
Sasti berjalan menuju resort tempat acara dari alumni. Langkah kakinya menuju kearah pantai, tampak menjuntai bersama terjangan pasir pantai. Sasti menanti matahari terbenam atau bisa dibilang sunset. Warna kuning keemasan yang terpancar dari pemandangan yang menakjubkan. Sasti berdecak kagum atas keindahan yang terpampang nyata di hadapannya.
Sasti menanti detik dimana waktu akan berganti malam yang indah. Waktu kecil, dia pernah kemah di salah satu vila familinya. Dimana tampak kelap-kelip lampu dari seberang laut. Saat itu ada perkotaan di seberang sana. aktivitas kota pinggir pantai.
"Kamu disini?" suara bariton datang membuyarkan lamunannya.
"Adul?" Sasti kaget melihat sosok lelaki yang di kenalnya.
"Iya, kenapa?" Lelaki itu tersenyum kecil.
"Ya kaget aja, kenapa kamu bisa disini? emang kamu ada pertemuan juga dari kantor."
"Ini kantorku, aku sudah hampir delapan tahun kerja disini." jelas Adul
"Emang kamu jabatan apa? dulu sarjana apa?" tanya Sasti dengan semangat.
"Aku nggak kuliah." jawab Adul memandangi deburan ombak yang mengecil.
"Oh, maaf." Sasti merasa tidak enak dengan pertanyaannya.
"Nggak apa-apa, aku dah biasa kok ditanya seperti itu. Lagian mau kuliah apa tidak kan aku tetap dapat kerja."
"Hmmm...sombong!" Sasti menyenggol manja bahu lelaki di sampingnya.
Sasti dan Adul duduk menikmati udara pantai yang semakin sejuk. Matahari telah menyelesaikan tugasnya, siang seolah masuk kedalam perut malam.
Allah menciptakan Langit dan Bumi lalu Allah menciptakan Gelap dan Terang , setelah itu Allah memisahkan Gelap dan Terang dimana terang itu baik , Maka Allah menciptakan Langit dan Bumi beserta Gelap dan Terang .Segala apapun yang di ciptakan Allah semuanya itu dalah hal hal baik tak ada satupun yang buruk dan manusia haruslah beryukur karena di beri kehidupan. Dan Allah mencintai semua Ciptaannya.
Sasti dan Adul berdiri meninggalkan area pantai. Azan mulai berkumandang, menandakan waktunya sholat Maghrib.
"Kamu mau sholat?" tanya Adul.
"Iyalah."
"Disana ada mushola kecil. Belum lama ini dibangun. Katanya di dedikasikan buat mendiang istrinya yang meninggal saat hamil." cerita Adul.
"Apakah suaminya tidak menikah lagi?" tanya Sasti.
__ADS_1
"Sudah, suaminya menikah dengan sepupu mendiang istrinya. Katanya sih sistem turun ranjang. Aku juga nggak paham sih."
"apakah suaminya ini anak dari pemilik resort ini?" tanya Sasti.
"Kamu kepoan juga ternyata." gelak Adul.
"Saya hanya pendengar saja Adul. Kalau saya kepo kamu yang harus tanggung jawab." Kikil Sasti.
"Jadi kamu mau ke mushola atau balik ke kamar?"
"Ke mushola saja. Saya takut sholat sendirian. Kalau dulu biasa aku sholat bareng Laras. Sekarang Laras sudah balik sama suaminya."
"Iya, dia sudah kembali sama suaminya." suara Adul terdengar lirih.
"Jangan bilang kamu masih suka sama Laras. Dul, saya sarankan cari wanita single yang bisa menerimamu apa adanya. Saya sudah mendengar cerita tentang kamu dan Laras. Tentang persahabatan kalian sejak kecil. Tapi percayalah, kamu akan mendapatkan yang lebih dari Laras." Adul menoleh kearah Sasti.
"Eitsss, yang pasti perempuan itu bukan saya. Kamu baik sih, Dul. Tapi maaf kamu bukan tipe saya." Sasti segera mengklarifikasi agar Adul tidak salah paham.
Adul tersenyum sejenak "Tenang Sasti, kamu tidak usah takut. Kamu juga bukan tipe saya, karena saya melihat kamu tidak seanggun Laras." Adul berjalan meninggalkan Sasti yang terbengong.
