Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Wejangan dari calon besan


__ADS_3

Raya Kalendina saat ini sedang menikmati empuknya kursi. Ada rasa bangga ketika bisa menikmati ruangan ber-AC tersebut. Walaupun pun yang memiliki pekerjaan adalah putranya. Toh dia juga yang akan menikmati hasilnya. Karena saat ini Rangga pasti tidak akan membagi uangnya untuk Laras lagi.


"Raya, bisakah kita bertemu?" sebuah pesan mendarat di layar pipih tersebut.


Raya tersenyum membaca pesan tersebut. Dapat di tebak si pemilik pesan ingin membahas soal anak mereka.


"Boleh, kak. Dimana?" jawabnya.


"Di cafe great saja. Bisa?"


"Bisa, kak." jawab Raya dengan cepat.


Raya mempersiapkan diri untuk menemui calon besannya tersebut. Beberapa kali dia memperhatikan penampilannya, supaya tidak mengecewakan teman bertemunya.


Tanpa disadari sepasang mata memandang wanita itu sambil menggeleng kepala.


"Mama mau kemana?" tanya Rangga yang sudah muncul di ruangannya.


"Kamu dari mana, Ga! mana sudah karatan nunggu kamu disini. Muka kamu kucel banget."


"Aku ketiduran di mobil, ma." tukas Rangga sambil merebahkan tubuhnya di kursi kerjanya.


"Cuci muka, gih. Masa ke kantor kucel banget. Kalau kamu capek kan bisa istirahat di ruang khusus kamu."


"mama mau kemana?"


"Mama ada janjian dengan teman mama. Tadinya mama mau minta kamu antar ke butik langganan buat cari baju. Tapi kamu nya lama. jadi biar mama sama teman mama yang pergi kesana."


"Baju mama bukannya banyak yang bagus. Jangan boros, ma. Ingat ini bukan perusahaan kita. Ini punya papa Donal dan Oma Gladys. Kita ini cuma numpang, masih untung mereka masih mau menerima kita. Setelah kejadian aku dan Oma."


Raya berhenti sejenak, tubuh wanita yang berusia 58 tahun tersebut memutar ke arah anak tunggalnya.


"Jangan kamu ungkit soal itu, Ga. Sebelum kamu masuk ke keluarga mereka, mama sudah di terima lebih dahulu oleh mereka. Mama mau belanja atau tidak juga tidak pakai uang perusahaan tapi uang pribadi. Kalau ada uang yang masuk dalam rekening mama tentunya dari suami mama. Bukan dari kamu, Rangga.


Satu hal yang harus kamu tahu! Seharusnya kamu bersyukur di kasih jabatan besar oleh Donal. Tidak semua anak tiri bisa mendapatkan jabatan seperti kamu, ga. Jadi mama minta kamu jangan sok tahu tentang keluarga mereka."


"Ma, Rangga cuma mau menasehati agar tidak boros. Bukankah mama sudah tidak aktif lagi di dunia modelling. Mama juga tidak pernah lagi dilibatkan dalam monitoring bakat baru. Dari situ mama harusnya berpikir bagaimana memajemenkan penghasilan. Ingat, ma. Saat ini kita diatas besok kita tidak tahu apa yang terjadi." Rangga pun menggeleng kepala saat Raya meninggalkan ruangannya.

__ADS_1


Sesaat Rangga menghentikan langkah ketika getaran gawainya di kantongnya.


"Iya, pak Ipung."


"Maaf, pak Rangga. Tadi kami ke bank untuk mengecek tabungan bu Laras. Dari keterangan pihak bank, rekening Bu Laras sudah di nonaktifkan oleh keluarga anda."


"Apaaaa!"


"Siapa yang menonaktifkan rekening istri saya!"


"Mereka hanya bilang keluarga anda. Soalnya staf yang mengurus saat itu sekarang sudah tidak bekerja lagi. Sudah lama resign setelah menonaktifkan rekening Bu Laras."


"Cari orang itu!" teriak Rangga.


"Baik, pak. Saya akan mengorek tentang orang itu." Ipung menutup teleponnya.


