Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Pemakaman Oma


__ADS_3

"Nona Laras anda di bebaskan." Seorang petugas mendatangi Laras yang masih duduk di dalam jeruji besi.


"Terimakasih, pak. Terimakasih." Ucapnya penuh haru. Dia senang akhirnya bisa keluar dari penjara. Harapannya satu, bisa berada disamping Rangga.


"Sama-sama, Nona. Jangan di ulangi lagi, ya. Jangan suka melawan mertua. Mertua anda itu orang baik. Dia melakukan ini cuma mau bikin anda sadar." Ucap petugas polisi.


Laras terpaku mendengar penjelasan petugas tersebut. Apa yang diucapkan Raya sangat tidak beralasan. Bagaimana mungkin dia dibuat seperti ini padahal tidak salah sama sekali. Tangan Laras sekali mengepal erat. Kaki nya melangkah ke depan gerbang kantor polisi.


"Bu, Laras saya utusan pak Donal menjemput anda. Mereka sudah menunggu anda dirumah." Seseorang muncul mengaku utusan papa mertuanya.


"Pak, apakah Oma sudah dimakamkan?"


"Sudah Bu Laras" jawab penjemputnya.


"Langsung antarkan saya ke pemakaman, ya pak." titah Laras


"Baik, Bu." Laras dituntun masuk ke dalam mobil.


Dalam perjalanan menuju areal pemakaman Laras hanya terdiam. Kejadian dua hari yang bikin dirinya sesak. Tak terasa bulir air mata membasahi wajahnya, Laras menyandarkan bahunya di pinggir kaca mobil. memejamkan sejenak kenangan bersama Oma Gladys.


Oma orang baik, bahkan sangat baik. Kenapa ya Allah orang sebaik dia harus pergi secepat itu. Aku masih ingin berbakti sama Oma. Maafkan Laras, Oma. Karena aku Oma jadi celaka. Maafkan Laras jika selama ini ada salah sama Oma.


Aku sudah kehilangan semua anggota keluargaku, Kak fajar, ayah dan ibuku. Sekarang Oma pun pergi meninggalkanku. Mas Rangga aku jadi rindu kamu, disaat seperti ini biasanya kamu yang menguatkan aku.


Laras menyeka air matanya. Mengenang semua kebaikan Oma selama ini. Selama dia masuk ke keluarga itu, Oma yang paling baik pada dirinya. Iya mama Raya juga baik, tapi saat ini wanita itu sudah berubah. Laras merasa karena dia orang miskin makanya bisa dipermainkan Raya. Laras baru sadar kebaikan Raya ternyata palsu.


Mobil langsung memasuki areal pemakaman elit. Tampak orang-orang sudah berkumpul di sana. Laras turun dari mobil, berlari mendekati makam Oma. Tubuhnya terduduk disamping gundukan tanah yang sudah disirami bunga.


"Oma," Tangisnya memeluk pusara berwarna putih. Bi Asti yang melihat Laras langsung ikut duduk di sebelahnya. Laras memeluk bi Asti yang dianggap orang baik setelah Oma.


Tangan bi Asti mengusap punggung Laras guna menenangkan wanita muda disampingnya.

__ADS_1


"Kamu yang sabar, Ras. Oma tidak akan tenang melihat kamu sedih begini. Masih ada saya, dan pak Donal yang sayang sama kamu." Ucap bi Asti menguatkan Laras.


"Ini semua salahku, Bi. Andainya Oma tidak berkunjung ke rumah ibuku, Oma dan mas Rangga tidak akan celaka. Ini salahku, Bi." Laras masih tersedu. Dia bukan asal menyalahkan diri. Tapi seandainya mereka tidak berencana berkunjung ke rumahnya mungkin kejadiannya akan beda. Laras memandang arah Raya, Lani dan Oma Fina yang menatap benci kepadanya. Dia menebak mereka pun akan menyalahkan dirinya.


Selesai acara pemakaman, semua yang datang pun membubarkan diri. Laras masih ingin duduk disamping makam Oma. Bi Asti masih setia mendampingi Laras. Sejak dia tahu Laras anak Mala, Asti langsung sayang pada anak temannya itu. Mala yang dia anggap sudah seperti adiknya sendiri, dan sekarang ada anak Mala yang tinggal bersama mereka. Membuat Asti berjanji akan menjadi pengganti ibu buat Laras.


Asti menuntun Laras masuk kedalam mobil yang menjemputnya tadi. Namun Laras mendapatkan penolakan dari Oma Fina.


"Buat apa dia ikut? dia bukan bagian kita." ujar Oma Fina pada Laras.


"Dia menantuku, Tante." Sahut Donal.


