Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Jodoh Itu Sudah Diatur


__ADS_3

Rumah Utama Keluarga Biantara


"Dimana Bagas, ini sudah lebih dari 24 jam tapi ia bahkan ikut menghilang bersama Lila." Entah sama siapa Satya bertanya sambil mondar mandir di dalam kamarnya. Disitu hanya ia berdua dengan Ruby yang jelas-jelas lebih tidak tahu keberadaan Bagas dan Lila.


"Apa mas tidak tau dimana rumah nenek Bagas?" tanya Ruby.


"Itu yang aku herankan karena orangtua Bagas itu sudah lama stay di Kanada dan setahu aku keluarga dekatnya disini udah enggak ada. Kalau ia balik ke Kanada tidak mungkin ia hanya mengirim pesan lewat whatshap, aku tahu sekali bagaimana Bagas."


"Yah sudah mas, kita tunggu saja sampai nanti malam, siapa tahu Bagas memang lagi ada keperluan yang sangat penting," ucap Ruby menenangkan Satya.


"Baiklah, kalau begitu aku berangkat ke kantor sekarang." Ruby lalu meraih tangan Satya dan menciumnya.


"Ada apa mas? Kog belum pergi?" tanya Ruby melihat Satya belum bergeser dari tempatnya.


"Kamu enggak peka banget sayang." Satya menarik Ruby kedalam pelukannya. Tangan kanannya memegang pinggang Ruby dan mengeratkan pelukannya sedangkan tangan kirinya mengusap-usap bibir Ruby.


"Kalau suami mau berangkat kerja, jangan cuma dicium tangan sayang, tapi ini juga," ucap Satya menunjuk bibir dan pipinya.


"Kamu semakin hari bener-bener semakin mesum yah mas," balas Ruby mencubit pelan perut Satya.


"Kalau sama istri sendiri itu dianjurkan sayang." Satya sudah mulai mengecup bi*** Ruby tapi ia seketika menghentikan permainannya saat Ruby mengingatkan.


"Kata Eliana mas ada meeting loh pagi ini, Bagas lagi tidak ada jadi tidak ada yang bisa menggantikan." Satya langsung melepaskan pelukannya. Ruby tersenyum penuh kemenangan.


"Shiiittt," umpat Satya.


"Aku pergi dulu sayang," ucap Satya mengecup kening Ruby.


"Iya, mas hati-hati yah."


Saat Ruby hendak keluar menemui baby Gyan, ponselnya tiba-tiba berdering.


"Halo By, apa aku mengganggu? Apa Satya udah berangkat ke kantor?" Tanya sipenelfon yang ternyata adalah dokter Anna.


"Tidak kak, tidak sama sekali. Mas Satya baru saja berangkat," jawab Ruby.

__ADS_1


"Bagaimana kabar kakak sekarang? Apa kak Anna sudah bertemu dengan orang yang akan dijodohkan dengan kakak?" Tanya Ruby.


"Belum By, besok baru pertemuan keluarga sekaligus menentukan hari pernikahan tapi sepertinya cuma berselang seminggu udah akan dilakukan akad karena laki-laki itu katanya tidak bisa terlalu lama mengambil cuti," jawab dokter Anna.


"Apa kak Anna sudah menerimanya pelan-pelan?" tanya Ruby hati-hati.


"Tidak ada pilihan lain By, toh aku juga memang tidak punya pacar atau yang bisa serius dikenalkan sama papa." Dokter Anna terdengar tertawa getir.


"Kak Anna harus yakin semua akan baik-baik saja, semua sudah diatur sama yang Maha Kuasa," ucap Ruby menguatkan.


"Iya By, oya gimana kabar baby Gyan. Aku kangen banget sama dia. Bisa gak kita panggilan video?" Dokter Anna sangat menghargai privasi oranglain, ia tidak ingin melakukan panggilan video sebelum bertanya lebih dulu, siapa tau orang yang ditelfon itu sedang melakukan sesuatu saat dilakukan panggilan video.


"Bisa sekali kak, tunggu yah aku turun dulu ke kamar Gyan. Kak Anna matikan saja telfonnya, entar aku yang telfon balik," ucap Ruby.


"Oke."


"Hi onty Anna, Gyan lagi main nih." Ruby mewakili Gyan bicara dengan suara khas anak-anak.


"Hi Gyan cayang, ponakan onty yang antengnya ngalahin papa, apa kabar?" Seolah tahu apa yang diucapkan dokter Anna, Gyan langsung terkekeh memperlihatkan gigi bawahnya yang baru saja mau tumbuh, melihat ke layar ponsel yang memunculkan wajah dokter Anna.


"Apa kak Anna tidak akan balik kesini lagi?" Tanya Ruby dengan wajah sedih.


