Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Kabar itu ...


__ADS_3

"Sayangilah mertuamu seperti ibumu sendiri." Kata-kata itu membuat Laras menghentikan kakinya di depan teras masjid.


Laras saat itu mengantarkan sedekahnya ke mushola tak jauh dari rumahnya. Tubuhnya terduduk di karena ingin mendengar ceramah ustad Soleh. Ceramah yang menegur dirinya karena menjaga jarak dengan mama mertuanya. Bukan dia yang ingin menjaga jarak tapi suaminya yang selalu menjauhkan dirinya dari mama mertuanya. Laras terus menunduk lesu ketika mendengar ceramah tersebut.


Menikah tidak hanya menyatukan kamu dan dia saja, tapi juga keluargamu dan keluarganya. Maka hal yang wajar jika orangtuanya pun menjadi orangtua kamu juga. Hal yang wajar jika akhirnya mertua menjadi ikut campur dalam kehidupan rumah tangga kalian. Namanya orangtua tentu selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya.


Tapi, di lain sisi kalian tentu ingin pernikahan yang kalian jalani dibuat berdasar kesepakatan bersama pasangan tanpa campur tangan orang lain, termasuk orangtua.Sejatinya, masih ada hubungan mertua dan menantu yang harmonis, tapi tak bisa dipungkiri juga kalau kasus mertua dan menantu yang berkonflik jumlahnya lebih tinggi. Apalagi kalau menantu dan mertua tinggal dalam satu atap, maka risiko terjadinya konflik pun akan semakin besar.


Maka saya ingatkan bahwa tidak boleh menyamakan orang tua dengan mertua. Harus ada bedanya. Mertua bisa diganti dengan mertua lainnya, atau bisa juga ditambah mertuanya. Kalau orang tua, jelas tidak bisa. Orang tua tidak bisa diganti dan tidak bisa ditambah.


Tapi kita sebagai suami harus mendukung istri kita untuk berbakti kepada orang tuanya. Kita juga akan mendapatkan pahala dari berbakti karena mendukung istri kita untuk berbakti kepada orang tuanya.


Laras masih bertahan di teras mushola. Bertahan mendengar ceramah dari ustad Soleh. Secara tidak ucapan ustad Soleh menampar dirinya. Laras sadar dia tidak bisa mengambil hati mama mertuanya. Dia juga sadar belum ada skill untuk mencuri hati Raya Kalendina. Tapi apakah dia termasuk menantu durhaka? entahlah. Hanya Allah dan orang lain yang bisa menilainya.


Kalau bapak-bapak punya istri yang sedang mengandung, baik-baikin deh emaknya. Karena doa ibu itu sangat berpengaruh dengan proses kelahiran calon anak kita.


Biasanya kalau istri ente susah melahirkan berarti ada masalah dengan orangtua. Terganjal restu, restu orang tua itu penting lo.


Kalau bapak-bapak belum dikasih keturunan. Itu berarti juga ada masalah dengan restu ibu. Seperti misalnya, di suruh program hamil alasannya takut badan melar. Ya iya lah bakal melar, dalamnya calon generasi, calon anak kita calon cucu orangtua kita. Kenapa mesti takut? ente bilangin sama istrinya jangan takut hilang cantik.


"Ras, aku cariin kamu ternyata disini?" Sahut Eva saat mendapati Laras menangis di depan teras mushola.


"Kamu kenapa, Ras?"


"Pantas saja aku selama ini belum dikasih keturunan. Aku kurang berbakti pada ibu mertuaku. Aku ini menantu durhaka, seharusnya aku mendengarkan mama mertuaku untuk ikut program hamil saat baru menikah."


"What! kamu baru menikah sudah di suruh hamil sama mertua kamu. Gila! memangnya kamu kucing yang bisa hamil begitu saja. Itu bukan kamu yang durhaka tapi mama mertua kamu yang jahat. Masih untung kamu mau sama anaknya yang perjaka tua itu. Kamu tidak lupa dulu dia maksa kamu buat nikah sama anaknya. Sampai kamu mengabaikan zakat permintaan fiddyah dari ibu kamu." ucap Eva yang sudah terlanjur emosi.


"Zakat! Fiddyah! kok aku nggak tahu, Va. Kamu kok nggak ngomong sama aku?" Laras kaget sama ucapan Eva. Karena yang dia tahu ibunya tidak mengatakan apapun.

