
Dua tahun kemudian..
Laras dan Rangga sudah menjalani kehidupan rumah tangga selama dua tahun. Mereka saling berbagi suka dan duka bersama. Meskipun sampai saat ini mereka belum juga di karuniai keturunan. Rangga tetap setia disamping Laras, begitu juga sebaliknya.
Pernikahan mereka tetap bahagia meskipun Tuhan belum menitipkan sosok malaikat kecil dalam hidup mereka. Laras masih menjalankan baktinya pada suaminya, begitu juga Rangga tetap menjalankan tugas sebagai seorang suami yang setia.
Saat ini mereka sudah beberapa bulan tinggal di Jakarta. Tapi Rangga hanya membawa pulang Laras ke kediaman orangtua istrinya. Rumah Laras yang kecil sudah di renovasi Rangga menjadi cantik sedemikian rupa. Meskipun tidak mewah tapi sederhana, bagi Laras itu sudah cukup. Karena mereka hanya perlu untuk quality time berdua.
Rangga juga mendanai pembangunan di sekitar kompleks perumahan Laras. Termasuk dalam program perusahaannya yang di bidang property, Rangga pun juga mengajak perangkat RT setempat untuk program air bersih.
Laras membuka sebuah toko kecil menjual sarapan seperti gado-gado, nasi uduk dan lontong. Meskipun suaminya anak orang kaya, dia tidak malu menjalankan usaha kecilnya. Bahkan Oma Gladys sering datang mengunjungi warung milik Laras yang digelar di teras rumahnya.
"Ras, suami kamu kan orang kaya, memangnya kamu tidak malu kerja seperti ini." celoteh Nindy, tetangganya.
"Kenapa mesti malu, ndy, yang aku kerjakan halal kok. Suamiku juga nggak ngelarang, buat dia yang penting aku bisa punya aktivitas." Jawab Laras.
"Ya lah, karena kamu belum di kasih anak. Coba kalau sudah punya anak, nggak akan sempat buat jualan, lihat Eva saja sambil bawa anaknya bantu kamu. Repot kan?"
"Ya, kan emang ini kerjasama aku dengan Laras, ndy. Masa Laras kerjain sendiri sedangkan aku nggak ngapa-ngapain? padahal ini usaha kami berdua."
"Iya, Ndy, lagian yang kaya itu mertuaku. Suamiku masih kerja di kantor papa tirinya. Bukan punya dia sendiri." Laras masih betah menjelaskan pada Nindy.
"Oooo, begitu. Tapi apapun itu, Ras. Kalau aku jadi kamu, nggak mau capek-capek kerja begini. Mending aku shopping, ikut arisan sosialita, daripada harus jualan. Lagian kenapa kamu nggak cari rumah lebih mewah sih, daripada balik ke sini. Mending kamu jual rumah ibumu, daripada tinggal di tempat kayak gini."
"Untungnya Laras bukan kamu, Ndy. Dia masih punya attitude. Nggak kayak kamu, punya anak nggak tahu bapaknya." Omel Eva yang terlanjur kesal mendengar omongan Nindy.
"Va, jangan ngomong gitu, ah. Pamali!" Laras membela Nindy.
"Kan faktanya, Ras." Eva tidak mau kalah.
"Kamu lupa, Va. Cici anakmu juga perempuan, jangan sampai hinaanmu pada anaknya Nindy kejadian di keluargamu. Kita ini perempuan, Va, sesama perempuan itu harus saling memotivasi. Kita nggak pernah tahu bagaimana perjuangan Nindy membesarkan anaknya. Aku malah salut sama dia, membesarkan anak seorang diri tanpa suami. Banyak perempuan diluar sana yang malah membuang bayinya. Bayi yang tidak berdosa hanya karena kesalahan orangtuanya."
__ADS_1
Eva menunduk malu. Dia juga sadar kalau ucapan akan ada timbal baliknya. Jika kita berbuat baik pasti akan ada hal baik yang akan membalasnya. Begitu juga jika berbuat jahat akan ada balasan serupa.
"Tuh, Va, dengarkan itu. Anakku juga nggak mau dilahirkan seperti itu. Aku juga nggak mau hamil diluar nikah. Tapi daripada aku bertahan sama dia yang sudah beristri, lebih baik aku besarkan sendiri anak ini." Bela Nindy.
"Ras, aku pamit dulu, ya. Soalnya putra pasti sudah bangun. Oh, ya. nasi uduknya bon dulu, ya. Nanti pas gajian aku bayar."
"Eh, enak saja!" Sergah Eva.
"Bayar, dulu. kamu yang bulan lalu saja belum lunas, mau ngutang lagi."
"Loh, va. katamu dia sudah lunas." Laras kaget ternyata Nindy belum membayar hutangnya.
