Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Bertemu Tidak Sengaja


__ADS_3

"Lil, kamu pulang duluan saja yah. Aku sama mas Satya mau bawa anak-anak main dulu."


Suara lembut Ruby terdengar dari seberang saat menelfon Lila.


"Baik Non," jawab Lila yang saat itu sedang berada di salon tidak jauh dari Resto tempat Ruby dan Satya makan siang bersama anak-anaknya.


Sejak kemarin Bagas mengatakan penampilannya sangat kacau, entah kenapa Lila merasa terbebani. Ia sepanjang malam memikirkan kata-kata Bagas yang selalu terngiang-ngiang ditelinganya. Apa seburuk itu dirinya dihadapan seorang Bagas sampai-sampai Bagas terang-terangan menghinanya.


Dan disinilah Lila sekarang sedang melakukan perawatan karena tidak terima dengan ucapan Bagas. Tapi ia hanya melakukan perawatan rambut dan masker wajah instant karena takut Ruby akan menunggu lama. Rambut kuncirnya sekarang tidak adalagi dan sudah berganti model rambut potongan Bob Pendek dengan Poni Trap. Andai saja ia mengenakan pakaian seragam polisi wanita maka semua orang akan mengira ia seorang polisi asli apalagi didukung oleh bentuk tubuhnya yang tinggi dan lansing.


Lila kembali melihat dirinya dicermin. Ia seolah tidak percaya bahwa bayangan didalam cermin adalah dirinya. Wajahnya terlihat sangat Fresh, model rambutnya cocok dengan bentuk wajahnya.


Setelah ia melakukan pembayaran pada kasir didepan pintu masuk salon, ia pun berjalan keluar ketempat ia tadi memarkir mobilnya, tapi baru saja ia berjalan beberapa langkah ponselnya kembali berdering. Lila membulatkan kedua matanya saat mengetahui ternyata yang menelfonnya adalah Bagas.


"Kamu dimana sekarang?" Suara diseberang terdengar sangat mengintimidasinya.


"Aku didekat kantor Biantara Grup," balas Lila dengan suara sedikit bergetar.


"Kebetulan sekali, aku menunggumu diruanganku dalam waktu 15 menit. Kalau sampai lewat walau hanya 1 menit maka aku akan menghukummu."


Tanpa menunggu jawaban Lila sambungan telfon langsung terputus.


"aaaaaakkkkkhhhhh."


Lila berteriak sambil mengepalkan kedua tangannya serta menggesekkan gigi atas dan gigi bawahnya. Ia seketika malu dan mempercepat langkahnya saat sadar orang-orang yang berada diluar melihat kearahnya.


"Benci, benci, benci banget sama Bagasssss. Ia hobby sekali menghukum aku," ucap Lila kembali melampiaskan emosinya pada setir mobil.


Ia kemudian perlahan menggerakkan mobilnya menuju kantor Biantara Grup, semakin lama ia semakin menambah kecepatan karena takut sampai disana melewati waktu dari yang sudah diberikan Bagas.


"Sial," umpatnya memukul setir mobil saat mobilnya hampir saja menabrak pembatas jalan karena melaju dengan kecepatan tinggi.


Setelah sampai didepan kantor Biantara Grup ia langsung turun tepat didepan pintu masuk dan memberikan kunci mobil pada satpam disana untuk memarkirkan mobilnya.


Ia berlari kecil menuju lift karyawan dan menekan tombol lantai paling atas dimana ruangan Bagas berada yang bersebelahan dengan ruangan Presdir.


"Selamat siang nona Lila," sapa Eliana saat Lila melewati meja sekretaris.


"Selamat siang juga nona Eliana."


"Tuan Bagas menelfon saya menyuruh menemuinya disini," ucap Lila pada Eliana.


"Silahkan langsung saja keruangannya."


"Makasih."


Lila kemudian berlalu dari hadapan Eliana. Hanya butuh beberapa langkah ia sudah berada didepan ruangan Bagas.