__ADS_1


"Seminggu setelah kamu diboyong ke rumah calon mertuamu. Kami datang ke rumah menyerahkan sebuah surat dari mendiang ibumu. Di dalam surat dia minta kamu membayarkan zakat fiddyah karena tidak puasa.


Lalu kami datang dan di sambut mama mertuamu. Katanya kamu lagi fitting persiapan pernikahan. Karena lama, kami pun menitipkan surat tersebut pada mertuamu. Kalau dia tidak menyerahkan berarti mertuamu zholim sama amanat."


Laras merenung sesaat. Memang Ramadan sebelumnya ibunya tidak bisa berpuasa dengan alasan kesehatan. Saat itu penyakit ibunya lumayan parah. Bahkan ibunya pernah berpesan meminta dirinya memberikan fiddyah sebagai pengganti puasa. Laras saat itu hanya sekedar menyanggupi. Padahal dia sendiri beberapa kali berganti pekerjaan.


Laras merasa handphonenya bergetar. Lama dia mengerutkan dahinya, tumben Lani menelponnya.


"Apa hal kak Lani meneleponku? tumben tidak seperti biasanya?Ah, kuangkat saja. Siapa tahu penting?"


"Assalamualaikum, kak Lani?"


"Halo, Laras." Terdengar suara Lani bergetar.


Laras menghela nafas panjang. Rasanya wanita yang meneleponnya berat sekali membalas ucapan salamnya. Laras paham karakter Lani yang memang bebas tak punya aturan. Kata Oma Gladys, Lani seperti itu karena terlampau dimanjakan oleh papa Donal.


"Iya, kak Lani. Ada apa? kenapa suara kamu seperti itu? apa yang terjadi?"


"Oma .. kak .. "


"Iya, Oma kenapa?"


"Oma kecelakaan bersama kak Rangga. Keduanya kritis dan mobilnya remuk."


"Mas Rangga .."


BRUUUUKKKK!


"Ras, kamu kenapa? Ya Allah! Tolong! tolong!" Pekik Eva memegang tubuh Laras yang sudah tak sadarkan diri.

__ADS_1


Beberapa orang mengerumuni kediaman Laras. Adul pun tak ketinggalan menemani sahabat kecilnya yang masih belum sadarkan diri.


"Memangnya dia kenapa bisa pingsan, Va?"tanya Adul.


Eva hanya menaikkan bahunya. Dia sendiri juga tidak tahu apa yang menyebabkan Laras bisa mendadak pingsan.


Beberapa saat kemudian tampak Laras mulai sadar. Semua yang ada di ruangan memandangnya dengan tatapan penuh arti. Mereka ingin tahu apa yang membuat wanita itu ambruk seketika.


"Maaaas... Mas Rangga!" Pekik Laras berlari keluar rumah tanpa memikirkan alas kakinya.


Adul mengejar Laras hingga sampai ke depan gang.


"Ras, kamu kenapa? suamimu kenapa? apa dia nyakitin kamu? sejak awal aku merasa aneh tiba-tiba keluarga itu memintamu menikah dengan anaknya. Mereka pasti nyakitin kamu, kan? jawab, Ras."


"Aku .. aku ... aku harus ke rumah sakit, Dul. Mas Rangga kecelakaan! Aku harus ada disampingnya, dia pasti sangat membutuhkan aku." Laras terus menceracau seperti orang linglung.


Adul melihat syoknya Laras langsung memeluk menenangkan. Laras terus menangis hebat, rasa sedihnya yang mendalam karena kabar suaminya. Dimatanya Laras sudah seperti keluarga, meskipun dulu dia pernah mencintai wanita itu.


"Ya, sudah biar aku antar kamu ke rumah sakit." Laras hanya mengangguk lemah.


Tiba di rumah sakit


Suara langkah kaki berlari terdengar menggema di koridor rumah sakit Kasih Bunda. Si pemilik kaki berlari sambil berurai air mata, bagaimana bisa dia tenang setelah mendengar kabar suaminya.


"Mas..." Pekiknya ketika melihat suaminya dari kaca ruang rawat suaminya.


Rasanya sakit sekali melihatmu terbujur disana, mas. Padahal tadi malam kita masih tertawa riang, tapi kenapa hari malah duka yang datang.


"Mau apa kamu kesini!"

__ADS_1


__ADS_2