Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Bagas mau khitan, Ayah


__ADS_3

Hukum khitan bagi anak laki-laki adalah wajib bagi umat muslim. Artinya, hukum khitan bagi anak laki-laki adalah wajib dilakukan. Khitan, atau sunat, adalah proses pelepasan kulit yang ada di ujung *****. Dalam masyarakat kita, khitan biasa dilakukan ketika seseorang masih berusia anak-anak, atau saat duduk di bangku sekolah dasar, sekitar usia 6 sampai 10 tahun.


Dari sisi medis, ada banyak manfaat berkhitan, di antaranya mencegah terjadinya penyakit seksual menular, mencegah infeksi saluran kemih, mencegah penyakit pada *****, dan membantu menjaga kesehatan *****.


Sore itu di apartemen Rangga, Laras baru saja selesai memasak bubur kacang hijau. Semua yang ada di ruang televisi pun menunggu masakan koki terbaik mereka.


"Buburnya masih panas." sahut Laras.


"Enak yang anget anget, sayang." sahut Rangga.


"Ya, sabar tunggu anget turun sedikit. Yang ada lidahnya angus nanti." ucap Laras.


"Iya, sayang" Rangga menowel hidung Laras.


"Mas, aku mau ngomong?"


"Soal?"


"Bagas mau minta sunat." atensi keduanya beralih ke Bagas yang asyik main PlayStation.


"Benar, Gas, kamu mau sunat?" tanya Rangga.


"Iya, yah," Jawab Bagas tanpa menoleh kearah kedua orangtuanya.


"Bagas, kalau ayah ngomong mainannya di matiin dulu. Nggak sopan ngomong sama orangtua sambil main." tegur Laras.


Mendengar teguran sang bunda, Bagas pun mematikan mainannya. Lalu Rangga meminta Bagas duduk di tengah keduanya.


"Bagas, mau sunat?" Rangga mengulangi ucapannya.


"Iya, yah."


"Kenapa?" tanya Rangga.


"Bagas mau sholat di dekat ayah biar khusyuk." jawabnya malu-malu.


"Tanpa sunat pun Bagas bisa kok sholat di dekat ayah."


"Kan katanya lelaki sejati itu sholatnya di mesjid, yah. Kalau Bagas di samping ayah pas sholat di rumah kan nggak boleh."


"Kata siapa?" tanya Laras.


"Kata pak ustadz di sekolah Bagas. Kan nggak boleh sholat di samping imam. Harus sejajar sama makmum. Kan makmum di rumah ya sama bunda."

__ADS_1


"Ya Allah anakku sudah besar." Laras dan Rangga memeluk Bagas bersamaan.


"Jadi Bagas boleh sunat kan, ayah. Bunda." Keduanya mengangguk mengiyakan keinginan Bagas.


"Hore, Bagas mau di sunat."


"Mas, bagaimana kalau sunatnya barengan sama Saddam." usul Laras.


"Emang kapan Sadam mau sunat?"


"Kata Eva Jumat besok sudah sholat Jumat."


"Boleh juga, biar Bagas ada temannya. Tapi bukannya Saddam masih tiga tahun, apa nggak terlalu dini?"


"Entahlah, mas. Dulu Adul juga sunat pas kami belum masuk TK."


"Ehmmmm..."


"Kenapa, mas?"


"Nggak apa-apa." Rangga menjulurkan tangannya di belakang pundak Laras.


"Ih, mas genit. Malu sama Bagas." Laras kaget Rangga menowel pundaknya.


Akan tiba waktunya anak laki-laki tiba-tiba minta sunat ketika teman-teman sekelasnya sudah mulai banyak yang memasuki fase itu. Sunat atau khitan seolah menjadi prestige anak laki-laki pada umumnya, saat memasuki usia kurang lebih 10 tahun.


Sunat dapat menurunkan risiko infeksi saluran kemih. Selain memberi perlindungan terhadap kanker *****, sunat juga dapat mengurangi risiko kanker serviks pada pasangan, dan masih banyak lagi keuntungan lain dalam hal medis.


Setelah berdiskusi keduanya sepakat akan mengikuti keinginan putra semata wayangnya untuk sunat. Rangga dan Laras pun mendaftarkan Bagas di puskesmas dekat rumah Laras. Mereka pun sepakat mengadakan syukuran di rumah ibu Mala. Sekalian syukuran atas kembalinya rumah orangtuanya.


Beberapa hari kemudian Laras dan Rangga mengantarkan Bagas ke puskesmas dekat rumah orangtuanya Laras. Bagas begitu bersemangat saat memasuki puskesmas. Tak ada rasa takut pada anak itu. Padahal sebagian anak sudah ada yang menangis. Ada pula orangtua yang masih membujuk anaknya untuk masuk ke area puskesmas.


Baik Laras ataupun Rangga sudah beberapa kali menanyakan kemantapan Bagas. Tetap tidak menggoyahkan.


"Bagas yakin mau sunat?" itu yang Laras tanyakan sebelum mereka berangkat ke Ciracas.


"Yakin, bunda." Bagas menjawab dengan mantap.


