
Beberapa saat kemudian Mila melihat Rangga berlari menggendong Bagas. Tampak wajah panik lelaki itu, tak jauh dari Rangga ada raya dan Donal ikut mendampingi.
"Dimana Laras? kenapa cuma mereka yang membopong Bagas?" batin Mila.
"Tante?" sapa Mila.
"Mila!" Raya menghambur memeluk Mila.
"Ada apa, Tante? Bagas kenapa?"
"Bagas demam tinggi, Mila. Tolong selamatkan cucu saya!"
"Iya, Tante, nanti Bagas bakal di tangani dokter sesuai ahlinya. Saat ini Mila nggak bisa bantu Tante."
"Kenapa, nak?"
"Saya di skors karena ada masalah di rumah sakit. Biasalah persaingan antar sesama dokter. Aku yang kena getahnya." kilah Mila.
"Ya Allah, nak. Kamu yang sabar. Seandainya kamu menantu saya kamu nggak akan repot-repot kerja, Rangga pasti bisa bahagiakan kamu." kata Raya.
"Mama...," suara Donal mengagetkan mereka agar bicara lebih jauh lagi.
"Kok cuma bertiga? Laras mana?" tanya Mila.
Raya sedikit menghirup nafasnya. Dia mulai berpikir kalau ini kesempatan membuat nama Laras kembali jelek.
"Itulah, nak. Semalam Laras pergi dari rumah. Karena bertengkar sama Tante dan Rangga membela Tante." Raya memasang muka memelas.
"Kok bisa gitu, Tante."
"Sudahlah, ma. Jangan di bahas lagi, kita tunggu konfirmasi dari Rangga. Lagian mama juga salah, Laras itu masih takut sama kamu. Jangan dipaksa kalau tidak mau tinggal sama kita."
Masih dengan wajah memelas Raya menatap suaminya.
"Mama tidak memaksa, pa. Tapi dia terus mengungkit soal selama lima tahun belakang ini. Mama tahu dulu pernah memberikan luka, kan mama sudah minta maaf. Tapi kenapa dia terus mengungkit hal itu." tangis Raya sambil di tenangkan Mila.
"Papa lihat, dia membuat cucuku demam. Itu karena dia hanya memikirkan diri sendiri." tambah Raya.
"Tante yang sabar, kita pikirkan Bagas dulu. Masalah Laras biarlah jadi urusan belakangan." bujuk Mila.
Sementara Rangga masih terduduk menunggu di depan ruang ICU. Tatapannya memelas kearah pintu ICU. Di dalam sana ada sosok malaikat kecil yang sedang berjuang maut. Rasanya separuh nafas dia hilang ketika melihat tubuh juniornya tak berdaya.
__ADS_1
"Maafkan ayah, nak. Ayah bukan orangtua yang baik buat kamu. Ayah egois karena tidak mencegah bundamu pergi."
"Mas," Rangga mendengar sayup-sayup suara manis yang dia dengar.
Wajah yang sudah sembab dengan air mata berdiri dihadapannya. Tampak pemilik wajah itu ikut bersedih dengan keadaan anak mereka.
"Kamu masih bisa muncul setelah apa yang kamu lakukan pada anakku, Ras. Kamu lihat, ras, kalau saja tidak melibatkan Bagas, semua tidak akan begini." kata Rangga dengan datar.
PLAAAAAK!
"Kamu masih bisa datang setelah apa yang kamu lakukan pada cucuku. Dimana nuranimu, Laras. Kamu boleh marah sama saya atau anak saya. Tapi jangan Bagas jadi korbannya." Raya melepaskan emosinya pada Laras.
Sebuah tamparan keras melayang ke wajah cantik menantunya. Wanita yang berdiri di depan ruang ICU. Untung hanya mereka yang melihat kejadian itu. Kalau mungkin di khalayak banyak, Laras pasti akan bernasib sama dengan Mila.
"Mama paham kalau kamu tidak bisa menerima saya. Mama paham kalau kamu benci sama saya. Tapi kamu sudah membuat cucu saya menanggung semua ini. Egois kamu, Ras!"
"Ma," Rangga menyela ucapan sang mama.
