
Lima tahun kemudian
Suara riuhnya anak-anak keluar dari kelas terdengar kencang. Beberapa dari mereka duduk di bangku menunggu jemputan. Sebagian lagi memilih bermain di halaman depan sekolah.
Seorang anak lelaki berdiri di kursi ayunan. Matanya berputar ke sekelilingnya. Tangannya merogoh gawai miliknya. Seperti ada yang ditunggunya.
"Pasti sibuk lagi," keluhnya.
Sejak bundanya bekerja di kantor, dia sering telat dapat jemputan. Kadang dia nekat naik ojek di simpang sekolahnya. Walaupun sampai di rumah selalu di wejang supaya jangan pulang sendiri.
"Jangan pulang sendiri, gas. Nanti kalau kamu di culik gimana?" omel Laras pada putra semata wayangnya.
"Habis bunda lama jemputnya." jawab Bagas sambil mengemil coklat astor-nya.
Laras memeluk tubuh putranya. Perjuangannya untuk sampai ke titik ini tidaklah mudah. Dia membuka warung pecel di depan kontrakannya. Dari situlah penghasilannya menghidupi Bagas. Saat Bagas berusia satu tahun Laras mencoba masuk kuliah Sabtu Minggu. Kuliah malam tersebut sering membuatnya di cap perempuan nggak benar. Padahal dia sudah berhijab, masih saja ada ucapan sumbang untuk dirinya.
Hingga dua tahun yang lalu Laras menyelesaikan pendidikannya dengan baik. meskipun bukan lulusan dengan cumlaude tinggi. Dia sudah dapat modal buat cari kerja. Sambil menunggu panggilan kerja Laras tetap meneruskan usaha jualan pecelnya. Hingga satu tahun kemudian dia di terima kerja oleh perusahaan kecil. Itulah yang saat ini menunjang kehidupannya dengan Bagas.
"Maafin, bunda ya, nak. Bunda harus kerja buat sekolah Bagas, buat bisa beliin Bagas mainan."
"Bagas nggak marah bunda. Bunda kerja saja biar Bagas bisa beli mainan kayak punya Yusuf. Dia sering bawa mainan kesekolahnya. Mamanya yusuf juga kerja, yang jemput Yusuf budenya." cerita Bagas.
Laras hanya tersenyum kecil. Tangannya memegang tubuh Bagas yang bulat, untuk usia Bagas termasuk bongsor. Namun itu bukan halangan bagi Laras. Apapun akan dia lakukan demi kebahagiaan Bagas.
Lamunan Bagas buyar saat mendengar klakson mobil. Wajahnya hanya terlihat datar ketika tahu siapa yang menjemputnya. Seorang wanita berbaju jas putih keluar dari mobil hitam tersebut. Sedikit sumringah ketiak wanita itu membawa sebuah kantong.
__ADS_1
"Bude dokter," sapanya riang.
Bagas berlari mendekati wanita yang di panggil bude dokter. Tentu saja fokusnya dengan kresek yang di jinjing wanita itu. Senyumnya terbuka lebar saat tahu isi dari kresek tersebut.
"Terimakasih bude," jawab Bagas sambil membuka coklat warna-warni.
"Bagas, temenin bude ya?" ajak Camila.
"kemana?"
"Teman bude, baru datang dari Jepang. Jadi bude mau jemput dia. Bagas mau ikut. Ini bude telepon bunda kamu ya, biar dapat izin." Camila mengeluarkan handphonenya tak berapa lama tersambung.
"Ras, aku ajak Bagas ke bandara, ya? soalnya tunanganku hari ini mau pulang ke Indonesia."
"Apa nggak ganggu nanti dokter?"
"Dokter saya mau ngomong sama Bagas dulu?" pinta Laras.
Telepon genggam pun sudah beralih di tangan Bagas. Anak usia lima tahun tersebut menempelkan benda pipih ke daun telinganya.
"Bagas dengar bunda, nanti jangan banyak minta sama bude dokter, ya. Bagas boleh minta hanya sama bunda saja. ngerti!"
"Ngerti bunda. Jadi Bagas boleh ikut sama bude dokter?"
"Boleh, asal ingat pesan bunda tadi. Jangan suka minta-minta."
__ADS_1
"Iya, bunda. Bagas sayang sama bunda."
"Bunda juga sayang sama Bagas. Mmmmuaah!"
Bandara internasional Soekarno-Hatta.
Seorang lelaki tampak sibuk dengan gawainya sambil turun di dari pesawat. Langkah kakinya berjalan cepat, tiba langkahnya memasuki ruang bagasi. Setelah hampir tiga tahun di Jepang mengikut pengobatan untuk kelumpuhannya. Sementara matanya mendapatkan donor dari kerabat salah satu dokter di rumah sakit Jepang.
"Rangga!"
Seorang wanita paruh baya menghampiri dirinya. Wanita itu berjalan mengekor di belakangnya. Rangga tersenyum menyusul wanita yang dia panggil mama tersebut. Sang mama yang mendampinginya selama pengobatan di Jepang.
"Maaf, Ma. Rangga lupa kalau mama ikut."
"Kamu itu masih muda sudah pelupa." kekeh Raya mengacak rambut putranya.
"Yuk, ga. Tadi katanya Mila mau jemput." Raya berjalan mendahului Rangga.
Rangga menghela nafas berat. Entah kenapa dia kurang bersemangat mendengar nama Mila. Mamanya terlalu bersemangat untuk mendekatkan dirinya dengan Mila.
Sepertinya aku harus ke tempat orangtuanya Laras. Aku harus tahu alasan Laras meninggalkan pernikahan kami.
Ras, tahukah kamu aku masih mencintaimu.
Rangga duduk di ruang bagasi menunggu barangnya turun. Raya pamit pulang duluan karena sudah di jemput sama sopir suaminya. Dia juga meminta pada Rangga agar mengurusi bagasi.
__ADS_1
"Terus Rangga pulang sama siapa?"
"Sama mila. sudah ya, mama berangkat duluan. Tuh baru saja di bilang orangnya sudah datang."