Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Ikut Ke Kota M


__ADS_3

Setelah istirahat siang, Satya dan Ruby memutuskan untuk kembali kedesa. Satya sudah meeting online dengan Bagas dan beberapa petinggi perusahaan. Saat Ruby sedang mengemas barang-barang mereka, Satya terlihat mengangkat telfon.


"Iya bu, bagaimana kabar papa?" tanyanya pada si penelfon. Ruby bisa memastikan bahwa itu ibu Rita yang menelfonnya.


"Apa? Baiklah bu, aku akan terbang kesana tengah malam nanti," jawab Satya dengan wajah sedih.


"Aku sekarang didesa Ruby bu, aku kesini menjemputnya," ucap Satya melirik kearah Ruby.


"Iya bu, dia ada didekatku," Satya lalu memberikan ponsel pada Ruby.


"Ibu mau bicara," ucapnya berbisik.


"Assalamua'laikum bu."


"Alhamdulillah aku sama Gyan baik-baik saja bu. Papa bagaimana keadaannya bu?" tanya Ruby.


"Iya bu, aku sama Gyan juga kangen sama Ibu dan Grandma."


"Iya bu aku akan ikut sama mas Satya ke Singapura," jawab Ruby. Satya tersenyum mendengar jawaban Ruby.


"Iya bu, Waa'laikumsalam."


"Kamu bener mau ikut ke Singapur?" tanya Satya memastikan. Ruby mengangguk perlahan.


"Baiklah kita pulang kerumah ibu sekarang, dari sana kita langsung ke kota B."


"Aku akan menelfon anak buahku dulu untuk mempersiapkan penerbangan kita sebentar malam," lanjut Satya.


"Bagaimana pasportmu?" tanya Satya mengingat kemarin Ruby keluar negeri dibawa oleh dokter Nata.


"Ada mas, kak Nata kemaren menguruskan untukku, katanya orang dari imigrasi langsung yang datang kerumah sakit karena pasien koma mendapat pengecualian," jawab Ruby.


"Baiklah, tapi bagaimana dengan Gyan?" Satya terlihat mengerutkan keningnya.


"Bagaimana bisa mengurus paspor untuk Gyan mas, kalau akte kelahirannya saja belum ada," ucap Ruby dengan wajah sendu.

__ADS_1


"Kamu tenang saja By, secepatnya kita akan menikah resmi kalau akte ceraiku sudah keluar," kata Satya menggenggam tangan Ruby.


"Secara agama aku sudah bercerai sama Rania, kami sudah bukan lagi pasangan suami istri," ucap Satya.


"Aku sudah menalak Rania atas permintaannya sendiri jadi kamu tidak perlu merasa bersalah terus menerus. Aku hanya berharap kita bisa membuka lembaran baru dengan lebih baik kedepannya," lanjut Satya.


Melihat Ruby yang diam saja, Satya meraihnya membawanya masuk kedalam pelukannya, Diusapnya lembut kepala Ruby.


"Mulai sekarang kita harus belajar saling menerima, buka hatimu buat aku, lupakan masa lalu. Rania sudah bahagia dengan kehidupan barunya, apa kamu mau tetap seperti ini sampai nanti?" Hati Ruby membenarkan ucapan Satya, perlahan ia mengangakat kedua tangannya dan membalas pelukan Satya.


Satya semakin mempererat pelukannya mendapat respon balik dari Ruby. Bulir bening kembali jatuh dari sudut mata Ruby tapi kali ini rasanya berbeda, air mata itu jatuh karena terharu bahagia, begitupun dengan Satya.


"Lebih baik kita pergi sekarang mas supaya bisa sampe malam dikota B," ucap Ruby membuat Satya merenggangkan pelukannya, tapi sebelum ia melepasnya ia lebih dulu mengecup kening Ruby.


Setelah itu mereka pun kembali melakukan perjalanan kedesa Ruby untuk pamit pada bu Rumana. Tidak sampai satu jam mereka sudah berada kembali didesa Ruby.


"Loh, kog kalian sudah pulang?" tanya bu Rumana yang saat itu sedang duduk santai diteras depan, melihat Ruby turun dari mobil.


"Iya bu, ibu mertuaku tadi nelfon mengabarkan kalau kondisi papa sedang tidak bagus jadi mas Satya memutuskan untuk pergi kesana," jawab Ruby memberikan baby Gyan pada ibunya. Ia dan Satya lalu ikut duduk didekat bu Rumana.


"Kalau saran ibu nak, Gyan ditinggal aja sama ibu, dia kan sudah tidak ASI. Bagaimana kalian bisa mengurus papamu kalau ada Gyan," ucap bu Rumana pada Satya. Ia sebenarnya hanya ingin membuat Ruby dan Satya pergi berdua karena ia melihat hubungan anak dan menantunya itu saat ini masih terlihat kaku.


