Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Kunjungan ke rumah Ina 2


__ADS_3

"Waaaawwww... ini kamar kamu, suf." Bagas melihat kamar Yusuf yang dinilainya lebih keren dari kamar barunya. Tak henti-hentinya dia berdecak kagum melihat kamarnya yang banyak ornamen star wars.


"Iya, gas. Ini katanya yang mendekor Om Geri. Keren kan. Jadi waktu baru pulang ke Indonesia aku langsung di kasih kamar ini. Cuma kalau malam papa yang temenin aku tidur. Papaku selalu ada buat aku, itu kalau si penyakitan nggak kumat." jawab Yusuf.


"Kamu nggak boleh gitu, suf. Itu kakak kamu,Lo. Dosa kalau ngejelekin kakaknya penyakitan." Rangga mendengar ucapan Yusuf langsung menyela.


"Iya, om." jawab Yusuf.


"Suf, ini apa?" Bagas langsung menunjuk gambar-gambar yang ada di dinding.


"Oh, pesawat star wars, bentuknya kayak pesawat luar angkasa gitu."


Bagas beralih ke Rangga. "Om, Bagas mau punya kayak gitu. Keren, om." Rangga tercekat saat mendengar Bagas masih memanggilnya Om. Tadinya dia pikir Bagas sudah menerima dirinya tapi ternyata dia salah.


"Bagas kok panggil om Rangga bukan pakai papa." sahut Yusuf.


"Nggak apa-apa, suf. Soalnya lama tidak ketemu jadi belum terbiasa." jawab Rangga.


"Kalian tidak apa-apa tinggal dulu disini. Om, mau ketemu mamanya Yusuf." Pamit Rangga pada anak-anak itu. Keduanya hanya mengangguk, tentu mereka senang di beri waktu bermain bersama. Yusuf tak hentinya memperkenalkan para tokoh star wars pada temannya.


"Bagas kamu suka apa?" tanya yang merebahkan tubuhnya di ranjang dua tingkat.


"Pororo." jawab Bagas.


"Hahahaha... Pororo itu kesukaan anak perempuan, gas." Yusuf menertawakan kesukaan Bagas.


"Pororo dan keropi itu lucu menggemaskan." Bagas tetap bangga dengan kesukaannya.


Ceklek!


Pintu terbuka lebar. Bi Suti membawa beberapa makanan dan susu buat mereka. Bagas menatap makanan yang di sajikan. Ada yang berbentuk alfabet, seperti menyerupai gorengan. Tapi dia lebih tertarik dengan kentang goreng yang bentuknya keriting.


"Kamu nggak suka ini, gas." Yusuf mengambil makanan yang menyerupai alfabet.

__ADS_1


"Itu apa, suf. Gorengan ya? aku sering di beliin gorengan sama bunda. Sampai bosan aku lihatnya." kata Bagas masih asyik dengan kentang goreng.


"Ini namanya nugget, Gas. Isinya daging ayam. Enak banget, cobain deh." Yusuf menyerahkan salah satu nugget yang berbentuk huruf B.


Bagas mencicipi nugget pemberian Yusuf. Entah kenapa dia kurang suka dengan tekstur rasa. Baginya masih enak ayam goreng dibanding nugget.


"Enak kan " ucap Yusuf. Bagas menghentikan makannya. Tak lama susu coklat pun tandas di teguknya.


"Makanan orang kaya nggak enak." batin Bagas.


"Kakakmu tidur sendiri?" tanya Bagas.


"Nggak, gas. Kakak tidur sama bude. Sejak pakde Dul meninggal dunia, Bude Lia mengajak kak Shasa tidur sekamar. Papa dan mama tidur di kamar atas. Ini katanya kamarnya kakekku." cerita Yusuf.


"Aku tidur sama bunda, suf. Soalnya kamar di rumah cuma satu. Ada satu lagi malah jadi gudang barang." Bagas tak kalah ikut bercerita. Yusuf hanya menyimak sambil ber-O ria.


Keduanya kembali asyik bermain. Tentu saja Yusuf mengeluarkan semua mainannya untuk di pamerkan di depan Bagas. Dari kereta api lengkap dengan rel nya. Rumah bengkel rakit yang ukurannya sebesar meja belajar Hingga robot-robot star wars yang berjumlah lebih dari sepuluh. Kamar luas tersebut penuh dengan mainan mahal. Bagas pun sangat senang sampai tak ingin keluar dari kamar tersebut.


Rangga berjalan menuju ke tangga. Dimana kamar Ina berada di lantai atas. Setapak demi setapak tangga di langkahinya. Tangan Rangga terhenti saat mendengar suara Ina seperti kemarahan. Lama dia berdiri di depan pintu hanya ingin mendengarkan apa yang akan di jelaskan Laras.


