Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Satu Kamar


__ADS_3

"Halo Na, maaf sudah mengganggu istirahat malammu."


Terdengar suara dokter Sophy dari balik ponsel yang baru saja dijawab oleh dokter Anna.


"Ada apa, dok?" balasnya dengar suara sedikit parau khas orang baru bangun tidur.


Dokter Anna yang saat itu tidur beralaskan sofa empuk dikamar perawatan suaminya sedang terbuai mimpi ketika tiba-tiba ia dikagetkan oleh nada dering ponselnya.


"Nata sudah tiba di Jerman. Ia sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit sekarang."


"Oh...eh...i..iyya, dok."


Dokter Anna seolah gelagapan mendengar dokter Nata sudah berada di Jerman. Itu berarti sebentar lagi mereka akan bertemu. Pertemuan pertama kali sejak ia dan dokter Adit resmi menikah. Bukan ia tidak ingin bertemu dengan dokter Nata saat ini, ia hanya merasa bingung harus bersikap bagaimana nanti pada dokter lajang itu.


"Semuanya sudah siap kan, Na?" tanya dokter Sophy lagi memastikan.


"Iya sudah, dok."


"Maaf yah Na, aku sudah merepotkanmu. Ini cuma satu hari saja. Mba Arayu mungkin akan datang pagi-pagi sekali besok. Ia belum tahu kalau ternyata Nata tiba lebih awal karena keberangkatannya disana dimajukan. Aku belum sempat menghubunginya lagi."


"Nggak apa-apa, dok."


"Makasih, An."


"Dokter lagi dimana sekarang?"


"Aku juga pulang habis visite semalam. Orang dirumah nelfon nyuruh balik dulu. Besok aku akan datang lebih cepat ke rumah sakit."


"Baiklah, dok."


"Adit gimana? Apa tidurnya sudah nyenyak semalam?"


"Alhamdulillah dok."


"Syukurlah kalau begitu. Ya sudah aku tutup telfonnya dulu yah. Sekali lagi makasih, Na."


"Iya, sama-sama dok."


Sehabis meletakkan kembali ponselnya diatas meja, ia menoleh kearah dokter Adit yang masih terlihat sangat lelap. Wanita yang sekaligus berprofesi sebagai dokter kandungan itu menarik nafas dalam-dalam seraya menyandarkan tubuhnya pada sofa yang kini didudukinya. Ia menunduk lalu meremas rambut hitam sebahunya.


Hampir tiga puluh menit ia masih duduk bersandar pada sofa seraya memejamkan matanya, saat terdengar suara ketukan pintu dari luar. Dokter Anna lalu berdiri dan melangkah dengan enggan untuk membuka pintu. Ia sama sekali tidak menyangka kalau ternyata itu adalah dokter Nata.


"Anna?"

__ADS_1


"Nata?"


Seketika keduanya mematung didepan pintu. Dokter Nata berada diatas kursi rodanya sementara dokter Anna masih berdiri dihadapannya. Dokter Anna merasa sangat prihatin melihat kondisi dokter Nata. Meskipun ia sudah terlihat baik-baik saja tapi bekas-bekas luka diseluruh tubuhnya masih nampak, ditambah lagi tangan kanannya yang patah belum bisa digerakkan dengan baik. Andai saja sekarang ia belum berstatus seorang istri, ia pasti sudah menghambur kearah dokter Nata dan dengan cepat menyambut kedatangannya. Tapi sekarang semua sudah berbeda.


Tubuh mereka mungkin berada tak berjarak tapi statusnya kini memberi jarak yang sangat jauh. Dokter Anna sekarang, bukan lagi dokter Anna yang dulu dikenalnya. Ia kini adalah istri seorang Aditya, yang juga sahabat baiknya.


"Kamu cepat sekali sampainya, Nat." ucapan dokter Anna memecah keheningan yang baru saja tercipta.


"Iya, keberangkatanku dimajukan lebih awal. Apa aku tidak salah kamar?"


"Syukurlah, Nat. Kamu masih baik-baik saja."


Dokter Anna bukannya menjawab pertanyaan dokter Nata, malah mengalihkan pembicaraan. Terlihat sekali kecanggungan yang tercipta diantara keduanya. Kedua sahabat yang pernah sangat dekat, sekarang terlihat seperti orang yang baru saling kenal.


"Sorry Madam, but the patient needs rest." sela salah seorang petugas yang membawa dokter Nata.


"Oh, I'm sorry."


Dokter Anna sedikit membungkukan badan kemudian bergeser dari depan pintu dan mempersilahkan dokter Nata masuk kedalam. Saat berada didalam kamar tersebut, pandangan dokter Nata langsung tertuju pada sesosok pria yang sangat dikenalnya sedang tertidur lelap diatas tempat tidur yang berada tepat disamping tempat tidur yang akan ditempatinya. Ia menolah pada dokter Anna dan tanpa ditanya dokter Anna langsung mengerti dengan tatapan dokter Nata.


"Mas Adit sakit selama di Yunani, ia dikembalikan untuk dirawat lebih intensif disini. Karena kamar VIP semua full, jadi kamu disini dulu untuk sementara."


Dokter Nata menarik nafas berat, ia kembali membalikkan badan dan naik pelan-pelan ke tempat tidur dibantu oleh petugas.


"Get rest, Mr Nata! The orthopediat will come tumorrow morning." ucap salah satu petugas lagi.


Kedua petugas itupun kemudian meninggalkan kamar perawatan kedua dokter spesialis yang kini sama-sama dirawat dan ditempatkan dikamar yang sama pula. Sepeninggal mereka, tidak ada lagi suara-suara yang terdengar dari kamar itu, sampai suara dokter Nata kembali memecah keheningan.


