
"Halo An, makan siang bareng yuk," ucap dokter Nata ditelfon.
"Boleh, kebetulan aku hari ini free," suara dokter Anna terdengar diseberang telfon.
"Ditempat makan biasa yah," kata dokter Nata lagi.
"Oke," jawab dokter Anna singkat.
Ia yang lagi dijalan hendak pulang kerumahnya, memutar balik mobilnya menuju tempat yang disebutkan dokter Nata, tempat makan favorit mereka.
Setelah menyetir hampir setengah jam, dokter Anna pun sampai didepan sebuah rumah makan elit dipusat kota. Ia memarkir mobilnya dibasement kemudian ia naik kelantai dua menggunakan sebuah lift. Sampai didalam restoran tersebut ia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan mencari sosok dokter Nata, restoran itu sangat privat jadi ia tidak perlu menunggu lama untuk menemukan dokter Nata karena pengunjungnya juga tidak banyak hanya berasal dari kalangan atas.
"Hi Nat, udah lama?" tanyanya saat berada dimeja dokter Nata.
"Udah setengah jam yang lalu," jawab dokter Nata sambil mengulas senyum.
"Masa sih?, jangan-jangan waktu kamu nelfon aku, kamu udah ada disini," kata dokter Anna.
"Iya benar," balas dokter Nata masih dengan senyum manisnya, dokter Anna terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tumben kamu ngajakin aku makan siang," dokter Anna kini sudah duduk disofa dekat dokter Nata.
"Aku cuma pengen traktir kamu sebelum balik ke Jerman," ucap dokter Nata.
"Apa kamu akan kembali ke Jerman dalam waktu dekat ini?" tanya dokter Anna.
"Iya minggu depan, izinku sudah habis, aku sudah menandatangani kontrak selama setahun disana, aku gak mungkin melanggarnya," balas dokter Nata.
"Apa kamu yakin dengan keputusan kamu ini?" dokter Anna tidak berhenti bertanya.
"Iya aku sangat yakin, tidak ada alasan untuk aku tetap tinggal disini", dokter Nata tersenyum getir.
"Apa kamu tidak ingin sekali lagi mengejar cintamu?" tanya dokter Anna lagi yang sudah menyerah untuk mencintai dokter Nata.
__ADS_1
"Dia sudah punya kehidupannya sendiri An, aku tidak ingin berhubungan lagi dengannya, aku yakin Satya bisa menjaganya bersama anaknya," ucap dokter Nata.
"Apa kamu tidak tau kalau Ruby sekarang kembali ke apartemen bersama Lila dan baby Gyan?, dan Satya tidak ikut bersama mereka, apa kamu tidak merasa bahwa kamu masih punya harapan?" dokter Anna masih berusaha menahan dokter Nata untuk tetap tinggal, dokter Nata menghela nafas berat, dadanya seolah penuh dan sesak.
"Tidak An, aku sudah berjanji pada Satya untuk tidak mengusik lagi rumah tangganya, kalaupun Ruby sekarang keluar dari rumah utama, itu tidak akan menutup kemungkinan ia akan kembali," dokter Nata tetap pada pendiriannya.
"Aku hanya ingin menitipkan sesuatu pada Ruby, An, aku tidak pernah bisa mengakui langsung didepannya bahwa aku mencintainya tapi lewat surat ini ia akan tau kalau pernah ada laki-laki pengecut yang menyimpan rasa untuknya," dokter Nata terlihat memberikan sepucuk surat pada dokter Anna, dokter Anna terdengar membuang nafas kasar.
"Apapun yang kamu anggap baik Nat, aku hanya bisa mendukungmu," ucap dokter Anna kemudian, dokter Nata menarik kedua ujung bibirnya dan selanjutnya tidak adalagi pembahasan yang berat-berat diantara mereka.
Mereka menikmati makan siang sambil ngobrol-ngobrol ringan seputar kerjaan masing-masing.
"Habis ini kamu mau kemana, An?" tanya dokter Nata setelah mereka selesai makan.
"Tadi pagi Ruby nelfon aku, dia minta aku nginap diapartemennya, kebetulan aku juga lagi bosan sendiri dirumah jadi aku fikir gak ada salahnya menerima ajakan Ruby," sahut dokter Anna.
"Sepertinya sekarang kamu semakin akrab sama Ruby," ucap dokter Nata.