"Kalian harus percaya sama ibu, ibu sendiri bisa mengurus tiga anak, apalagi cuma Gyandra," ucapnya lagi melihat Satya dan Ruby masih diam.


"Aku terserah sama Ruby saja bu," balas Satya. Ruby menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya bersuara.


"Tapi ibu harus ikut pulang ke kota M biar aku bisa lebih gampang menghubungi ibu," ucap Ruby.


"Tapi bagaimana dengan Aydan? Dia belum dewasa seperti Amri," kata bu Rumana.


"Aku kan sekolah online bu, kalau kakak mengizinkan, aku bisa menemani ibu di kota M," sahut Aydan yang sejak tadi masih duduk diruang tamu.


"Aku akan senang sekali kalau ibu sama Aydan mau ikut ke kota M bersama kami," ucap Satya.


"Baiklah, aku siap-siap dulu," bu Rumana kemudian berdiri dan masuk kedalam kamarnya untuk mengemas pakaiannya. Dalam hatinya ia sebenarnya enggan meninggalkan desanya karena ia tidak terlalu suka dengan suasana kota tapi demi rumah tangga anaknya agar lebih dekat ia akan melakukan apa saja.

__ADS_1


Sama dengan bu Rumana, Aydan pun mengemasi pakaiannya. Sedangkan Amri hanya akan ikut sampai ke kota B karena ia menyewa rumah kos-kosan disana selama berkuliah. Ia juga sebenarnya berkuliah online tapi sekali seminggu mengadakan tatap muka dengan mengatur jarak.


Satya kali ini akan menyetir mobilnya sendiri karena akan memakan waktu kalau harus menyuruh anak buahnya datang kedesa dulu. Sebelum berangkat kekota B bu Rumana terlebih dulu pamit sama semua tetangganya.


"Jangan lama-lama disana yah bu, kita semua pasti akan merindukan ibu," kata bu Ira sambil memeluk bu Rumana. Bu Rumana memang banyak disukai sama tetangganya karena selain ia tidak banyak mengurusi urusan pribadi oranglain, ia juga suka memberi walau itu hanya seikat sayuran dari kebunnya.


"Iya bu, cepat pulang yah," sahut bu Yanti menambahkan.


"Iya, iya aku akan cepat pulang, liat-liat rumahku yah ibu-ibu," balas bu Rumana.


"Iya ibu tenang saja, kami akan menjaga rumah ibu," ucap bu Rahma juga sambil memeluk bu Rumana.


"Hati-hati yah nak Satya bawa mobilnya," sahut ketiganya hampir bersamaan.


"Kalau ibu pulang jangan lupa bawa oleh-oleh, yah" sahut bu Ira yang paling cerewet diantara semuanya.


"Iya, aku berangkat yah," balas bu Rumana kemudian masuk kedalam mobil disusul Aydan dan Amri.Ruby memberikan baby Gyan pada bu Rumana, ia dan Satya pun pamit pada tetangga-tetangga ibunya.


"Suami kamu gantengnya kebangetan By, bikin ibu pengen muda lagi," kata bu Ira saat Ruby menyalaminya.


"Ibu bisa aja," Ruby tersenyum kecil membalasnya.


Setelah berpamitan pada semuanya. Mobil pun perlahan bergerak meninggalkan kampung bu Rumana. Bu Rumana terlihat sangat sedih, sampai diperbatasan kota barulah bu Rumana mengulas senyum saat baby Gyan tergelak kearahnya.


"Bayi lucu mau pulang kerumah papa yah, entar kalau papa sama bunda ke Singapur, Gyan sama nenek aja yah, ada om Aydan juga kog," ucapnya.


"Oya Amri sampai dikota B kamu kursus bawa mobil yah, disana ada anak buahku yang akan mengurus sampai SIMmu terbit," ucap Satya. Ia memang sudah memberitahu Amri tadi bahwa ia akan menyimpan mobilnya.


"Iya kak," jawab Amri.


🤩 Mommy hari ini sampai satu minggu kedepan libur ngantor jadi bisa datang dua kali sehari, jangan lupa dukungannya yah dengan LIKE, VOTE dan KOMENT😘


Oya ada yang bertanya masalah jaringan dikampung Ruby. Tolong dibaca baik-baik yah sayang, yang tidak bagus itu cuma jaringan internet tapi kalau buat nelfon pake ponsel jadul bisa, walaupun suaranya timbul tenggelam. Masalah Ruby belum mau menerima Satya dengan tulus, tunggu saja kelanjutannya sayang🤗🤗


*** Kadang untuk menerima sebuah kesalahan itu sangat sulit, Hati akan selalu saja bertentangan saat akan mulai melangkah tapi jika kamu berpegang pada Tuhan_Mu semua kesulitan akan dimudahkan❤️💙

__ADS_1


__ADS_2