"Aku juga tidak tau By, kita lihat saja nanti bagaimana yang terbaik, aku ikut saja." Wajah dokter Anna yang selama ini selalu terlihat teduh sekarang berubah sendu setelah ia bicara terakhir kali dengan dokter Nata.


"Mudah-mudahan kak Anna kembali lagi yah."


"Iya By, doakan yah."


"Selalu kak."


"Sudah dulu yah By, salam sama Satya." Ucap dokter Anna mengakhiri panggilannya.


"Dari siapa By?" Tanya bu Rumana yang baru saja selesai mengatur pakaian baby Gyan.


"Dari kak Anna bu, dokter kandungan yang udah nyelamatin Ruby waktu lahirin Gyan" jawab Ruby.

__ADS_1


"Oooo, kapan-kapan kenalinlah sama ibu, dia pasti baik banget yah sampai kalian bisa akrab begitu."


"Iya bu, kak Anna sangat baik. Tapi ia sekarang sedang bersedih karena sebentar lagi akan menikah dengan orang yang belum dikenalnya sama sekali."


"Jodoh itu sudah diatur sama Tuhan nak, tidak ada yang bisa menolak ataupun mengubahnya. Sama seperti kamu dan nak Satya. Sebelumnya kamu tidak pernah menyangka akan berada ditempat ini sekarang kan? Beritahu Anna sahabatmu jalani saja semuanya seperti air mengalir. Tuhan sudah memilihkan jodoh yang pantas untuk orang yang baik."


"Iya ibu benar."


"Oya nak, besok ibu sudah mau balik ke kampung yah. Nanti ibu akan sering-sering datang kemari," ucap bu Rumana membuat Ruby terlihat bersedih.


"Kalau dikampung ibu lebih bahagia, baiklah bu aku akan bilang pada mas Satya saat ia kembali nanti," balas Ruby. Ia mendekati ibunya dan memeluknya. Ia selalu merasa seperti anak kecil jika sedang berada dipelukan ibunya.


Suku Pedalaman W


"Aku ingin menyewa motormu, berapa pun aku bayar asal aku bisa sampai di kota hari ini juga," ucap Bagas pada pemandu yang membawanya ke pedalaman itu.


"Baiklah tuan, tapi untuk sampai ketempat aku menyimpan motor tuan juga masih harus berjalan selama 2 jam seperti semalam, apa anda yakin bisa dengan keadaan cuaca seperti ini?" tanya pemandu itu melihat diluar masih gerimis.


"Tidak masalah, itu cuma gerimis kecil, aku bisa mengatasinya." Ucapan Bagas membuat Lila membulatkan mulutnya.


"Apa? Aku tidak mau mas, begini saja aku sudah kedinginan," bantah Lila.


"Sayangnya aku tidak memberimu pilihan saat ini, siapkan barangmu dan kita berangkat sekarang juga," balas Bagas.


Dengan perasaan yang sangat kesal, Lila akhirnya menuruti juga ucapan Bagas karena benar katanya ia tidak punya pilihan saat ini. Ingin rasanya ia mencabik-cabik jantung Bagas dan menelannya bulat-bulat.


Setelah berpamitan pada kepala suku dan mama-mama dipedalaman tersebut serta beberapa pengunjung lainnya, Bagas dan Lila pun meninggalkan tempat itu dengan mulai berjalan kaki. Bagas yang melihat tas ransel dipunggung Lila sama sekali tidak tergerak hatinya untuk menawarkan membawakannya sementara ia hanya melenggang bebas begitu saja. Untungnya Bagas kemarin sempat singgah ditoko pakaian mengganti pakaian kantor dan sepatunya sebelum melakukan perjalanan ke pedalaman.


"Auuu," jerit Lila saat ia terpeleset karena jalanan yang sangat licin.


"Cara jalan kamu bagaimana sih." Bagas bukannya menolong Lila malah memarahinya.


"Kalau enggak mau nolongin yah enggak usah, jangan pake marah-marah lagi." Darah Lila sudah dibuat mendidih saking kesalnya sama Bagas.


โค๏ธHi readers makasih yah sudah mau membaca cerita amatir ini, mohon maaf jika masih banyak kekurangan dan jangan lupa tinggalin jejaknya setelah membaca๐Ÿ™๐Ÿค—

__ADS_1


*** Walaupun kehidupan rumah tangga Ruby dan Satya sudah bahagia saat ini tapi judulnya tidak mommy ganti yah say. Kehidupan rumah tangga mereka masih panjang, masih banyak pasang surut yang akan mereka hadapi didepan karena sejatinya tidak ada perjalanan yang mulus di dunia fanah ini๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2