
Sore ini langit tampak cerah. Tak ada tanda akan hujan turun. Seorang lelaki muda berjalan ke sebuah gedung dengan pintu gerbang yang menjulang tinggi. Seharusnya dia akan datang siang tadi. Tapi pekerjaannya masih belum selesai, maka dia baru bisa keluar sore hari. Helaan nafas berat pun terdengar dari bibirnya. Masih dengan kemeja yang di tutupi jaket kulit, kakinya menguntai mengikuti suara desiran angin yang berhembus. Tampak beberapa daun kering jatuh di pelataran gedung tersebut.
Gedung itu adalah gedung lapas wanita. Dimana beberapa wanita harus menjalani hukuman karena kasus kriminal. Baik kriminal pidana maupun perdata. Lelaki itu masih berdiri mematung sembari menghirup udara segar. Pelataran lapas yang masih bersentuhan dengan alam. Lokasi lapas yang jauh dari perkotaan. langkahnya terhenti saat getaran dari saku celananya.
"Iya, ayah." sapanya pada si penelepon.
"Kamu dimana, dit?" tanya ayahnya Adit.
"Aku ada urusan sebentar. Kenapa, yah?"
"Ini ada keluarga pak Kusuma mau ketemu sama kamu. Kamu pulang, ya. Bapak nggak enak sama mereka."
"Maaf, pak. Adit tidak mau berurusan dengan kak Maya lagi."
"Tapi, dit...."
Adit langsung mematikan telepon. Mungkin dia terkesan kurang sopan. Tapi dia memang tidak mau meladeni Maya lagi. Maya adalah istri dari mendiang kakak sepupunya. Setelah kakak sepupunya meninggal dunia karena sakit. Maya malah mencoba mendekatinya. Apalagi saat itu Adit masih punya Mawar. Sayangnya itu tidak mempengaruhi Maya untuk mendekati dirinya.
Langkah kakinya memasuki ruang jenguk lapas. Sebentar lagi dia akan sekolah di Malaysia. Setelah satu minggu yang lalu dia berdiskusi dengan ayahnya tentang beasiswa yang ditawarkan Donal, atasannya. Adit pun mantap untuk menerima tawaran itu. Namun sebelumnya dia harus memastikan sesuatu yang sudah lama dipendammya. Masalah hasilnya mungkin belakangan. Yang penting bicara dulu.
Baru saja dia menampakkan kakinya di ruang jenguk lapas. Getaran ponsel pun membuatnya terhenti sejenak. Sebuah nama tertera di layar pipih dan langsung diangkatnya.
"Iya, ayah."
"Kamu dimana, dit?"
"Aku sedang ada urusan, yah. Ada apa?"
"Kamu bisa pulang kan, nak? ini keluarga pak Kusuma mau ketemu kamu."
"Yah, kan sudah Adit bilang, saya tidak mau sama kak Maya."
"Kamu jangan lupa, dit. Kalau bukan berkat Maya, kamu tidak akan bisa kerja di perusahaan itu."
"Yah, saya kerja disana berdasarkan hasil interview murni bukan kak Maya. Dia cuma bantu kasih lowongan saja. Bukan karena tidak tahu terimakasih. Tapi saya tidak bisa menerima kak Maya sebagai pasangan. Tolong mengerti, yah."
"Tapi, dit...."
Adit langsung menutup teleponnya. Kesannya kurang sopan. Tapi dia sudah beberapa kali menolak Maya, istri dari mendiang sepupunya. Oke, memang Maya sudah membantunya. Sudah membuatnya bisa kerja di perusahaan yang sama dengan wanita itu. Bukan berarti dia harus menerima imbalan untuk menikahi wanita yang sudah seperti kakaknya sendiri. Ada hati yang sudah di mantapkannya.
udara di sekitar lapas berhembus kencang. Angin-angin pun meniupkan daun-daun kering di sekitar pelataran lapas. Adit melangkah memasuki pelataran lapas. Tiba di ruang jenguk, Adit menemui petugas lapas. Rencananya dia mau meminta izin untuk membawa Anisa keluar dari lapas untuk sehari. Sayang, keinginannya tidak bisa di wujudkan. Tapi ada benarnya, kalau dia membawa Anisa keluar yang ada malah masalah baru.
__ADS_1
"Tapi saya bisa ketemu mbak Anisa, kan?"
"Bisa, mas. Maaf kalau kami tidak bisa mengizinkan saudari Anisa untuk keluar tanpa kepentingan penting."
"Iya, maaf, mbak kalau begitu."
"Mbak Anisa beruntung. Dia sering di datangi dua pria tampan."
"Pria tampan? dia hitam manis dan sedikit cadel?" petugas itu mengangguk.
"Jadi mbak Anisa masih berhubungan dengan mas Hazar? apakah aku lagi-lagi datang di saat yang tidak tepat." Adit menunduk, matanya memandang kotak merah yang baru saja di keluarkan dari kantong celananya.
"Adit," Lelaki itu terkesiap.
Adit memandang sejenak wanita di hadapannya. Saat pertama mengenal Anisa di camp rumah pohon. Saat itu dia sudah merasakan degupan jantung yang begitu kencang. Dia tahu kalau wanita di hadapannya akan menjalani hukuman lama jika terbukti bersalah. Dia juga tahu kalau wanita di hadapannya punya seseorang yang dicintainya. Maka saat itu dia hanya bisa mengagumi dalam hati.
"Dit," suara lembut itu kembali mengagetkan lamunannya.
