
Dalam kehidupan berumah tangga, tak sedikit ada seorang istri yang pendidikannya lebih tinggi ketimbang sang suami.Meski istri berpendidikan tinggi, mungkin banyak di antara suami yang melarang atau tidak menghendaki istrinya bekerja di luar rumah.
Seorang istri yang dilarang untuk bekerja oleh suami bisa melihat kemungkinan terbaik dari larangan tersebut sebagai bentuk tanggung jawab suami terhadapnya. Namun, apabila ada alasan yang mana dia harus bekerja maka seorang istri tidak harus mendapatkan persetujuan suami untuk bekerja.Seorang istri harus memiliki pemikiran yang luas ketika dia telah menikah, sekalipun karirnya sedang di puncak.
Apabila suaminya melarang bekerja, maka keduanya harus berkomunikasi untuk menemukan kesepakatan dengan melihat pada tujuan dari perkawinan. Apabila ternyata suami mampu menafkahi dan memenuhi kewajibannya dalam perkawinan, maka tidak ada alasan bagi seorang istri untuk tidak mendengarkan suaminya.
Laras membaca artikel yang membahas tentang istri yang bekerja. Dia tahu yang dilakukannya itu salah. Tapi untuk saat ini dia hanya ingin menikmati hasil kuliahnya. Dia ingin seperti Jihan yang bekerja meskipun sudah bersuami dan punya anak.
Dulu aku bekerja karena harus menafkahi Bagas. Saat itu statusku sebagai single parents menuntut hidup harus terus berjalan. Tadi awalnya aku kira dengan berjualan pecel semua bisa diatasi. Namun semakin bertambah usia Bagas, semakin tinggi tuntutan hidup. Dari berjualan pecel saja belum lagi modal jualan bayar kontrakan tidak akan cukup. Walaupun kak Mila bilang biar dia yang bayar kontrakan. Aku tidak mau terus punya hutang sama orang lain. Apalagi harus manja pada orang lain.
Sejak aku menyatakan ingin kuliah. Banyak yang mendukung keinginanku. Termasuk dukungan dari kak Mila. Kak Mila bahkan yang mendaftarkan aku ke kampus tersebut, aku sering sekali di bantu sama kak Mila.
Setelah aku tamat kuliah, aku tetap berjualan pecel. Paling tidak aku ada kegiatan sambil mengasuh Bagas. Semua yang aku lakukan untuk Bagas. Satu tahun kemudian aku dapat kerja di Parmalex. Sewaktu wawancara aku cukup kaget kalau atasanku adalah kak Jihan. Bagi yang membaca novel sebelah pasti tahu siapa Jihan. Jihan adalah perempuan yang di jodohkan dengan mas Rangga.
Karena mas Rangga saat itu masih cinta sama Ina. Mas Rangga kabur dari pernikahan mereka. Tentu saja dari masalah itu berimbas ke Ina. Mereka sempat menuduh Ina yang membuat Rangga pergi.
Laras berjalan menuju ruang kerjanya. Matanya melirik jam tangannya. Sebentar lagi jam makan siang. Tentu harusnya dia di jemput Rangga karena sudah janji. Laras mendaratkan bokongnya ke kursi kerjanya.
"Bunda!" suara Bagas sayup-sayup terdengar di pendengaran Laras.
"Bunda," lagi-lagi Laras merasa mendengar suara Bagas.
"Bagas, uh, anak bunda."Laras mencium putra semata wayangnya.
"Bunda, kata ayah kita mau makan diluar." Bagas menempelkan tubuhnya di pinggang Laras.
"Ayah mana?"
"Itu," Bagas menunjuk kearah Rangga. Lelaki itu tampak gagah berjalan kearah dirinya. Laras melempar senyum pada suaminya ketika Rangga melabuhkan kecupan di kening Laras.
"Mas," Laras menyalami suaminya.
__ADS_1
"Yuk, kita siap-siap. Oh ya aku dapat undangan makan dari Mila. Makanya aku ajak kamu dan Bagas biar rame." cerita Rangga.
"Kak Mila? tumben dia ngundang kita." Laras sedikit heran.
"Aku juga heran sih, sayang. tapi nggak apa-apa lah. Sesekali saja."
"Aku mau ketemu jihan boleh?" tanya Rangga.
