Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Donatur Taman kanak-kanak


__ADS_3

"Terimakasih tuan anda sudah menyumbangkan dana untuk sekolah kami." sapa seorang lelaki berambut klimis berkacamata tebal. Dengan seragam dinasnya tampak membuat lelaki itu terlihat lebih tua dibanding usianya.


"Sama-sama, pak Kadir. Saya kesini bukan sebagai donatur saja, tapi juga sebagai alumni sekolah ini. Banyak sekali kenangan saya disini." netranya memandang sekolah yang masih mempertahankan arsitektur bangunannya.


"Owh... jadi anda alumni sini juga. Maaf saya tidak tahu, tapi saya tidak pernah tahu dengan nama anda. Rangga BarataYudha, saya juga alumni sini, anda angkatan berapa?"


"Saya angkatan 91, pak. Anda?"


"Owh, pantas tidak kenal. Saya angkatan 93."


Mereka mengakhiri pembicaraan. Keduanya tampak sibuk berjalan mengelilingi taman kanak-kanak, dari kejauhan Rangga melihat beberapa anak bermain di halaman sekolah. sebagian dari mereka hanya duduk di dampingi beberapa guru. Tawa riang anak yang berlari kesana-kemari. Dunia mereka yang indah tanpa memikirkan beban hidup yang menghimpit.


Rangga adalah donatur tetap di taman kanak-kanak Al- Zaman. Salah satu alasan dia menjadi donatur saat itu, karena dirinya masih punya ikhtiar tentang anak. Jika istrinya sembuh, maka dia akan menjadi donatur untuk sebuah taman kanak-kanak. Meskipun dulu dia sempat sakit. Namun, anak buahnya yang mengurusi masalah donatur tersebut.


Dia hanya berharap dengan melihat anak-anak akan memancing istrinya supaya bisa hamil. Namun nyatanya, kecelakaan itu yang membuat dirinya terpisah dengan Laras.


Namun bukan hanya itu yang menjadi fokus utamanya. Bukan karena tempat itu memiliki banyak kenangan di masa kecilnya. Bukan juga karena beberapa guru muda yang bersikap ramah padanya. Tetapi netranya berfokus pada dua orang anak kecil yang duduk di ayunan kursi. Keduanya terlihat akrab. Rangga tersenyum ketika sosok kecil itu mengenalinya.


"Om Rangga!" seru anak lelaki tersebut.


Anak itu berlari menuju dirinya. Diikuti temannya mereka berjalan mendekati Rangga. Rangga tersenyum memeluk anak yang pertama sampai ke tubuhnya.


"Yusuf sekolah disini? kapan sampai dari Jepang?" tanya Rangga.


"Sudah mama wisuda kami langsung pindah om. Oh iya ini kenalkan temanku namanya Bagas.

__ADS_1


Bagas kenalin ini Om-ku kakak mamaku, namanya om Rangga." Yusuf memperkenal Rangga pada temannya.


"Sudah kenal, suf. Beberapa hari yang lalu aku ketemu om ini sama bude dokter."


"Yusuf belum pulang?"


"Kata papa mama sakit, muntah-muntah terus karena punya dedek bayi. Tapi nanti dijemput bude Lia."


"Pulang bareng, om saja. Om mau ajak Yusuf sama Bagas makan-makan. Gimana? kalau nggak percaya om telepon papa kamu." Tangan Rangga langsung menari diatas layar.


"Assalamualaikum, Lam. Ini aku Rangga, aku kebetulan mau mengajak Yusuf jalan-jalan.Boleh?"


"Assalamualaikum, kak Rangga. Masya Allah, kakak kapan di Indonesia. Kok nggak ngabarin?"


"Maaf, lam. Aku pikir kalian masih di Jepang. Jadi boleh nggak ajak Yusuf."


Beberapa saat kemudian, Rangga mendapat keputusan Ina minta anaknya pulang ke rumah. Rangga pun akhirnya mengantarkan Yusuf pulang.


"Mamamu minta pulang katanya." Rangga berjongkok sejajar dengan dua anak di depannya.


"Yaudah, kalau begitu Yusuf ambil tas di kelas dulu. Bagas tas kamu mana?" Yusuf mengalihkan pandangan ke temannya.


"Itu," tangan Bagas menunjuk ke arah ayunan tempat mereka duduk. Yusuf meninggalkan Bagas untuk mengambil tas nya.


Rangga beralih ke arah Bagas. Sejak awal bertemu entah kenapa ada getaran aneh pada anak itu. Rangga selalu senang setiap bertemu dengan Bagas. Rasa penasaran itu selalu menghantuinya.

__ADS_1


"Bagas pulang bareng sama Om, ya." ajak Rangga.


Bagas menggeleng. Dia selalu di wanti-wanti agar tidak percaya sama orang lain. Apalagi kalau ada yang mengajaknya pulang.


"Enggak, Om. Bagas sudah janji sama Bunda. Nanti dia jemput. Memang bunda biasanya suka telat jemput, soalnya bunda kerja."


"Beneran nggak mau diantar?" sekali lagi anak itu menggeleng.


Rangga berdiri bersamaan dengan munculnya Yusuf sudah membawa tas sekolahnya.


"Om boleh nggak ajak Bagas?


"Tadi om sudah ajak Bagas-nya nggak mau."


Rangga melihat wajah Bagas seperti ingin


menyampaikan sesuatu. Tapi sepertinya gengsi lebih besar. Rangga pun akhirnya meninggalkan Bagas yang hanya menatap penuh arti ke arahnya.


Dari dalam perjalanan Rangga terus kepikiran Bagas. Rasanya dia belum tenang kalau melihat anak itu masih di sekolah. Rangga memutar mobilnya untuk menyusul Bagas.


"Kita jemput Bagas, ya, suf. Kasihan dia pasti menunggu lama jemputan."


"Memang dia sering begitu, om. Sering lama di karena nggak di jemput bundanya. Kadang ada om nya atau bude dokter yang jemput. Bagas sering bilang kalau bundanya kadang malam pulangnya. Kan bundanya kerja kantoran."


"Terus ayahnya?"

__ADS_1


"Nggak tahu, om. Bagas nggak pernah cerita ayahnya. Tiap kesekolah dia cerita bundanya terus."


__ADS_2