
Acara makan malam keluarga besar Pattimura akhirnya diadakan di hotel Irene ( Hotel milik keluarga Ine, sahabat mendiang Gita di novel aku, kamu dan dia). Lokasi hotel yang menghadap ke pantai Ancol. Semua keluarga berkumpul di restoran yang di sediakan hotel tersebut.
Ada yang tahu cerita tentang pantai Ancol
Kawasan Ancol dimulai tahap pembangunannya pada tahun 1954. Dimana, pada saat itu, pemerintah DKI kebingungan dengan berbagai keluhan warga soal tempat rekreasi. Jakarta yang penuh sesak pun membutuhkan sarana hiburan. Hingga akhirnya, pemerintah membangun sarana wisata terpadu di sebelah utara Jakarta.
Kawasan ini selesai pada tahun 1968. Tetapi, pada tahun 1966 tempat ini sudah diresmikan sebagai kawasan wisata terpadu. Saat sobat native masuk kesini. Kesan pertama yang akan tercipta adalah keindahan kawasan wisata yang tidak kalah dengan luar negeri.
Bisa dibilang tempat ini juga menjadi idaman, warga Jakarta saat mengunjungi kawasan pantai ancol. Mereka sering kali menggunakan tempat ini untuk foto selfie dan menikmati pasir-pasir pantai. Disini pula dipertunjukkan aksi ski air yang mampu memakau setiap pengunjung yang datang.
Sepasang suami istri datang bersama dua anak lelaki dan perempuan. Senyumnya mengembang saat lelaki paruh baya tersebut menyambut kedatangannya.
"Pak Donal," sapa Toni pada mantan mertuanya.
"Toni, akhirnya kalian datang juga. Papa kira kamu nggak akan mau kesini, Ton."
"Pak Donal, ... eh maaf papa Donal. Kenapa aku tidak mau datang? saya tidak mungkin melewatkan undangan, pah. Suatu kehormatan papa mau mengundang saya." kata Toni.
"Toni, maafkan papa selama ini belum jadi mertua yang baik untuk kamu. Maafkan saya selama ini selalu membela Lani padahal sudah jelas dia yang salah. Kamu lelaki yang baik, Ton. Maafkan papa, ya, Ton."
"Pa, sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu, kita ambil hikmah dengan semua ini. Oh ya pa ini putri saya, namanya Ana." Toni menggendong seorang anak perempuan yang usianya sekitar satu tahun.
"Ini namanya ana, ya. Cantik sekali, persis dengan Istrimu. Maafkan papa tidak datang ke pernikahan kalian."
"Nggak apa-apa, pa. Lagian Lani datang ke acaraku saat itu mendampingi anak-anak kami. Satu tahun ini saya melihat Lani sudah banyak berubah. Dia tidak seperti Lani yang dulu aku kenal." ucap Toni.
Toni pun berhambur bersama keluarga yang lain. Acara makan malam terlihat beda. Hanya ada pasangan Rangga dan Laras, serta sanak famili Laras seperti Eva dan suaminya. Serta warga gang tempat Laras tinggal sebagian juga datang. Adul masih asyik dengan kesendiriannya. Dia pun memandang Laras yang tampak bahagia menggelendot manja di samping Rangga. Bagas pun asyik bermain di taman yang di sediakan restoran. Semua tampak dengan kebahagiaannya masing-masing.
"Ina dan Alam kok belum datang, ya?" tanya Laras.
"Mereka nggak jadi datang. Shasa demam. Jadi Ina nggak bisa meninggalkan anak sulungnya." kata Rangga menyampaikan apa yang di kirim oleh Alam di ponselnya tadi.
__ADS_1
"Ina sayang, ya sama Shasa. Alam beruntung punya istri yang mau perhatian pada anak sambungnya."
"Sama dengan aku. yang beruntung punya istri seperti kamu. Kalau kita tilas balik kisah kita yang dulu, nggak akan menyangka kan kalau jodoh aku sama teman adikku."
"Mas, kan peka nya sama Ina doang. Angel suka sama kamu saja nggak tahu kan? sampai Ina di musuhi Angel mas nggak tahu kalau penyebabnya seorang Rangga."
"Tahu, sudah lama aku tahu kalau Angel suka sama aku. Tapi aku pura-pura nggak tahu aja."
"Tapi nggak tahu ada perempuan lain yang selalu sesak setiap kamu perhatian sama Ina."
