
Satu Minggu kemudian
Fadli dan Yana bergantian menjaga Mila. Wanita itu belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar dari tidur panjangnya. Fadli pun membaca Alquran disamping Mila, dalam keadaan musibah seperti ini kita harus perbanyak membaca Alquran dan shalawat kepada Rasulullah.
Tubuh Mila di perban sekujur tubuh. Kata dokter banyak rembesan darah keluar saat kecelakaan. Selang kecil yang dimasukkan ke tangan kanannya. Suara alat pendeteksi jantung yang berada di samping ranjang. Lantunan doa terus di panjatkan agar kakak iparnya bangun. Saat ini Mila sudah tak punya keluarga.
" Apa papanya sudah di hubungi?" tanya Yana pada anak bungsunya.
"Belum, ma. Fadli nggak tahu kontak papanya kak Mila."
"Biar mama saja yang hubungi. Mama nasabah di bank tempat adik tirinya Mila bekerja." Tangan Yana menari diatas layar pipih tersebut.
"Selamat malam, saya Yana Subagyo, saya mau minta kontak nona Wanda bisa?"
"Oh, gitu. Oke saya tunggu kabarnya."
Yana menatap kearah putranya "Beres kan!"
Kalau tahu begitu kenapa tidak dari kemarin mama menghubungi keluarga kak Mila.
"Ya, mama pikir kamu sudah menghubungi mereka."
Sudah hampir satu minggu Mila dirawat. Hanya Yana dan Fadli yang bergantian menjaga Mila. Sedangkan rekan sejawatnya hanya Sinta yang mau menengok temannya.
Fadli membentangkan sajadah di dekat ranjang Mila. Selintas dia melihat tangan Mila bergerak.
"Kak Mila ... Mama!" Yana yang tadinya hampir tertidur pun akhirnya bangun mendengar teriakan anaknya.
"Ada apa, Dli?" tanya Yana.
"Kak Mila, tangannya bergerak." kata Fadli.
"Mama tunggu sini, Ya. Aku panggil dokter." Fadli meninggalkan ruang rawat Mila.
"Mama ..." kalimat pertama keluar dari bibirnya.
"Alhamdulillah, Mila. Kamu sudah sadar." seru Yana.
Gelap! kenapa gelap sekali. Aku tidak bisa membuka mataku dengan jelas.
"Mama Yana ..." Mila menebak pemilik suara itu.
"Aku dimana, ma. Kenapa gelap sekali?" Yana kaget mendengar keluhan Mila.
"Kamu di rumah sakit, nak."
"Ma, kenapa gelap? kenapa badanku tidak bisa di gerakkan." Mila berusaha menggerakkan badannya namun hasilnya nihil.
Dokter dan perawat pun memasuki kamar rawat Mila. Mereka memeriksa kondisi dokter cantik tersebut.
"Mila sudah sadar?"
"Sudah, dok." jawab Yana.
"Alhamdulillah, kalau Mila sudah sadar. Kami sudah berupaya semaksimal mungkin dan sekarang masa kritisnya sudah selesai. Hanya saja, ada masalah pada penglihatannya. Mungkin efek terkena pecahan kaca. Nanti saya akan rekomendasikan rumah sakit yang membantu penyembuhan dokter Mila. Dan soal tangan dan kakinya, mengalami patah tulang. Saya akan merekomendasikan rumah sakit yang bagus untuk operasi tangan dan kakinya."
__ADS_1
Mila yang mendengar pembicaraan dokter hanya bisa menangis dalam diam. Ia tahu apa yang sedang dialaminya saat ini. Matanya buta, tidak bisa berjalan. Ia akan menjadi pesakitan entah dalam waktu yang tidak bisa di tentukan.
Ingatannya berputar saat dia menangani Rangga yang lumpuh dan buta. Mila mengerahkan semua kemampuannya untuk menyembuhkan Rangga. Meski fokusnya terbagi dengan Laras yang kala itu terkena baby blues. Semua dia lakukan karena sayang pada keduanya. Rasa sayang Mila pada Rangga yang di dukung mama Raya. Rasa sayang Mila pada Laras karena dia tidak punya adik.
"Aku akan menjadi sesuatu yang merepotkan kalian."
"Tidak, Mila. Kami tidak merasa di repotkan. Kamu keluarga kami, menantuku, istri dari kakaknya Fadli."
"Ma, aku ..."
"Kakak jangan banyak pikiran dulu."
"Terimakasih, mama Yana, Fadli kalian masih mau menyempatkan diri ke rumah sakit."
"Sama-sama, itulah gunanya keluarga."
"Sekali lagi terimakasih,ma."
Yana memegang tangan Mila sebagai tanda untuk saling menguatkan.
klik
Rangga, Laras dan Bagas pergi ke lapas untuk menjenguk Raya. Bagas mengira kalau Oma nya sedang liburan ke tempat jauh. Maka saat Laras bilang main ke rumah Oma. Bagas sangat senang. Selama ini Raya tidak pernah memperlakukan Bagas dengan buruk. Bagas sangat sayang pada Oma-nya.