"Maaf, mama juga orangtua, mama juga seorang ibu. Jadi rasanya mama melihat Bagas seakan mengingatkan kamu waktu kecil." kata Raya.
Flashback on
Gerimis seketika menumpahkan air nya dari langit. Bukan hanya itu, kilat dan halilintar berkelebat secara bergantian. Laras terbangun pagi itu, tangannya meraba ke samping kanannya. Merasa ada yang hilang.
"Sastiiiii!" pekiknya.
Tak ada respon dari sang pemilik nama. Sekali lagi Laras memanggil temannya.
"Sastiiii!"
"Iya, Ras. Aku nggak budeg, aku lagi di WC." jawab Sasti dari dalam.
"Bagas hilang, Ti!" pekik Raya.
"Bagas kamu dimana, nak!"
Sasti mendengar suara panik dari luar hanya menepuk jidatnya. Dia baru ingat, tadi malam dialah yang meminta Rangga menjemput Bagas. Bukan mau ikut campur, tapi sepanjang tidur Bagas terus memanggil ayahnya. Itu yang membuat dia termotivasi untuk menghubungi Rangga.
"Ras," Sasti langsung muncul di depan pintu kamar mandi.
"Ti, Bagas hilang! Bagas hilang!" Laras mengguncang tubuh Sasti.
__ADS_1
"Bagas nggak hilang, Ras." Sasti mencoba menenangkan temannya.
"Tapi Bagas nggak ada. Nggak mungkin dia pulang sendiri."
"Ras,"
"Bagas sama ayahnya sekarang. Kamu nggak usah takut."
"Kenapa bisa Bagas sama mas Rangga?"
Lama Sasti terdiam. Dia merasa tidak enak menjelaskan pada Laras kalau Bagas sama ayahnya. Dia juga takut pada reaksi Laras kalau tahu kalau dirinyalah yang membuat Rangga datang menjemput bagas. "Bagas sama kak Rangga, suamimu." Sasti kembali mengulangi penjelasannya.
"Iya, tapi kenapa sampai mas Rangga tahu aku disini? apa kamu yang menghubunginya? JAWAB SASTI!"
"Maaf, Ras. Iya aku menghubungi suamimu supaya menjemput kamu dan Bagas. Aku tidak tega saat Bagas mengigau memanggil ayahnya. Makanya aku berinisiatif menelepon Rangga.Maafkan aku, Ras."
"Lancang kamu, Ti. Kenapa kamu bertindak sendiri tanpa membicarakan padaku. ini urusan rumah tanggaku,Ti. Kamu jangan ikut campur."
Laras mengambil tasnya. Dia kecewa pada Sasti karena bertindak tanpa membicarakan pada dirinya. Dia kecewa pada Sasti karena menyerahkan Bagas pada Rangga. Kalau saja Sasti pamit mungkin dia tidak akan semarah ini.
"Ras," Sasti mengejar Laras yang akan meninggalkan kostannya.
"Ras," Sasti tetap mengejar temannya.
"Apa, Ti? aku mau menyusul menjemput Bagas. Aku tidak mau kalau Bagas diapa-apain sama mama Raya."
"Ya, nggak gini juga, Ras. kalau segala sesuatu di lakukan dengan hati panas yang ada kamu yang sakit. Aku yakin suamimu tidak akan aneh-aneh sama Bagas."
Sasti mencoba menghubungi Rangga hanya untuk membuktikan pada Laras. Dia ingin Laras mendengar sendiri kalau Bagas baik-baik saja.
"Assalamualaikum, kak Rangga."
"Ti, tolong bilang ke Laras kalau Bagas masuk ke rumah sakit." jelas Rangga.
Flashback off
*
*
*
__ADS_1
Sebenernya part ini mengingatkan aku waktu kecil dimana kedua orangtuaku proses perceraian. Kami beberapa kali bergantian diajak mama dan juga papa.
Nggak enak sih, jadi bahan rebutan apalagi adikku belum genap satu tahun saat itu. Makanya cerita ini aku masukkan dalam part ini. Bahkan saking jadi rebutan adikku sempat jatuh sakit.