"Kamu juga tau Nat, aku anak sendiri, dari Ruby aku seperti menemukan sosok seorang adik," lanjut dokter Anna.
"Apa kamu mau langsung keapartemen sekarang?" tanya dokter Nata.
"Kenapa?, kamu mau ikut?" dokter Anna mencoba menggoda dokter Nata.
"Gak, aku cuma nanya aja," jawab dokter Nata datar, ia mencoba menyembunyikan perasaannya pada dokter Anna saat ini yang sangat ingin bertemu Ruby dan menghiburnya.
"Aku mau mampir ke supermarket dulu beli cemilan sama beberapa diapers buat baby Gyan," kata dokter Anna.
"Diapers?, Satya bahkan bisa membeli ratusan toko diapers buat anaknya, An," sahut dokter Nata.
"lalu kenapa?, aku bukan beli buat anaknya Satya tapi anaknya Ruby, rasanya gak enak aja Nat, kalau datang gak bawa apa-apa buat bayi lucu itu, aku rindu banget sama dia Nat," ucap dokter Anna.
"Sama aja An, anaknya Ruby juga anaknya Satya," dokter Nata juga sebenarnya sangat merindukan baby Gyan, ia yang pertama menyambut kedatangan bayi itu kedunia, ia yang mengurusnya selama Ruby koma dan ia beberapa bulan mendengar tangis bayi itu dirumahnya hampir tiap malam, ia seolah merasakan kehampaan saat bayi itu sudah berada jauh darinya, tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa sekarang karena ia hanya orang luar yang mencoba masuk dalam kehidupan Ruby.
__ADS_1
"Biarin aja deh, toh Satya juga gak ada disana," dokter Anna tidak mau kalah.
"Ya udah kamu hati-hati yah, nitip salam sama Lila," kata dokter Nata lalu mereka melangkah keluar restoran tersebut.
Sebelum sampai diparkiran dokter Nata kembali berbalik ke arah dokter Anna yang sudah berjalan menuju mobilnya.
"An, sampaikan sama Ruby, jaga diri baik-baik saat aku sudah tidak berada lagi didekatnya, setelah ini mungkin aku akan mengalihkan panggilannya diponselku," dokter Anna terlihat berhenti sebentar tapi kemudian ia kembali melangkahkan kakinya tanpa menjawab ucapan dokter Nata.
Dokter Anna langsung melajukan mobilnya ke apartemen Ruby, dan benar saja saat ia melewati sebuah supermarket ia memarkir mobilnya didepan supermarket tersebut, ia kemudian berjalan masuk kedalam untuk membeli beberapa barang yang tadi ia sebutkan pada dokter Nata.
Setelah berbelanja, ia pun kembali membawa mobilnya membelah jalanan kota M, hanya berselang beberapa menit ia sudah sampai diapartemen Ruby.
Tingtong...Tingtong...
Tidak lama kemudian terdengar suara pintu dibuka dari dalam yang sepertinya mendengar bunyi bel yang dibunyikan oleh dokter Anna.
"Kak Anna udah datang, ayo masuk kak," sapa Ruby yang sudah berada didepan pintu, ia mencium pipi kanan dan kiri dokter Anna. Ia meraih kantongan yang dibawa oleh dokter Anna.
"Bawa apa sih kak, banyak banget," tanya Ruby, dokter Anna hanya tersenyum tipis.
"Baby Gyan lagi apa By?" dokter Anna malah balik bertanya dan bukannya menjawab pertanyaan Ruby.
"Dia baru aja tidur kak, tadi Ibu dan Grandma kesini, dia capek main sama nenek-neneknya," jawab Ruby.
"Oya?, jadi Grandma sama ibu Rita datang tadi?, kog udah pulang By?" tanya dokter Anna.
"Ibu gak bisa ninggal papa Lingga lama-lama kak," dokter Anna menghela nafas kasar.
Mereka pun ngobrol santai diruang tamu sambil menikmati puding coklat buatan Ruby.
😍🤩 Jangan lupa LIKE, VOTE, dan KOMENTnya redears kesayangancuuu, kalau ada yang mau ngasi saran monggo, author dengan senang hati menerima 🤗🤗
*** Jika kau memilih pergi untuk memberi bahagia cinta dihatimu, itu salah, karena pada hakikatnya kebahagiaan itu tidak tercipta dari pelarian, melainkan dari pendekatan, meski akhirnya tak bisa saling memiliki😘😘
__ADS_1