
"Maaf, Va. Aku tahu maksud kamu baik. Aku tahu kamu bicara seperti itu karena rasa sayangmu pada kami. Tapi satu hal yang harus kamu ketahui. Aku tidak mau memisahkan ibu dan anak. Hanya saat ini aku tidak bisa berbaur satu rumah dengan mereka. Jadi tolong ngerti keadaanku sekarang." kata Laras dengan tatapan menerawang.
"Benar kata Laras, Eva. Memang namanya the power of mertua punya pengaruh kuat dalam rumah tangga anaknya. Tapi seharusnya Rangga bisa bersikap adil. Dia boleh membawa Laras tapi tidak melupakan baktinya pada orangtuanya." kata Sasti. Eva hanya mendelik tajam ke arah Sasti. Andai saja Sasti melihat perjalanan Laras beberapa tahun silam mungkin akan beda pendapatnya saat ini.
"Terserah kamu, Ras. Aku cuma mengingatkan kamu. Kalau Raya itu memperlakukan kamu dengan baik tidak akan jadi masalah. Tapi sampai kamu pergi dari rumah pun dia masih menyiksa kamu. Kamu tahu tidak, kepada siapa Ratna dan Najwa gadai sertifikasi rumah kamu. Ke mertua kamu, Ras. Debt kolektor yang dikirim bukan dari hutang judi, tapi dari mertua kamu!"
Laras mengerutkan dahinya mendengar ucapan Eva. Ada rasa aneh ketika mendengar cerita temannya. Mana mungkin dua saudaranya bisa terhubung dengan mertuanya. Kenal saja tidak, jadi mana mungkin kalau saudaranya berhubungan dengan mama mertuanya.
"Kamu nggak percaya, kan? nanti aku akan bawa mereka ke hadapanmu. Aku tahu di mana mereka berada saat ini." kata Eva yang terdengar masih tersulut emosi.
Adul yang mendengar pembicaraan Eva hanya mengepal tangannya dengan erat. Guratan emosi tersirat di wajah lelaki 25 tahun tersebut. Terdengar geprakan pintu membuat mereka mengalihkan pandangannya ke luar. Tampak Adul menatap Eva dengan penuh kemarahan.
"Kalau ternyata benar, kenapa kamu baru bilang sekarang, Eva. Kenapa kamu tidak bilang sama kami supaya bisa menyeret mereka ke kantor polisi. Atau jangan-jangan, kamu juga terlibat soal ini? kamu lihat apa yang dialami Laras selama ini." amuk Adul.
"CUKUP!" pekik Sasti.
__ADS_1
"Kalian sedari tadi sibuk beragumen sendiri. Tapi kalian lupa satu hal. Bagas! dia sedari tadi ketakutan melihat Raya. Dan sekarang kalian berdebat di depan dia. Mikir nggak sih! anak sekecil itu harus melihat perdebatan orang dewasa seperti kalian. Kasihan dia masih ketakutan. Jangan pikirkan ego kalian. Tapi pikirkan guncangan yang di dapatkan Bagas hari ini."
Bagas masih meringkuk di dalam pelukan bundanya. Masih terasa gemetar tubuh anak itu, dia tidak pernah di marahi selama ini. Tapi sekali mendengar suara kemarahan dia sangat takut sekali. Suara kecilnya terus menyerukan ketakutannya. Laras membelai pucuk kepala anaknya. Mencoba menenangkan meskipun tidak mudah.
"Maafkan bunda, Bagas. Bunda sudah buat kamu bersedih. Bunda janji tidak akan mengulanginya lagi."
"Bunda, aku takut lihat Tante tadi, yang datang sama om nya Yusuf. Bagas nggak mau ketemu dia lagi. Bunda nggak usah temenan sama tante tadi. Nanti dia marahi bunda juga. Bagas nggak suka ada yang marahi bunda." Isaknya.
"Bagas, dengar, ya. Perempuan tadi adalah neneknya Bagas. jadi Bagas tidak boleh bicara yang jelek sama orang tua. Bunda bukan di marahi cuma di kasih nasehat saja. Kalau logatnya seperti orang marah bukan berarti dia marahi bunda. Tapi suaranya memang seperti itu. Besok kalau Bagas bertemu nenek Bagas, harus ngomong yang baik. Ngerti!"
"Ya Allah, aku tidak menyangka pertemuan pertama Bagas dengan mereka memberikan trauma. Seharusnya mama Raya tidak perlu bicara lantang di depan Bagas. Bukankah dia juga seorang ibu. Maafkan bunda Bagas, hari ini bunda malah buat kamu sedih. Bunda janji akan selalu membuat kamu bahagia." Batin Laras sembari mengecup pucuk rambut putranya. Tangannya menyeka linangan air matanya. Takut Bagas tahu kesedihannya.
Waktu semakin menunjukkan pergerakannya. Laras masih terfokus dengan Bagas yang tertidur di pangkuannya. Tampak Bagas terlihat lebih tenang. Terdengar dengkuran kecil dari malaikat kecilnya. Laras mengambil tisu membersihkan wajahnya yang sembab.
"Bagaimana, nak? kamu selalu bertanya soal ayah. Sekarang ayahmu sudah kembali, tapi maaf, nak. Bunda belum bisa bersama ayahmu. Mungkin jika situasi sudah aman kita bisa berkumpul bersama lagi."
__ADS_1
Adul menarik tanda Eva dengan kasar. Lelaki itu membawa Eva keluar ruangan untuk membicarakan hal yang penting.
"Dul, sakit," pekik Eva.
Lelaki itu memberhentikan langkahnya di depan salah satu lobby rumah sakit. Masih dengan tampang kesal. Adul berdiri meminta penjelasan dari Eva.
"Tolong jelaskan soal keluarga Bude Endang. Kenapa kamu tahu soal itu? apa kamu bertemu mereka atau kamu sebenarnya sudah lama tahu. Kalau iya, kenapa selama ini kamu diam saja."
"Aku baru tahu sebulan yang lalu, Dul. Saat aku dan suamiku sedang bepergian bersama anak-anak. Kami istirahat di sebuah warung kecil, dan kamu tahu siapa yang punya warung kecil itu. Bude Endang, Dul! dari cerita mereka aku tahu semuanya."
"Apa yang mereka ceritakan?" tanya Adul.
"Mereka ... mereka bukan keluarga Laras. Mereka orang lain yang di bayar buat mematai Laras. Termasuk kedekatan kamu dan Laras mereka manfaatkan untuk membuat citra Laras buruk. Kesannya Laras itu selingkuh sama kamu." jelas.
"Kurang ajar!" Adul menghunuskan tangannya ke dinding.
__ADS_1