Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Tidak punya malu


__ADS_3

Istri Malin yang sedang hamil mengidamkan berlibur ke Pantai Air Manis. Karena sangat menyayangi istrinya, Malin mengabulkan permintaan istrinya itu. Di dalam perjalanan, Malin teringat dengan ibunya. Malin merasa malu jika ia harus mengenalkan ibunya kepada istrinya.


Saat kapal mereka sudah menepi di pinggir pantai, Ibu Malin yang sedang berjualan ikan melihat anaknya dari kejauhan. Ia sangat yakin itu adalah Malin. Sang ibu bergegas berlari dan memeluk tubuh Malin.


“Lepaskan! Siapa kau?” Ibu Malin terkejut ketika tubuhnya didorong oleh Malin.


“Malin, ini aku, ibumu.”


“Ibu? Apa perempuan lusuh ini ibumu? Kenapa kau berbohong, Malin? Kau bilang kau anak bangsawan sepertiku!” Istri Malin sangat marah menemukan kebohongan Malin yang terungkap.


“Tidak, dia bukan ibuku!”


Malin bersikeras tidak mengakui ibunya. Ia bahkan menarik tubuh istrinya untuk meninggalkan pantai.


Ibu Malin merasa sangat sedih sekaligus marah. Iapun berdoa kepada Tuhan dan menyumpahi Malin agar dikutuk menjadi batu.


Langit bergemuruh setelah doa itu terdengar.


Malin menyesali perbuatan yang ia lakukan kepada ibunya.


“Ibu maafkan anakmu yang durhaka ini!”


Teriakan Malin sia-sia karena tidak lama setelahnya, kapal Malin terombang-ambing oleh ombak hingga karam dan terpecah.


Keesokan paginya, semua orang di Pantai Air Manis terkejut menemukan banyak kepingan kapal yang berserakan. Namun, mereka lebih terkejut saat menemukan batu berbentuk manusia tengah bersujud.


Bagas mendengar dongeng yang di bacakan Omanya dengan seksama. Tak ada rasa takut saat Raya membawanya ke rumah keluarga Pattimura. Bundanya selalu bilang kalau ada orangtua seperti nenek dan kakek harus hormat.


"Jadi Malin Kundang itu jahat ya, Oma." Bagas menyimpulkan setelah mendengar cerita Malin Kundang.


"Iya, sayang. Malin Kundang itu jadi batu karena durhaka sama orangtua. Makanya Bagas tidak boleh melawan orangtua. Surga itu ..."


"Dibawah telapak kaki ibu, Oma." Sahut Bagas.

__ADS_1


"Waaaah, cucu Oma pintar." kata Raya mengelus rambut Bagas.


"Siapa dulu, Bagas!" ucapnya sambil membanggakan diri.


Raya memandang Bagas penuh arti. Seakan dia melihat masa kecil Rangga. Karakter Bagas yang penuh percaya diri bagai pinang di belah dua. Plek ketiplek dengan Rangga. Entah kenapa dia merasa sayang pada cucu semata wayangnya.


"Oma," suara Bagas membuyarkan lamunannya.


"Iya, nak."


"Nanti kalau bunda kesini bilang Bagas ada di kamar, ya."


"Iya, nanti Oma bilang sama bunda kamu. Tapi kenapa bunda kamu tadi pergi. Ninggalin Bagas sendirian di rumah."


"Kata bunda dia mau pamit sama orang di kerja bunda. Bunda pergi sama ayah tadi." jawab Bagas.


"Oh, begitu. Yasudah, Bagas lapar nggak? Oma ada masak ayam goreng sama kentang goreng. Bagas mau?" Bagas mengangguk saat di sebut makanan kesukaannya.


"Mau Oma," jawab Bagas Riang.


"Bagas makan di ruang makan saja, Oma. boleh kan?"


"Bukannya Bagas lagi kurang sehat? nggak apa-apa biar Oma saja yang antar makanan Bagas."


"Nggak apa-apa, Oma. kan seharusnya makan di meja makan bukan di kamar." jawab Bagas.


