Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Tidur Berpelukan


__ADS_3

Menjelang tengah malam jet pribadi milik Satya mendarat di bandara kota M, Satya dan Ruby hanya transit sebentar kemudian mereka akan kembali melakukan perjalanan menuju Singapura.


Di ruang tunggu bandara sudah terlihat Bagas menunggu disana. Ia langsung mendekati rombongan Satya saat muncul dari pintu kedatangan.


"Selamat tengah malam tuan muda dan Nyonya muda," ucapnya sedikit membungkukan badan kearah Satya dan Ruby. Satya sudah menyuruh Bagas untuk tidak menambahkan kata KEDUA saat memanggil Ruby karena sekarang Ruby adalah satu-satunya istrinya.


"Ini ibu mertua dan adik iparku yang akan kamu bawa kerumah utama," ucap Satya. Bagas lalu membungkukan badannya kearah bu Rumana dan Aydan. Bu Rumana dan Aydan melakukan hal yang sama. Aydan terlihat takjub melihat bandara kota M yang begitu besar dan tampak diperindah oleh kerlap kerlip lampu sepanjang jalan keluar. Ini baru pertama kalinya ia datang ke kota besar.


"Kalau ibu perlu sesuatu jangan sungkan untuk memberitahu saya," ucap Bagas.


"Terima kasih nak," balas bu Rumana.


"Gas, baby Gyan tidak ikut bersamaku, aku percayakan semua keluargaku sama kamu," ucap Satya.


"Tuan muda tenang saja, aku akan melakukan yang terbaik untuk mereka," jawab Bagas.


Sebelum jet pribadi Satya kembali lepas landas, Ruby terus menciumi baby Gyan.


"Bunda akan cepat kembali sayang, Gyan jangan rewel yah, nurut sama nenek," ucap Ruby.


"Bu, aku titip Gyan yah. Dan, jagain ponakan kamu baik-baik yah," ucap Ruby.


"Iya, kak Ruby tenang saja, ada Aydan semua pasti aman," balas Aydan melipat kedua tangan didadanya. Ruby hanya tersenyum melihat tingkah adiknya itu.


"Bu, titip Gyan yah, kalau ada apa-apa telfon Bagas, Bagas sudah menyimpan nomornya diponsel baru ibu," ucap Satya sambil menciumi wajah anaknya.


"Oya sampe lupa, ini ponsel baru ibu," kata Bagas sambil memberikan sebuah kantong plastik berisi ponsel edisi terbaru dari merk terkenal yang sejak tadi ditentengnya.


"Ponsel? untuk apa ini nak, ponsel ibu masih bisa dipake nelfon," ucap bu Rumana.


"Ini ponsel kalau aku mau melakukan panggilan video sama Gyan bu, ibu terima yah," balas Satya beralasan.

__ADS_1


"Oooo begitu, ya sudah ibu ambil yah," balas bu Rumana sambil meraih kantongan tersebut dari tangan Bagas.


Mereka pun akhirnya berpisah diruang tunggu, Satya dan Ruby kembali memasuki gate keberangkatan sedangkan Aydan dan bu Rumana yang menggendong baby Gyan mengikuti langkah Bagas menuju tempat ia memarkir mobilnya.


Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, sampai juga Satya dan Ruby dibandar udara Internasional Changi, Singapura. Jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari waktu Singapura.


"Kita langsung kehotel saja dulu, aku takut malah akan mengganggu istirahat ibu kalau kita langsung kesana di jam segini," ucap Satya saat mereka sudah berada didalam mobil yang akan membawanya menuju hotel terdekat dari rumah sakit.


"Aku ikut mas saja," balas Ruby.


Tidak berselang lama, mobil yang membawa mereka pun terlihat memasuki sebuah hotel berbintang lima yang berada dekat dengan rumah sakit tempat papa Lingga dirawat. Satya memesan sebuah kamar suite executive yang harganya mencapai puluhan juta per malam.


Karena terlalu lelah melakukan perjalanan hampir seharian penuh, Satya langsung merebahkan tubuhnya ditempat tidur saat mereka sudah masuk kedalam kamar.


"Kamu tidak bersih-bersih dulu mas?" tanya Ruby.


"Kamu duluan saja dulu, By."


