
Siang ini udara tampak terik. Tak seperti beberapa hari yang lalu kota Jakarta selalu di guyur hujan. Langit bukan hanya cerah, melainkan matahari yang mengerahkan tenaganya untuk menyinari bumi. Serasa matahari sedang dekat dari bumi, sehingga tercipta udara yang bisa memanggang tubuh. Bahkan ceplok telor di tengah matahari pun bisa dilakukan.
Rangga berdiri di depan kaca ruang kerja. Nampak aktivitas warga Jakarta sangat padat. Dari atas terlihat mobil memadati jalanan. Bahkan tidak ada celah untuk motor lewat.
Matanya melirik arloji yang ada di pergelangan tangan. Terdengar helaan nafas karena waktu masih terasa sangat lambat. Rangga kembali duduk di meja kerjanya. Memeriksa berkas yang menumpuk di meja.
Ting!
"Rangga, kamu ingin tahu kan tentang Laras selama ini. Aku bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi." pesan dari Camila yang masuk ke ponselnya.
"Ceritakan saja di sini." jawab Rangga tegas.
"Tidak bisa. Banyak yang harus aku ceritakan. Aku ingin kita bertemu di cafe Great. Kamu tahu kan cafe itu?" pesan Mila.
"Iya, aku akan segera kesana. Tapi aku harus jemput Bagas dan janjian makan siang sama Laras. Jadi nanti saja, kalau memang urgen." Rangga masih berusaha menolak ajakan Mila.
"Terserah kamu! apa susahnya kamu datang dan bicara sama aku, Ga. Kamu takut sama Laras. Laras nggak akan marah, dia sangat menghormati aku. Jadi kamu tenang saja." Mila terdengar ngotot.
Rangga menutup teleponnya. Dia sedikit heran kenapa Mila begitu ngotot ingin bertemu. Alasannya karena ingin membicarakan soal Laras. Sangat aneh kedengarannya. Namun di tepisnya dugaan itu. Rangga kembali fokus dengan pekerjaannya meskipun pikirannya bercabang.
"Rangga," sapa Donal saat melihat putra sambungnya berjalan di lorong kantor.
"Iya,pa."
"Papa mau bicara penting, bisa?" Rangga mengiyakan permintaan Donal. Mereka masuk ke dalam ruang kerja Donal.
"Papa mau bicara apa?" Rangga duduk di sofa ruang kerja papanya.
"Maaf, Ga. Tadi mama menitipkan pesan pada papa agar kamu segera mengajak Laras pulang ke rumah kita. Mama juga berpesan, kamu menasehati Laras agar berhenti kerja. Mama butuh teman di rumah, kamu tahu sendiri kan, semenjak Oma meninggal Lani mulai menjaga jarak dengan mamamu. Jadi papa harap kamu bisa membujuk Laras pelan-pelan.
Iya, papa paham. Setelah semua yang terjadi Laras pasti belum mau dekat dengan mamamu. Tapi bukannya Bagas bisa dekat dengan Omanya. Bagas bisa merasakan kasih sayang Oma dan opa ya secara utuh."
Papa harap tolong bicarakan baik-baik dengan Laras."
__ADS_1
"Maaf, pa. Mungkin kalau soal resign Rangga pasti bicarakan sama Laras. Tapi untuk tinggal bersama kalian, rasanya Rangga belum bisa memenuhi. Jujur, aku baru tahu kalau Laras masih trauma dengan sikap mama yang dahulu. Meskipun aku sendiri tidak tahu apa yang kalian lakukan pada Laras. Sehingga dia enggan berbaur dengan kalian. Toh apapun keadaannya, di manapun kami tinggal, tidak akan memutuskan tali silaturahmi kami dan kalian.
Tapi untuk saat ini aku menghormati keputusan Laras untuk tidak tinggal disana dulu." jelas Rangga.
Donal menatap anak sambungnya dengan intens. Dia merasa ada benarnya kata Raya kalau Rangga terlalu menurut pada istrinya. Sejatinya seorang istri harusnya ikut kemanapun suaminya tinggal. Tapi dimatanya, wibawa Rangga sebagai kepala rumah tangga turun seketika. Donal saja tidak selamanya terlalu menurut dengan kemauan Raya dan Lani.