"Yasudah, kamu ikut Oma ke ruang makan." Bagas turun dari tempat tidur. Berjalan mengikuti Omanya ke ruang makan.


Posisi kamar Bagas memang di lantai bawah. Beda dengan kamar Rangga yang berada dilantai atas. Setelah sampai di ruang makan. Bagas duduk dengan patuh menunggu menu yang disiapkan Mbak Ida, asisten rumah tangga.


"Bagas," sapa Mila yang sudah berganti baju.


"Mila, kamu masih disini?" Donal muncul di ruang makan.

__ADS_1


"Iya, Om. Tante Raya minta aku menemani Bagas disini. Ya, mumpung aku lagi cuti kerja." jawab Mila sambil mendaratkan tubuhnya di kursi sebelah Bagas.


"Bukannya mama kamu baru pulang dari rumah sakit, ya. Lebih baik kamu fokus ke kondisi mamamu daripada disini. Kalau soal Bagas ada kami Oma dan Opa-nya. Sebentar lagi Rangga dan Laras pasti kesini menjemput anaknya." kata Donal.


"Pa, biarkan Mila disini dulu. Dia pengen menenangkan diri. Papa ingat saat dirumah sakit Mila di skors karena ada yang sirik sama dia. Kalau dia dirumah nanti nggak bisa menenangkan diri. Lagian kak Resi kan ada pembantu disana." jawab Raya.


"Maaf, ma. Kalau pun ada pembantu etiskah anak meninggalkan ibu nya yang sedang sakit hanya diurus sama pembantu. Maaf, ma. Papa melihat Mila ini seperti tidak ada beban. Sudah dua malam dia menginap disini sementara mamanya sedang sakit.


Apa mama mau Rangga juga seperti itu? meninggalkan mama hanya dengan pembantu saja. Apa mama mau di perlakukan seperti itu juga oleh anak mama sendiri.


Maaf Mila lebih baik kamu pulang ke rumah. Kasihan mamamu, kalau ada apa-apa nanti kamulah yang akan menyesal." ucap Donal.


Mila hanya terdiam mendengar ucapan Donal. Secara tidak langsung Donal mengusirnya secara halus. Netra beralih ke arah raya seakan minta pembelaan. Sayangnya, Raya sibuk menyuapi Bagas sehingga dia memilih meninggalkan ruang makan.


"Mila, makan dulu, nak. Setelah itu kamu pulang, ya? ada benarnya kata suamiku. Mama kamu butuh perhatian juga." Raya menuntun Mila duduk di kursi.


"Bagas sini Oma suapi lagi." Raya kembali mendekati Bagas.


"Bagas bisa makan sendiri, Oma. Bagas kan sudah gede, kata bunda tahun depan Bagas sudah SD. Jadi Bagas harus bisa melakukan sendiri."


"Bagas ini pintar, Tante. Di usia segini dia sudah bisa mengaji dan sholat. Tahun lalu Bagas ikut puasa kan sayang." kata Mila.


"Iya, Oma. Bagas diajarin mengaji sama bunda. sekarang baru tamat iqra dua." Bagas pun ikut pamer pada Oma-nya.


"Assalamualaikum." suara salam terdengar memasuki ruang makan.


Bagas berlari mendekati si pemilik suara. Senyum riang menghiasi wajah manisnya.


"Bunda! ayah!" panggil Bagas.


"Anak ayah dan bunda kayaknya dah ceria lagi." Rangga menggendong putra semata wayangnya.


"Iya, yah. Tadi Oma bacain Bagas dongeng. Ini Oma suapi Bagas makan ayam goreng."

__ADS_1


Laras menyalami mama mertuanya. Raya menerima uluran tangan menantunya. Laras menyapa Mila yang berada di sebelah Raya. Sayangnya, Mila tak begitu menanggapi sapaan Laras. Rangga menatap tidak suka pada Mila.


"Seharusnya tamu yang memberikan hormat pada tuan rumah. Bukan tuan rumah yang dicueki sama tamu. Tamu itu harus tahu tempat." Sindir Rangga.


__ADS_2