
Tahun 1980, dikota Bandung.
Walaupun sudah menikah dan seorang anak menjadi tanggung jawab suaminya, peran dan jasa orang tua tidak bisa digantikan oleh apapun. Untuk itu, orang tua tetaplah orang tua dan anak harus terus mematuhi orang tuanya sebagaimana ia kecil dahulu. Yang berbeda adalah anak perempuannya kini telah menjadi tanggung jawab suaminya dan harus mengikuti suaminya.
Ketika seorang wanita telah memutuskan untuk menikah, ia memiliki kewajiban kepada keluarga barunya terutama suami . Bahkan kewajiban tersebut melebihi kepada orangtuanya sendiri.
Namun apa jadinya jika sang anak tinggal bersama mertua. Sosok yang seharusnya menjadi pengganti orangtuanya, malah menjadi bumerang dalam rumah tangganya. Raya mengalami hal itu, dimana dia merasa diperlakukan tidak adil oleh mertuanya. Suami?Aryo adalah lelaki yang sangat pengertian. Lelaki itu tak pernah lelah mendukungnya.
"Nak, jika kamu menikah. Jangan pernah melibatkan orang lain dalam urusan rumah tanggamu. Apapun masalahnya dibicarakan berdua. Kamu tahu, nak. Ibu tidak pernah melibatkan eyangmu apapun masalahnya. Kami selalu menyelesaikan berdua."
Itu yang Raya ingat wejangan terakhir dari ibunya. Dimana dia diminta jangan pernah mengumbar masalah ke orang lain. Nasihat itu selalu dipegangnya sebagai pedoman hidup.
Ketika menikah dengan Aryo saat baru tamat SMA. Raya diperlakukan dengan baik oleh mertua perempuannya. Bagaimana dia tidak pernah di marah-marah seperti cerita orang-orang. Kata orang mertua itu lebih kejam dari ibu tiri. Namun, Raya tidak merasakan seperti itu. Dalam satu sampai dua bulan dia tinggal di sana, mereka memperlakukan dirinya dengan baik.
Memasuki bulan ketiga rumah tangga Raya dan Aryo mulai terusik. Tentu saja dengan teror kapan Raya hamil. Padahal masih tiga bulan menikah. Esmeralda, mamany Aryo, mulai bersikap otoriter pada Raya.
"jadi kapan kamu beri saya cucu? kamu tahu Aminah saja baru satu bulan menikah sudah hamil. Nah kamu sudah tiga bulan menikah belum juga hamil. Besok kita ke rumah sakit, periksa ke dokter." kata Esmeralda.
"Ma, urusan Raya hamil atau belum biar jadi urusanku. Dia istriku dan ini rumah tanggaku. Mama tolong jangan ikut campur." Aryo membela istrinya.
"Aryo, kamu dengar, ya. Pokoknya dalam dua bulan ini Raya harus hamil. Mama tidak mau tahu. Mama saja hamil kamu saja cuma kelang satu bulan setelah menikah. Sedangkan istrimu sudah hampir tiga belum ada tanda-tanda hamil. Istri kamu normal apa enggak sih? oh ya aku lupa, kakaknya Raya bukannya sampai sekarang belum punya anak. Berarti dia ada keturunan begitu."
"Mama jangan bawa kakakku! aku normal, ma. Lagian aku baru tiga bulan menikah." amuk Raya yang tidak suka keluarganya disudutkan.
"Sudahlah, Raya! kamu jangan banyak omong! buktikan sama saya, kalau kamu bisa kasih saya seorang cucu. Kalau tidak, aku bisa minta Aryo menikah lagi."
"Mama!" Aryo mulai meninggi nada suaranya.
Aryo dan Raya memilih kembali ke kamar. Dia mencoba menenangkan sang istri yang down akibat sikap mamanya.
__ADS_1
"Ketahuilah, sayang. Apapun yang terjadi tidak akan mengubah perasaanku sama kamu. Tidak akan membuat aku untuk terpikir meninggalkanmu ataupun menikah lagi. Kita berumah tangga bukan sekedar mengandalkan cinta saja. Kita harus melewati banyak rintangan kehidupan, dan aku akan selalu berada di sisimu."
"Terimakasih, mas. kamu memang suami yang terbaik. Aku nggak tahu rasanya kalau bukan sama kamu." Raya memeluk tubuh suaminya dengan erat.
Semenjak itu Raya selalu diatur segala gerak-geriknya. Dari makanan, minum jamu-jamuan, dan berbagai rancangan aktivitas agar dia bisa hamil. Raya tidak bisa melawan karena sang mertua terlihat baik di depan Aryo. Sementara saat Aryo pergi kerja, dia kembali mendapatkan serangan dari mertuanya.
