
Beberapa jam sebelumnya
Laras dan Rangga sudah tiba di depan apartemen mereka. Ada lega dalam hatinya karena sudah bisa resign. Walaupun dia tahu perpisahannya di kantor itu berakhir tidak mengenakkan. Rangga memandang Laras masih terdiam di dalam lift. Dia tahu perasaan istrinya saat ini. Lelaki itu menggenggam erat tangan Laras. Harapannya satu, bisa mengobati kegundahan istrinya.
"Aku tahu perasaanmu, Ras. Tapi percayalah, setiap apa yang terjadi dalam kehidupan memiliki hikmah tersendiri. Mungkin kalau kamu tidak resign dan statusmu sebagai istriku ketahuan, akan ada prahara di perusahaan itu. Memperunyam keadaan.
Kedua, aku sudah dengar dari beberapa orang tentang pertumbuhan Bagas. Dan maaf, sepertinya Bagas punya sifat sensitif apapun bentuknya. Jadi aku harap dengan resign-nya kamu, bisa memperbaiki hubungan kamu dan Bagas. Bisa membuat Bagas sedikit terbuka. Dia itu sepertinya tertutup sekali."
Laras menunduk dia sadar kalau selama ini lalai dalam mendidik Bagas. Keinginannya untuk mencukupi kebutuhan anaknya. Sampai lupa dengan psikologis putranya. Dia lupa Bagas bukan hanya butuh materi tapi juga kasih sayang penuh. Kata maaf pun terucap dalam hatinya. Orang-orang di sekitarnya saja tahu bagaimana karakter Bagas. Kenapa dia malah tidak terpikirkan kesana.
"Maafkan aku, mas. Aku salah, selama ini aku hanya berpikir bagaimana menghidupi Bagas. Selama ini aku hanya memikirkan bagaimana membuat Bagas bahagia dalam hal materi. Aku lupa Bagas juga butuh kasih sayangku sepenuhnya. Meskipun aku sudah berusaha memberikan kasih sayangku." ucap Laras.
"Sudahlah, Ras. Yang lalu biarlah berlalu. Ambil hikmahnya, kalau selama ini kamu melakukan hal itu juga untuk kepentingan Bagas. Aku juga salah, telah lama meninggalkan kamu dan Bagas. Sehingga membuat kamu jadi harus menjadi tulang punggung buat Bagas. Maafkan keluargaku yang sudah buat kamu seperti ini."
Rangga mengusap wajah istrinya penuh cinta. Tatapan keduanya pun semakin intens. Belum sempat Rangga menikmati bibir Laras, pintu lift terbuka. Kedua nya menjarak karena ada beberapa orang yang akan masuk ke lift. Laras dan Rangga keluar dari lift. Berjalan sepanjang koridor gedung apartemen menuju kediaman mereka.
Laras menyelipkan tangannya di sela lengan suaminya. Mereka berjalan menuju kediaman yang tinggal beberapa langkah lagi. Rangga melemparkan senyuman kearah istrinya. Sambil memencet nomor kode pintu, sebelah tangannya mengusap jemari istrinya.
Pintu terbuka dengan sendirinya. Mereka di sambut dengan muka kecut Ajeng. Laras tak terlalu memperhatikan reaksi Ajeng. Dia langsung memasuki kamar putranya.
"Bagas, sayang.Bunda belikan martabak coklat kesukaan kamu." Panggil Laras hendak memasuki kamar Bagas.
"Maaaaassss..." Pekik Laras.
"Iya, sayang." Rangga berlari kearah kamar putranya.
"Bagas nggak ada! aku sudah cari tapi nggak ada."
"Maaf, Bu Laras. Den Bagas di bawa sama nyonya besar." kata Ajeng.
__ADS_1
"Maksud kamu sama mama?" tanya Rangga.
"Iya, pak. Di bawa sama nyonya besar dan Bu Mila." jawab Ajeng.
"Mila!" jawab mereka serempak. Ajeng mengangguk kecil.
Ini yang Rangga takutkan. Dimana ada Mila di sekitar mamanya. Padahal dia sudah ultimatum wanita itu untuk tidak usah ikut campur urusan rumah tangganya. Tapi sepertinya Mila susah dikasih tahu. Rangga mengepalkan tangannya, dia pamit akan menjemput Bagas.
