rumah ketika dia tidak sekolah.
"Bude dokter." jawab Bagas.
Bagas selalu memanggilnya bude dokter karena setiap Bagas sakit, si bude tersebut yang mengobati Bagas. Wanita itu tersenyum kearah Bagas sambil membawa kresek bermerek toko retail. Tangannya menerima kresek yang berisi makanan kesukaannya.
"Terimakasih, bude." jawabnya riang.
Tentu saja dia riang. Karena di belikan aneka makanan manis kesukaannya. Kalau bundanya yang jemput paling dibawakan gorengan. Atau diajak main ke taman bermain.
"Bagas, temenin bude ya?" ajak Camila.
"kemana?"
"Teman bude, baru datang dari Jepang. Jadi bude mau jemput dia. Bagas mau ikut. Ini bude telepon bunda kamu ya, biar dapat izin." Camila mengeluarkan handphonenya tak berapa lama tersambung.
__ADS_1
"Ras, aku ajak Bagas ke bandara, ya? soalnya tunanganku hari ini mau pulang ke Indonesia."
"Apa nggak ganggu nanti dokter?"
"Nggak kok, Ras. Bagas anteng kok, lagian bukan pertama kali aku bawa Bagas."
"Dokter saya mau ngomong sama Bagas dulu?" pinta Laras.
Bagas menerima perpindahan sambungan telepon. Telinga akan mendengar beberapa wejangan yang selalu di selipkan bundanya. Bagas sudah hapal kalau bundanya akan selalu bilang jangan sering minta sama orang lain. Telepon genggam pun sudah beralih di tangan Bagas. Anak usia lima tahun tersebut menempelkan benda pipih ke daun telinganya.
.
"Bagas dengar bunda, nanti jangan banyak minta sama bude dokter, ya. Bagas boleh minta hanya sama bunda saja. ngerti!"
Bagas mendengus pelan. Sudah dia tebak arah omongan bundanya.
"Ngerti bunda. Jadi Bagas boleh ikut sama bude dokter?"
"Boleh, asal ingat pesan bunda tadi. Jangan suka minta-minta."
"Iya, bunda. Bagas sayang sama bunda."
"Bunda juga sayang sama Bagas. Mmmmuaah!"
Bagas mengembalikan teleponnya pada bude dokter. Keduanya saling melempar senyum karena sudah mendapatkan izin. Bude dokter menggenggam tangan Bagas. Mereka melenggang menuju ke mobil layaknya ibu dan anak.
"Kan tadi bude sudah bilang, mau jemput teman bude yang baru pulang dari Jepang." jawab bude dokter.
"Jemputnya kemana bude?" rasa penasaran masih bersarang di pikirannya.
"Ke bandara."
"Bandara itu apa bude?" bude dokter tersenyum mendengar pertanyaan Bagas.
"Bandara itu tempat berhentinya pesawat." jawab bude dokter dengan sabar.
"Aku mau lihat pesawat." jawabnya riang.
"Bude janji ya?"
"Janji apa, nak?"
"Jangan bilang Bunda kalau Bagas makan yang manis-manis. Nanti bunda ngomel lagi." ucap Bagas takut-takut.
"Kenapa Bagas tidak bilang kalau tidak boleh makan manis?"
__ADS_1
Bagas memasang wajah memelas. Camila langsung tertawa melihat ekspresi wajah anak itu.
"Iya, bude janji.Tapi ini yang terakhir bude bawa manisan. Besok-besok bude bawa yang asin saja." ucapnya sambil mencubit pipi bakpau Bagas.
Bude dokter alias Camila sangat senang mendengar ucapan Bagas. Sosok kecil yang tumbuh tanpa seorang ayah pun menjadi inspirasinya untuk semangat. Dulu dia sering mendengar saat orang terdekat Laras menceritakan perihal yang dialami Laras. Sempat satu tahun Laras mengalami baby blues. Hari-harinya lebih banyak melamun, Sofia selalu datang mengunjungi Laras. Melihat perkembangan wanita itu yang progresnya cepat untuk sembuh. Sejak saat itu Laras dan Camila dekat. Dia memperlakukan Laras layaknya adik sendiri.
Bagas juga mengingatkannya pada Chelsea putri semata wayangnya. Chelsea yang rasa ingin tahunya sangat besar. Selalu menanyakan apa yang dilihatnya. Chelsea yang lahir setelah lima tahun di tunggu dirinya dan suaminya. Kini dia bisa mengenang putrinya dalam sosok Bagas.
Mobil pun akhirnya berhenti di parkiran bandara internasional Soekarno-Hatta. Camila menatap Bagas yang tertidur, pelan-pelan dia membangunkan sosok kecil tersebut. Mata kecil itu menggeliat sesaat terasa mobil sudah tidak berjalan.
"Kita sudah sampai bude?" tanyanya.
Camila mengangguk " sudah, yuk turun." ajaknya.
Camila melihat ramainya suasana bandara. Dengan sigap dia menggendong Bagas agar tidak lepas dari pengangan. Bagas menatap suasana yang masih asing baginya. Matanya pun menatap takjub melihat gedung besar tersebut.
"Pesawatnya mana bude?" Bagas masih penasaran ingin melihat pesawat.
"Nanti kita lihat pesawatnya, kita jemput teman bude dulu kasihan dia menunggu."
Bagas hanya mengangguk. Mau tidak mau dia hanya bisa menurut walaupun rasa penasarannya pada pesawat sangat besar. Tubuh Bagas di turunkan, tangan Camila menggandeng dan berjalan ke arah seorang lelaki.
"Apa kabar?" sapa Camila pada seorang lelaki bertubuh tinggi.
Lelaki itu tersenyum saat Camila mendatanginya. Disampingnya tampak beberapa koper memenuhi stroller barang. keduanya saling bersalaman sambil sun pipi kiri dan kanan.
"Alhamdulillah baik, Mila. Terimakasih ya, kamu mau sempatkan waktu untuk menjemput aku."
"Kayak apa aja sih, sampai kamu berterimakasih segala. Bukannya seharusnya seperti itu, Ga.
Bagas kenalin ini teman bude, namanya Rangga." Camila mengalihkan netranya ke sosok kecil tersebut.
Rangga menjongkokkan tubuhnya. Tampak Bagas berlindung dibelakang pinggang Camila. Tangan Rangga menjulur di hadapan Bagas.
"Hai, Jagoan ganteng. Nama kamu siapa?"
"Ba...gas." jawabnya terbata-bata.
"Bagas tidak usah takut. Om jinak kok, om nggak suka makan orang. Om sukanya makan cokelat." Rangga masih berusaha merayu Bagas yang takut-takut.
"Tante Raya mana?" Camila mencari sosok yang sudah dianggap ibu sendiri.
"Sudah duluan. Yuk,kita keluar. Bagas sama om yuk." Tangan Rangga menggandeng Bagas.
"Bagas sama om, ya. Bude mau cari pegawai yang bisa bawa stroller. Berat kasihan om nya bawa yang berat."
__ADS_1
Bagas melihat anak yang duduk diatas leher seorang lelaki. Seakan paham dengan keinginan anak itu Rangga menawarkan diri di naiki pundaknya.
Kenapa aku merasa sayang sekali dengan anak ini?