"Selamat atas pernikahanmu, Na. Kamu pasti sangat bahagia, akhirnya pangeran yang sudah lama kamu tunggu-tunggu datang juga."


Dokter Anna yang kini duduk ditengah-tengah diantara tempat tidur suaminya dan dokter Nata bisa mendengar dengan jelas ucapan pria yang pernah mengisi hatinya sangat lama itu.


"Makasih, Nat. Aku berharap kamu juga segera menemukan orang yang tepat yang akan menemanimu menghitung hari berlalu."


Dokter Nata hanya menarik kedua ujung bibirnya menanggapi ucapan dokter Anna. Ia kini sudah rela melepas dokter dengan senyum manis itu membina rumah tangga dengan dokter Adit, sahabatnya. Ia juga sangat tahu bagaiman pribadi seorang dokter Adit. Ia bersyukur dokter Anna akhirnya jatuh ketangan dokter Adit yang sangat ia kenal kebaikannya.


"Kenapa kamu tiba-tiba memutuskan untuk berangkat ke Yunani?"


Dokter Nata tidak bisa langsung menjawab pertanyaan dokter Anna karena memang benar alasan utamanya berangkat ke Yunani adalah untuk menghindari pernikahan mereka, meskipun ia juga bertujuan membantu orang-orang disana. Entah kenapa saat itu, ia tidak bisa melihat dokter Anna bersanding dengan pria lain.


"Aku...tante Sophy mengatakan bahwa disana sedang sangat membutuhkan relawan dokter karena banyak penduduk yang terluka dan menderita, jiwaku seolah terpanggil untuk membantu mereka. Aku fikir pernikahanmu pun akan tetap berjalan tanpa kehadiranku tapi disana mungkin banyak jiwa yang akan hilang jika tenaga dokter tidak mencukupi." jawabnya berbohong.


"Kamu masih Nata yang aku kenal selama bertahun-tahun."

__ADS_1


Senyum indah yang sudah beberapa waktu tidak dilihat oleh dokter tampan itu, kini nampak lagi didepannya.


Sementara dokter Adit yang sejak tadi sangat larut dengan bunga-bunga tidurnya, mulai menggerakkan tangannya dan perlahan membuka mata mendengar suara-suara didekatnya.


"Kamu bangun, mas?"


"Iya, An."


Dokter Adit menoleh kesamping dan sudah mendapati dokter Nata tersenyum lebar kearahnya.


"Hi, Dit. Apa kabar?"


"Nata? Ini benar kamu, Nat?"


"Iya ini aku. Wajah tampanku tidak pasaran, Dit. Jadi tidak sulit untuk kamu mengenaliku."


"Sialan kamu, Nat. Kamu masih bisa-bisanya bercanda saat aku seperti ini karena kamu."


Dokter Adit ingin langsung bangkit dari tempat tidurnya dan menghampiri dokter Nata kalau saja dokter Anna tidak melarangnya.


"Mas, kamu belum bisa beranjak dari tempat tidur. Kamu masih dianjurkan untuk bedrest."


Dokter Adit menghela nafas berat, ia pun menuruti ucapan istrinya dan kembali membaringkan badannya pada tempat tidur.


"Enak yah punya istri. Ada yang merhatiin." sela dokter Nata tanpa menatap kearah suami istri itu.


Kedua pasangan itu hanya diam saja. Dokter Adit lalu teringat dengan pesan dokter Anna saat mereka baru saja menikah. Ia tahu wanita itu pernah menyimpan rasa pada pria disampingnya ini atau bahkan sampai saat ini rasa itu masih ada, ia juga tidak bisa menembus kedalaman hati istrinya. Yang pasti ia meyakini bahwa mereka sudah berjanji akan berjuang bersama untuk mempertahankan pernikahan yang sudah mereka sepakati berdua.


"Maaf, Dit. Aku sudah menyusahkanmu untuk mencariku."


Suara dokter Nata membuyarkan lamunan dokter Adit.


"Kamu memang selalu merepotkanku." balas dokter Adit sambil tersenyum tipis.


"Tapi aku penasaran, bagaimana kamu bisa lolos dari sana? Kata Almira, orang yang sudah masuk ditempat itu, susah untuk kembali lagi dengan selamat."


"Nanti aku ceritakan sama kamu. Aku menyesal tidak mendengarkan ucapan wanita itu sebelumnya. Tapi sudahlah, yang penting sekarang aku sudah selamat."


"Almira terus mencari cara agar bisa tembus ketempat itu tanpa ada yang tahu tapi tidak berhasil sampai aku jatuh sakit. Yang aku lihat, ia sangat perduli sama kamu, Nat."


Dokter Nata hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan dokter Adit. Ia tiba-tiba merindukan dokter cantik yang baru beberapa saat lalu masih ia rasakan wangi parfumnya. Sementara dokter Anna yang sejak tadi hanya diam mendengar kedua pria itu berbicara, terus bertanya-tanya dalam hati. Seperti apa dokter Almira itu?


*** BERSAMBUNG***

__ADS_1


❤️ Happy reading kesayangan mommy. Oya kalau ada yang tidak berkenan membaca cerita ini, di Skip saja yah. Jangan bikin down dengan komentnya sayang🙏😘


💚 Ada saat dimana kita benar-benar butuh tempat berbagi, tapi jika yang dibutuhkan itu tak jua datang merangkul. Bersujudlah diatas hamparan sajadahmu. Dan menangislah disana, karena itulah tempat yang paling kamu butuhkan🤗


__ADS_2