Rangga menggebrak meja setelah mendengar info dari Ipung. Dia tidak menyangka keluarganya ikut campur dengan urusan rumah tangganya.


Jadi berapa banyak yang mereka lakukan terhadap Laras.


Kenapa mereka jahat sekali?


klik


Cafe Great menjadi tempat yang di tunjuk Resi untuk bertemu dengan Raya.


Wanita itu memilih duduk di dekat pintu masuk cafe. Sesekali memandang jam di pergelangan tangannya. Salah seorang waiters mendekatinya.


"Ibu mau pesan apa?" tanya waiters bertubuh mungil.


Wanita itu menoleh serasa mengenal si waiters tersebut.


"Kamu Puspita bukan? anaknya Sarinah." Tebaknya.


Waiters itu langsung mengerutkan dahinya. Lalu menunduk lama.


Darimana ibu ini tahu namaku dan emak.

__ADS_1


Astaga kalau dia tahu emakku, berarti dia juga tahu emak kerja jadi pembantu.


"Bukan, Bu. Anda salah orang. Nama saya Alicia, Bu." elaknya.


"Maria Puspita Alicianti! ibu kamu sedang sakit. Saya minta kamu datang ke rumah saya. Sudah berbulan-bulan kamu meninggalkan rumah dan nenek kamu." Panggil Resi.


"Saya sudah bilang nama saya Alicia bukan yang anda sebut tadi. Maaf ibu saya sudah lama meninggal, saya tidak punya nenek yang miskin." Waiters itu pergi meninggalkan Resi sendiri di meja cafe.


"Astaghfirullah!" Resi mengurut dadanya melihat sikap anak dari pembantunya.


Beberapa saat dia menangkap kedatangan Raya yang super modis. Sosok perempuan yang sepantaran dirinya, hanya usia mereka selisih dua tahun saja. Mereka saling bersalaman dan bertukar pipi. Keduanya memilih duduk menikmati pemandangan jalan raya.


Raya mengayunkan tangannya, namun ditahan oleh Resi.


"Sudah aku pesan tadi."


"Oh--" keduanya pun asyik dengan obrolan sekitar permasalah sehari-hari.


"Jadi kak Resi ada apa mengajakku bertemu?" tanya Raya.


"Aku mau membicarakan soal Rangga dan Mila."


Raya tersenyum. Dia sudah menebak arah pembicaraan rekan sesama alumni SMA-nya. Sambil menunggu apa yang di bahas Resi, Raya pun memamerkan cincin baru yang dibelikan suaminya. Resi hanya menyimak cerita dari Raya. Obrolan mereka terhenti saat seorang waiters mengantarkan pesanan mereka.


"Aku langsung ke topik utama, Raya."


Resi menghempaskan nafas sejenak. Lalu dia menyeruput teh melati hangat.


"Kak Resi mau bicara apa?" tanya Raya.


"Kamu yakin kalau Rangga mau sama Mila. Begini ya, Raya, saya tahu saat ini kamu ingin pendamping yang terbaik untuk Rangga. Tapi satu kamu harus ingat, status Rangga belum duda. Saya tidak mau anak saya di cap perusak rumah tangga orang, jadi saya minta sama Rangga selesaikan urusan rumah tangganya terlebih dahulu."


"Kak."


"Raya kamu tidak lupa kan bagaimana perjalanan hidup saya dengan Mila dulu. Diusir mertua karena aku melahirkan anak perempuan. Kamu tidak lupa bagaimana mereka menikahkan ayahnya Mila dengan perempuan lain padahal dia masih sah suami saya."


"Jangan samakan! kalian itu beda. Aku akui dulu aku juga bersimpati sama yang kakak alami. Tapi satu yang aku petik dari kisah kakak, jangan lembek jadi wanita.

__ADS_1


Kakak lihat aku, setelah diperlakukan tidak adil oleh Oma nya Rangga, sekarang hidupku bahagia. Jangan jadikan masa lalu sebagai pengatur hidup orang lain."


"Terserah apa pemikiran kamu,Raya. Tapi jangan harap bisa menikahkan Rangga dengan Mila sebelum statusnya jelas."


__ADS_2