Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Rencana Mila


__ADS_3

Jam kerja telah berakhir. Sebenarnya untuk seorang dokter tidak akan ada habisnya. Dimana seorang dokter di tuntut harus selalu siaga dalam 24 jam. Tapi saat ini Mila memang sudah selesai praktiknya. Wanita itu membereskan barang-barangnya karena sudah waktunya pulang. Netranya melirik jam tangannya. Sudah menunjukkan pukul 19:00. Sudah waktunya menjemput Bagas di rumah sakit.


Mila berjalan meninggalkan rumah sakit tempat kerja barunya. sudah satu bulan dia bekerja di rumah sakit swasta salah satu pusat kota Jakarta. Kebetulan masa kontraknya di puskesmas memang sudah habis. Beberapa suster menyapanya dengan ramah.


"Kak Mila?"


Seorang lelaki menyapanya dari jauh. Mila merasa suara itu terdengar sayup memanggilnya.


"Kak Mila," lagi-lagi sapaan itu terdengar jelas.


"Fadli?"


"Iya, kak. aku Fadli." Lelaki itu cengengan saat Mila tak lepas menatapnya.


"Aku tahu kak Mila mau mengakui ketampananku." kata Fadli penuh percaya.


"Heuuuh, kamu masih bocil, dli."


"Kak, umurku masih tiga puluh tahun. Bukan bocil lagi." protes Fadli tidak terima di panggil bocil.


"Terus kenapa belum menikah sampai sekarang?"


"Ya, karena aku mau menjalani wasiat suami kakak." jawabnya enteng.


Mila terdiam. Memang beberapa tahun yang lalu sebelum suaminya meninggal, dia sempat sadar dari komanya. Namun yang mengejutkan suaminya meminta Fadli, sang adik menggantikan dirinya. Tentu saja Mila saat itu menolak karena usia Fadli sangat muda.


"Tidak baik menyepelekan amanat." jawabnya dari jauh.


Mila tiba di rumah sakit mendapati Bagas sudah tertidur di pangkuan Laras. Wanita usia 40 tahun tersebut duduk di samping Laras. Laras pun senang kalau Mila masih mau menampung anaknya.


"Terimakasih kak Mila, masih mau menampung anak saya di rumah anda. Saya tidak tahu lagi kalau menitipkan dengan orang lain. Anda memang orang baik. Saya tidak tahu bagaimana membalas semua kebaikan anda selama ini."


Mila tersenyum kecil. Dalam hatinya senang sekali dengan pujian yang di lontarkan Laras. Rasanya dia mau mengatakan kalau keinginannya cuma satu yaitu Rangga. Namun, masih bisa di tahannya.

__ADS_1


"Laras, kamu kok ngomong seperti itu. Kamu tahu kan kalau aku suka anak kecil. Bagas itu mengingatkan aku pada Chelsea, mendiang anakku. Makanya aku sayang sekali sama Bagas. Dan kamu, kamu itu sudah seperti adikku sendiri. Bukan orang lain lagi, semua


yang aku lakukan ikhlas." Laras memeluk Mila penuh haru. Dimatanya Mila itu, malaikat yang di kirimkan untuknya.


"Apa yang terjadi hari ini?" tanya Mila sambil mengupas buah jeruk.


Laras menghela nafas panjang. Di tatapnya Bagas yang masih tertidur pulas. Tangannya membelai pucuk rambut plontos Bagas.


"Tadi, mama mertuaku datang. Dia melabrak aku karena suamiku datang ke sini. Aku senang, kak kalau mas Rangga mau datang. Aku mau memperkenalkan Bagas sama dia. Tapi semua runyam, kakak tahu sendiri kan? kalau Bagas takut lihat orang marah-marah. Dan itu terjadi saat mama mertuaku datang membentak-bentak. Sepeninggalan mereka Bagas terlihat terguncang hatinya. Saya takut kak, sebegitu parahnya psikologis Bagas. Padahal selama ini saya tidak pernah bicara kasar ataupun membentak Bagas."


Mila menyinggungkan senyum penuh arti. Tangannya terus mengupas buah dengan tenang. Karena dia yakin keberuntungan sedang ada di pihaknya.


"Maaf, Ras. Tapi dia memang pernah di bentak sama warga dekat rumahmu. Hanya karena Bagas mau main sama anaknya. Dia melarang Bagas bergaul karena status Bagas. Aku rasa itu yang membuat Bagas trauma. Kamu tidak tahu kan, Ras. Karena kamu sibuk bekerja."


