
Laras berjalan berdampingan dengan Rangga. Ramai nya tamu di pesta kediaman membuat Rangga berusaha menjadi pelindung bagi istrinya. Sejenak mereka saling bertatapan lalu keduanya tersenyum kikuk. Mila yang melihat adegan itu hanya tersenyum sinis.
"Ramai banget, ya, mas" Laras memandang keramaian di rumah mertuanya.
"Kalau kamu tidak nyaman kita istirahatkan di kamar dulu." Laras tersenyum dan menggeleng mantap.
"Tidak, mas. Aku tidak masalah. Asalkan sama kamu rasa capek pun hilang."
"Aku pun begitu, sayang. Sedetik pun jauh dari kamu aku tidak tahan. Tetap menjadi Laras yang dulu."
Laras menunduk malu setelah di hujam rayuan maut dari suaminya. Rangga langsung mengangsurkan lengannya tangan Laras langsung menggandeng suaminya.
Terpukan tangan dari para tamu saat mereka melenggang mesra. Sebagian tamu berdecak kagum melihat kemesraan keduanya. Namun ada juga yang sinis melihat Laras masih di terima keluarga Pattimura.
"Kamu siap, sayang. Kita bergabung sama mama dan papa, ya." Laras mengangguk dan berjalan berdampingan. Sesekali Laras menunduk ketika mendapati tatapan sinis kearahnya.
Di depan mereka ada sebuah panggung kecil. Beberapa panitia acara menyambut mereka dan menuntun ke atas panggung. Dan malam ini mereka bagaikan raja dan ratu semalam. Laras merasa terharu dengan semua sambutan dari mertuanya. Meskipun dia tahu kalau saat ini masih ada keraguan pada Raya. Seperti permintaan Rangga kalau kedatangan mereka demi menghormati Donal.
Memasuki puncak acara Raya mengajak Laras berbaur dengan para tamu. Laras menelan salivanya saat mama mertuanya mengajak ke rombongan arisan. Laras tidak lupa kalau rombongan itu pernah menghina dirinya. Tapi dia mencoba membesarkan rasa percaya dirinya. Kalau tidak pasti akan terlihat lemah dan di cemooh lagi.
Laras mengucapkan bismillah di dalam hatinya. Menguatkan dirinya agar tidak tampak terlihat lemah.
"Wah, jadi temanya kembalinya istri durhaka." timpal Bu Rini.
"Iya, lagi sakit dia pergi. Giliran sehat dia balik. Nggak tahu malu!" timpal Bu Retno.
"Bu, jangan bilang begitu. Biar bagaimanapun dia menantu saya. Istri anak saya. Setiap manusia punya kekhilafan di masa lalu. Saya sadar saat itu ada Miss komunikasi antara saya dan Laras. Mungkin dia menganggap yang saya lakukan jahat. Tapi Laras mama cuma pengen kamu tidak goyah dengan apapun yang terjadi. Maafin mama ya, nak."
Raya berdiri di hadapan teman-temannya sambil menatap penuh kasih sayang pada Laras. Tubuh Raya yang tinggi langsing, tak tampak kalau usianya memasuki 60. Masih tampak seperti 50-an.
"Terimakasih mama," Laras pun terharu pada pembelaan Raya kepadanya.
"Saya senang kamu bisa berkumpul lagi disini. Saya harap apa yang terjadi di masa lalu tolong di maafkan."
"Maaf, cucuku mana?"
"Astaga kami tadi melupakan Bagas." batin Laras.
"Tadi dia asyik menonton badut di luar. Maaf, ma. Saya susul Bagas dulu." Laras sengaja menggunakan Bagas untuk menghindari teman-teman mertua. Rasanya dia bisa sesak nafas kalau terus di kerubung hujatan dari mereka.
Tak terasa waktu terus bergulir. Hari sudah menunjukkan waktunya senja datang. Rangga menarik Laras ke arah beberapa temannya.
"Kak Reza?" sapa Laras.
Lelaki yang dipanggil pun menoleh sambil tersenyum.
"Laras kamu makin cantik saja." puji Reza.
"Terimakasih atas pujiannya pada istriku." sahut Rangga.
"Kak Reza nggak berubah masih suka ngegombal." kekeh Laras.
