
"Bunda!" panggil Bagas.
Tangan Bagas melambai kearah dirinya. Laras membalas lambaian anaknya. Bagas kembali berlari bahagia. Bukan hanya Bagas saja, ada Yusuf yang datang bersama Alam dan Shasa. Mereka asyik bermain kejar-kejaran, lalu asisten rumah tangga menyediakan pasir warna-warni untuk ketiga anak tersebut. Di tangan mereka pasir tersebut di sulap menjadi aneka kreasi dari mobil, hewan dan lainnya.
Tak jauh dari mereka tampak dua lelaki yang masih asyik berbincang. Terdengar tawa kecil dari keduanya. Secangkir teh menemani mereka sambil berbagi cerita.
"Coba kamu ikut, Na. pasti seru rasanya." batin Laras.
Laras melihat keakraban dua lelaki yang dulunya adalah rival. Dimana suaminya pernah memacari Karina, si adik tiri. Bahkan Laras ingat bagaimana perjalanan hati Ina saat itu. Ketika Rangga akan menikah dengan Jihan, Ina sangat down saat itu.
Siapa sangka dalam perjalanan itu, Ina dipertemukan oleh seorang duda. Kisah bergulir saling benci hingga cinta itu tumbuh diantara mereka. Lagi-lagi Laras menjadi saksi perjalanan itu.
"Non, ini ada kue buat tamunya, di letakkan dimana?" suara bibi mengagetkan lamunan Laras.
"Biar saya saja yang bawakan,Bi." Laras mengambil talenan minuman dari bibi. Setelah bibi masuk ke dalam, Laras berbaur diantara dua pria tersebut.
"Ras, kapan kamu main ke rumah?" sapa Alam.
"Emang boleh?" Laras menjawab dengan hati-hati.
"Emang kenapa?" Alam heran dengan jawaban Laras.
"Nggak apa-apa, kak Alam." Laras meralat ucapannya.Laras kembali duduk sambil memantau Bagas bermain. Setidaknya dia sedikit terhibur dengan tingkah polah anak-anak.
Tingkah polah anak kecil selalu saja bisa membuat terhibur. Entah lagi nangis, ketawa, meringis atau apapun, semua itu terlihat menggembirakan bagi orang dewasa. Yang jelas, momen menikmati kepolosan mereka adalah sesuatu yang nggak bisa ditukar dengan apapun.
Laras memutar memorinya saat masih kecil. Bermain bersama teman-teman, bersama Eva dan Adul. Masa-masa itu tidak akan terlupakan. Setiap sore, Laras diajak sama bapaknya Adul ke pemancingan ikan. Kalau pulang, Laras dan Eva membawa satu ekor ikan. Laras selalu dapat yang besar ketimbang Eva. Hingga Eva pernah ngambek tidak mau ikut karena selalu dapat ikan kecil. Laras akhirnya menukar ikannya dengan Eva.
"Tak apa dapat yang kecil. Toh di kulkas ibu masih ada beberapa." batin Laras.
__ADS_1
Persahabatan yang terjalin sejak kecil. Hingga sekarang mereka sudah punya suami dan anak. Persahabatan yang bukan lagi sekedar sahabat melainkan persaudaraan.
Meskipun ada Ina yang mau berteman dengannya dari SMP hingga saat kuliah. Juga pertemanannya dengan angel, hingga menjadi permusuhan hanya karena seorang Rangga Baratayudha. Laras ingat bagaimana Angel membenci Ina dan dirinya saat itu. Dia benci pada Ina karena memacari Rangga, pria incaran Angel. Dan dia benci Laras karena berada di pihak Ina.
"Seandainya Angel tahu siapa istri mas Rangga saat ini. Apakah dia juga akan memusuhiku. Angel apa kabarnya, ya? apa dia masih di penjara. Atau sudah keluar? Ya, Allah kenapa pertemanan kami seperti ini, ya."
Laras mengalihkan pikiran dengan membuka gawainya. Beberapa barang online yang menggoda iman. Namun, dia sadar kalau masih ada yang lebih penting dari belanja online. Laras mengambil pena dan kertas. Karena sudah resign, dia mau mencari aktivitas baru tanpa meninggalkan kewajiban sebagai istri dan ibu.
