
Entah saat ini sudah jam berapa. Yang pasti Rangga terbangun setelah mendengar lolongan anjing. Tubuhnya menepi ke jendela, tampak bulan purnama terbentuk sempurna. Rangga memilih turun dari rumah pohon demi memandang bintang-bintang yang bertaburan di angkasa. Malam ini udara sekitar rumah pohon terasa dingin. Hembusan angin dari berbagai arah menerpa tubuh jangkungnya.
Saat ini dia belum berani berbicara pada Laras. Rangga menunggu momen yang tepat untuk bicara pada istrinya dari hati ke hati. Diakuinya dia sangat takut kalau harus menjerat mamanya ke meja hijau. Tapi kalau tidak bagaimana dia bisa membersihkan nama istrinya yang telah di cemarkan sang mama.
Rangga merasakan tangan melingkar di pinggangnya. Sesaat dia hanya terdiam menikmati indahnya angin malam. Tangannya mengelus jari jemari yang lembut itu.
"Aku minta maaf atas apa yang di lakukan mama sama kamu, Ras. Aku tidak tahu kalau mama sudah melakukan sejauh itu. Kamu boleh marah sama aku. Kamu boleh benci, menonjok atau apapun yang buat kamu lega. Aku ikhlas, Ras. Tapi satu hal yang aku minta. Jangan pergi meninggalkan aku lagi. Aku harap kamu bertahan disisiku sampai maut memisahkan kita."
"Mas, aku juga tidak menyangka kalau mama dalang dari semua ini. Iya, aku tahu betapa bencinya mama sama aku karena lambat memberinya cucu. Aku juga tahu kalau mama cemburu sama masa lalu ibu dan papa Donal."
"Ras, apa yang harus aku lakukan? apa aku harus mempidanakan mama?"
"Maaf, Mas. Karena aku hubungan kamu dan mama jadi kacau." Laras menundukkan kepalanya. Dia merasa tidak enak karena membuat suaminya turun langsung ke masalah ini.
"Tugasku adalah melindungi kamu dari orang yang hendak mencelakai kamu. Ini sebagai tebusan aku, karena dimasa itu tidak ada di sampingmu. Andai saja kecelakaan itu tidak terjadi, andai saja ..." Laras menempelkan bibirnya pada bibir suaminya.
"Semua yang kamu lakukan selama ini sudah termasuk terbaik dimataku, Mas. Ya, meskipun kamu rasa nyebelin karena masih care sama Ina."
Rangga menyelipkan hentakan bibirnya. Dengan cepat dia menyambar dagu lahap. Merangkum bibir dengan rakusnya.
Adit yang patroli melihat adegan itu hanya bisa menelan salivanya. Demi mengalihkan pandangannya dia berputar balik untuk berpatroli di sekitar camp.
Sebagai lelaki dia juga mendambakan sosok wanita sebagai pendamping hidupnya. Sayangnya sampai saat ini dia belum menemukannya. Apalagi usianya memasuki 27 tahun. Sejak dia ditinggal menikah oleh sang mantan, Adit masih betah dengan kesendiriannya. Bukan karena dia belum move on, tapi dia memilih fokus dengan pekerjaannya.
"Jika aku di beri kisah cinta semanis pak Rangga. Tapi jangan beri aku kisah tragis yang dialami pak Rangga dan Bu Laras. Walaupun namanya hubungan pasti ada sepak terjangnya." batin Adit.
"Mas Adit kok belum tidur?" suara manis tapi terdengar tegas menyapanya.
"Ratna? ngapain kamu malam-malam keluyuran! ayo masuk nanti kalau pak Rangga lihat bisa gawat." Adit mengajak Ratna kembali ke camp.
"Aduh, mas Adit paling juga dia lagi istrinya. Mana mungkin dia sedang keluyuran malam-malam begini."
"Siapa bilang? pak Rangga lagi jalan malam sama Bu Laras. Aku baru saja ketemu mereka. Sudah kamu masuk, besok kita mau pulang." Adit masih memaksa Ratna masuk ke camp.
__ADS_1
"Ratna," suara merdu menyapanya dari jauh.
Ratna menoleh pada pemilik suara. Dengan penuh percaya diri dia membalas sapaan tersebut.
"Apa kabar Laras?" Ratna masih santai di depan Laras.