"Ras,"


"Kenapa kamu kembali setelah apa yang kamu lakukan pada kak Rangga dan keluarganya." kata Ina.


"Na, aku ..."


"Tega kamu, Ras. Meninggalkan kak Rangga dengan kondisi seperti itu. Kenapa kamu lakukan itu pada kakakku. Kenapa!"


"Tidak seperti yang kamu tuduhkan, Na. Aku pergi juga terpaksa. Aku tidak mungkin bertahan di sana sementara mereka menyembunyikan keberadaan kak Rangga. Saat Oma Gladys meninggal dunia aku malah di buat seperti tersangka disana."


"Iya, memang kamu tersangka. Tersangka dalam hal istri durhaka. Kamu tidak tahu kan, Ras. Kak Rangga sampai menjual perusahaan yang dibangun susah payah dari papa Aryo.


Kamu tahu, Ras. Kak Rangga buta dan lumpuh. Dia sering menanyakan kamu, bahkan meminta suamiku mencari tahu tentang kamu. Tapi, apa! kamu hilang di telan bumi, Ras. Dan setelah kak Rangga sembuh, kamu dengan entengnya kembali pada kakakku." Ina mengeluarkan uneg-unegnya yang di depan Laras.

__ADS_1


"Kamu tidak akan tahu, Na. Aku yang menjalani semua ini. Kamu kira aku hidup tenang. Saat aku pulang ke rumah ibu, aku langsung mendapati kenyataan kalau sedang berbadan dua. Berbadan dua, na. Menjalani hamil tanpa suami, bahkan mama Raya dan keluarganya tetap bungkam tentang keberadaan mas Rangga.


Aku membesarkan Bagas sendiri,Na. Aku bahkan sempat di vonis baby blues oleh dokter. Kamu tahu rasanya setiap melihat Bagas aku selalu teringat mas Rangga. Aku .. aku ..." Laras tidak bisa melanjutkan ucapannya. Rasanya sesak kalau mengingat masa-masa yang dilaluinya bersama Bagas. Orang-orang hanya bisa menuduhnya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Ras," Rangga langsung memasuki kamar Ina. Melihat Laras yang begitu terguncang akibat tuduhan Ina. Rangga memapah istrinya untuk keluar dari kamar Ina.


Jadi selama ini sudah banyak yang terjadi sama kamu, Ras.


jadi selama ini mama sudah memisahkan kami.


Tapi kata mama, Laras sendiri yang memilih pergi dari rumah.


Jadi sebenarnya apa yang harus aku percaya mamaku atau istriku.


Ya Allah, jika memang istriku terzolimi selama aku sakit, itu berarti mama memang keterlaluan.


Tapi jika sebaliknya, apa yang mesti aku lakukan.


Rangga menoleh kearah Ina.


"Na, kakak minta tolong saat ini jangan ungkit masalah kami. Itu biar menjadi urusan rumah tangga kakak dan Laras. Jangan bebankan Laras dengan pikiran negatif kalian. Laras baru keluar dari rumah sakit. Jadi kakak mohon jangan lagi tuduh Laras yang bukan-bukan."


"Tapi, kak .." sanggah Ina.


"Dia kesini kakak yang ajak. Dia kesini karena rindu sama kamu, Na. Tapi apa yang kamu lakukan malah menyakiti perasaannnya.


Kakak kecewa sama kamu,Na." Rangga menggendong Laras yang masih down.


Rangga membawa Laras yang masih syok. Memapah istrinya untuk bersandar di dalam mobil. Sekali lagi Rangga di buat kejutan dengan pengakuan Laras. Tangannya mengusap jemari Laras, terdengar suara lirih Laras.


"Aku tidak pernah sedikitpun meninggalkan kamu. Aku hanya pindah ke rumah ibu. Sedangkan kamu hilang tanpa kabar, mas. Percaya sama aku, mas. Aku tidak pernah berpikir untuk mengkhianati kamu, mas." isaknya.


Rangga memeluk Laras dengan erat. Jujur dia sangat saat tahu Laras hamil tanpa pendampinga dari dirinya. Dia juga syok kalau ternyata mamanya masih ada andil dalam semua masalah ini.

__ADS_1


"Maafkan aku, Ras. Maafkan aku yang tidak ada di dekatmu saat kamu membutuhkan."


Rangga pun menyusul Bagas yang masih asyik bermain. Tadinya dia ingin membawa Laras dan Bagas jalan-jalan. Tapi melihat kondisi Laras yang masih down. Dia memilih membawa keduanya pulang ke kontrakan.


__ADS_2