Laras pernah melihat resep dari online milik yackikuka dan asahid tehyung. Menurutnya cara memasak mereka sangat simpel dan mudah di pelajari. Apakah Laras akan meneruskan meneruskan usaha mendiang ibunya? lihat saja nanti.
Klik
"bagaimana keadaan mama saya?" tanya Mila setiba di rumah sakit.
"Masih di tangani dokter Imel, dok." jelas salah satu perawat yang menenangkan Bu Aminah yang masih syok.
PLAAAAAK!
Sebuah tamparan melayang ke wajah wanita yang sudah mengabdi para keluarga Camila. Tamparan yang begitu terasa sakit untuk usia paruh baya tersebut. Suara tamparan yang menghebohkan pihak rumah sakit. Seketika Mila kembali menjadi sorotan.
"Kamu bisa nggak jagain mama! saya gaji kamu bukan buat berleha-leha. Kemana kamu! kenapa biarkan mama pergi sendiri!"
"Maaf,non. Saya tidak meninggalkan ibu. Saya pergi sama ibu ke acara temannya, tapi dia pengen sekali naik ojek. Saya sudah larang, tapi ibu ngotot. Motor yang ibu tumpangi keselip mobil. Ibu. .. ibu ... ibu dan motornya terseret jauh. Bahkan hampir kena mobil lain."
"Saya tidak mau tahu! kalau ada apa-apa sama mama saya. Kamu yang saya tuntut!"
"Kak Mila!" suara bariton terdengar lantang. Pemilik suara itu sedari tadi memperhatikan tingkah Mila pada Bi Aminah.
"Ini kah istri kakakku yang sebenarnya. Mila yang saya kenal sosoknya anggun, ramah dan sopan. Mila yang aku kenal baik dan suka menolong sesama. Tapi kenapa kakakku seperti ini sekarang? kamu berubah, kak." suara Fadli terdengar kecewa.
__ADS_1
"Suster bagaimana keadaan mama saya?" tanya Mila dengan wajah sembab.
"Dua ibu tua tadi,ya?"
"Iya, sus."
"Kalau ibu yang satu lagi tadi sudah bisa pulang karena cuma luka ringan. Hanya saja Abang ojek yang bawa ibu tadi meninggal dunia.
Sementara ibunya Bu dokter Camila, maaf kami sudah berusaha. Beliau sudah bertemu Allah. Karena kepalanya pecah akibat terseret di aspal. Kulit kepalanya koyak serta banyak mengeluarkan darah."
"Innalilahi wa innailaihi rojiun,"
"Nggak! nggak mungkin mama saya meninggal! nggak mungkin!" pekik Mila.
"Non, ibu sudah nggak ada. Ikhlaskan, ibu non."
"Mama...mama... ! kenapa tinggalkan aku! aku hanya punya mama. Sekarang aku tidak punya keluarga!" tangis Mila.
Beberapa perawatan memapah Mila. Sebagian dari mereka mencoba menenangkan dokter cantik yang sudah berkepala empat itu. Hingga Mila merasa tubuhnya ringan, dalam sekejap Mila sudah tidak sadarkan diri.
klik
"Jadi bagaimana, pak? apakah sudah ada titik terang tentang kasus tabrak lari paman saya." tanya Hazar saat berada di kantor polisi.
"Sepertinya di sekitar lokasi tidak terdapat cctv. Maka sulit bagi kami melacak tentang pelakunya." jawab petugas kepolisian.
"Saya minta keadilan, pak. Karena perbuatan orang itu keponakan saya jadi buta. Masa depannya hancur karena kehilangan kakinya. Sudah hampir satu bulan, tapi belum juga ada titik terang." suara Hazar meninggi.
"Saya minta untuk bersabar. Kami masih mengerahkan anak buah untuk mencari tahu apa yang di dapat dari TKP." Hazar duduk lemas di ruang tunggu kepolisian. Sesekali kepalanya diacak. Dia ingin membawa keponakannya tinggal di rumah. Tetapi keluarganya menolak anak malang itu.
__ADS_1