Sore itu, Alya, Kakak tertua raya datang berkunjung ke kediaman adiknya. Tentu saja dia datang karena ingin bersilaturahmi pada sang adik.
Raya dan Alya hanya dua bersaudara. Sementara ayahnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Ibunya tinggal bersama Alya, sudah mulai sakit-sakitan.
Semenjak itu, Raya tidak melanjutkan kuliahnya yang baru masuk enam bulan. Dia mulai bekerja sebagai model photo kalender. Yang masa itu bayarannya lumayan buat kehidupan sehari-harinya.
Aryo dan Raya sudah pacaran saat masa sekolah. Aryo adalah anak seorang pengusaha terkenal di daerah mereka. Semua juga tahu, kedua orangtua Aryo terkenal sombong dan angkuh. Banyak yang minta Raya berpikir lagi ketika Aryo mengajaknya menikah. Banyak khawatir jika Raya akan diperlakukan semena-mena sama Esmeralda, mamanya Aryo. Namun karena cintanya pada Aryo, Raya tetap memilih menikah dengan pilihan hatinya.
Kembali ke masa sekarang. Raya menerima kedatangan kakaknya dengan senang hati. Alya senang melihat adiknya sehat selalu. Raya hanya bisa tersenyum walaupun dalam hatinya tersiksa dengan sikap ibu mertuanya.
"Kamu jangan bilang macam-macam sama si mandul itu! jangan terlalu dekat dengan dia!" ancam Esmeralda.
"Ikuti perintah saya kalau kamu masih mau jadi menantu saya. Dan tadi kakakmu minta kamu menemui ibumu yang penyakitan itu! jangan mau!" Esmeralda mengeluarkan bola matanya di hadapan Raya.
"Tapi, ma..."
"Kamu mau membantah saya!" tangan Esmeralda hampir melayang di tahan oleh Raya.
"Saya juga manusia nyonya Esmeralda. Saya masih punya batas kesabaran dengan sikap anda. Tapi maaf saya tidak akan tinggal diam ketika anda menghina keluarga saya." Raya mendorong ibu mertuanya hingga tersungkur mengenai pelipis dagunya.
"Dasar menantu kurang ajar!" Esmeralda pun tidak tinggal diam. Dia pun berniat membalas menantunya.
"Mama!" Esmeralda kaget ketika Aryo muncul melihat kelakuannya.
__ADS_1
"Aryo, dia ..."
"Mama, mulai sekarang aku dan Raya akan pergi dari rumah ini. Aku akan membina rumah tangga yang bahagia bersama Raya. Selama ini Aryo mencoba bersabar dengan sikap mama. Jangan Aryo tidak tahu selama ini bagaimana mama memperlakukan Raya semena-mena. Dan sekarang Aryo tidak akan kembali ke sini sebelum mama meminta maaf pada Raya."
"Aryo, kalau kamu meninggalkan rumah ini, artinya kamu tidak akan mendapatkan sepeserpun harta warisan papamu."
"Tidak masalah, ma. Bagi Aryo bukan harta menjadi penjamin hidup. Kebahagiaan tidak melulu pada harta. Mama nikmati harta papa. Aryo pamit." tangan Aryo menarik Raya keluar dari rumah mertuanya.
Alya yang melihat kejadian itu sangat terkejut. Dia tidak menyangka kalau adiknya mendapat perlakuan seperti itu. Alya menawarkan Raya kembali ke rumah lama. Namun Raya menolak kasar permintaan kakaknya.
"Kakak kenapa aku bisa diperlakukan seperti itu? itu karena kakak! kalau saja kakak tidak mandul! semua orang tidak akan mencemooh aku!"
"Raya!"
"Dengar, kak. Aku akan hidup bahagia bersama Aryo. Aku akan patahkan ucapan orang soal mandul keturunan. Bagaimana pun caranya aku harus bisa hamil!" tatapan wajah Raya penuh dendam.
*
*
*
Catatan : Tidak semua orang bisa belajar dari pengalaman yang mereka alami. Sebagian dari mereka, menganggap semua itu sebagai cambuk pelampiasan agar sakit hatinya berlanjut ke generasi berikutnya.
Terimakasih masih mau mampir ke karya remahan saya. Maaf kemarin sempat kurang fit jadi baru bisa setor up hari ini.
Buat yang unfav, maaf ya kalau cerita saya masih banyak kekurangan. Tapi tetap terimakasih buat waktunya mampir ke
kisah Laras dan Rangga.
__ADS_1
Jujur ini pertama kalinya saya bikin novel rumah tangga. Karena kebanyakan punya saya adalah romansa percintaan.