
"Sebenarnya kalian siapa?" Tanya Bude Endang.
"Maaf, bu. Kami hanya bertugas menjaga anda." jawab asisten suruhan Rangga.
"Iya, siapa yang menyuruh anda menyekap kami. Salah apa kami dengan atasan anda." Protes Anisa yang di letakkan satu ruangan dengan Endang dan Ratna.
"Nanti juga anda tahu. Sekarang anda makan dan istirahat. Besok tuan dan nyonya kami akan menemui anda." jawab salah satu pengawal.
Anisa dan Ratna keluar dari kamar tempat mereka diinterogasi. Kemana mereka pergi di jaga oleh orang-orang suruhan Rangga. Bahkan di bawah jendela kamar mandi juga ada penjaganya. Itu yang membuat mereka penasaran siapa yang punya kuasa atas semua ini.
Langit sore tampak indah, Ratna duduk menatap pergantian waktu, langit masih terlihat kemerahan meskipun sang surya sudah beristirahat setelah seharian bekerja.
"Kamu asalnya dari mana?" tanya Anisa.
"Aku masih orang Jakarta, mbak. Oh ya nama saya Ratna, yang tadi itu ibu saya namanya Endang." Ratna memperkenalkan diri.
"Oh, nama saya Anisa. Saya asalnya dari Jogja. Saat ini saya sedang mempersiapkan pernikahan dengan calon suami saya. Tapi kalau masalahnya seperti ini, bagaimana saya bisa mengabari keluarga dan calon suami saya. Handphone saya di tahan sama mereka." kata Anisa.
"Sama, mbak. Handphone saya dan ibu saya juga di tahan mereka. Adik saya saat ini kerja di Ciamis. Kami takut adik saya pulang rumah malah kosong." keluh Najwa.
"Sebenarnya mereka itu siapa ya? kenapa kita di tahan, saya tidak pernah berurusan sama rentenir. Dari dulu kami menghindari yang namanya rentenir atau sejenisnya. Berurusan sama mereka ribet." Cerita Ratna.
Ratna dan Anisa saling bertukar cerita. Dimana mereka masih penasaran soal orang-orang yang menahan mereka. Sejauh ini mereka tetap di perlakukan layaknya rumah sendiri. Namun, tetap saja rasa penasaran itu terselip di hati mereka. Namun ingatan berputar saat rumah mereka di serang orang-orang tak dikenal. Lalu para pengawal lain membawa mereka menghindari orang-orang jahat itu.
Dua hari yang lalu mereka di bawa ke rumah yang letaknya sangat jauh dari keramaian. Dua hari yang lalu hingga saat ini, dia masih penasaran siapa orang-orang itu. Kenapa mereka di bawa ke tempat yang jauh dari keramaian.
Endang yang hendak ke toilet sepintas mendengar pembicaraan salah satu ajudan.
"Mereka masih bertanya-tanya sama kami, tentang anda, pak. Apa kami harus jelaskan yang sebenarnya."
__ADS_1
"Jangan! Nanti saya dan istri saya yang akan menemui mereka. Kalian jangan sampai lengah, nanti mereka bisa kabur. Mereka itu adalah bukti kejahatan mama saya." Jelas Rangga di telepon.
"Baik, pak. Kami akan tetap memperketat penjagaan"
" Ingat jangan ungkit nama saya dan istri saya di depan mereka. Kalau personel masih kurang biar saya tambahkan. Saya mengawasi pekerjaan kalian dari cctv, paham!"
"Paham, pak!"
"Baik! kalian lanjutkan pekerjaan kalian." Rangga menutup teleponnya.
Endang yang sedari mendengar mencoba memutar ingatannya. Siapa yang menelepon ajudan tersebut. Apa kaitan dirinya dengan orang-orang itu. Tubuhnya masih mencoba bersembunyi, guna mendapatkan titik terang.
"Jangan-jangan mereka masih orang-orang Bu Raya." batin Endang.
"Ratna harus tahu soal ini? dan nanti akan di pikirkan soal rencana kabur dari sini." Endang pun berjalan kembali ke kamar Ratna.
Tampak beberapa pengawal berdiri di depan pintu kamar Ratna. Endang menghela nafas berat, bahkan di depan pintu kamar anaknya ada penjaga. Bagaimana bisa dirinya mengajak anaknya kabur. Di setiap sudut ada cctv.
"Ya ketemu anakku." jawab Endang dengan angkuhnya.
"Ada urusan apa?"
"Hah! masa ketemu anakku pakai urusan juga! kalian ini aneh. Emang kalian tidak punya istri atau anak? bagaimana kalau ceritanya dibalik, kalian tidak boleh bertemu dengan anak, istri bahkan orang tua kalian. Bagaimana kalau itu terjadi pada kalian?"
Kedua pengawal saling melemparkan pandangan. Seakan ucapan Endang menjadi pisau yang menancap ulu hati mereka. Namun itu tidak berapa lama. Mereka kembali tetap patuh pada pekerjaannya.
"Biarkan dia menemui anaknya!" sahut seorang lelaki yang datang dari arah berlawanan.
"Tapi, mas Adit. Bagaimana kalau mereka mencoba kabur." jawab pengawal yang lain.
__ADS_1
"Saya jamin mereka tidak akan kabur. Kalian tetap perketat penjagaan." kata Adit yang merupakan orang kepercayaan Rangga.
Endang masuk ke kamar Ratna. Saat Ratna dan Anisa sedang asyik bertukar cerita, mereka di kejutkan dengan sikap Endang yang aneh.
"Ibuk, kenapa?" tanya Ratna.
"Kamu tahu kenapa kita disekap?" keduanya saling menggeleng.
"Karena mereka orang suruhan Bu Raya. Kamu masih ingat soal kita yang dibayar Bu Raya masuk ke rumah Laras. Setelah mendapatkan apa yang mereka mau kita di buang ke desa yang sepi. Bahkan mencari jaringan seluler dan transportasi saja susah."
"Bu raya siapa,ya?" Anisa mencoba mengingat nama itu.
"Bu Raya pattimura." jawab Ratna.
Anisa teringat lima tahun yang lalu dia diminta oleh seseorang dari keluarga Pattimura. Anisa diminta memblokir semua aset rekening milik menantu mereka. Seketika dia merasa takut kalau di laporkan ke pihak berwajib karena melakukan hal ilegal.
"Jadi kita harus bagaimana?" tanya Ratna.
"Kita harus kabur dari sini!" bisik Endang.
"Caranya?" tanya Anisa.
"Ini lagi dipikirkan. Kita kabur malam ini juga. Saya yakin pengawal yang dibawah jendela pasti lelah berjaga terus. Salah satu dari kita harus bisa bikin heboh untuk mengalihkan mereka. Bagaimana?"
"Mantap, bu." jawab Ratna.
*
*
__ADS_1
Apakah mereka berhasil kabur?