Lila membunyikan bel didepan ruangan tersebut. Ruangan Bagas sama dengan ruangan Satya, untuk masuk kedalam membutuhkan sidik jari pemiliknya. Yang membedakannya hanya kamar pribadi yang dimiliki Satya diruangannya tidak dimiliki Bagas.


Tidak berapa lama pintu terbuka dari dalam memperlihatkan Bagas yang sedang duduk dikursinya dengan angkuh sambil memainkan bolpoin ditangannya.


"18 menit, kamu lewat 3 menit dari yang kita sepakati."

__ADS_1


Ucapan itu adalah kata sambutan Bagas untuk Lila.


"Kesepakatan apanya, itu cuma otoritas anda saja tuan Bagas yang terhormat," batin Lila.


Ia tidak berani mengeluarkan rasa kesalnya pada Bagas karena takut diberi hukuman yang lebih berat lagi.


Bagas melihat Lila dari ujung rambut hingga ujung kaki. Andai saja ia tidak menjaga harga dirinya, ia sudah memuji Lila habis-habisan dengan penampilannya saat ini. Lila memakai jeans sebatas tumit dan atasan semi kemeja dengan warna soft ditambah dengan rambut barunya membuat ia kelihatan lebih cantik. Lila menjadi salah tingkah diperhatikan seperti itu.


"Sepertinya ada yang aneh dengan penampilanmu kali ini, apa kamu ingin menggoda seseorang?" Tanya Bagas penuh selidik.


"Ada apa mas Bagas memanggil saya kemari?" Lila mengalihkan pertanyaan Bagas. Dan sepertinya Bagas tidak berniat bertanya lagi.


"Kamu tidak sampai tepat waktu kemari, kamu harus menerima hukuman yang akan saya berikan."


"Apa saya dipanggil hanya untuk membicarakan keterlambatan saya yang sama sekali tidak penting itu?"


"Apa kamu mau membantah saya?"


Ingin sekali rasanya Lila meremas-remas wajah tampan Bagas yang sangat menyebalkan itu.


"Ya sudah, saya mau dihukum apa sekarang, saya terima apapun itu," ucap Lila pasrah.


"Apartemen saya sepertinya berantakan dan bibi yang biasa membersihkan disana, hari ini izin tidak datang. Sepertinya bukan masalah besar kalau kamu menggantikan dia hari ini," ucap Bagas santai.


Lila sontak membulatkan mulutnya mendengar ucapan Bagas.


"Saya asisten pribadi Non Ruby, buka asisten rumah tangga mas Bagas." Protes Lila.


"Ini acces card apartemen saya, saya tunggu dalam 5 menit kamu sudah harus keluar dari sini. Kamu sudah tahu kan dimana apartemen saya."


"Lihat saja nanti aku akan membalas semua ini." Lagi-lagi Lila membatin.


Ia kemudian berlalu dari hadapan Bagas dengan tatapan permusuhan yang mematikan. Tapi entah kenapa Bagas malah tersenyum dan senang melihat wajah Lila yang seperti itu.


***


Mall Terbesar Kota M


Satya yang selalu terlihat rapi dengan setelan jas kantornya, siang itu terlihat melepas jas dan dasinya hanya untuk bermain boom boom car bersama Nendra di sebuah tempat bermain anak di Mall terbesar kota M yang sudah ia suruh tutup untuk umum selama ia berada disana.


Sementara Ruby terlihat sedang asyik duduk diatas puzzle sambil mengajari baby Gyan bermain keybord kecil. Baby Gyan tidak berhenti tertawa cekikikan setiap kali jari-jari mungilnya menindis keybord tersebut dan mengeluarkan bunyi.


Setelah lelah bermain, baby Gyan mulai gelisah karena sudah mengantuk. Ruby kemudian membuatkan susu untuk baby Gyan dan memanggil Satya menyudahi permainannya.


"Mas, pulang yuk. Gyan udah mau tidur."


"Iya dikit lagi," teriak Satya.


