Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Tawaran pindah .


__ADS_3

"Eva!" suara wanita melengking di depan rumah Eva.


Sambil membawa Cici, Eva mendekati pintu rumahnya. Dia hapal suara sang tamu, kalau lama di buka nanti tambah runyam.


"Bu Farida," jawab Eva saat membuka pintu.


Wanita berusia 52 tahun tersebut langsung masuk ke dalam rumah. Tanpa menunggu Eva mempersilahkan tamunya masuk ke dalam.


"Kau sudah tahu kalau rumah Laras di sita debt colector?" Bu Farida langsung ke inti masalah.


"Sudah tahu, bu." jawab Eva santai.


"Terus Laras dimana sekarang?"


"Laras ada di kamar sekarang. Tadi malam kayaknya Bagas rewel. Aku rasa Laras masih istirahat." jelas Eva.


"Nah, bagus itu. saya kira kamu nggak mau nampung Laras, padahal dia sudah kasih kamu pekerjaan. Kamu dan suamimu numpang makan disana. Jadi kamu harus balas kebaikan dia." jelas Bu Farida.


"iya, Bu. Tidak usah Bu Farida jelaskan panjang lebarpun saya juga paham." Eva duduk di kursi sambil meletakkan Cici.


"Ya sudah kalau begitu. Nanti saya tanya ke Sofia kalau ada kontrakan untuk Laras dan Bagas. Kasihan Bagas dia baru satu hari tapi sudah di bawa kemana-mana. Kan nggak bagus itu. Lagian itu kenapa bisa sampai debt kolektor mengambil rumahnya Mala?"


Eva menceritakan kalau surat sertifikat rumah diambil bude Endang. Kata Eva, bude Endang dan Ratna terlibat judi dan punya hutang 200 juta. Padahal waktu Laras dulu mau jual rumahnya, harganya hanya 90 juta. Itu yang Eva ingat berdasarkan versi Laras.

__ADS_1


Bu Farida sangat sayang pada Laras. Sudah seperti anaknya sendiri. Maka itu ketika mendengar rumah Laras yang disita, dia langsung mencari Eva. Awalnya dia akan meminta Eva untuk mencari Laras. Tapi setelah tahu Laras sudah aman di rumah Eva, dia sudah merasa tenang. Paling tidak, Laras sudah ada tempat berlindung untuk sementara. Lagian selama ini bukankah Eva dan suaminya bergantung pada Laras. Hanya menginap saja yang tidak.


"Kasihan Laras, punya suami sakit. Mertua zolim, sekarang punya famili zolim pula. Seakan hidupnya tak berhenti di kasih cobaan."


"Tapi kalau memang suaminya sakit masa sudah sembilan bulan tidak ada kabarnya. Jangan-jangan si Rangga sudah meninggal. Soalnya kalau lihat kondisi kecelakaannya. Rangga yang paling parah." jelas Eva.


"Entahlah, Va. Tapi saya minta jangan ditanya macam-macam dulu Laras-nya. Dia kan baru selesai melahirkan. Takutnya berpengaruh sama psikisnya." ucap Bu Farida.


"Tapi aku sering lihat Laras nangis sendiri. Aku rasa dia keingat suaminya. Bu Farida ingat saat dia hamil beberapa kali kita nganterin Laras ke rumah mertuanya. Tapi si pemilik rumah ngumpet terus. Itu saja sudah menandakan mereka tidak mau menerima Laras."


Bu Farida dan Eva sebenarnya sangat prihatin dengan kehidupan Laras yang berbanding terbalik. Dulu Laras hidup senang meskipun bukan orang kaya. Mala, ibunya Laras termasuk kategori memanjakan anaknya. Namun setelah Mala sakit-sakitan, Laras harus merangkak sendiri demi pengobatan ibunya.


Dimata Eva, hidup Laras termasuk enak dibandingkan dengan dirinya. Punya ibu yang sayang sama dia, dapat suami orang kaya plus romantis. Itu sudah jadi poin bagus untuk kehidupan Laras.


"Bu Farida," sapa Laras yang sudah keluar dari kamarnya. Dengan dia menyalami wanita yang lumayan akrab dengan almarhumah ibunya.


Laras mengajak Bu Farida dan Eva masuk ke kamar. Tampak Bagas tidur tenang di ayunan bayi. Tadi subuh Laras merasa tak bisa tidur berinisiatif untuk membuat ayunan bayi untuk Bagas. Dengan bermodal kain gendongan ayunan itu akhirnya bisa di tumpangi Bagas.


"kamu mau apa, Ras?" tanya Eva.


"Ya mau beres-bereslah. Nggak mungkin aku diam saja, Va."


Laras membuka jendela kamarnya. Udara pagi terasa sejuk. Kebetulan jendela menghadap arah jalan kompleks. Tampak beberapa anak-anak memakai baju merah putih berjalan beriringan. Laras tersenyum melihat keceriaan anak-anak tersebut. Matanya mengiringi anak-anak tersebut sampai hilang dari pandangan.

__ADS_1


Sementara di puskesmas, Sofia mendapat kabar dari ibunya, kalau Laras diusir dari rumahnya. Dia teringat kalau dokter Camila sedang mencari pengurus rumah tangga. Dan dia berinisiatif menawarkan lowongan itu ke Laras.


"Bu dokter!" panggil Sofia saat dokter Camila melintas di hadapannya.


"Iya,"


"Anu ... itu ... Bu dokter masih mencari asisten kan?" tanya Sofia.


"Iya, kenapa? apa ada yang mau daftar?"


Sofia menceritakan pada Camila bagaimana Laras yang melahirkan anaknya sendiri tanpa suami. Karena suaminya di umpetin mertuanya. Dari kisah yang diceritakan oleh Sofia mengundang simpati bagi dokter cantik itu. Pada akhirnya Camila menyetujui untuk menampung Laras.


"Begini, Fia. Di daerah Jatibaru saya ada kontrakan. Nanti biar sementara temanmu disana dulu. Sampai program ASI nya selesai baru dia ikut saya. bagaimana?"


"Terimakasih dokter. Terimakasih. Saya doakan dokter jodoh sama mas yang di puncak itu." Goda Sofia, yang tahu kalau Rangga adalah cinta pertamanya Camila.


Camila dan Sofia berjalan berlainan arah. Bagi Sofia kalau Laras tinggal jauh akan membuat Adul tidak menguber wanita itu. Paling tidak hubungannya dengan Adul aman saat ini. Sofia dan Adul pacaran sudah satu tahun. Saat ini mereka memang pacaran backstreet karena Bu Farida tidak setuju. Alasannya karena adul tidak tamat SMP, sedangkan Sofia sudah sarjana. Alasan klasik yang selalu di jadikan alasan seorang ibu yang ingin mendapatkan menantu sepadan.


Sofia izin pulang sebentar dengan alasan ada barang yang ketinggalan. Jarak puskesmas dengan komplek rumahnya hanya berkelang sepuluh rumah. Sofia mendatangi rumah Eva yang letaknya lebih dalam di gang sebelah rumahnya. Tentu saja dia menemui Laras mengabarkan soal tempat tinggal baru.


"Ras, kamu mau kan tinggal sama dokter Camila?" tanya Sofia.


"Mau. Tapi apa dia mau kalau saya bawa bayi. Bagas masih belum bisa kemana-mana. Tunggu selesai 40 hari."

__ADS_1


"Kalau menurut aku, lebih cepat lebih baik. Nggak bagus juga kamu kelamaan campur dengan rumah tangga orang." saran Sofia.


"Nanti aku coba bicara sama Eva." ucap Laras.


__ADS_2