"Kamu kan?" tebak Rangga.
"Hehe..."
"Jadikan masa lalu sebagai cambuk agar kita lebih baik di masa mendatang, Ras. Jangan diingat jika terasa sakit. Tapi ingat ada kisah indah yang sudah kita lalui."
Rangga mengeratkan pelukannya di punggung istrinya. Sesaat keduanya saling menatap sembari melemparkan senyuman. Sesaat keduanya saling menunduk malu mengingat kenangan-kenangan yang sudah mereka lalui. Rangga menyenderkan dagunya di atas bahu Laras. Lelaki itu tidak peduli jika nanti ada yang bilang dirinya lebay atau terlalu bucin. Toh ini pasangan halalnya dan cinta halalnya.
Artinya: "Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah)." (QS. Az Zariyat: 49).
Allah SWT menciptakan kebahagiaan dan kesengsaraan, petunjuk dan kesesatan, malam dan siang, langit dan bumi, hitam dan putih, lautan dan daratan, gelap dan terang, hidup dan mati, surga dan neraka, dan sebagainya. Penciptaan tersebut bertujuan agar manusia dapat mengambil pelajaran.Allah SWT menciptakan semua makhluk dengan berpasang-pasang. Mulai dari bumi dan langit, matahari dan rembulan, terang dan gelap, iman dan kafir, hidup dan celaka. Demikian juga dengan semua makhluk hidup dan tumbuhan.
Delapan tahun yang lalu dua anak manusia di pertemukan dalam ikatan pernikahan. Sejak awal pernikahan mereka menjalaninya dengan kebahagiaan. Hingga ada tuntutan yang menghampiri rumah tangga mereka. Hari-hari yang mereka lalui, pasang surutnya hati, dan terpisah karena keadaan. Lima tahun mereka terpisah dan saling menjaga hati masing-masing.
Semua mereka jalani dengan baik. Meskipun banyak aral terjal kembali menghempas hubungan mereka yang sudah bersatu.
Banyak hal yang telah terjadi, banyak pula yang terlewati. Semua dengan ketakutan dan kecemasan yang sama.
"Laras," wanita itu menoleh kearah pemilik suara.
"Adul," Laras dengan ramah menyapa lelaki yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil.
__ADS_1
"Kamu bahagia sekali." Adul mencubit hidung Laras.
"Terimakasih, Dul. Kamu juga cari pasangan dong. Masa betah membujang terus."
"Emang ada yang mau sama tamatan SD seperti aku?"
"Ada, Dul. Cuma kamu belum ketemu saja. Aku doakan agar kamu dapat seseorang yang bisa menerima apa adanya."
"Terimakasih,Ras atas doanya. Kamu adalah sahabat aku yang selalu support setiap langkahku."
"Ehmm...." suara dari arah lain menengahi obrolan keduanya.
"Laras benar, Dul. Suatu saat ada seseorang yang bisa menerima kamu apa adanya. Tak perlu kamu yang mencintainya, tapi dia juga mencintaimu. Karena akan seimbang. Seperti kami berdua." kata Rangga.
Pernah dengar pepatah lama yang mengatakan bahwa cinta itu berawal dari mata lalu turun ke hati? Yup, rasanya ungkapan itu memang benar adanya.
Banyak di antara kita yang mungkin pernah mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama dengan lawan jenis.
Adul berjalan mengitari sekitar keramaian acara. Sebagian orang bercekerama dengan pasangannya. Sebagian lagi asyik dengan panorama indah pantai di hadapan restoran. Tampak Ajeng sibuk membersihkan beberapa bekas makanan dari acara. Adul pun dengan sigap membantu Ajeng.
"Kamu kok sendiri?" tanya Adul.
"Iya, soalnya cuma saya yang masih muda kerja di keluarga Pattimura." jelas Ajeng.
"Oh, jadi kamu yang ngasuh Bagas." Ajeng mengangguk.
"Saya Abdullah, panggil saja Adul. Saya kerja di sini sebagai security resort. Harusnya ini bukan tugas kamu, ini tugas orang resort." Adul menjelaskan pada Ajeng.
"Oh, gitu ya. Tapi saya bingung mau ngapain? makanya saya beresin saja." jelas Ajeng.
"Kamu mau jalan-jalan sekitar pantai. Biar aku temenin." tawar Adul.
__ADS_1