"Yang waktu itu aku tutup sama uangku, ras. Jadi dia yang bayar hutang sama aku. Huh! sudah di tolongin masih juga ngasih jantung."
Laras hanya menggelengkan kepalanya. Tak lama dia pun membereskan beberapa dagangannya yang sudah habis. Laras pun menyisakan beberapa pack mika buat dibagikan ke OB kantornya. Apalagi ini hari ini adalah hari Jumat. Kata orang jika kita berbuat kebaikan di hari Jumat akan mendapatkan berkah. Percaya tidak percaya, Laras hanya menjalankan apa yang di yakininya bermanfaat.
Laras membuka gawainya menghubungi suaminya. Sementara Eva masih sibuk menghitung penghasilan hari ini. Mata Eva melirik kearah Laras. Sunggingan senyum menatap tetangga sekaligus teman kecilnya.
"Iya, Va." Laras mengalihkan pandangan ke arah Eva yang sedang memberi ASI untuk Cici.
"Ras, kamu mau bawa kemana makanan itu?" tanya Eva.
"Mau aku bagiin ke OB kantor suamiku. Kenapa, Va kamu mau, ambil saja buat emak dan suamimu." Laras menyodorkan lima box gado-gado yang tadi dia pisahkan.
"Bukannya seminggu yang lalu kamu bawa ke kantor suamimu juga. Daripada ke mereka lagi, mending kamu bagiin ke mushola. Bentar lagi kan orang jumatan. Kamu ingat kan, Ras? Ibumu dulu suka membagikan kue buatannya ke mushola."
"Ah, iya, Va. Kenapa aku nggak kepikiran kesana, ya. Tapi ini adanya cuma 25 pak, Va. Apa ini cukup? kan yang di mushola pasti banyak yang datang. Aku takut nggak cukup nantinya."
"Ya, kamu pakai koneksi suamimu, Ras. Gimana sih? kalau dia saja tidak keberatan membantu kompleks kita apalagi sekedar nyumbang makanan ke mushola."
"Iya, juga, Va. Aku kok nggak kepikiran kesana, ya?" Laras menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Tak berapa lama komunikasi Laras sudah terhubung dengan suaminya.
"Assalamualaikum, mas. Aku bisa minta tolong tidak, aku mau kirim beberapa makanan untuk orang jumatan. Masalah stok yang dirumah tidak cukup. Mas kan banyak kenalan resto atau makanan cepat saji. Jadi mas bisa kan bantu kirim beberapa box lagi. Paling tidak 30 box lagi."
"Tenang sayang nanti aku hubungu beberapa kenalanku. Hanya itu saja, ada yang lain."
"Alhamdulillah, terimakasih,mas. Kayaknya cuma itu saja."
"Ras, aku lagi di jalan, Oma mau ketemu sama kamu. Nggak tahu dia bilang dua hari ini mimpiin kamu." Jawab Rangga di telepon.
"Iyakah, mas. Hati-hati ya, mas. Jangan ngebut, mas."
"Iya, sudah dulu, ya." Rangga memutus jaringan teleponnya.
Rangga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mengingat dia sedang membawa Oma Gladys untuk menemui Laras di kediaman mertuanya. Sementara itu Oma Gladys sepertinya sedang mengantuk. Jarak kantor Rangga dengan kediaman Laras di daerah Ciracas cukup menempuh waktu satu jam. Apalagi dengan macetnya lalu lintas Jakarta, mengingat sebentar lagi sholat Jumat.
Rangga pun masih melajukan kendaraannya dengan baik. Hingga ada adegan persalipan mobil yang tak terelakkan. Rangga mencoba memutar arah mobil untuk mencari jalan lain, sayang ada salah satu mobil yang menerobos mobilnya.
Rangga membanting setir ke kiri, memutar arah mencari jalan lain agar keluar dari kemacetan. Dia sudah mencoba mengendalikan mobilnya tapi sepertinya nasib naas berpihak padanya. Hingga berputar menabrak pembatas jalan.
Bukan itu saja, beberapa mobil yang melintas ikut menghantamnya. Rangga dan Oma yang berada didalamnya ikut terseret bersama mobilnya.
Bagian depan mobil Rangga hancur tak karuan. Padahal Rangga memakai sabuk pengaman.
"Tolong!" Oma yang sebagian tubuhnya terjepit pintu.
Beberapa orang yang melihat kecelakaan beruntun tersebut segera membantu. Apalagi mereka melihat wanita tua yang meminta tolong. Mereka mengeluarkan Oma Gladys, sementara tubuh Rangga bersimbah darah.
Terimakasih sudah mampir ke karya remahan saya.
Saya minta maaf kalau ada cerita yang mungkin di mata kalian tidak sekeren yang sering di beranda.
__ADS_1
Masih banyak kekurangan dalam penulisan ini.