Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Bertemu Untuk Berpisah


__ADS_3

Setelah bertemu Sultan di cafe, Rania kembali melanjukan mobilnya ke salon langgannya, ia ingin melakukan perawatan rambut sambil menunggu makan siang untuk bertemu Satya.


Selesai melakukan perawatan, ponselnya terlihat berdering dan itu dari Satya, Satya lalu menyebutkan dimana ia menunggu Rania saat ini, Rania pun kembali membelah jalanan kota M menuju tempat Satya berada. Mobilnya memasuki sebuah restoran mewah yang sangat privat terbukti dari begitu ketatnya pemeriksaan security didepan restoran tersebut, tapi itu tidak berlaku bagi Rania karena hanya dengan melihat plat mobilnya saja, mereka sudah tau bahwa ia adalah bagian dari keluarga Biantara penggerak setengah perekonomian negara.


Rania melangkah dengan anggun menuju sebuah ruangan VVIP yang sudah dipesan oleh Satya. Ia memutar knop pintu setelah berada didepan ruangan tersebut dan ia disambut dengan senyum hangat Satya.


"Udah lama mas?" tanya Rania mencium pipi kiri dan kanan Satya.


"Gak, aku juga baru aja nyampe," balas Satya.


"Aku udah pesanin makanan kesukaan kamu, gak papa kan?" tanya Satya lagi, Rania mengangguk mengiyakan sambil mengulas senyum.


"Nia maafin aku yah kalau semalam aku tidak pulang bersama kamu," ucap Satya setelah Rania duduk di sampingnya.


"Gak papa kog mas, aku bisa ngerti," balas Rania.


Tidak lama kemudian makanan pesanan Satya sudah datang, mereka berduapun mulai menyantap makanannya ditemani lagu-lagu melow dari layar disudut ruangan, lagu yang mewakili perasaan mereka saat ini. Rania hanya menghabiskan setengah dari makanannya, begitupun Satya.

__ADS_1


"Nia aku ingin bicara serius sama kamu," ucap Satya saat dua orang waitres sudah membereskan meja makan mereka.


"Iya mas aku juga ingin menanyakan sesuatu sama kamu," sahut Rania.


"Iya silahkan Nia, kamu bicara lebih dulu," ucap Satya lagi.


"Kamu aja dulu mas," balas Rania, Satya menarik nafas dalam-dalam sebelum ia memulai berbicara.


"Nia, pagi tadi Ruby sudah keluar dari rumah utama, aku tidak tau kapan ia akan kembali, ia melarangku bertemu dengan baby Gyan selama sebulan ini, aku merasa sedang berada dalam posisi yang sangat sulit, disatu sisi anakku, dan disisi lain istriku, beritau aku Nia apa yang harus aku lakukan?" Satya meremas wajahnya kasar.


"Ini juga yang ingin aku katakan mas, aku bisa mengerti bagaimana berada diposisimu saat ini, mungkin aku tidak akan mengalah andai tidak pernah bertemu langsung dengan Ruby dan baby Gyan, hubungan kita saat ini hanya didasarkan pada hati dan tidak memiliki perekat seperti hubungan mas dengan Ruby yang memiliki baby Gyan, akan sangat egois jika aku tidak memperdulikan bayi kecil itu, aku memang tidak punya anak mas, tapi bukan berarti aku bisa setega itu pada anak-anak apalagi itu anak kamu," Rania tidak bisa lagi menahan bulir-bulir bening itu untuk mengalir mengenai pipi mulusnya, Satya pun sama matanya yang sejak tadi berkaca-kaca akhirnya pecah juga. Ia lalu meraih Rania membawanya dalam pelukan yang penuh kesedihan. Ia masih menyayangi Rania, tapi sekarang fikiran dan hatinya sudah terbagi membuat ia sulit mengambil sikap.


"Apa ada cara lain agar kita semua tidak terpisah Nia?" tanya Satya masih memeluk erat Rania. Rania merasakan ada kerapuhan dan keputus asaan di setiap hembusan nafas Satya.