"Songong juga si Adul. Eh, tapi saya penasaran dia disini jabatannya apa, ya? Manajer? staf biasa? atau mungkin OB. Kan dia bilang nggak kuliah." batin Sasti.
"Sasti!" seorang wanita sepantaran dirinya berjalan mendekati Sasti.
"Iya," jawab Sasti setengah malas.
"Kamu dimana saja? kita cariin daritadi. Ayo kumpul acara BBQ nya sudah di mulai jam enam tadi." tarik wanita itu.
"Jam enam tadi? kalian nggak sholat!"
Teman wanita Sasti tertawa kecil "Hei, sholat kan bisa nanti. Bisa juga besok. Tuhan ngerti kok kalau saat ini umatnya butuh hiburan."
Sasti melotot mendapatkan ucapan temannya. Segampang itu mereka menyepelekan waktu sholat.
"Hey, Tasya! sekarang kamu bisa bilang begitu. Tapi kita nggak tahu kapan waktu akan bernafas. Kapan tuhan bilang Kun fayakun untuk waktu kita. Dan tiba masanya itu kamu akan menyesalinya."
"Udah, Sasti kamu ini banyak bacot! yuk ah, nanti keburu malam." Tasya menarik Sasti ikut ke lokasi acara.
__ADS_1
Acara BBQ berlangsung dengan meriah. Hampir semua membawa anak istri, suami dan anaknya, pacar lelaki dan pacar wanita. Sementara Sasti hanya seperti kambing congek melihat kemesraan mereka. Sasti memilih meninggalkan acara. Dia jenuh, rasanya dia ingin kembali ke kamar. Tapi sayangnya dia malas kemana-mana.
"Kok kamu nggak ikut?" Andra muncul mendekati Sasti.
"Nggak apa-apa, Ndra. Aku pengen hirup udah pantai. Kamu kok malah disini, nanti istrimu lihat. Kamu sendiri kan yang bilang kalau istrimu cemburuan."
"Atau karena pacar kamu nggak datang atau kamu belom punya pasangan." kata Andra membisik di telinga Sasti.
"Aku punya kok? ya dia nya lagi sibuk. Ini katanya lagi on the way kesini."
"Yaudah, aku tunggu sampai pacar kamu sampai."
"Ngapain? mending kamu urusin istrimu. Aku nggak mau kena labrak."
"Kenapa? kok kamu kayaknya takut." tawa Andra.
"Siapa yang takut? nah itu dia!" Sasti berteriak menarik seorang lelaki yang berjalan kearah dirinya.
Adul sedang berjalan keliling resort. Bukan untuk sekedar jalan-jalan semata-mata. Dia sedang memeriksa keamanan di sekitar resort. Karena itu memang tugasnya sebagai satpam disana.
Pekerjaannya sedikit terganggu ketika Sasti tiba-tiba datang menariknya. Yang membuatnya kaget Sasti memproklamirkan ada hubungan khusus diantara mereka. Padahal dia bukanlah pasangan gadis itu.
"Sas, saya ...."
"Sayang, kamu kenapa berkeringat. Sini aku lap kan wajah kamu." Sasti mengambil tisu dari kantong celananya.
"Sas, saya bukan...."
"Iya, aku tahu kamu bukan lelaki yang romantis. Tapi buat aku apa yang kamu lakukan itu membuktikan cintamu padaku." Sasti membelai rambut Adul membuat lelaki itu keringat dingin.
"Maaf, kita harus bicara!" Adul menarik Sasti dengan kasar.
"Awwww! Adul sakit! kamu kasar banget sama perempuan!"
"Maksud kamu apa tadi! ngapain pakai ngaku sebagai pasangan saya."
"Dul, tolong saya. Mereka terus mengolok saya karena tidak bawa pasangan. Saya tidak mau jadi bahan cemoohan mereka." mohon Sasti.
__ADS_1
"Jangan sama saya! jangan mimpi kamu bisa dapatkan hati saya!"
"Sombong benar kamu, Dul. Emangnya kamu siapa? raja! ngaca kamu Dul! cara bicaramu seakan perempuan lain nggak level dimatamu. Padahal kamu saja masih kerja sama orang. Apa demi Laras? sampai kiamat pun Laras tidak akan melirik kamu!" Sasti pergi meninggalkan Adul sendirian.