
Kita bisa bersinar melalui setiap pilihan hidup yang kita buat dalam hidup. Baik dalam hal pendidikan, karier atau pekerjaan, dan pilihan soal impian serta cita-cita. Setiap perempuan bisa menjadi sosok tangguh melalui setiap pilihan hidup yang diambil.
Semua pilihan mempunyai risiko yang harus dinikmati oleh seseorang. Baik itu risiko yang buruk atau baik yang datang. Terlebih lagi bagi seorang perempuan yang mempunyai pekerjaan bagus, karier yang meningkat dan jaringan yang mulai tertata. Namun, memutuskan untuk resign dan memilih tinggal di rumah saja, menjadi istri dan ibu bagi keluarga adalah sebuah langkah berani.
Setelah sholat malam satu jam menjelang subuh. Laras membereskan dapur, menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya. Karena pagi ini dia akan datang ke kantor mengajukan pengunduran diri. Bukan mudah memutuskan untuk resign.
Setelah renungan di rumah Sasti waktu itu, Laras banyak memikirkan dirinya yang tak luput dari keras kepala. Bahkan dia pun menyadari kalau puncak permasalahan semua ini adalah dirinya.
"Ina saja tahan banting saat dia dan Alam banyak di tentang. Sampai kabur dari rumah, sampai alam di penjara. Tapi akhirnya perjuangan mereka berbuah manis.
Bodohnya aku tidak belajar dari Ina. Bahwa usaha tidak mengkhianati hasil.
Aku jadi rindu sama Ina. Biasanya padanya aku tumpahkan segala isi hatiku padanya."
Setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga. Meskipun ada Ajeng yang mengerjakan semuanya. Laras tetap memasak untuk anak dan suaminya. Karena baginya itu adalah kewajiban ibu dan istri.
Azan subuh berkumandang setelah Laras menyelesaikan semua pekerjaannya. Dia bangkit mengambil air wudhu. Tadinya dia mau membuka pintu gorden, tapi di urungkannya. Melihat di luar sana masih gelap.
Tempat tinggalnya berada di pinggir kota. Dimana kalau malam hanya bisa melihat kelap-kelip lampu mobil dari atas. Dulu saat baru menikah dan di boyong Rangga ke apartemen. Dia sering melihat pemandangan tersebut. Apalagi kalau Rangga ada lembur dan pulang malam. Pemandangan itu bisa menjadi hiburan tersendiri.
"Mas bangun sholat subuh." Laras membangunkan suaminya yang masih terlelap.
"Hoaaaam, jam berapa, sayang?" Rangga masih mengumpulkan nyawanya.
"Sudah setengah enam. Katanya mau antarkan aku ke kantor."
"Astaga... kenapa tidak bangunkan aku?" Rangga terlonjak kaget.
"Maaf, mas. Kamu tadi nyenyak banget tidurnya. Nggak tega aku bangunkan. Apalagi setelah tadi malam."
__ADS_1
"Ehmmm .... kenapa tadi malam? tabungannya kurang?" Rangga menggoda istrinya.
"Apaan sih, Mas. Sudah kamu mandi sana, mas. Aku mau mengecek Bagas. Sudah bangun apa belum. Biasanya dia jam segini sudah bangun sholat subuh." Rangga menahan tubuh istrinya. Kali ini Laras sudah diatas paha Rangga.
"Mas, aku sudah mandi. Jangan aneh-aneh." Rangga tertawa melihat wajah Laras yang masam. Rangga melepaskan tangannya yang membelit pinggang Laras.
"Bunda," suara Bagas terdengar di depan pintu.
Laras dan Rangga membuka pintu kamar mereka. Melihat sang putra sudah berpakaian muslim lengkap dengan pecinya.
"Bagas sudah sholat subuh?"
"Sudah bunda. Bagus ini baru anak bunda dan ayah."
"Bunda, apakah hari ini sudah boleh masuk sekolah. Bagas bosen di rumah terus."
"Maaf, nak. Hari ini kamu belum bisa masuk sekolah. kondisi tubuhmu belum sembuh. Besok saja, nak." Bagas hanya menunduk lesu. Rangga merasa tidak tega melihat reaksi Bagas.
