Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
AFTER ONE NIGHT IN LONDON


__ADS_3

SEKUEL DARI NOVEL MENGEJAR CINTA SITI


Avia dan Joshua di pertemukan dalam semua tragedi one night.


Setelah malam itu Avia mendapati dirinya sudah berbadan dua.


Sayangnya Joshua menghilang saat Avia mencarinya untuk minta pertanggungjawaban.


Setelah dua tahun berlalu, mereka di pertemukan kembali saat masing-masing sudah memiliki pasangan. Avia dan Lionel akan segera menikah. Begitu juga Joshua dan Jane.


Avia wanita cantik yang memiliki kehidupan yang diidamkan semua wanita, karier cemerlang, status sosial yang baik dan tunangan yang sexy bernama Lionel.


Semua serba sempurna hingga ia kembali ke Indonesia dan bertemu dengan Joshua, lelaki yang akan menikah dengan adik Lionel.


Lelaki itu adalah kunci dari semua masa lalu kelam. Avia, masa lalu yang ingin ia tutup serapat-rapatnya. Masa lalu yang membuat ia harus meninggalkan buah hatinya di panti asuhan di London. Iya, Joshua adalah ayah dari anak kandungnya tersebut.


Joshua Ramadhan lelaki tampan putra kelima dari pernikahan Siti dan Ilham. Setelah selesai kuliah di London dia berkerja di Ford Airlines milik kakeknya Adolf Ford.


Perusahaan penerbangan yang sekarang di pimpin oleh ibunya Tiara Ford ( Siti Marlina).


Bisakah Avia mengubur masa lalu kelamnya dan melanjutkan hidup bersama Lionel? Atau membuka masa lalu kelamnya dan merajut cinta dengan Joshua, hingga ia harus menyakiti dua hati? Lionel dan Jane?


cuplikan:


Avia sedang duduk bersama teman-temannya di sebuah klub terkenal di London. Tiga orang gadis muda sedang asyik tertawa riang setelah kepenatan mereka sehabis ujian semester.


Ketiganya duduk di kursi kecil di depan meja bartender. Aksi seorang bartender tampan bernama James memainkan salah gelas untuk ketiga gadis di depan. Mata James mengedipkan pada salah satu dari mereka. Namun karena terpesona mereka tidak memperhatikan kepada siapa James memberi sinyal.


Dunia malam sudah menjadi tempat favorite banyak orang. Bahkan dunia malam seperti diskotik menjadi salah satu tempat favorite bagi anak muda. Ini disebabkan karena alkulturasi dari budaya barat. Fenomena ini menyebabkan banyak sekali pengaruh buruk bagi generasi penerus bangsa. Semakin hari, semakin hilang budaya yang dimiliki bumi pertiwi ini dan digantikan budaya dari luar.


Hingar bingar musik dalam diskotik terdengar sangat keras. Ruangan yang dihiasi lampu kelap-kelip lampu remang-remang pada diskotik yang terletak di kawasan London.


Dentuman musik menggema untuk memberi semangat pada pengunjung yang sedang asyik mengikuti irama. Udara di dalam ruang dihiasi asap rokok juga gelak tawa para pengunjung yang ada di dalamnya. Beberapa wanita berpakaian sexy berjalan hilir mudik di hadapan mereka.


"Kau tahu, Via. Jika kamu menginjakkan kaki di sini. Suatu saat kita akan kembali lagi. Ini surga, Via! surga yang tidak akan kau dapatkan saat kamu pulang ke Indonesia nanti." kata Karen, gadis muda asal Korea.


"Hei, kau lupa, Karen. Ketika Avia pulang nanti dia akan menikah dengan calon suaminya itu. Siapa namanya, Via?"


"Lionel," jawab Via sedikit menghindar karena bau alkohol dari nafas Browna, gadis asli London.


"Kau mabuk, Ona." Via menyibak hidungnya yang tak nyaman dengan nafas temannya.


Via memanggil Browna dengan sebutan Ona. Awalnya Ona tidak suka dengan panggilan itu. Tapi lama-lama dia bisa menerima panggilan sayang temannya.