Ruby ikut merebahkan tubuhnya disamping Satya, dipandanginya wajah Satya lekat-lekat, wajah laki-laki yang kini sudah menjadi ayah dari anaknya. Tidak banyak yang berubah dari wajah itu saat Ruby bertemu dengannya setahun yang lalu, bahkan ia melihat Satya lebih tampan saat ini.


Saat ia sedang asyik memandangi salah satu keindahan yang diciptakan Tuhan didepan matanya, Satya tiba-tiba meraihnya kedalam pelukannya. Ruby seolah tidak bisa bernafas karena Satya memeluknya terlalu erat. Ia perlahan merenggangkan pelukan Satya kemudian balas memeluknya. Mereka berdua melewati malam itu sambil berpelukan sampai pagi.


Satya bangun lebih awal dari Ruby. Ia masih bisa melihat tangan Ruby yang berada diatas perutnya. Ia tersenyum penuh arti kearah Ruby yang masih terbuai dengan mimpinya. Ia seolah tidak ingin melepas tangan itu dari sana. Andai bukan karena alarm waktu subuh yang sudah berbunyi sejak tadi dari ponselnya, ia begitu enggan untuk beranjak. Ia masih ingin menikmati bau nafas Ruby dan masih ingin merasakan sentuhan tangannya yang lembut.


"Masih ada banyak pagi yang akan kita lewati bersama disini," gumamnya.


Satya pun meraih tangan Ruby dan meletakkannya pelan-pelan diatas bantal guling. Biasanya Ruby yang selalu bangun lebih pagi dibanding Satya, tapi mungkin karena kali ini ia benar-benar lelah sampai ia tidak mendengar sama sekali bunyi alarm diponselnya. Satya juga tidak tega membangunkannya.


Barulah saat matahari perlahan naik dari peraduannya, Satya membangunkan Ruby. Dielusnya perlahan lengan Ruby.


"By, bangun By, sudah pagi."

__ADS_1


"Hmmm," Ruby menarik nafas lalu menghembuskannya.


"Udah jam berapa mas?" tanyanya.


"Pukul enam tiga puluh." Waktu subuh di Singapura memang jatuh menjelang pukul enam pagi.


"Ya ampun, aku belum shalat mas," Ruby langsung bangun dan buru-buru kekamar mandi. Satya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat Ruby.


"Mas, kita pagi ini langsung ke rumah sakit yah." Ruby baru selesai berdandan saat Satya sudah sibuk didepan laptopnya.


"Iya," jawabnya singkat.


Satya memandangi Ruby yang saat ini sudah duduk dihadapannya.


"Sial, kenapa aku selalu ingin menciumi bibir itu kalau melihatnya," batinnya.


"Mas Satya kenapa dari tadi melihat kesaya terus, apa ada yang salah dengan penampilanku? Perasaan biasa-biasa aja kog." Ruby juga ikut membatin.


"Kita berangkat sekarang mas?" pertanyaan Ruby mengagetkan Satya.


"Eh...Iya." Satya memasukkan laptop ditasnya kemudian berdiri sambil menenteng tas tersebut.


Perjalanan kerumah sakit hanya butuh waktu beberapa menit. Mobil yang dibawa oleh Satya sekarang sudah berada diparkiran rumah sakit. Saat Ruby hendak turun dari mobil, Satya tiba-tiba menariknya. Ia akhirnya mencium bibir Ruby yang sejak tadi mengganggu fikirannya. Awalnya ia lakukan dengan lembut, tapi karena tidak ada penolakan dari Ruby, lama kelamaan nafasnya semakin memburu. Satya baru berhenti saat ia sadar berada dimana saat ini.


"Maaf," ucap Satya. Ruby hanya membalas dengan tersenyum kearahnya. Senyum yang membuat Satya meleleh.


"Ayo, kita naik sekarang."


Satya menautkan tangan kirinya pada tangan kanan Ruby saat mereka berjalan masuk kedalam rumah sakit. Ruby melihat kearah tangan mereka yang sudah bertautan.


"Aku akan berusaha membuka hati dengan tulus untukmu, mas." Batinnya.

__ADS_1


🤩 Terimakasih sudah berkenan membaca cerita ini, maaf jika masih banyak kekurangan😘🙏


__ADS_2