Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Ziarah


__ADS_3

"Adul," Laras bersuara lantang ketika Adul berbicara soal mereka.


Laras bukan sekali dua kali memberi pengertian kalau dirinya bukan janda. Tapi entah kenapa kali ini kesabarannya habis meminta pengertian pada temennya itu. Wanita itu memilih masuk ke dalam meninggalkan Adul yang berada di teras rumahnya.


"Ras, kamu jangan seperti ini terus. Menyiksa dirimu untuk menunggu Rangga. Sampai sekarang dia tidak ada kabar, kan. Aku yakin Rangga sudah meninggal. Bukankah saat kecelakaan dia parah sekali. Mustahil dia masih hidup."


Bagas terbangun mendengar suara tinggi dari luar. Dengan pelan-pelan dia melihat Adul meminta Laras untuk menerimanya. Bagas langsung kembali ke kamar, tadi dia melihat bundanya menangis. Apakah om Adul-nya yang membuat bundanya menangis? Bagas menebak langsung menyimpulkan.


"Kata orang kalau suka membuat orang menangis artinya dia jahat. Om Adul jahat sudah buat bundaku menangis."


Bagas dengan cepat mencari bundanya. Tampak Laras sedang membersihkan beras untuk di masak. Anak itu langsung memeluk pinggang bundanya.


"Bunda Bagas janji tidak akan membuat bunda nangis. Kalau Bagas bandel bunda marah saja nggak apa-apa. Asal jangan nangis." isaknya.


Laras menjongkok sejajar dengan Bagas. Tangan mengelus pucuk kepala plontos anaknya. Tak berapa kecupan manis untuk putranya mendarat di keningnya.


"Bunda tidak nangis,nak. Bunda hanya kelilipan debu tadi." kilahnya.


"Sini, Bun. Bagas tiupin. Kata Yusuf kalau mata kelilipan harus di tiup biar tidak perih." cerita Bagas.


"Yusuf siapa?"


"Teman sekelasku dia pindahan dari Jepang, bunda. Orangnya pintar, baik, kalau sama Yusuf dia suka berbagi makanan."


"Wah, bunda pengen kenalan sama teman Bagas. Pasti ganteng orangnya."


"Ganteng itu apa, bunda?"


Laras tersenyum mendengar pertanyaan anaknya. Laras memandu Bagas untuk duduk di pangkuannya. "Ganteng itu artinya mukanya bagus."


"Bagas, ganteng nggak bunda?"


"Ganteng, dong. Anak bunda ini bukan hanya mukanya yang bagus, tapi pintar dan nurut sama bunda."


"Jadi kalau Bagas tidak nurut sama bunda artinya nggak ganteng ya."


"Iya," jawab Laras sambil terkekeh.


"Bunda Bagas boleh tanya?"


"Silahkan, nak."

__ADS_1


"Kalau memang Ayah Bagas sudah meninggal, kapan kita datang melihat makamnya? Bagas ingin melihat kuburan Ayah supaya Bagas bisa mendoakan agar Ayah tenang di sana. Bu Guru pernah berkata bahwa Ayah Bagas yang meninggal akan masuk ke surga. Jadi, apakah Ayah sudah berada di surga?" tanya Bagas kepada Bundanya.


"Ayah akan senang saat Bagas mendoakannya saat Bagas Sholat. Ketahuilah Nak, sekali pun Ayah tidak ada berada di dekat kita, tetapi dia selalu ada di hati Bunda dan Bagas. Kenapa sekarang Bagas menanyakan Ayah? Apa ada yang mengejekmu?"


Bagas tampak menggelengkan kepalanya, "Bagas ingin kayak temen-temen yang lain. Punya Ayah yang selalu antar jemput ke sekolah. Bagas juga pengen ada Ayah yang bisa mengajak Bagas jalan-jalan. Bagas juga kangen kayak orang-orang yang lain yang menggendong anaknya di atas leher Ayahnya," cerita Bagas dengan sendu.


Laras tersenyum "Kan bunda juga bisa. Kamu gendong diatas, ayo! bunda bisa kok. Antar jemput Bagas, itu juga bunda juga bisa. Tapi sekarang pekerjaan bunda lagi banyak, jadi Bagas harus sabar, ya. Orang sabar di sayang .."


"Sayang bunda," ucap Bagas sambil memamerkan gigi ompongnya.


"Bunda, Bagas lapar?"


"loh, tadi pas jalan-jalan sama bude dokter nggak makan"


"Makan bunda tapi bagas masih lapar."


"Bagas mau apa?"


"Mau martabak pake cokelat."


Laras membuka gawainya untuk memesan martabak cokelat. Setelah selesai memesan Laras dan Bagas duduk-duduk di depan televisi. Sambil menonton kartun kesukaan Bagas melalui DVD. Tak berapa lama Bagas sudah tertidur sementara martabaknya belum juga sampai.