"Pasti mas Rangga mau bicarakan soal resign. Aduh aku kok merasa tidak enak ya. Kenapa juga harus mas Rangga yang minta resign sama kak Jihan."
"Mas, nanti saja. kasihan Bagas sudah menunggu." cegah Laras pada suaminya.
Rangga mengalihkan pandangan ke arah Bagas. Tampak sosok kecil itu riang ketika diajak makan siang. "Oke, demi anakku." Rangga menggendong Bagas lalu menggandeng Laras berjalan beriringan.
"Eh, kalian mau pergi, ya?" Sasti muncul dari ruangannya.
"Iya, ti. Kami mau makan siang. Kak Mila mengundang kami makan siang bersama." kata Laras pada Sasti.
"Nggak mungkin, ti, kamu ini ada ada saja." jawab Laras.
"Pokoknya kamu harus hati-hati." Sasti berlalu meninggalkan Laras dan suaminya.
Laras meninggalkan kantor bersama Rangga dan Bagas. Sejak di dalam mobil pikirannya terbayang ucapan Sasti. Apa iya dokter Mila yang selama ini sudah menjadi malaikat itu suka sama suaminya. Rangga memfokuskan diri pada setirannya, sementara Bagas duduk di pangkuan Laras.
"Mas, lihat!" Laras memberikan video yang dia lihat di sosmed.
"Aku lagi menyetir sayang, emang ada apa sih?" tanya Rangga.
"Kak Mila viral gara-gara berantem sama pelayan restoran." adu Laras.
"Masa,sih." Rangga tidak percaya Mila bisa membuang energi untuk bertengkar dengan waitres.
__ADS_1
"Ini," Laras menyerahkan video setelah Rangga mematikan mesin mobil.
Rangga menonton video yang katanya viral. Dengan seksama dia mengamati apa yang membuat Mila sampai bertengkar dengan waitres.
"Kita harus kesana, biar tahu masalahnya. kasihan kak Mila di buat seperti itu." usul Laras.
"Ide bagus, sayang. Mila itu sudah akrab sejak kecil sama aku. Sudah seperti saudara, jadi tidak mungkin dia seperti itu kalau tidak ada yang memulai duluan."
Rangga kembali melajukan mobilnya dengan cepat. Rangga mengambil jalan pintas agar menghindari kemacetan. Jalan pintas yang sepi, di kanan-kiri terdapat perumahannya warga.
Klik
Dering nyaring ponsel berhasil membuyarkan konsentrasi Raya. Dia sedang memeriksa dana yang di pegangnya melalui arisan sosialitanya. Raya awalnya mengabaikan dering tersebut. Namun ternyata hal itu makin membuatnya sulit berkonsentrasi. Matanya membulat saat tahu penerimaan telepon adalah orang suruhan. Sejauh ingatannya dia belum memberi pekerjaan baru pada orang itu.
Raya memicing pandangannya. Seakan ingin tahu apa yang akan di kabarkan lelaki itu. Dengan malas dia mengangkat telepon tersebut.
"Ada apa?" sambutan yang kurang ramah pada orang lain.
"Ini,Bu. saya melaporkan kalau Endang dan kedua anaknya sekarang di jakarta. Mereka sudah dua tahun buka usaha warung makan. Warungnya lumayan ramai." Lapor lelaki itu.
"Apaaaa! jadi si Endang dan kedua anaknya masih di Jakarta. Kan saya sudah suruh kalian membawanya keluar kota." amuk Raya.
"Dari yang saya dapat infonya begitu. Saya sudah mengasingkan mereka pada sebuah desa yang sepi. Tapi ternyata mereka sudah kembali ke sini,Bu. Mereka membuka warung nasi di tengah kota." lapor mata-mata Raya.
"Saya minta kamu terus memantau mereka. Saya tidak mau mereka merusak rencana saya. Paham! satu lagi, tolong kirim alamat mereka sekarang."
"Baik, Bu." Lelaki itu menutup teleponnya.
"Ada ada saja. Kenapa mereka malah kembali kesini. Padahal aku sudah kasih mereka uang yang banyak supaya pergi dari kota ini. Jangan sampai suatu saat mereka menjadi duri. Tidak akan aku biarkan!"
Raya menarikan jemarinya setelah mendapat alamat warung Bude Endang. "Tolong bereskan alamat ini!"
__ADS_1