"Rumah Oma jauh ya, Bunda?" tanya Bagas.
"Iya, jauh, nak."
"Kenapa Oma pindah jauh? kenapa tidak tinggal sama Opa? apa Oma dan opa lagi berantem sampai pindah jauhan?"
"Enggak kok sayang. Oma dan opa lagi ada kerjaan Jadi tinggalnya harus jauhan."
"Kan bunda nggak kerja lagi. Jadi nggak pakai jauhan lagi."
"Harusnya Oma juga sama kayak bunda. Nggak usah kerja. Biar main sama Bagas saja."
"Bagas kalau sama Oma, nggak mau main sama bunda." Laras berpura-pura ngambek.
"Enggak bunda, kalau ada bunda Bagas ajak main juga." Bagas meralat ucapannya.
"Bunda main sama ayah saja. Biar Bagas main sama Oma dan opa." sahut Rangga.
"Emang bunda sama main apa?"
"Main bikin adonan berdua."
"Adonan apa, Yah? kata Tante Eva, bunda nggak bisa masak kue."
"Sudahlah,mas. jangan ngomong seperti itu di depan anak kecil."
Sementara itu Raya duduk di salah satu meja makan. Seorang gadis kecil duduk di hadapannya. Gadis itu hanya menunduk tanpa menatap kearah Raya. Raya tahu kalau anak itu masih segan padanya. Usianya masih tujuh tahun tapi kenapa dia bisa masuk penjara.
"Nama kamu siapa?" tanya Raya.
"Anggun, Bu." jawab anak itu.
__ADS_1
"Kenapa kamu di penjara?"
"Saya tidak tahu, Bu. Kata ibu sipir saya lahir disini."
" Ibu kamu mana?"
"Sudah meninggal saat melahirkan saya."
"Siapa nama ibumu?"
"Angelika Budiman."
"Oh, kamu tenang saja, nak. Saya akan jadi teman kamu. Saya punya cucu seumuran kamu." Raya mengusap rambut Anggun.
"Terimakasih, Bu." Raya kaget saat melihat mata Anggun.
"Bu, saya harus kembali ke lapas." Anggun meraba lalu mengambil tongkatnya.
"Jadi anak itu buta. Ya Allah kasihan anak itu."
Raya sudah kembali ke lapas. Entah kenapa dia teringat gadis kecil yang bernama Anggun itu.Seharusnya ada keluarga ibunya yang mengambil alih pengasuhan anak itu.
"Maaf, Bu. Saya mau tanya. Anggun itu di penjara karena kasus apa?"
"Anggun itu dulu ibunya tahanan disini. Baru dua bulan di tahan ketahuan hamil. Katanya di perkosa bapak kandung ibunya. Makanya dia cacat, kan hasil zina sedarah." jelas ibu sipir tersebut.
"Lalu apakah dia tidak ada yang menjenguk seperti neneknya atau siapa gitu? kasihan dia kena imbas perbuatan orangtuanya."
"Kan dia diminta pihak lapas menggantikan hukuman ibunya."
"Tapi kan dia nggak salah? aneh!" Raya merasa geram dengan tindakan pihak lapas.
Rangga, Laras dan Bagas akhirnya sampai di lapas. Bagas merasa aneh saat tahu Oma nya di kantor polisi. Pertanyaan demi pertanyaan kembali meluncur di bibir anak itu.
Kenapa Oma di kantor polisi?
emang Oma sekarang jadi polisi?
Apa Oma jadi penjahat?
Rentetan pertanyaan terus meluncur. Laras dan Rangga bingung harus menjawab apa. Mereka memilih diam tanpa membalas pertanyaan Bagas.
"Omaaaa...!" Bagas berlari memeluk Oma nya.
"Cucu Oma" Raya memeluk Bagas. Menciumnya dengan penuh rindu.
"Oma kok disini?" tanya Bagas.
"Soalnya Oma bandel nggak mau nurut. Jadi Oma nginap disini dulu." Raya menjelaskan pada Bagas.
"Oh, kalau bandel nginap disini, Ya?" semua yang dewasa mengangguk.
Laras dan Rangga menyalami Raya secara bergantian. Pertama sejak Raya ditangkap Rangga mau menemui mamanya secara langsung. Raya memeluk putra semata wayangnya sebagai rasa rindunya. Laras dan Bagas melihat pemandangan itu merasa terharu.
"Maafkan mama, Ga. Mama bukan orang tua yang baik. Mama tidak bisa menjadi orangtua yang bisa kamu banggakan."
__ADS_1
"Ma..." wajah Rangga ikut basah karena rasa haru dan rindu yang tak terbendung.
"Rangga yang minta maaf. Rangga yang sudah buat mama terseret ke penjara. Rangga cuma tidak mau nama Laras buruk dimata orang-orang."