Sungguh kelakuan Satya hari ini sama sekali tidak mencerminkan seorang presdir perusahaan terbesar dikota M. Andai saja ada media yang melihatnya, ia sudah dipastikan akan viral dalam waktu tidak sampai tiga puluh menit. Untungnya ia sudah menyuruh manager Mall tersebut menutup akses untuk umum sehingga hanya mereka berempat yang berada didalam arena bermain sebesar itu.


"Mas, badanmu sudah penuh keringat," ucap Ruby setelah Satya berada didekatnya.


"Tidak masalah karena setelah ini kita akan langsung pulang kerumah," jawab Satya.

__ADS_1


"Biar aku saja sayang, Kamu bawa jasku saja." Ucap Satya sambil memberikan jasnya pada Ruby dan mengambil stroller baby Gyan dari tangan Ruby.


Mereka kemudian berjalan keluar dari area permainan tersebut. Satya berjalan ditengah-tengah mendorong stroller baby Gyan diantara Ruby dan Nendra.


"Mas Satya, Ruby."


Seorang wanita cantik yang baru saja keluar dari gerai perhiasan bersama seorang pria mendekat kearah mereka. Ia adalah Rania dan Rama.


"M...ba, mba Rania." Ucap Ruby terbata. Ia masih merasa canggung setiap kali bertemu dengan Rania.


"Rania, Rama. Kebetulan sekali kita bisa bertemu disini!" sahut Satya dengan santai dan tenang.


Rama langsung menjabat tangan Satya. Sementara Rania dan Ruby hanya saling melempar senyum. Masih terlihat jelas kecanggungan diantara keduanya.


"Iya Sat, kami baru saja mengambil cincin pernikahan yang sudah kami pesan."


Rama mewakili Rania bicara lebih dulu. Satya hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf O kecil.


"Apa kabar mba Rania?" Tanya Ruby.


"Alhamdulillah sehat, Gyan udah semakin gede yah." Rania menunduk dan mencolek sedikit pipi baby Gyan yang sudah tertidur.


"Iya mba, kalau ada waktu main-mainlah kerumah utama," lanjut Ruby.


"Iya By, nanti aku main kesana bawa Andin, ia pasti senang sekali main sama Gyan," balas Rania.


"Maaf mas kami belum sempat membawa undangannya kerumah utama karena sibuk mengurusi persiapan lainnya," ucap Rania beralih kearah Satya.


"Tidak masalah Nia, kalau kalian tidak sempat, kirim via paket saja. Aku pasti datang kog," jawab Satya dengan wajah serius.


Rania mengangguk sambil tersenyum kemudian matanya beralih ke sosok anak kecil disamping Satya.


"Nendra ada disini By?" Tanyanya.


"Iya mba, ia baru saja datang sama kak Sultan karena kak Sultan pindah tugas kemari," balas Ruby.


"Oh ya?"


Rania terlihat kaget mendengarnya karena selama ia sibuk mengurusi pernikahannya ia memang lose kontak dengan Sultan.


"Iya mba."


"Kalau begitu kami pamit duluan Nia, Ram." Ucap Satya, ia sudah tidak tahan dengan badannya yang sudah terasa sangat gerah.


"Oke mas."


"Oke Sat."


Jawab Rania dan Rama bersamaan.


Mereka kemudian berjalan berlawanan arah setelah berpamitan. Satya dan Ruby melanjutkan berjalan keluar sedangkan Rania dan Rama berjalan masuk kegerai lain.


❤️ Hi sayang, jangan lupa ninggalin jejak diakhir cerita yah. Dan tetap stay karena akan ada kejutan-kejutan lain dipart selanjutnya. Kalau ada yang mau ngasi saran, monggo mommy tunggu😘🤗

__ADS_1


Yang belum mampir dicerita CINTA DIBALIK PENOLAKAN ayo buruan singgah dan bagi yang sudah, Maaf yah karena kemarin mommy belum bisa up, mudah-mudahan entar sore bisa yah😊🙏


💚 Sedalam apapun kamu pernah saling menyakiti, jangan sampai memutus tali silaturrahmi karena menjalin hubungan yang baik adalah pintu pembuka datangnya rezki yang melimpah😊😊


__ADS_2