"Mas," Laras menahan suaminya.
"Iya,"
"Tidak usah di labrak, Mas. Biarkan mama dan Bagas saling dekat. Aku rasa ini waktu mereka saling buka hati. Aku nggak mau di cap memisahkan hubungan nenek dan cucu. Aku nggak masalah dia masih membenciku. Tapi tidak ada Larangan untuk Bagas untuk dekat neneknya. ibarat kata ini adalah quality time mereka."
"Kamu yakin? bagaimana kalau Mila menyakiti Bagas. Aku sudah tidak percaya lagi dengan dia sejak kejadian di cafe itu."
Laras masih mencoba meyakinkan suaminya.
Bagi Laras, jika dia datang mengambil Bagas ke rumah mertuanya, berarti apa bedanya dia dengan Raya. Kalau api bertemu dengan api, maka tidak ada yang mencoba memadamkannya. Dia akan berusaha menjadi tetesan embun yang menyejukkan dan menenangkan.
"Aku tahu mama Raya sebenarnya orang baik. Kalau dia tidak baik, dia tidak akan membawa aku ke rumah ini. Kalau dia tidak baik, mana mungkin dia mau menjodohkan anaknya yang tampan dan sukses dengan OB seperti aku.
Hanya saja saat ini hati mama Raya sedang tidak baik-baik saja. Apakah aku harus memusuhinya? tidak, Mas. Aku hanya berusaha menjaga jarak padanya setelah semua yang terjadi. Akan ada momen dimana aku dan mama Raya bisa saling berpelukan sebagai ibu dan anak."
"Kamu tidak benci mamaku?" Laras menggeleng.
"Kan sudah aku bilang tadi, aku tidak benci mama Raya. Hanya saja saat ini aku belum bisa mendekatkan diri dengannya.
Satu pesanku, Mas. Apapun yang terjadi kamu jangan ikut membenci mama Raya." ucap Laras sembari menyelipkan tangannya di pinggang suaminya.
__ADS_1
Cup!
Rangga takjub mendengar ucapan istrinya. Tidak disangka Laras malah menanggapi dengan pemikiran positif. Tadinya dia ingin mengambil Bagas dari rumah mamanya. Mengingat sang mama membawa Bagas tanpa izin.
"Kamu memang istriku. Istri kesayangan Rangga Baratayudha. Mama memang tidak pernah salah memilih untuk anaknya. Ya, meskipun aku tahu kalau mama sedang berada di jalan yang tidak lurus."
Rangga merasa ponselnya bergetar. Lelaki itu langsung berjalan menjauhi Laras. Tentu saja dia tidak mau Laras tahu rencananya. Bukan bermaksud tidak jujur, tapi ada momen yang akan dia ungkapkan.
Matanya menyorot nama Adit tertera di ponsel.
Kenapa bisa seperti itu!"
"Sepertinya ini rencana mereka, pak. Karena asal api dari kamar mereka." Jawab Adit.
"Saya tidak mau tahu! Pokoknya cari mereka, jadi hukuman mereka jadi bertambah satu. Yaitu membakar rumah orang. Saya pastikan mereka akan mendapatkan hukuman berat."
Rangga mengacak rambutnya. Terbayang rencananya bakal gagal kalau mereka kabur. Lelaki itu masih menunggu kabar dari anak buahnya. Namun, dia memilih mendatangi markas baru.
"Bagaimana aku menjelaskan pada papa Donal soal vila yang terbakar!"
Rangga mengambil kunci mobil. Dia akan menemui ketiga wanita tawanannya. Dia akan menyelesaikan urusan ini sendiri. Apalagi terkait dengan masa lalu istrinya.
"Mau kemana, mas?" Laras melihat suaminya mengambil jaket.
"Aku ada urusan sebentar. Kamu dirumah saja."
"Mas, kalau kamu lama. Antarkan saja aku ke tempat mama Raya. Aku mau menemani Bagas. Walaupun aku harus berhadapan dengan mama Raya. Apalagi kondisi Bagas tidak fit, rasanya aku tidak tega membiarkan mama di repotkan." Rangga tersenyum mendengar ucapan istri.
"Oke, kita ke rumah mama."
__ADS_1