__ADS_1
"Ya, sudah bawaan dari sananya." kata Reza penuh percaya diri.
"Bunda," suara Bagas menyelip diantara Rangga dan Reza.
"Bagas dari mana?" tanya Laras.
"Dari taman bunda."Bagas menarik Laras lalu berbisik "Bunda, Bagas lapar."
Laras pamit pada Reza dan teman Rangga yang lain. Reza memandang Bagas seperti merasa devaju.
"Anak itu persis seperti Rangga. Benar-benar Rangga junior." ucap Reza dalam hati.
Setelah acara selesai. Rangga dan Laras serta Bagas diminta istirahat di kamar yang mereka sediakan. Rangga menuntun istrinya untuk istirahat di kamar. Tubuh Laras sangat lelah setelah setengah hari mengikuti rentetan acara. Laras pun di perlakukan bak ratu. Dia tidak perlu turun untuk makan, karena makanan mereka diantar langsung ke kamar.
"Sayang,"Rangga mendekati istrinya yang sudah memakai daster arab.
"Iya,mas." Laras tersenyum saat tubuhnya sudah terkungkung dalam pelukan suaminya.
"Bagaimana pendapatmu tentang acara ini?"
"Senang, mas. Mereka sudah memperlakukan aku dan Bagas dengan baik. Tidak menyangka kalau mama Raya begitu antusias dalam acara tadi."
"Aku senang kalau kamu nyaman dengan mereka. Tadinya aku takut kalau kamu merasa tidak nyaman dengan semua ini.
Terimakasih kamu sudah bersedia bertemu dengan keluargaku."
"Tapi tetap aku tidak bisa tinggal bersama mereka. Maaf itu keputusanku sudah bulat." Laras menunduk.
Rangga menaikan wajah Laras yang masih menunduk.
"Keadaan? maksudnya!"
"Keadaan kalau setelah kita berpisah ada sosok malaikat kecil diantara kita. Aku bukan meragukan Bagas, hanya saja aku merasa bersalah saat kamu hamil pasti berjuang sendirian."
Kemana langkahku pergi
Slalu ada bayangmu
Ku yakin makna nurani
Kau takkan pernah terganti
Saat lautan kau seberang
Janganlah ragu bersauh
Ku percaya hati kecilku
Kau takkan berpaling
Walau keujung dunia pasti akan kunanti
__ADS_1
Meski ke tujuh samudra pasti ku kan menunggu
Karena ku yakin kau hanya untukku
Kemana langkahku pergi
Slalu ada bayangmu
Ku yakin makna nurani
Kau takkan pernah terganti
Pandanglah bintang berpijar
Kau tak pernah tersembunyi
Dimana engkau berada
Disana cintaku
Walau keujung dunia pasti akan kunanti
Meski ke tujuh samudra pasti ku kan menunggu
Karena ku yakin kau hanya untukku
Rangga menyanyikan lagu berjudul untukku sambil memeluk Laras.
"Ras, sejak awal kita menikah aku selalu yakin kalau kamu adalah sosok yang tepat. Aku tidak pernah peduli dengan apa yang pernah terjadi di masa lalu. Tapi aku yakin masa depanmu adalah aku."
Laras memandang bulan yang semakin membulat sempurna. Di dampingi Rangga yang merangkul menutupi punggung Laras.
Keduanya saling beradu pandang. Rangga menarik dagu Laras, menikmati bibir manis istrinya. Laras menikmati buaian cinta dari suaminya.
Sejenak Laras memejamkan matanya saat Rangga membungkam bibirnya. Tangan Laras mengalung di leher Rangga. Tak ada penolakan dari Laras. Bibir tipisnya mulai mengikuti ritme gerak liar bibir suaminya.
Tanpa mereka sadari Bagas sudah berdiri di depan mereka.
"Bunda lagi apa?"
Laras dan Rangga saling pandang. Kemunculan Bagas di tengah mesranya momen berdua. Rangga dan Laras pun saling melepas diri.
"Bagas mau tidur bareng ayah dan bunda." kata Bagas.
*
*
*
Sudah dapet belum uwu nya.
__ADS_1
Maklum kalau belum dapet efek awal bulan tapi belum gajian.
Tetap pantengin terus karya author remahan dengan cara like komen dan vote.