
Laras duduk di barisan para audiens persidangan. Tampak Rangga begitu serius melihat proses persidangan. Laras paham suaminya juga butuh dukungan. Tangan Laras bertumpu diatas jemari suaminya. Sesaat Rangga menoleh kearah Laras. Jemari Laras semakin erat menggenggam suaminya. Seakan ingin berkata kalau dia ada disini, disamping Rangga dan tidak akan meninggalkan suaminya.
"Mas, aku tahu yang kamu rasakan. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, ada aku yang akan selalu di sampingmu. Ada aku yang akan membuat hatimu tenang. Kamu harus percaya setiap masalah pasti ada jalan keluarnya."
"Terimakasih, sayang. Kamu selalu berusaha menguatkan aku bagaimanapun caranya. Kamu tidak pernah lelah mengingatkan aku setiap ada kesalahan. Maafkan aku yang belum bisa menjadi suami idaman buat kamu, Ras."
"Mas, kamu juga selalu menguatkan aku saat aku terpuruk dengan tuntutan mama Raya. Kamu juga tidak pernah lelah berada di sampingku meskipun aku sering kabur-kaburan. Aku juga minta maaf kalau belum bisa menjadi istri yang sempurna buat kamu, mas."
"Ehmm..." suara deheman kecil membuat keduanya menoleh kearah suara. Laras melihat seorang lelaki muda yang berpakaian necis. Berjas abu dengan kemeja berdasi.
"Keren, kan? itu aku mendandani tadi. habis dia datang cuma pakai kaos oblong dengan jaket kulit. Masa mau jadi pengacara kayak orang mau balap motor." cerocos Rangga.
"Wah, dit. Kamu tampan sekali. Sayang aku dah punya..." Laras menghentikan ucapannya setelah di towel sama suaminya.
"Jadi aku kalah tampan?" bisik Rangga.
Laras mengulum senyum. Dia tahu suaminya pasti cemburu. "Enggak kok, mas. Kamu tampan! tampan sekali, saking tampannya jadi rebutan empat wanita."
"empat wanita?" Rangga masih bingung dengan ucapan istrinya.
"Aku, kak jihan, Ina dan kak Mila. Ngomong-ngomong soal kak Mila dia apa kabar, ya? sudah lama tidak terdengar kabarnya?" Laras tiba-tiba teringat pada wanita yang pernah jadi malaikatnya.
Rangga menaikkan bahunya. Jangankan Laras istrinya, dia saja tak pernah lagi mendengar kabar Mila. Apapun itu, Rangga sudah tidak peduli lagi. Dia hanya peduli dengan anak dan istrinya, termasuk keluarga besarnya.
Rangga membenarkan jas nya Adit. Layaknya seorang istri merapikan pakaian suaminya Rangga memeriksa setiap kerapian pakaian Adit.
"Jangan sampai rusak. Kamu boleh menggantinya setelah nanti benar-benar jadi pengacara. Sekarang kamu harus menjadi pengacara yang adil. jangan mentang-mentang kamu suka pada seseorang lalu melupakan kenyataan yang ada. Paham!"
Adit mengangguk kecil. Dia tahu apa yang harus dilakukan untuk membantu Anisa. Awalnya saat dia menelusuri permasalahan yang dihadapi Anisa, Adit mengumpulkan beberapa data tentang tempat Anisa kerja. Tentang kehidupan Anisa, dan semua yang berkaitan dengan kasus Anisa. Dia tidak bisa melakukan sendiri tanpa campur tangan Rangga. Termasuk mengenalkan dirinya pada seorang pengacara senior untuk mengajarkan tentang hukum. Meskipun Adit memang sarjana hukum, namun masih banyak yang harus dia pelajari.
"Nak Radit, ibu mau ketemu sama Anisa. Apa nak Radit mau ikut?" Adit mengangguk. Tentu saja ini akan menjadi kejutan buat Anisa.
"Iya, saya antarkan ibu ke tempat Anisa. Oh, ya calon suaminya mana? apa dia tidak ikut?" tanya Adit.
"Ibu tidak tahu, nak. Dulu sebelum Anisa terkena kasus, Hazar sering main ke rumah. Tapi sejak mendapat kabar kalau Anisa di tangkap polisi. Dia tidak pernah datang lagi. Mungkin dia malu sama apa yang dialami Anisa. Padahal ibu yakin anak ibu tidak seperti itu? Nak Radit ibu mau tanya, kalau seandainya Anisa terbukti bersalah berapa lama dia di tahan?"
"Kalau tidak salah lima tahun, Bu. Saya akan usaha membantu mbak Nisa semampunya. Saya sudah mengumpulkan beberapa bukti kalau mbak Nisa nggak bersalah, bu. Ya tapi kalau seandainya mbak Nisa tidak bersembunyi selama bertahun-tahun, hukumannya bisa lebih ringan."