"Nggak, mas. Bagas masih lemas dan pucat. Nanti kalau sudah benar-benar sehat dia baru masuk sekolah." Jawab Laras dengan mantap.
"Bunda sejak tinggal disini cerewet sekali." keluh Bagas.
"Dulu, dia ada secerewet ini, gas?" tanya Rangga.
"Enggak, yah. Bunda dulu lembut. Jarang marah. Sekarang semenjak ketemu ayah bunda cerewet sekali. Sama cerewet dengan bibi Eva." jawab Bagas.
"Sudahlah, mas. Kamu siap-siap, aku mau ke kantor. Oh ya aku sudah masak. Mas sarapan saja duluan." Laras berjalan mendahului suaminya. Bukan dia tak mau sarapan bareng suaminya. Tapi setelah memasak Laras sudah merasa lapar. Hingga akhirnya dia makan duluan.
......................
__ADS_1
Di perusahaan PARMALEX Corps.
Jihan mengadakan rapat untuk membahas masalah perusahaan musuhnya. Bagi Jihan, Laras itu sudah termasuk pengkhianat, tanpa memberikan kesempatan pada orang lain untuk berbicara Jihan sudah membuat keputusan sendiri.
Sasti yang mendengar hal itu tentu saja kaget. Dia yakin Laras bukan seperti itu. Dia mengenal Laras yang masih jualan pecel sambil kuliah, sambil momong anak, juga hidup tanpa suami. Sasti yakin Jihan salah paham. Dia memberanikan diri menemui Jihan untuk menjelaskan semuanya.
"Maaf, Bu. Bisakah kita bicara?"
"Silahkan," Jihan menyilahkan Sasti duduk di ruangannya.
"Kamu mau bicara apa?"
"Saya mau bicara soal Laras, Bu." jawabnya takut-takut.
"Apa informasi terbaru tentang Laras?" Sasti melihat guratan wajah Jihan tampak datar. Tak ada Jihan yang ramah seperti biasanya.
"Maaf, saya harus menjelaskan duduk permasalahannya yang sebenarnya. Kalau Laras bukan pengkhianat seperti yang anda tuduhkan. Saya kenal Laras sejak masih kuliah. Laras tinggal di kontrakan kecil hanya berdua dengan Bagas. Saat itu suaminya habis kecelakaan dan koma. Dia berjuang sendiri membesarkan Bagas."
"Keren sih ceritanya. Pintar kamu ngarang, kamu tahu siapa suami Laras, Rangga Baratayudha, putra dari pengusaha sukses, Donal Pattimura. Kamu tahu kalau keluarga itu adalah musuh perusahaan kita. Dan sekarang dia masuk ke perusahaan kita. Untuk apa lagi kalau bukan untuk menyusup dan menghancurkan perusahaan."
Sasti masih belum paham dengan sikap Jihan. Ada helaan nafas berat dari bibir wanita muda itu. Dia sudah menjelaskan yang sebenarnya. Tapi sepertinya atasannya masih di tutup mata hatinya.
"Saya tidak mengarang, Bu. saya mengatakan yang sebenarnya. Laras tidak seperti yang ibu tuduhkan. Dia bukan pengkhianat, dia bekerja disini untuk memenuhi kebutuhan anaknya. Dia bertemu suaminya juga baru satu minggu ini,Bu." Sasti masih berusaha menyakinkan Jihan.
"Kamu segitunya membela Laras. Di bayar berapa kamu? kalau kamu masih membela si pengkhianat itu. Kamu akan saya pecat!" ancam Jihan.
"Ibu, mau pecat saya, silahkan! dengan senang hati saya akan hengkang dari perusahaan ini. Saya tidak takut, karena rezeki saya sudah ada yang mengatur. Permisi!" Jihan terdiam mendengar ucapan Sasti. Sebegitunya Sasti membela Laras. Namun sisi lainnya mengatakan rasa kecewanya pada Laras.
"Assalamualaikum," sebuah sapaan terdengar di depan pintu ruangannya.
__ADS_1
Seorang wanita datang mendatangi Jihan. Wanita itu tidak sendiri, dia datang bersama seorang lelaki.
"Bu, Jihan," sapa wanita itu.