"Aku yang harusnya bertanya? kamu apa kabar? nyenyakkah tidurmu selama lima tahun ini. Kalau aku lihat kamu kayak nggak ada beban, ya." Laras dengan mantap.
"Oh iya, dong. Nyenyak sekali tidurku apalagi pulang dengan uang yang banyak. Kamu apa kabar? anakmu dah lahir, Ras. Adul masih sering ngapelin kamu pagi siang dan malam.Sudah kayak suami istri kalian. hahahaha ...." Ratna tertawa tanpa beban.
Laras hendak menampar Ratna yang bicara seenaknya. Apalagi di depan Rangga, Ratna makin menceracau.
"Kalian datang ke rumahku, mengaku saudara, diberi tumpangan, makan gratis padahal kalian tidak pernah membantu pekerjaan rumah. Dan ini balasannya." Amuk Laras.
"Heh! kamu yang menerima kami, kenapa sekarang minta pamrih! dasar perempuan lembek. Kamu jual air mata pada orang-orang di komplek rumahmu. Pantas saja kamu diusir dari mertuamu. Kelakuan menantunya seperti ini. Orang kaya itu nggak suka yang lemah kayak kamu."
PLAAAAAK!
"Adukan saja, pak. Tapi anda perlu tahu, bahwa mama anda juga terlibat. Dia membayar kami, tapi dia juga yang membuang ibu saya dan kami berdua ke daerah yang sulit di jangkau." balas Ratna semakin beringas mengamuk kearah Laras.
Ratna diamankan oleh pengawal Rangga. Laras bersembunyi di belakang suaminya karena amukan Ratna. Rangga memegang jemari istrinya. Mencoba menenangkan Laras yang syok. Tapi dibandingkan dengan kejadian pertama, kali ini dia sudah bisa tahan diri.
"Sayang, kalau kamu merasa takut kita pulang saja."
"Tanggung, mas. Ini dah mau subuh." jawab Laras.
"Yasudah, sudah subuh kita pulang, ya. Aku takut kamu kenapa-kenapa"
"Kan ada kamu, mas. Tugas kamu untuk menjagaku dan melindungi aku. Tugas kamu untuk menjadi penuntun dalam hidupku."
"Terimakasih sudah percaya sama aku, Ras. Insyaallah aku akan menjadi lelaki yang terbaik sepanjang hidupmu. Tegur aku jika ada salah, aku pun hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Aku juga bukan sosok yang sempurna, tapi kamulah yang bikin hidupku sempurna, Ras. Kamu dan Bagas adalah harta berharga dalam hidupku."
Laras melirik jam di ponselnya. Sudah pukul empat dini hari.
__ADS_1
"Mas, kita sholat malam dulu, yuk. Sebelum disambung dengan subuh." Ajak Laras.
"Yuk," Rangga menggandeng tangan istrinya untuk kembali ke rumah pohon.
Waktu pun bergulir. Laras dan Rangga pun sudah berangkat pulang menjemput Bagas di rumah Eva. Ada rasa tidak enak meninggalkan Bagas semalaman di rumah Eva.
Akhirnya mereka berdiri di depan rumah Eva. Beberapa kali mereka mengetuk tapi tidak ada sahutan. Namun, tak berapa lama Eva muncul di depan pintu.
"Sudah selesai hanimunnya?" tanya Eva.
"Honeymoon kali, Va." sahut Laras
"Iya, apalah itu namanya."
"Sudah. Bagas mana?" Laras mencari keberadaan putranya.
"Masih tidur. Tadi malam dia bolak balik tidur bangun takut kalian nggak datang."
Laras membelai rambut tipis putranya. Bagas menggeliat layaknya bayi baru bangun tidur. Senyumnya mengembang saat pertama membuka mata ada sosok yang di tunggunya.
"Bunda," Bagas memutar pandangan seakan memeriksa di sekelilingnya.
"Mana, kok nggak dibawa. Apa sama ayah, ya?" Laras mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Bagas.
"Bawa apa, Bagas mau oleh-oleh. Maaf, nak bunda belum sempat belanja oleh-oleh."
"Iya, perempuan atau laki-laki,bunda?"
"Maksudnya?"
"Kata Tante Eva, bunda pergi mau buat adek untuk Bagas."
Laras menatap kearah Eva. Eva hanya mengalihkan pandangan ke lain arah.
__ADS_1