Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Jalan ke monas


__ADS_3

Enam bulan kemudian


Monas, Jakarta Pusat, memang terlihat panas kalau siang. Tapi kalau pagi, tempat bernaungnya ikon Jakarta ini menjadi tempat yang ideal buat jogging. Track-nya datar, cocok buat lari-lari kecil atau jalan-jalan. Banyak juga orang yang jogging di Monas.


Mereka datang pagi-pagi betul atau sore hari. Banyaknya pengunjung yang datang untuk olahraga membuatmu semangat buat jogging.Akhir pekan memang enak dimanfaatkan untuk jogging. Selain meregangkan otot-otot yang kaku setelah sepekan beraktivitas, jogging juga bisa menyegarkan pikiran. Namun, buat kamu yang tinggal di Jakarta, lahan buat jogging yang seru mungkin bakal jadi PR yang berat.


Patut diakui, di kota megapolitan ini, tempat untuk memperoleh udara segar dan ruang yang lapang buat jogging cukup terbatas. Salah milih tempat, bukan udara segar yang didapat, tapi malah polusi.


Mereka tampak berolahraga pagi dengan jogging, bersepeda, hingga sekedar berjalan santai di sepanjang trotoar yang ada di sekitar Monas. Tampak mereka amat menikmati suasana cuaca cerah dan udara segar yang masih sangat terasa saat pagi hari di Monas.


Sejumlah warga yang sedang beraktifitas berolahraga di sekitar kawasan Monas tersebut berharap agar lokasi ini dapat dibuka kembali untuk aktifitas berolahraga.


"Rame juga, ya." kata Rangga saat menaiki sepedanya bersama Laras. Tampak Bagas pun tak ketinggalan dengan sepedanya.


Ketiganya memarkirkan sepeda mereka. Tampak sebuah lapak angkringan berjejer disana. Makanan dari berbagai daerah pun tersaji disana. Laras dan Bagas terlebih dahulu duduk di depan meja yang disediakan penjual makanan.


"Bagas mau apa?" tanya Laras.


"Aku mau gado-gado, bunda." jawab Bagas.


"Mas, kamu mau apa?" tanya Laras.


"Disamakan saja dengan pesanan Bagas." Rangga melabuhkan tubuhnya di kursi berbahan plastik.


"Nggak pake toge, pak." pesan Laras.


"Bunda masa nggak pakai toge. Nggak enak, Bun." sahut Bagas.


"Dari kecil bunda nggak suka toge, Gas. Makanya bunda jarang masak toge." jelas Laras pada putranya. Bagas yang mendengar hanya mengangguk kepalanya.


"Sayang, gimana mau kasih adik sama Bagas kalau kamu nggak suka toge."


"Apa hubungan toge sama anak mas?"


"Ya, kan toge obat kesuburan."


"Tapi bukan buat wanita mas. Toge itu untuk lelaki, untuk kesuburan kamu. Nih baca." Laras membuka handphonenya. Lalu memperlihatkan artikel tentang toge.

__ADS_1


Tauge memang benar memiliki manfaat untuk meningkatkan kesuburan. Tapi hal ini berlaku hanya bagi kaum adam saja. Belum ada penelitian yang membuktikan kalau tauge menyuburkan wanita dan membuat cepat hamil. Tauge yang berasal dari kacang hijau ini mengandung folat yang tinggi.


Rangga membaca artikel yang di sodorkan istrinya. Netranya beralih ke wanita yang sudah di nikahinya delapan tahun yang lalu.


"Sudah baca kan, yah. Jadi aku nggak makan toge pun nggak ada pengaruhnya. Karena pusat kesuburan ada di pria bukan wanita."


"Iya, sayang. maaf."


"Ayah dan bunda ngomong apa sih? toge? kesuburan? ayah dan bunda mau nanam toge, ya?"


Keduanya saling berpandangan lalu tersenyum. "Iya!" jawab mereka serempak.


"Ooo... emang di rumah kita ada tempat untuk nanam?" tanya Bagas.


Laras dan Rangga bingung menjawab pertanyaan Bagas. "Ada" lagi-lagi keduanya kompak menjawab.


"Udah, mas. Apa aku bilang jangan bahas di depan anak kecil." sahut Laras.


"Bunda, aku bukan anak kecil lagi kan sudah di sunat."


"Iya, nak. Sini duduk dekat ayah." Bagas mendekati ayahnya lalu naik ke pangkuan Rangga.


"Alhamdulillah, anak ayah sudah khatam iqra. Berarti Bagas mau langsung baca Alquran, ya" Rangga memeluk putra semata wayangnya dengan erat.


'Iya, yah."