Laras menunduk lemas. Dia sadar waktunya berkurang untuk Bagas sejak bekerja. Namun kalau tidak kerja mereka makan apa? semakin bertambah usia Bagas, kebutuhan ekonomi semakin tinggi.


Mila menggendong bagas untuk di bawa pulang ke rumahnya. Laras terus menghanturkan ucapan terimakasih pada Mila yang jasanya sangat besar. Dia senang ada orang baik yang meluangkan waktunya untuk mereka.


Suara decitan pintu terdengar, tampak sosok lelaki besar tinggi membawa koper. Mila terpaku melihat lelaki itu muncul di hadapannya. Lelaki yang menjadi incarannya selama ini. Sosok itu berjalan melewati Mila. Seakan menganggap Mila itu tak terlihat. Dia langsung menghambur ke arah Laras. Memeluk wanita yang masih menjadi istrinya. Darah Mila berdesir melihat semua itu. Tangannya mengepal erat.


"Mas," Laras tercekat ketika Rangga memeluknya.


"Ras, aku tidak akan pergi kemana-mana lagi. Aku akan disini bersama kamu dan Bagas. Kita akan berkumpul bersama lagi. Seperti dahulu, sebelum kecelakaan itu."


"Tapi, bagaimana dengan mama Raya? apa dia tahu kamu disini? aku nggak mau cari masalah sama dia."


"Aku tidak peduli, Ras. Kalau pun dia mencabut statusku sebagai anak. Aku tidak peduli semua itu. Yang aku pedulikan kamu dan Bagas."


"Jangan gitu, mas. Apapun yang terjadi dia itu mamamu, yang melahirkan kamu, mas. Selesaikan urusan kamu dan mama Raya. Aku tidak ingin membuat dia semakin membenciku."


Rangga menoleh ke arah Mila. Lelaki itu mengambil Bagas dari gendongan Mila. Tentu saja Mila kaget, karena jika dia membawa Bagas, maka Laras akan semakin berhutang budi padanya. Mila pamit meninggalkan Laras dan Rangga. Hatinya kacau, rencananya gagal.


"AAAAARGG!" amuknya di dalam mobil.

__ADS_1


"Kenapa Rangga harus muncul! padahal sedikit lagi aku bisa mengambil hati Laras. Kalau Laras semakin merasa jasa baikku, semakin mudah buat mempengaruhi dia meninggalkan Rangga. Tapi kenapa malah Rangga yang muncul."


Mila terus berpikir bagaimana caranya bisa memisahkan Rangga dan Laras. Obsesinya terhadap Rangga mulai menguasai dirinya. Dia lupa kalau mamanya sudah tidak mendukung hubungan dirinya dan Rangga.


Entah kenapa dia malah teringat Raya. Mengadukan soal Rangga yang mendatangi Laras barusan. Sama seperti saat Raya melabrak Laras siang tadi.


klik


"Apaaa! Rangga sekarang di rumah sakit!" Raya menerima telepon dari seseorang yang melaporkan Rangga ada di rumah sakit.


"Iya, dia sama anak dan istrinya." ucap si pemilik suara tersebut.


Raya menutup teleponnya. Langkahnya beralih ke suaminya yang sedang menelepon seseorang. Tampak guratan serius di wajahnya. Raya yakin suaminya pasti membahas masalah Rangga yang tidak datang ke Lombok.


"Pa,"


Donal hanya menatap Raya sekilas. Lalu kembali fokus dengan gawainya. Raya pun mendekati suaminya di tepi ranjang. Dia tidak enak karena Rangga sudah membatalkan pertemuan di London. .


"Ma," Donal kaget melihat Raya memegang tangannya.


"Maaf, pa. Rangga sepertinya..."


"Aku tidak pernah minta Rangga untuk ke Lombok. Sejatinya sudah ada Teuku yang berangkat menggantikanku. Barusan Rangga menelepon katanya tidak bisa pergi ke Lombok karena sudah menemukan Laras. Kamu kenapa sih, ma? ngambil keputusan sendiri."


*


*


*


Selamat pagi semoga yang ada disini di berikan kesehatan serta rezeki yang melimpah.Terimakasih masih bertahan membaca karya recehku.


Hari ini masih menunggu up yang review semalaman. Semoga bisa lolos review-nya.

__ADS_1


__ADS_2