"Alhamdulillah, ya, nak. kalau Bagas sudah mantap sunat. Sunat itu wajib untuk laki-laki. Itu tandanya kalau sudah sunat Bagas harus bisa mengerjakan sendiri. Seperti misalnya Bagas sudah tahu jadwal sholat tanpa bunda suruh. Bagas tahun besok sudah bisa berpuasa, meskipun kemarin Bagas sudah bisa berpuasa."


"Iya, Bagas nggak akan bolong sholatnya. Nggak kayak Yusuf masih bolong sholatnya."


"Bagas, jika Bagas mau disunat, artinya Bagas harus membuang sifat buruk dalam diri kita. Salah satunya tadi, Bagas menceritakan soal Yusuf. Itu sama saja dengan ghibah, nak."

__ADS_1


"Iya, bunda. Maaf."


"Yuk kita turun. Kasihan ayah sudah menunggu di mobil."


Setelah sampai di puskesmas. Bagas dulu dikursi paling depan. Tampak dia sangat bersemangat untuk mengikuti khitan. Laras memandang putranya dengan bangga. Karena dia pernah baca, kalau membujuk anak untuk di khitan harus bicara yang manis. Karena nantinya akan jadi motivasi buat anak agar tidak takut.


Tampak Sofia memegang kertas absen. Tentu saja dia akan memeriksa anak-anak yang di khitan sudah ada di lokasi apa belum. Laras berjalan ke arah Sofia, wanita 26 tahun itu menyapa wanita yang sudah seperti kakaknya sendiri. Keduanya asyik berbincang-bincang seputar kabar masing-masing. Walaupun Laras sering bolak-balik Ciracas.


"Kak, maaf, aku mau titip Bagas dulu. Soalnya aku mau ngecek ibu-ibu yang masak dirumah." kata Laras.


"Ah, Iya kalian mau bikin syukuran kan? Alhamdulillah ya, Ras akhirnya rumah itu kembali ke pemiliknya. Soalnya warga sini sudah gerah saya yang nempati."


"Kenapa, kak Sofia?"


"Loh, kamu nggak tahu kalau rumah itu jadi tempat ajip-ajip."


"Ajip-ajip? apa itu, kak?"


"Tempat bebas malam."


"Ya Allah, kok bisa. Kata mertuaku yang menunggu orang baik."


"Beda dengan yang menunggu sebelumnya, Ras. Makanya kata aku bagus kalau diadakan pengajian. Biar buang sial."


Laras akhirnya meninggalkan puskesmas. Rumah Laras dekat dengan puskesmas jadi tinggal jalan tanpa kesulitan dengan tanjakan. Beda dengan rumah Eva yang harus melalui tanjakan tinggi.


Sementara Eva pulang ke rumah sebentar untuk menitipkan Saddam. Rencana Eva buat menyunatkan Saddam gagal karena anaknya sudah ketakutan melihat benda tajam di ruang sunat. Dan rencananya untuk dapat amplop dari warga pun otomatis gagal. Tadi nya Eva dan suaminya mau khitankan Saddam agar dapat amplop sumbangan dari warga buat modal acara ulangtahun Saddam hari minggu besok.


Sementara Laras sudah tiba di rumah orangtuanya. Semua yang ada disana sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Beberapa ibu-ibu berkutat di dapur mempersiapkan bumbu. Rencananya mereka akan masak nasi kuning beserta lauk pauknya. Tidak ketinggalan bolu dan aneka macam kue-kue untuk tamu undangan.


Laras yang baru sampai tidak langsung duduk saja. Dia juga terjun langsung ke dapur membantu para ibu-ibu disana. Salah satu ibu yang sepantaran ibunya Laras meminta Laras untuk fokus ke Bagas saja. Tentu saja Laras menolak. Dia tidak mau dianggap bertopang dagu. Apalagi Bagas sudah dia titipkan pada Sofia.


Sementara Rangga juga sibuk bersama para bapak-bapak. Mempersiapkan tempat untuk dan ruangan untuk tamu laki-laki. Rencananya tamu laki-laki di luar sementara para ibu didalam.


"Alhamdulillah, ya, Ras. Akhirnya rumah ini kembali ke kamu." ucap Nindy saat menyambangi Laras di dapur.


"Iya, Ndy. Alhamdulillah. Ini semua berkat doa kalian. Kalian yang selalu menjadi penguat aku."


"Jadi kamu mau adakan pengajian khitanan Bagas."


"Iya, Ndy. Sekalian sama syukuran rumah. Itu sudah nazar mas Rangga."


"Oh, ya aku daritadi nggak ngeliat Eva. Apa masih di puskesmas kali ya?"

__ADS_1


"Eva sudah pulang tadi, Ras. si Saddam nangis pas mau di khitan. Lagian Eva aneh, anak sekecil itu di suruh khitan. Khitan itu harus keinginan anak itu sendiri. Bagas di khitan bukan kalian kan yang minta?"


"Justru saat mendengar Saddam mau di khitan dan pake pesta yang membuat Bagas semangat di khitan."


__ADS_2