Rangga, Laras dan Bagas berjalan mengitari area Monas. Dimana Monas adalah ikon kota Jakarta yang tak luput dari keramaian. Ada yang bersantai ria di lapangan, ada yang antri untuk masuk ke dalam monumen.


Siang itu, udara semakin terik. Rangga dan keluarga kecilnya masuk ke dalam bazar yang diadakan pihak diknas kota. Dimana ada bazar yang memamerkan karya-karya terbaik di bidang sastra.


"Bagas nggak mau masuk monumen?" tanya Rangga. Bagas menggeleng. Masih terekam dalam ingatannya bagaimana ramenya antri. Bahkan bisa memakan waktu seharian. Mengingat hal membuatnya enggan masuk kesana lagi.


"Enggak, yah. Antriannya panjang." jawab Bagas.


"Yasudah, kita pulang, ya." ucap Rangga dibalas anggukan dari Bagas.


Bagas memandang seorang anaknya kecil yang di gendong pundak oleh ayahnya. Rangga melihat tatapan putra menaikkan Bagas diatas bahunya.

__ADS_1


"Mas, hati-hati. Nanti Bagas jatuh."


Rangga hanya mengulum senyum pada istrinya. Labuhan kecupan mendengar di dahi Laras. Wajah wanita itu merah merona.


"Apa yang kamu mau saat ini."


Setiap orangtua akan merasa bahagia jika melihat keceriaan sang anak. Kebahagiaan putranya itu yang lebih penting. Tak perlu harus jadi orang kaya kalau ingin menciptakan suatu kebahagiaan. Tapi cukup dengan menjalin hubungan silaturahmi dengan baik antar keluarga. Tidak mudah melalui semua ini. Ada tangis kesedihan, tawa kebahagiaan, emosi yang ingin dia luapkan. Tidak mudah Laras dan Rangga berada di titik ini.


Pada dasarnya, setiap anak pasti lebih dekat dengan ibu mereka terlebih anak laki-laki. Ini karena ibu mungkin lebih pintar berkomunikasi, lebih memahami perasaan anak, bahkan ibu adalah guru untuk banyak hal. Jadi, tidak mengherankan bahwa anak laki-laki lebih dekat dengan ibu mereka daripada ayahnya." Namun tidak menutup kemungkinan kalau ada yang ayah yang bisa berkomunikasi dengan anaknya. Hal itu yang Rangga rasakan saat pertama kali bertemu dengan Bagas.


Mereka berjalan melenggang meninggalkan Monas. Sambil menggendong Bagas, tangan Rangga juga tidak lepas dari jemari Laras. Keduanya saling melempar senyum. Menanti kebahagiaan yang sudah menyambut mereka.


Ketika mereka sampai di rumah, ada papa Donal yang sudah menunggu. Lelaki berusia 53 tahun itu ternyata sudah disana hampir satu jam. Papa Donal mengeluhkan kalau Rangga tidak mengangkat teleponnya. Rangga pun minta maaf karena handphonenya di silent.


"Papa ada apa kesini? tumben sampai rela nunggu aku pulang." ucap Rangga.


"Emangnya papa tidak boleh kah kesini? papa kangen sama Bagas. Semenjak si kembar balik ke nenek kakeknya dan Dito sekarang tinggal sama Toni. Papa jadi k0esepian."


"Opa, emang kakak kembar kenapa nggak tinggal sama opa? Apa karena tante Lani jarang dirumah?" tanya Bagas.


"Tante Lani mau sekolah lagi, Bagas. Sekolahnya jauh dari Indonesia." jelas Donal.


Rangga dan Donal duduk di ruang tengah. Sementara Bagas langsung membuka alat PlayStationnya. Laras mengingatkan Bagas supaya mandi terlebih dahulu. Bukan langsung main PlayStation. Bagas pun menurut dengan merapikan mainnya. Lalu beranjak masuk ke kamarnya membersihkan diri. Sejak sudah di sunat Bagas sudah tidak pernah dimandikan. Dia selalu mengerjakan sendiri.


"Bagas mana, Ga?" tanya Donal


"Mandi kayaknya, pa."


"Memangnya Bagas nggak dimandikan sama Laras?"


"Dia sudah bisa sendiri, pa. Sholat pun tanpa diingatkan lagi."


"Bagus kalau gitu. Tapi jangan terlalu mandiri, nanti saking mandirinya dia jadi nggak butuh bantuan orang lain. Oh ya kemarin papa dapat tiket liburan ke Jepang. Papa mau ajak kalian kesana. Kalian mau ikut?"


"Mau dong, pa."


"Papa nanti sore aku mau ziarah ke makam papa Aryo. Papa mau ikut?" Donal menganggukkan kepalanya. Tentu saja dia akan ikut, karena hubungan silaturahminya dengan Aryo sangat baik.

__ADS_1


__ADS_2