Adit mulai duduk berhadapan Anisa. Perasaannya semakin tak karuan saat gadis itu tersenyum kepadanya.
"Kamu apa kabar, dit? saya pikir setelah mengantar ibu kamu tidak akan main kesini lagi. Bagaimana kabarmu?" lagi-lagi Nisa mengulangi ucapannya.
"Tapi kamu keren, dit. Sebagai pemula kamu bahkan lebih profesional dari pengacara senior. Terimakasih, dit. Kamu sudah membantuku, walaupun ending tetap kembali ke jeruji. Ya, memang saya merasa di jebak. Namun saya juga menikmati hasil sogokan mereka termasuk dari Bu Raya."
Anisa menghirup nafas dalam-dalam lalu melanjutkan ucapannya.
"Andai dalam lima tahun saya memberanikan diri mengakui kesalahan mungkin Bu Laras sudah bersatu dengan suaminya. Sewaktu Bu Endang menceritakan bagaimana laras sempat down saat dia ke bank untuk menyusul suaminya yang katanya di Jepang. Mungkin saya tidak akan di hukum seberat ini, dit."
"Dit, sejak kamu sampai di sini mukamu seperti mendung. Ada apa? apa kamu butuh teman cerita. Aku siap mendengarkan?" Anisa yang tadinya duduk berjarak kini memindahkan kursinya di samping lelaki itu.
Di ruang jenguk lapas hanya dirinya saja yang mendapat tamu. Adit juga membawa makanan yang dia beli di sebuah warung makan. Ya walaupun bukan dari cafe mewah, dia yakin Anisa mau menerima bingkisan darinya. Rasa percaya akan sosok Anisa tak dipandang sebelah mata.
"Ini apa?" Nisa melirik kotak mika putih dihadapannya.
"Ini nasi rendang. Kata ibu mbak Nisa suka rendang, ya. Maaf, saya nggak bisa masak." ucap Adit.
"Wah, terimakasih, dit. Makanya cari istri, dit. Biar ada yang masakin."
"Mbak Nisa juga pintar masak. Mbak tahu mereka lahap sekali saat mbak masak rawon di camp."
"loh, itu kata Ratna masakan dia yang laris." Nisa ingat saat selesai masak, Ratna bilang nggak ada yang sentuh masakannya.
__ADS_1
"Mbak aku yang ngelihat tiap hari bisa lihat kok seperti apa Ratna itu. Masa mbak Nisa nggak peka kalau Ratna bermuka dua. Sama ini dia ngomong A sama itu dia ngomong B."
"Aku enggak tahu, dit. Dan juga kalaupun iya untuk apa dia seperti itu sama aku. Toh, aku dan dia juga sama-sama buruk. Sama-sama bukan orang baik. Jadi untung dia apa?"
"Karena dia suka sama saya, mbak. Ratna sudah menyatakan perasaannya sama saya. Dan saya ..."
"Kalau kamu nolak Ratna, kenapa saya kena imbasnya, dit."
"Maaf, mbak Nisa. Sebenarnya saya kesini mau menyampaikan kalau saya dapat beasiswa dari kantor. Saya akan kuliah di Malaysia menempuh magister hukum. Saya mau pamit sama mbak Nisa karena Jumat besok saya berangkat."
"Selamat, ya, Dit. Kamu memang pantas dapat beasiswa. Semoga kamu sukses disana." tangan Anisa memegang jemari Adit.
"Sama-sama, mbak. Maaf saya boleh tanya sesuatu?"
"Silahkan, dit."
"Mbak Nisa sudah balikan lagi sama mas Hazar, ya?"
"Kenapa nanya begitu? kamu cemburu, ya?" Anisa tertawa kecil menampakkan ginsulnya.
"Enggak, mbak aku tahu diri kok,.mbak. Lagian mbak kan pernah bilang cinta pertamanya mas Hazar. Jadi biasanya cinta pertama sudah untuk di lupakan."
"Tapi bukan untuk yang terakhir." ucap Nisa mantap.
Adit sesaat menoleh. Ucapan Nisa seakan memberinya setitik harapan. Adit yang tadinya sedikit minder kini cerah kembali.
"Mbak Nisa maaf kalau saya lancang. Saya hanya mengutarakan apa yang ada di hati saya. Saya jatuh cinta sama mbak Nisa sejak di vila. Saya bukan mendekati mbak karena kasihan atau apa. Saya hanya lelaki biasa yang hatinya bergetar saat pertama kali mbak Nisa menjadi tahanan pak Rangga." Adit mengeluarkan kotak merah yang sudah dia siapkan sejak enam bulan yang lalu. Mengumpulkan keberanian untuk melamar Anisa. Dia tidak peduli soal status Anisa yang sedang jadi tahanan dan nanti di cap mantan napi.
Adit menggenggam erat jemari Anisa. Dia minta petugas sipir jadi saksi perasaannya. Meskipun dia tahu pasti bakal di tolak Anisa.
"Mbak Nisa, mau menunggu saya empat tahun lagi. Membuka lembaran baru bersama. Menjadi ibu dari anak-anak kita nanti.
Mbak Nisa, Will you marry me!"
"Kamu tidak malu dengan status saya. Saya takut kamu yang malu nantinya. Apalagi kalau kamu sukses nanti."
"Saya enggak peduli dengan apa yang ada di masa lalu mbak Nisa. Saya menerima mbak Nisa apa adanya.
Sekali lagi saya tanya, mau kah mbak Nisa menjadi istri saya?"
"Iya, dit saya mau." Adit langsung memasang cincin lamarannya di jari manis Anisa.
__ADS_1