"Bukan, Donal. dia bukan menantumu, suaminya juga bukan anakmu. Anakmu cuma Lani, bukan Rangga." jawab Oma Fina sambil menatap sinis ke arah Raya.


"Tapi dia lebih dekat dengan Oma, ketimbang sama Lani. Jadi dia masih berhak dalam keluarga kita. Ayo Laras kita pulang, setelah itu kami antarkan kamu ke rumah sakit." Donal pun menuntun Laras masuk ke dalam mobil.


Sesampainya di kediaman Pattimura, semua keluarga berkumpul. Beberapa pelayat berdatangan. Termasuk keluarga Spencer dan keluarga Gunawan. Berbagai ucapan belasungkawa terus mengalir dari para pelayat. Laras pun ikut menyambut para tamu.


"Pa, Oma baru saja dimakamkan. Rasanya tidak etis sudah memanggil pengacara." Ujar Laras.


"Tadi pengacara sendiri yang menyampaikan akan datang kesini terkait wasiat Oma. bukan papa yang minta datang kesini." Jelas Donal.


"Laras mau ke rumah sakit, pa. Mas Rangga lebih membutuhkan Laras disana, daripada harus ikut drama keluarga disini. Maaf, pa." Laras pamit.


Donal tidak bisa melarang keinginan menantunya. Dia pun membenarkan ucapan Laras kalau nanti akan ada drama keluarga yang pastinya menyeret Laras untuk jadi bulanan.


"Baiklah. Kamu sama Bi Asti pergi ke rumah sakit."


"Tidak, pa. Biar Laras sendiri saja." Laras menolak ditemani bi Asti karena ingin full time bersama Rangga.


Setelah Laras pergi ke rumah sakit, pengacara keluarga Pattimura sudah datang ke rumah Oma Gladys. Iya, rumah yang ditempati Donal sebenarnya rumah milik orangtua Oma Gladys. Hanya sudah banyak di pugar sesuai dengan keadaan saat ini.

__ADS_1


"Assalamualaikum, saya Andi Mallarangeng sebagai pengacara dari ibu Gladys Suwandhi. Maaf jika kedatangan saya terdengar mendadak. Saya beberapa hari ke depan akan melakukan pengobatan keluar negeri, untuk waktu yang tidak bisa saya tentukan. Maka saya datang kesini menyelesaikan amanat yang saya pegang saat ini."


Pak Andi pun duduk di sofa tengah, diikuti beberapa anggota keluarga yang sudah ada di tempat duka.


"Kakak saya baru saja meninggal dunia. Apa tidak bisa ditunda dulu pengumumannya. Rasanya tidak etis kalau di bacakan sekarang." protes Oma Fina.


"Oma, tadi dengarkan alasan pak Andi. Dia akan berobat untuk waktu yang tidak bisa di tentukan. Jadi Oma dengarkan saja apa yang akan disampaikan pak Andi." Balas Lani.


"Baik, saya disini mau bertanya, adakah yang bernama Laras disini?" Semua yang diruangan saling menoleh. Kenapa malah Laras yang dipertanyakan?


"Laras ke rumah sakit, pak. Menemani suaminya yang masih koma." Jawab Donal.


Raya mendengar penuturan Donal hanya tersenyum kecil.


"Kamu datang saja ke rumah sakit, Laras. Carilah suami kamu sampai dapat. Nggak akan bisa kamu menemui Rangga lagi." Batin Raya.


"Bisa diminta pulang? soalnya ada amanat dari Oma Gladys untuk Laras."


"Sudah pak, bacakan saja. Nanti kami sampaikan ke Laras kalau dia pulang." Sahut Lani.


"Yasudah, bacakan saja, pak. Mungkin bisa kami sampaikan ke Laras saat dia pulang nanti." Donal pun ikut menjawab.


"Bismillahirrahmanirrahim, saya akan membacakan wasiat dari ibu Gladys Suwandhi.


Saya Gladys Suwandhi menuliskan hal ini tanpa ada paksaan dari siapapun. Saya mengamanatkan ini secara sadar dan keinginan sendiri.


Raya dan Donal akan diberi kepercayaan penuh mengelola perusahaan. Saham sebanyak 45% untuk kalian berdua.


Cucuku, Lani Amanda, Saya mewariskan sebuah rumah untuk cicit-cicit ku. Semoga Lani bisa menjaga amanah ini dengan baik.


Buat Rangga dan Laras. Saya akan mewariskan seluruh harta saya pada kalian. Kalian adalah cucu yang mau mengurusi Oma. Cuma kalian yang Oma percayakan."

__ADS_1


"AAPAAAAAA!"


__ADS_2