"Rangga, kamu itu kepala keluarga. Sebagai pemimpin dalam rumah tangga, kamu harus bisa mengatur istrimu. Bukan di setir sama istri. Maaf bukan papa mau ikut campur dengan urusan kalian. Sebagai orangtua papa cuma mau hubungan kamu dan mamamu masih tetap baik meskipun sudah beristri. Kamu juga harus bisa menuntun istrimu agar lebih mendengarkan orang lain. Jujur, tadi waktu sarapan papa melihat Laras tidak suka dinasehati."
klik
Setelah Laras memaparkan bahan meeting di ruangan. Masih ada beberapa tanya jawab antara anggota terhadap bahan yang di paparkan Laras. Jihan terlihat sangat puas dengan hasil kerja Laras. Wanita 38 tahun itu menyalami Laras sebagai rasa puas dengan hasil kerja karyawannya.
"Kamu keren, Ras. saya suka dengan penjabaran kamu tadi. Tapi bagaimana kamu bisa tahun ada bahan serat lain untuk ketahanan kain." tanya Jihan.
"Dari suami saya, Bu. Dia pernah mengelola perusahaan tekstil milik temannya. Kalau tidak salah nama perusahaannya adalah Hermawan corps." jelas Laras.
"Her...ma...wan corps!" Jihan cukup kaget mendengar nama itu. Pasalnya yang dia tahu itu adalah perusahaan yang di rebut papanya yang bekerja sama dengan om Donal, papanya Rangga.
"Iya, bu. Ada apa? apa ibu tahu perusahaan itu. Kata suami saya itu sudah ganti nama menjadi Boulders corps. Yang di pimpin pak Jonathan Abraham." tambah Laras.
"Namanya...bentar, Bu. Sepertinya saya mengangkat telepon dari suami saya." Laras berjalan menjauh dari Jihan.
"Sayang, kamu masih di kantor," suara Rangga dari seberang sana.
"Iya, mas. Ada apa? oh ya, mas. Maaf aku tidak bisa menemani kamu makan siang. Soalnya masih ada kerjaan yang menunggu. Tidak apa-apa, kan."
"Tuh, kan bahkan untuk quality time kita saja kamu tidak ada waktu. Makanya, Ras, aku minta kamu pikirkan lagi soal resign. Aku tidak mau Bagas jadi terbengkalai karena kamu sibuk kerja."
"Mas, please. Untuk saat ini jangan bahas itu dulu. Aku akan resign kalau urusan pekerjaanku sudah selesai. Aku masih punya tanggung jawab disini. Please ngertiin aku untuk saat ini." mohon Laras.
"Terserah kamu, Ras! oh ya aku nanti yang jemput Bagas ke sekolah." Rangga langsung menutup teleponnya.
Laras mengurut kepalanya. Entah kenapa seharian ini masalah resign menjadi bahan pembicaraan. Masalah yang sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan dimatanya.
__ADS_1
Sasti melihat kegelisahan temannya pun ikut nimbrung.
"Kamu kenapa, Ras?" tanya Sasti.
"Nggak apa-apa, ti. Yuk, kita balik ke ruangan." Laras berusaha bersikap santai di depan rekannya.
"Ras, kamu tidak bisa bohong. Tampak di wajahmu ada beban pikiran yang membelenggu." batin Sasti.
klik
Mila senang saat Rangga menyetujui untuk membicarakan soal Laras. Dalam hal ini dia akan menceritakan bagaimana yang dialami Laras selama ini.
"Bu, apakah anda mau memesan?" tanya seorang waiters.
"Nanti, setelah teman saya datang. Oh ya, saya bisa minta tolong pada anda. Saya akan bayar anda tiga kali lipat dari gaji anda." Mila menyerahkan sebuah botol kepada waiters.
"Tolong bubuhkan ini kedalam minuman kami berdua."
"Maaf... saya tidak bisa melakukan ini. Saya tidak mau menjerumuskan anda dengan dosa. Anda kalau mau seperti ini lebih baik menikah. Jangan anda pikir saya tidak tahu ini obat apa." kata waiters cantik tersebut.
"Eh, kenapa kamu malah menasehati saya. Itu bukan urusan anda. Paham! mau saya punya dosa sekalipun itu bukan urusan anda, nona."
*
*
*
*
Assalamualaikum
Selamat pagi semuanya maaf saya baru up sekarang. Berhubung beberapa saat yang lalu saya sedang liburan bersama keluarga.
__ADS_1
Terimakasih sudah bersedia mampir ke karya recehan saya. Semoga bisa memberikan bacaan manfaat bagi kalian. Saya masih butuh saran dan kritiknya untuk kemajuan tulisan.
Maaf belum ada part darah tingginya. Soalnya fokus dulu keseharian Laras dan Rangga.