Tiba saat Laras membaringkan Bagas di ranjangnya. Tangannya membelai rambut tipis anak itu. Di tatapnya wajah putra semata wayangnya. Ada nada berat yang terkukung di benaknya.


Suara adzan subuh berkumandang, Laras terbangun untuk mengambil wudhu, tadinya dia ingin membangunkan Bagas. Rasanya sayang sekali mengganggu ketenangan putranya. Laras membuka jendela kamarnya terasa angin berhembus sangat lembut, menerobos sela-sela jendela rumahnya. Laras menghirup sejuknya udara subuh.


Terdengar suara gaduh diatas genteng. Suara mengeong, jeritan, dan lengkingan terdengar menggema. Cerita saling berkejaran diatas genteng sudah tidak asing di telinganya. Bahkan dulu saat di rumah orang tuanya juga seperti itu.


Selesai sholat, Laras membangunkan Bagas untuk sholat subuh. Mata itu menggeliat ketiak melihat bundanya sudah memakai mukena. Menyadari terlambat ke mesjid Bagas pun akhirnya mengambil wudhu. Biasanya saat hari minggu, Bagas mengikuti sekolah subuh yang diadakan mushola setempat.


Tapi karena sudah kesiangan, Bagas pun hanya membaca iqra di rumah. setelah langit mulai terang, Bagas pun mandi karena bundanya akan mengajaknya ke suatu tempat.


"Kita mau kemana, bunda?" tanya Bagas saat bundanya memakai kemeja panjang dan celana panjang berkantong.


"Kita akan pergi jalan-jalan, gas. Ini kan minggu, mumpung libur. Bunda mau luangkan waktu untuk Bagas."


"Boleh, Bunda. Terimakasih."


"Sama-sama, sayang." Laras mencubit pipi bakpao Bagas.


Laras dan Bagas meninggalkan kontrakannya untuk jalan-jalan. Mereka memasuki grab untuk mengantar kemana tujuan yang akan di tempuh. Bagas terlihat bahagia saat melihat gedung-gedung bertingkat. Meskipun masih dalam lingkup Jakarta, dirinya sangat jarang diajak jalan-jalan seperti ini.

__ADS_1


Tiba mobil berhenti di areal luas. Bagas bingung melihat banyak bantu warna warni berjejer rapi diatas rumput hijau. Tangannya menggenggam erat kearah pinggang sang bunda.


"Ini dimana bunda?"


"Ini tempat pemakaman." jelas Laras.


"Kuburan ayah, ya?"


Laras menggeleng"Bukan. Nanti bunda kenalkan sama Bagas."


Mereka berhenti di sebuah nisan berwarna hijau tua. Laras menginstruksikan Bagas ikut berjongkok sama seperti dirinya. Laras memandang nisan yang bertuliskan "GLADYS SUWANDHI" menaburkan bunga diatas makam Oma.


"Apa kabar, Oma? maaf ya Laras baru bisa jenguk Oma sekarang. Banyak hal yang terjadi diantara kami. Laras minta maaf kalau ada sikap yang tidak Oma sukai semasa hidup. Laras juga minta maaf tidak bisa menjaga mas Rangga dengan baik.


Oma kenalkan ini cicit Oma namanya Bagas. Bagas beri salam pada poyang."


"Assalamualaikum, poyang. Ini aku Bagas, anak bunda dan ayah. Poyang tenang saja, aku kan menjadi pelindung buat bunda. Poyang kalau ketemu ayah di surga, bilang saja salam dari Bagas."


Setelah melakukan penyekaran di makam Oma Gladys. Laras pun pamit meninggalkan makam. Bagas pun ikut pamit pada poyangnya.


"Kita kemana lagi, bunda?"


"Bagaimana kalau kita ke Dufan? mau?"


"Mau bunda... mau! yeee... Bagas ke Dufan."


Sebuah mobil berhenti di areal pemakaman. Seorang lelaki dengan tubuh tegap tinggi keluar dari mobil. Dari cara pakaiannya bukan orang sembarang. Tatapannya lurus bersama kacamata hitam. Salah seorang lelaki mengikutinya memasuki pemakaman.


"Itu, den. Makamnya Oma Gladys." Lelaki itu pun berjalan menuju makam yang dituju. Tubuhnya di jongkokkan menatap pilu nisan yang berwarna hijau tua tersebut.


Sebelum dia melakukan penyekaran, netranya fokus pada taburan bunga yang terlihat masih baru.


"Jaka?" sahutnya.


"Iya, den." Jaka langsung mendekati sang tuannya.


"Coba tanya siapa yang tadi ke makam Oma."


"Baik, Den." Jaka meninggalkan areal makam untuk menjalankan perintah tuannya.


Tidak sampai lima menit dia datang membawa informasi.

__ADS_1


"Tadi ada perempuan muda sama anak kecil datang ke sini, Den. Perawakannya sedang pake gamis dan berhijab."


Mungkinkah itu Laras. Batinnya


__ADS_2