"Ya Allah semoga ada titik terang dengan semua ini. Bapaknya Nisa sudah stroke selama tujuh tahun. Dari uang Nisa kerja di bank bisa membantu pengobatan bapaknya dan biaya sekolah Adik-adiknya. Penghasilan saya sebagai penjual lotek sudah habis untuk pengobatan bapaknya."
Bu Suriah dan Adit berjalan menuju ruang tunggu untuk para saksi persidangan. Di bantu seorang sipir lapas akhirnya pertemuan ibu dan anak pun terjadi. Pertemuan ibu dan anak yang terpisah selama lebih dari satu bulan. Adit yang melihat hal itu dari jauh hanya bisa tersenyum. Dia senang kalau bisa menyatukan keduanya.
"Ibu sama siapa?" tanya Anisa.
"Ibu sama pengacara kamu, Nisa."
"Maaf, Bu. Nisa tidak pernah meminta pengacara. Mana ada uang kita bayar pengacara."
__ADS_1
"Dia lelaki baik. Bahkan dia bilang ikhlas kalau tidak di bayar."
"Siapa,Bu?"
", Namanya Raditya Andika Pratama. Dia anak muda yang Sholeh. Rajin sholat, itu yang ibu lihat saat dia datang kerumah kita dari Jakarta." jelas Bu Suriah.
"Raditya, siapa ya?" Anisa masih berpikir keras siapa sosok Raditya tersebut.
"Saya..!" Anisa dan semua yang ada di ruangan menoleh ke pemilik suara.
"Kamu,..." Pekik Ratna dan Anisa.
Adit hanya terkekeh kecil melihat keterkejutan dua wanita tersebut. Terlebih ketika dia berjalan kearah Anisa. Meredam jantungnya yang berdetak kencang. Kencang saat dia pertama kali bertukar pikiran saat di camp.
"Iya, ini saya." jawabnya tenang.
"Oalah, kamu ganteng sekali, dit. Beda penampilanmu saat di camp, tapi memang kamu ganteng kok. Dan semakin keren dengan penampilanmu seperti ini." puji Ratna.
"Terimakasih, Ratna. Saya disini akan menjadi pengacara saudari Khairunnisa. Jadi izinkan saya untuk berdiskusi dengan mbak Anisa, terkait kasus yang dihadapinya." sapa Adit pada beberapa staf pengadilan.
"Kamu pengacara baru, ya. Sebab saya baru melihat kamu. Saya banyak kenalan pengacara handal, kamu di tim mana?" tanya lelaki yang bername tag "Hidayat".
Adit menelan salivanya. Masa iya harus kenal pengacara kondang untuk diakui sebagai pengacara.
Dia hanya tahu pak Andi Mallarangeng yang menggemblengnya menangani kasus ini. Dia juga tidak paham apakah pak Andi itu termasuk pengacara kondang atau bukan.
"Dia anak murid saya," suara bariton muncul di tengah rasa tegang dari Adit.
"Saya Andi Mallarangeng, saya berkerja di bawah naungan O.C KALIGIS. Jadi sudah paham kan?"
"Ooo..." jawab pak Hidayat. Lelaki itu memilih enggan bertanya lagi.
"Radit, tadi saya bertanya pada pihak pengadilan. Kalau hari ini belum diminta kesaksian dari Anisa. Sekarang adalah waktunya Laras untuk memberi saksi."
"Kalau aku jadi Laras, mending nolak jadi saksi. La wong itu mertuanya, ya kali dia menjebloskan mertuanya ke penjara. Eh, kan emang Laras yang buat kita semua masuk penjara." sahut Ratna.
"Ratna!" suara Endang menjadi semakin lantang.
"Maaf, atas kelancangan anak saya." tutur Endang yang merasa tidak enak dengan orang-orang di sekitarnya.
"Ibu..." lirih Ratna.
"Ibu minta kamu jaga sikap. Mau kamu diberatkan hukuman." Bisik Endang.
"Maaf," Ratna hanya bisa menunduk. Matanya berputar ketika melihat bagaimana perhatian Adit pada Anisa. Tangannya menggenggam erat ujung bajunya.
Sementara di ruang persidangan, Laras sudah duduk di sebelah Rangga. Menyaksikan sang mama mertua duduk di pesakitan. Sesaat kepalanya menunduk. Beberapa keluarga papa Donal menatapnya seakan tertuduh. Rangga merasakan genggaman tangan istrinya sangat kuat. Sesaat dia melihat Laras tengah menunduk, Rangga mengedarkan pandangan kearah keluarga oma Fina dan ada Lani di pihak mereka.
__ADS_1
Rangga pun mengecup jemari istrinya. Memastikan Laras tidak akan berpikir buruk tentang situasi ini.