Kedua temannya itu sepertinya sudah berada di dunia khayal mereka. Aroma alkohol yang membuatnya ingin pulang saja. Ada rasa menyesal kenapa menerima ajakan kedua temannya itu. Via pun pamit hendak ke WC.


"Hey, kau belum minum dari tadi." celetuk Karen.


"Aku tidak haus. Ini aku bawa minuman dari rumah." Via mengeluarkan botol yang isinya air mineral.


"Sudahlah, jangan di paksa. Biar saja dia. Kita senang-senang sendiri saja." Via menggelengkan kepalanya. Kedua temannya makin kacau. Dia pun meletakkan tas nya lalu pergi ke toilet.

__ADS_1


"Hey, lakukan sesuatu pada Via,"bisik Karen.


Karen mengeluarkan sebuah pil kecil ke dalam air mineral milik Via. Tak berapa lama dia mengembalikan minuman itu ke dalam tas Avia.


"Kau tahu seorang teman itu harus sama-sama. Senang sama-sama, terpuruk sama-sama, hancur pun sama-sama. Kalau kita senang masa dia enggak." bisik Ona.


Karen dan Ona pun meninggalkan sofa. Mereka masuk di kerumunan musik. Beberapa orang asyik menari tanpa lelah. Gemerlap lampu dan musik yang menghentak menambah semangat mereka dalam menari bersama.


Via kembali ke sofa dimana teman-temannya berada. Dia duduk sambil melihat betapa senangnya kedua temannya itu.


"Hai, Via." sapa seorang lelaki bule.


"Hai juga Daren. Kau sendirian disini?" sapa Via.


"Tidak aku bersama temanku, namanya Joshua. Dia sama denganmu orang Indonesia juga. Hanya saja dia sepertinya tidak nyaman disini. Kau bisa membantuku?"


"Owh, bisa. Dimana dia?" Avia memandang di sekelilingnya.


"Dia di depan cafe. Aku minta tolong kamu temani dulu. Tidak apa-apa, kan? dia anak baik sama seperti kamu."


"Kalau dia anak baik kenapa dia mau ikut denganmu kesini?" Via tidak langsung percaya dengan ucapan. Daren. Bisa jadi kan Daren dan temannya sama saja.


"Kamu sendiri kenapa berada disini?" Daren tanya balik pada Avia.


"Mereka yang mengajakku. Aku suntuk di kostan saja. Sebentar lagi kita sudah pada selesai skripsi."


"Oke. Aku gabung sama temanku dulu." Daren pun pamit.


Avia pun berjalan meninggalkan area clubbing. Dia pun sudah berada di depan gedung diskotik. Mencari temannya Daren tadi. Tampak seorang lelaki duduk sambil memainkan gawai. Dengan penuh percaya diri dia pun mendekati lelaki itu.


"Kamu tahu namaku?" tanya Joshua balik.


"Siapa yang tidak tahu Joshua Ramadhan, ketua ikatan mahasiswa Indonesia di London. Aku kan juga anggota disana."


"Oh,"


"Kalau boleh tahu kenapa kamu tidak masuk ke dalam?" masih dalam mode kepo Avia terus melancarkan aksinya pada lelaki di sampingnya.


Huft sedari tadi dia diam saja. Aku bahkan seperti orang gila terus mengajaknya bicara. Sementara dia menganggap aku seperti patung.


"Aku mau keluar membeli air mineral. Apa kamu mau ikut?" ajak Joshua.


"Tak perlu. Aku bawa air mineral dari rumah. Kamu tahu sendiri kalau aku tidak biasa dengan minuman disini. Kamu mau?" Via menyodorkan minuman pada Joshua.


"Apa tidak apa? bukankah ini punyamu?"


"Kau takut aku memberi sesuatu pada minuman ini? kalau begitu aku minum duluan agar kau percaya."


Via menenggak setengah dari minuman tersebut.


"Kau lihat aku tidak apa-apa, kan." ucap Via percaya diri.

__ADS_1


Joshua langsung menyambar botol minuman milik Via. Dia sangat haus sekali. Joshua lalu mengembalikan minuman milik Via.