"Tidak ada wanita yang ingin berbagi suami dengan hati lapang mas, termasuk aku dan Ruby, aku takut itu malah hanya akan semakin menyakitkan, kamu dan Ruby punya baby Gyan, sementara kita tidak punya penghubung apa-apa, hanya kulit yang saling bersentuhan, aku rasa tidak akan sulit untuk kita memulai menutup hati masing-masing" Rania terisak menahan sesak yang menyeruak. Satya perlahan melepas pelukannya, ia memegang bahu Rania dan menatap dalam-dalam matanya, mata wanita yang selama ini menemaninya.


"Aku mungkin akan terlihat egois saat tidak bisa mengambil keputusan lebih cepat tapi entah kenapa aku begitu memikirkan bayi kecil itu, kita bertiga mungkin bisa menjalani kehidupan masing-masing tapi bagaimana dengan dia?, itu yang membuat aku berada dalam posisi sulit, katakan Nia apa aku salah?" pegangan tangan Satya pada pundak Rania terlihat melemas, ia menundukkan kepalanya. Begitu rapuh pria tegas itu sekarang.

__ADS_1


"Kamu gak salah mas, kamu sudah melakukan sesuatu yang benar, aku yang lambat menyadari keberadaan anakmu, aku terlalu tidak ingin kehilangan dirimu mas sampai aku egois mengabaikan oranglain," Satya lagi-lagi meraih Rania yang kembali terisak kedalam pelukannya.


"Maafkan aku Nia, maafkan aku, kesalahanku sudah membuat kita semua berada dalam keadaan yang sulit," ucap Satya.


"Mulai sekarang aku tidak akan lagi menunggu kedatanganmu dirumah mas, secepatnya aku akan mengajukan gugatan dipengadilan" Rania berusaha melonggarkan pelukannya tapi ia terlalu lemah melawan tangan kokoh Satya. Satya diam saja tapi Rania bisa merasakan helaan nafas Satya yang begitu berat.


"Nia aku jahat, aku sudah jahat sama kamu" kata Satya lagi.


"Kita tidak usah menyalahkan siapa-siapa disini mas, itu hanya akan memperkeruh keadaan, terkadang mengikhlaskan sesuatu itu memang sangat sulit tapi aku yakin Tuhan sudah menyiapkan sesuatu yang indah didepan, setahun belakangan disaat rumah tangga kita mulai goyah aku bisa belajar banyak hal tentang menerima semua kepahitan dengan besar hati, sampai aku bertemu dengan seorang anak kecil yang sudah tidak memiliki seorang ibu tapi masih bisa menjalani hari-harinya dengan penuh tawa, lalu kenapa aku yang sudah dewasa ini harus lemah, aku akan menguatkan hatiku mas, kamu tidak usah lagi memikirkan aku, aku pelan-pelan akan menghapus semua kenangan yang pernah terjadi diantara kita" tanpa sadar akhirnya tangis Satya pecah juga, rekan bisnisnya pasti tidak ada yang akan percaya kalau yang sedang terisak itu adalah CEO Biantara Grup.


"Aku pergi mas, jangan pernah lagi menemuiku, pengacaraku akan mengurus semuanya, agar prosesnya lebih cepat kamu tidak perlu memenuhi setiap panggilan sidang" Rania mengendurkan pelukan Satya, ia perlahan berdiri dan hendak berjalan keluar tapi tiba-tiba Satya ikut berdiri dan menarik tangan Rania, membawanya kembali dalam pelukannya, jadilah ruang makan untuk tamu VVIP itu diselimuti dengan tangis dua insan yang pernah saling mencintai dan memberi.


🤩😍Hi author datang lagi minta LIKE, VOTE, dan KOMENT dari readers kesayangancuuu🤗🤗


#Maaf yah karena sekarang author hanya bisa up SATU BAB saja, ada sesuatu dan lain hal yang membuat author tidak bisa up lebih dari itu perhari🙏😘


***Jika hati merasa terluka, balut ia dengan kesabaran dan yakinkan diri bahwa kebahagiaan tidak hanya terletak pada satu hati, bisa jadi hati yang lain akan memberimu kebahagiaan lebih😊🤗

__ADS_1


__ADS_2