"Kamu jangan takut mengungkapkan kebenaran sayang. Meskipun itu adalah mama kandungku, tapi yang dia lakukan sudah salah. Kamu tidak lupa pesan mama, kalau dia tidak ingin kamu memberi pembelaan di luar masalah yang sebenarnya. Itu artinya mama pun mengakui kalau yang dia lakukan juga salah." jelas Rangga.
"Tapi mas, aku bukan yang melaporkan mama ke pihak berwajib. Sayangnya mereka seperti menyalahkan aku atas kasus ini."
"Ras, mereka hanya belum menerima kebenaran itu. Kan memang bukan kamu yang melaporkan mama. Melainkan Bude Endang, Ratna dan Anisa. Polisi menangkap mama juga berdasarkan keterangan dari mereka. Bukan dari kamu.
Jadi aku mohon jangan lagi berpikiran untuk menyalahkan diri. Papa Donal,aku dan keluarga yang lain ada di pihak kamu. Coba kamu lihat ke belakang." Laras menoleh ke belakang dari arah tempat dia duduk.
Ada Ina-Alam juga Yulia, ada orang-orang dari kompleks perumahan orangtuanya. Ada Sasti dan mamanya yang ikut datang. Laras terharu mereka mau datang mendukung Laras.
"Tante Yulia cuma sendiri, mas. Biasanya ada om Dul yang mengekor."
"Om Dul sudah meninggal dunia tiga tahun yang lalu. Karena sakit jantung." jelas Rangga
"Innalilahi wa innailaihi rojiun," Laras kaget mendengar berita tersebut.
Sidang dimulai, tampak majelis hakim, pengacara dan jaksa penuntut umum sudah memasuki ruang persidangan. Tak hanya itu, tampak pak Andi Mallarangeng selaku pengacara pihak Raya dan keluarga Pattimura. Dan tak lupa ketiga wanita Endang, Ratna dan Anisa pun ikut di hadirkan.
Nama Larasati pun di panggil untuk menjadi saksi persidangan. Bersumpah diatas Alquran untuk memberikan keterangan yang benar.
"Saudari Larasati," jaksa penuntut umum mulai memberikan pertanyaan.
"Anda, saat ini berstatus sebagai menantu ibu Raya Kalendina."
"Iya," jawab Laras.
"Lalu bagaimana hubungan anda dengan ibu Raya selama ini? saya dengar dulu anda adalah seorang OB yang dinaikan derajatnya oleh ibu Raya. Tentu kalau lihat dari cara Bu Raya mengangkat anda jadi menantu pasti Bu Raya adalah orang baik."
"Iya, pak. Mama Raya adalah perempuan yang baik. Ibu yang baik bagi suami saya, nenek yang di sayang anak saya."
"Lalu kenapa anda pergi dari rumah kalau merasa keluarga Bu Raya itu orang baik. Saat itu bukannya pak Rangga sedang koma, tidak semestinya anda seorang istri meninggalkan suaminya yang sedang kritis."
"Sebenarnya ini hanya salah paham. Malam itu saya tidak berniat meninggalkan mas Rangga. Bahkan saat itu posisi suami saya sudah di sembunyikan oleh mereka. itu tanpa persetujuan saya. Ya saya tahu kalau mereka adalah keluarga inti mas Rangga, tapi saya masih sah sebagai istrinya.
Maka waktu itu saya mau pulang ke rumah orangtua saya. Dengan maksud ingin menenangkan diri. Tapi ternyata mereka malah mengusir saya. Saya tidak bisa melawan saat itu, karena selama tidak ada mas Rangga posisi saya hanya orang luar."
"Anda tidak mencoba berkomunikasi lagi setelah pengusiran itu. Bagaimana mereka bisa tahu keadaan anda kalau anda diam saja."
"Interupsi pak hakim. Pertanyaan sudah melenceng dari fokus utama."
"Interupsi di terima. Saudara jaksa penuntut umum dimohon memberi pertanyaan sesuai dengan kasus."
"Sebentar pak hakim, saya menanyakan ini tentu ada hubungannya dengan apa yang dilakukan Bu Raya pada menantunya."
"Maaf, pak hakim kalau saya menyela sebentar. Saya tahu kalau mama Raya merasa masih punya hak dengan suami saya, Rangga Baratayudha. Tapi apakah dengan mengambil surat rumah orangtua saya juga termasuk mempertahankan hak dia. Saya tidak masalah dengan isi tabungan atau asuransi yang diambil mama Raya. Saya ikhlas, karena itu uang dari mas Rangga."
__ADS_1
"Maka itu, kalau kamu ikhlas kenapa di kasuskan. Seharusnya kamu bebaskan saudara Anisa. Bukan menahan dia di sebuah vila. Itu sudah termasuk kriminal." suara jaksa penuntut umum semakin lantang.
"Saya tidak pernah menahan Anisa..." suara Laras terdengar bergetar.