"Aku mau pulang. Kalau kamu mau pulang biar aku antar saja." tawar Joshua.


Avia mengiyakan ajakan Joshua. Dia merasa sudah tidak betah disana. Tapi dia juga malas pulang. Mereka sudah berada di mobil milik Joshua. Keduanya masih asyik sendiri. Joshua fokus pada setirannya. Sementara Avia hanya memandang kearah jalanan yang gelap.


Beberapa gedung masih memajang bendera setengah tiang. Sebagai wujud berduka atas meninggalnya ratu Elizabeth.


"Aku pengen ke pantai, bolehkah? tapi kalau kamu keberatan tidak apa-apa." kata Via.


"Oh, kenapa tidak pulang saja. Ini sudah malam. Tidak baik wanita berada di luar rumah."


"Aku bosan dirumah." jawab Via.


Ucapan Via bukan sekedar basa-basi. Kalau dia tak suntuk kenapa juga dia harus ikut sama dua temannya itu. Dia juga manatahu kalau yang kata mereka mencari hiburan ternyata malah masuk diskotik.


"Oke. Sebenarnya sama sih aku juga suntuk di apartemen. Aku belum lama ini baru selesai skripsi. Jadi aku diajak sama Daren untuk jalan-jalan. Kalau tahu tujuan Daren kesana aku juga tidak mau." kata Joshua sambil fokus pada setirnya.


Mobil pun berhenti di sebuah pantai yang tak jauh dari kota. Joshua membuka atap mobil agar bisa duduk di atasnya. Joshua merasa tubuhnya terasa panas. Awalnya Joshua merasa udara mobil yang pengab. Makanya dia membuka atap mobil dan duduk di atas atas mobil. Demi mendinginkan tubuhnya. Tangannya memegang dadanya. Sesak itu semakin terasa.


Netra Joshua beralih ke gadis yang masih di dalam mobil. Tampak Via seperti sesak nafas. Jantungnya terasa tidak beraturan. Itu yang Joshua periksa ketika menempelkan telinganya di dada milik Via.


"kamu kenapa?"


"Kak Josh, aku sesak nafas? rasanya ada yang tidak enak dalam tubuhku."


"Tapi aku nggak ngerti?" ucap Joshua panik.


"Tolong!" Via mencekeram kerah jaket jeans milik Joshua.


Aaaaaarrrrg! pekik Joshua. Kini bukan hanya Via yang merasa sesak nafas dan jantung tidak beraturan. Dirinya pun merasakan hal yang sama. Joshua melepaskan jaket. Nafasnya kembali terengah-engah. Kini keduanya saling menuntut melepaskan rasa sakit di dada.


"Kak Josh, aku sudah tidak kuat!"


"Aku harus bagaimana? aku pun merasa sesak nafas."


"Hugh me! Please!" pekik Via.


"Oh, No. Saya punya seseorang yang menunggu disana." elak Joshua.


"Please!" mohon Via.


Via memaksa berdiri dan berpindah ke kursi belakang sopir. Tangannya menarik Joshua ikut ke belakang. Keduanya saling melepaskan rasa panas yang membelenggu di tubuh mereka.


Selanjutnya kalian bisa menebak adegan apa yang akan terjadi. Adegan yang di landasi air mineral di bubuhi obat perangsang. Suara lenguhan panjang terdengar dari bibir tipis itu.


"Kita bisa, Kita bisa melepaskannya, kita bisa tuan..." Via menggeliat meraba dada bidang Joshua.


"Tolong bantu aku lepaskan semua ini." Bisik Via menambah rasa sensasi panas yang menyeruak ditubuhnya.


Josh menciumi Via dengan ganas, kedua saling memadu melepaskan hasrat. Via pun pada akhirnya tidak bisa mengendalikan diri, dia terus membuat Joshua terangsang di luar batas. Sepertinya ada sesuatu yang membuat mereka seperti itu.

__ADS_1


Joshua menancapkan miliknya pada milik Via. Keduanya terkapar di kursi belakang.


Tidak ada yang menyangka dua sosok manusia yang tidak terlalu akrab di kampus, kini berakhir dengan kisah one night.


__ADS_2